Imam Bukhari

Nasab dan kelahiran
Tokoh Islam penghimpun dan penyusun hadith itu banyak, dan yang lebih terkenal di antaranya seperti yang disebut diatas. Adapun urutan pertama yang paling terkenal diantara enam tokoh tersebut di atas adalah Amirul-Mu’minin fil-Hadith (pemimpin orang mukmin dalam hadith), suatu gelar ahli hadith tertinggi. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah. Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail, terkenal kemudian sebagai Imam Bukhari, lahir di Bukhara pada 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M), cucu seorang Persia bernama Bardizbah. Kakeknya, Bardizbah, adalah pemeluk Majusi, agama kaumnya. Kemudian putranya, al-Mughirah, memeluk Islam di bawah bimbingan al-Yaman al Ja’fi, gubernur Bukhara. Pada masa itu Wala dinisbahkan kepadanya. Kerana itulah ia dikatakan “al-Mughirah al-Jafi.”
Mengenai kakeknya, Ibrahim, tidak terdapat data yang menjelaskan. Sedangkan ayahnya, Ismail, seorang ulama besar ahli hadith. Ia belajar hadith dari Hammad ibn Zayd dan Imam Malik. Riwayat hidupnya telah dipaparkan oleh Ibn Hibban dalam kitab As-Siqat, begitu juga putranya, Imam Bukhari, membuat biografinya dalam at-Tarikh al-Kabir.
Ayah Bukhari disamping sebagai orang berilmu, ia juga sangat wara’ (menghindari yang subhat/meragukan dan haram) dan taqwa. Diceritakan, bahawa ketika menjelang wafatnya, ia berkata: “Dalam harta yang kumiliki tidak terdapat sedikitpun wang yang haram maupun yang subhat.” Dengan demikian, jelaslah bahawa Bukhari hidup dan terlahir dalam lingkungan keluarga yang berilmu, taat beragama dan wara’. Tidak heran jika ia lahir dan mewarisi sifat-sifat mulia dari ayahnya itu.
Ia dilahirkan di Bukhara setelah salat Jum’at. Tak lama setelah bayi yang baru lahir itu membuka matanya, iapun kehilangan penglihatannya. Ayahnya sangat bersedih hati. Ibunya yang saleh menangis dan selalu berdo’a ke hadapan Tuhan, memohon agar bayinya bisa melihat. Kemudian dalam tidurnya perempuan itu bermimpi didatangi Nabi Ibrahim yang berkata:
“Wahai ibu, Allah telah menyembuhkan penyakit putramu dan kini ia sudah dapat melihat kembali, semua itu berkat do’amu yang tiada henti-hentinya.”
Ketika ia terbangun, penglihatan bayinya sudah normal. Ayahnya meninggal di waktu dia masih kecil dan meninggalkan banyak harta yang memungkinkan ia hidup dalam pertumbuhan dan perkembangan yang baik. Dia dirawat dan dididik oleh ibunya dengan tekun dan penuh perhatian.
Bocah Jenius
Keunggulan dan kejeniusan Bukhari sudah nampak semenjak masih kecil. Allah menganugerahkan kepadanya hati yang cerdas, pikiran yang tajam dan daya hafalan yang sangat kuat, teristimewa dalam menghafal hadith. Ketika berusia 10 tahun, ia sudah banyak menghafal hadith. Pada usia 16 tahun ia bersama ibu dan abang sulungnya mengunjungi berbagai kota suci. Kemudian ia banyak menemui para ulama dan tokoh-tokoh negerinya untuk memperoleh dan belajar hadith, bertukar pikiran dan berdiskusi dengan mereka. Dalam usia 16 tahun, ia sudah hafal kitab sunan Ibn Mubarak dan Waki, juga mengetahui pendapat-pendapat ahli ra’yi (penganut faham rasional), dasar-dasar dan mazhabnya.
Rasyid ibn Ismail, abangnya yang tertua menuturkan, pernah Bukhari muda dan beberpa murid lainnya mengikuti kuliah dan ceramah cendekiawan Balkh. Tidak seperti murid lainnya, Bukhari tidak pernah membuat catatan kuliah. Ia dicela membuang waktu dengan percuma kerana tidak mencatat. Bukhari diam tidak menjawab. Pada suatu hari, kerana merasa kesal terhadap celaan yang terus-menerus itu, Bukhari meminta kawan-kawannya membawa catatan mereka. Tercenganglah mereka semua kerana Bukhari ternyata hafal di luar kepala 15.000 haddits, lengkap terinci dengan keterangan yang tidak sempat mereka catat.
Dalam usia 10 tahun, ia telah aktif menghafal hadits dan menghadiri pengajian ahli hadits. Suatu hari, Imam Ad Dakhili membacakan hadits di majlisnya, “Dari Abu Zubair dari Ibrahim…” Bukhari yang kebetulan hadir segera memotong, “Abu Zubair tidka pernah meriwayatkan dari Ibrahim,” katanya. Merasa terganggu, Ad Dakhili membentaknya. Namun Bukhari kecil tetap yakin dengan pendapatnya, “Coba Anda lihat lagi tulisannya,” kata Bukhari menyarankan. Ad Dakhili kemudian masuk rumahnya untuk mengambil kitab. Beberapa saat kemudian dia keluar lagi, “Bagaimana yang benar, Nak? Seharusnya dari Zubair bin Adi dari Ibrahim” jawab Bukhari.“Engkau benar” kata Ad Dakhili yang kemudian membetulkan catatannya. Ini terjadi saat Bukhari masih berumur 11 tahun. Sungguh menakjubkan.
Lima tahun kemudian (usia 16 tahun), ia telah mampu menghafal dua kitab Hadits.karya.Ibn.al-Mubarak.dan.Waki’.Bukhari memang dikenal sangat cerdas serta kuat ingatannya. Ini diakui oleh teman-teman belajarnya. Pada masa-masa belajarnya beliau pergi ke Basrah bersama Hasyid bin Ismail dengan seorang temannya. Mereka bertiga belajar hadits dari seorang syekh ke syekh yang lain. Namun selama belajar Bukhari tidak pernah menulis. Kedua temannya pun menegur, “Engkau ikut belajar bersama kami tapi tidak pernah menulis, apa yang kau perbuat?. Bukhari hanya diam. Berkali-kali mereka mengingatkan, namun Bukari tidak pernah menanggapinya. Setelah 16 hari mereka belajar di Bashrah Bukhari berkata, “Kalian berdua selalu mendesakku dengan pertanyaan-pertanyaan. Coba tunjukkan padaku hadits-hadits yang telah kalian tulis.” Mereka berdua menunjukkan catatannya. Ternyata Imam Bukhari telah hafal semua yang mereka tulis dan menambahkan lagi 15 ribu hadits yang belum sempat tercacat oleh kedua temannya itu. “Apakah kalian kira aku dating ke sini sia-sia dan membuang-buang waktu dengan percuma?” kata Bukhari. Barulah kedua temannya menyadari bahwa Imam Bukhari memang tak dapat ditandingi. Dan sejak itu mereka sering mencocokkan catatan mereka dengan hafalan Imam.Bukhari. Dalam mempelajari hadits, Imam Bukari telah “nyantri” di berbagai tempat seperti : Syiria, Hijaz, Irak, Mesir dan lain-lain. Guru-gurunya yang terkenal antara lain: Ali ibn al-Madani, Ahmad bin Hanbal, Yahya ibn Ma’in, Muhammad ibn Yusuf al-Faryabi, Makky ibn Ibrahim al-Balkhi, dan sebagainya.
Pengembaraannya
Tahun 210 H, Bukhari berangkat menuju Baitullah untuk menunaikan ibadah haji, disertai ibu dan saudaranya, Ahmad. Saudaranya yang lebih tua ini kemudian pulang kembali ke Bukhara, sedang dia sendiri memilih Mekah sebagai tempat tinggalnya. Mekah merupakan salah satu pusat ilmu yang penting di Hijaz. Sewaktu-waktu ia pergi ke Madinah. Di kedua tanah suci itulah ia menulis sebahagian karya-karyanya dan menyusun dasar-dasar kitab Al-Jami’as-Shahih dan pendahuluannya.
Ia menulis Tarikh Kabir-nya di dekat makam Nabi s.a.w. dan banyak menulis pada waktu malam hari yang terang bulan. Sementara itu ketiga buku tarikhnya, As-Sagir, Al-Awsat dan Al-Kabir, muncul dari kemampuannya yang tinggi mengenai pengetahuan terhadap tokoh-tokoh dan kepandaiannya bemberikan kritik, sehingga ia pernah berkata bahawa sedikit sekali nama-nama yang disebutkan dalam tarikh yang tidak ia ketahui kisahnya.
Kemudian ia pun memulai studi perjalanan dunia Islam selama 16 tahun. Dalam perjalanannya ke berbagai negeri, hampir semua negeri Islam telah ia kunjungi sampai ke seluruh Asia Barat. Diceritakan bahawa ia pernah berkata: “Saya telah mengunjungi Syam, Mesir, dan Jazirah masing-masing dua kali, ke basrah empat kali, menetap di Hijaz (Mekah dan Madinah) selama enam tahun dan tak dapat dihitung lagi berapa kali saya mengunjungi Kufah dan Baghdad untuk menemui ulama-ulama ahli hadith.”
Pada waktu itu, Baghdad adalah ibu kota negara yang merupakan gudang ilmu dan ulama. Di negeri itu, ia sering menemui Imam Ahmad bin Hambal dan tidak jarang ia mengajaknya untuk menetap di negeri tersebut dan mencelanya kerana menetap di negeri Khurasan.
Dalam setiap perjalanannya yang melelahkan itu, Imam Bukhari senantiasa menghimpun hadith-hadith dan ilmu pengetahuan dan mencatatnya sekaligus. Di tengah malam yang sunyi, ia bangun dari tidurnya, menyalakan lampu dan menulis setiap masalah yang terlintas di hatinya, setelah itu lampu di padamkan kembali. Perbuatan ini ia lakukan hampir 20 kali setiap malamnya. Ia merawi hadith dari 80.000 perawi, dan berkat ingatannya yang memang super jenius, ia dapat menghapal hadith sebanyak itu lengkap dengan sumbernya.
Kemasyhuran Imam Bukhari
Kemasyhuran Imam Bukhari segera mencapai bahagian dunia Islam yang jauh, dan ke mana pun ia pergi selalu di elu-elukan. Masyarakat heran dan kagum akan ingatannya yang luar biasa. Pada tahun 250 H. Imam Bukhari mengunjungi Naisabur. Kedatangannya disambut gembira oleh para penduduk, juga oleh gurunya, az-Zihli dan para ulama lainnya.
Imam Muslim bin al-Hajjaj, pengarang kitab as-Shahih Muslim menceritakan: “Ketika Muhammad bin Ismail datang ke Naisabur, aku tidak pernah melihat seorang kepala daerah, para ulama dan penduduk Naisabur memberikan sambutan seperti apa yang mereka berikan kepadanya.” Mereka menyambut kedatangannya dari luar kota sejauh dua atau tiga marhalah (± 100 km), sampai-sampai Muhammad bin Yahya az-Zihli berkata: “Barang siapa hendak menyambut kedatangan Muhammad bin Ismail besok pagi, lakukanlah, sebab aku sendiri akan ikut menyambutnya. Esok paginya Muhammad bin Yahya az-Zihli, sebahagian ulama dan penduduk Naisabur menyongsong kedatangan Imam Bukhari, ia pun lalu memasuki negeri itu dan menetap di daerah perkampungan orang-orang Bukhara. Selama menetap di negeri itu, ia mengajarkan hadith secara tetap. Sementara itu, az-zihli pun berpesan kepada para penduduk agar menghadiri dan mengikuti pengajian yang diberikannya. Ia berkata: “Pergilah kalian kepada orang alim yang saleh itu, ikuti dan dengarkan pengajiannya.”
Imam Bukhari Difitnah
Tak lama kemudian terjadi fitnah terhadap Imam bukhari atas perbuatan orang-orang yang iri dengki. Mereka meniupkan tuduhannya kepada Imam Bukhari sebagai orang yang berpendapat bahawa “Al-Qur’an adalah makhluk.” Hal inilah yang menimbulkan kebencian dan kemarahan gurunya, az-Zihli kepadanya, sehingga ia berkata: “Barang siapa berpendapat lafaz-lafaz Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia adalah ahli bid’ah. Ia tidak boleh diajak bicara dan majlisnya tidak boleh di datangi. Dan barang siapa masih mengunjungi majlisnya, curigailah dia.” Setelah adanya ultimatum tersebut, orang-orang mulai menjauhinya.
Pada hakikatnya, Imam Bukhari terlepas dari fitnah yang dituduhkan kepadanya itu. Diceritakan, seorang berdiri dan mengajukan pertanyaan kepadanya: “Bagaimana pendapat Anda tentang lafaz-lafaz Al-Qur’an, makhluk ataukah bukan?” Bukhari berpaling dari orang itu dan tidak mau menjawab kendati pertanyaan itu diajukan sampai tiga kali. Tetapi orang tersebut terus mendesaknya, maka ia menjawab: “Al-Qur’an adalah kalam Allah, bukan makhluk, sedangkan perbuatan manusia adalah makhluk dan fitnah merupakan bid’ah.” Yang dimaksud dengan perbuatan manusia adalah bacaan dan ucapan mereka. Pendapat yang dikemukakan Imam Bukhari ini, yakni dengan membedakan antara yang dibaca dengan bacaan, adalah pendapat yang menjadi pegangan para ulama ahli tahqiq dan ulama salaf. Tetapi dengki dan iri adalah buta dan tuli.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahawa Bukhari perbah berkata: “Iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang. Al-Qur’an adalah kalam Allah, bukan makhluk. Sahabat Rasulullah SAW. yang paling utama adalah Abu Bakar, Umar, Usman kemudian Ali. Dengan berpegang pada keyakinan dan keimanan inilah aku hidup, aku mati dan dibangkitkan di akhirat kelak, insya Allah.” Demikian juga ia pernah berkata: “Barang siapa menuduhku berpendapat bahawa lafaz-lafaz Al-Qur’an adalah makhluk, ia adalah pendusta.”
Az-Zahli benar-benar telah murka kepadanya, sehingga ia berkata: “Lelaki itu (Bukhari) tidak boleh tinggal bersamaku di negeri ini.” Oleh kerana Imam Bukhari berpendapat bahawa keluar dari negeri itu lebih baik, demi menjaga dirinya, dengan harapan agar fitnah yang menimpanya itu dapat mereda, maka ia pun memutuskan untuk keluar dari negeri tersebut.
Setelah keluar dari Naisabur, Imam Bukhari pulang ke negerinya sendiri, Bukhara. Kedatangannya disambut meriah oleh seluruh penduduk. Untuk keperluan itu, mereka mengadakan upacara besar-besaran, mendirikan kemah-kemah sepanjang satu farsakh (± 8 km) dari luar kota dan menabur-naburkan uang dirham dan dinar sebagai manifestasi kegembiraan mereka. Selama beberapa tahun menetap di negerinya itu, ia mengadakan majlis pengajian dan pengajaran hadith.
Tetapi kemudian badai fitnah datang lagi. Kali ini badai itu datang dari penguasa Bukhara sendiri, Khalid bin Ahmad az-Zihli, walaupun sebabnya timbul dari sikap Imam Bukhari yang terlalu memuliakan ilmu yang dimlikinya. Ketika itu, penguasa Bukhara, mengirimkan utusan kepada Imam Bukhari, supaya ia mengirimkan kepadanya dua buah karangannya, al-Jami’ al-Shahih dan Tarikh. Imam Bukhari keberatan memenuhi permintaan itu. Ia hanya berpesan kepada utusan itu agar disampaikan kepada Khalid, bahawa “Aku tidak akan merendahkan ilmu dengan membawanya ke istana. Jika hal ini tidak berkenan di hati tuan, tuan adalah penguasa, maka keluarkanlah larangan supaya aku tidak mengadakan majlis pengajian. Dengan begitu, aku mempunyai alas an di sisi Allah kelak pada hari kiamat, bahawa sebenarnya aku tidak menyembunyikan ilmu.” Mendapat jawaban seperti itu, sang penguasa naik pitam, ia memerintahkan orang-orangnya agar melancarkan hasutan yang dapat memojokkan Imam Bukhari. Dengan demikian ia mempunyai alas an untuk mengusir Imam Bukhari. Tak lama kemudian Imam Bukhari pun diusir dari negerinya sendiri, Bukhara.
Imam Bukhari, kemudian mendo’akan tidak baik atas Khalid yang telah mengusirnya secara tidak sah. Belum sebulan berlalu, Ibn Tahir memerintahkan agar Khalid bin Ahmad dijatuhi hukuman, dipermalukan di depan umum dengan menungang himar betina. Maka hidup sang penguasa yang dhalim kepada Imam Bukhari itu berakhir dengan kehinaan dan dipenjara.
Kewafatannya
Seorang guburnur Bukhara yang bernama Khalid bin Ahmad ad-Dzahuli mengutus utusan menemui Imam Bukhari yang meminta kepada beliau untuk membawakan kitab Al-Jami’as-Shahih dan At-Tarikh dan karya-karyanya untuk dibacakan dihadapan sang gubernur.
Imam Bukhari menolak permintaan gubernur Bukhara itu dengan mengatakan kepada utusannya “Aku tidak akan menghinakan ilmu dan tidak akan membawakannya di setiap pintu manusia, katakan kepada Khalid; Jika anda hendak mendengar ilmu dariku maka datanglah ke Masjid atau ke rumahku, dan bila tidak senang dengan sikap ini engkau adalah seorang gubernur, maka laranglah aku untuk menyampaikan ilmu sehingga aku mempunyai udzur di hadapan Allah kelak di hari kiamat sehinga tidak termasuk dalam golongan yang dikatakan oleh Rasulullah;
مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أُلْجِمَ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ
“Barangsiapa yang ditanya tentang suatu ilmu lalu dia menyembunyikannya maka ia akan dicambuk dengan cambuk yang terbuat dari api neraka” (HR.Thurmudzi, 10/118, Abu Daud, no.3641 dan Ibnu Majah, no.266)”.
Akhirnya, Khalid sebagai penguasa masa itu tersinggung dan marah dengan penolakan Imam Bukhari yang berakhir diusir Imam besar ini dari Kota Bukhara.
Imam Bukhari meninggalkan Bukhara dan menuju ke Samarkand dan tinggal di daerah Bakhtarank. Di tempat ini Imam Bukhari kesehatan fisiknya mengalami penurunan yang sangat drastis dan seringkali muridnya mendengar di sela-sela doánya beliau mengatakan “Ya Allah, bagiku bumi kini telah sempit, oleh karena itu, ambillah aku untuk menghadap-Mu“. Belum ada satu bulan dari doá itu beliau telah dipanggil oleh Allah.
Imam Bukhari tidak saja mencurahkan seluruh intelegensi dan daya ingatnnya yang luar biasa itu pada karya tulisnya yang terpenting, Shahih Bukhari, tetapi juga melaksanakan tugas itu dengan dedikasi dan kesalehan. Ia selalu mandi dan berdo’a sebelum menulis buku itu. Sebahagian buku tersebut ditulisnya di samping makan Nabi di Madinah.
Imam Durami, guru Imam Bukhari, mengakui keluasan wawasan hadith muridnya ini: “Di antara ciptaan Tuhan pada masanya, Imam Bukharilah agaknya yang paling bijaksana.”
Suatu ketika penduduk Samarkand mengirim surat kepada Imam Bukhari yang isinya meminta ia supaya menetap di negeri mereka. Maka kemudian ia pergi untuk memenuhi permohonan mereka. Ketika perjalanannya sampai di Khartand, sebuah dsa kecil yang terletak dua farsakh sebelum Samarkand, dan desa itu terdapat beberapa familinya, ia pun singgah terlebih dahulu untuk mengunjungi mereka. Tetapi di desa itu Imam Bukhari jatuh sakit hingga menemui ajalnya.
Ia wafat pada malam Idul Fitri tahun 256 H. (31 Agustus 870 M), dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Sebelum meninggal dunia, ia berpesan bahawa jika meninggal nanti jenazahnya agar dikafani tiga helai kain, tanpa baju dalam dan tidak memakai sorban. Pesan itu dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat setempat. Jenazahnya dikebumikan lepas dzuhur, hari raya Idul Fitri, sesudah ia melewati perjalanan hidup panjang yang penuh dengan berbagai amal yang mulia. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridha-Nya.
Zuhud dan Wara’nya
Berkata Sulaim bin Mujahid “Selama enam puluh tahun, aku belum pernah melihat orang lebih pandai dalam bidang fiqih, lebih wara’dan lebih zuhud di dunia melebihi Muhammad bin Ismail”. Kewarahan ini tidak hanya dimiliki oleh Imam Bukhari sendiri bahkan ayahnya juga yang bernama Ismail saat hendak wafat beliau sempat berkata ”Demi Allah, aku tidak mengetahui bahwa ada diantara hartaku satu dirham-pun yang haram maupun yang syubhat”.
Imam Bukhari selain ulama dia juga pedagang tetapi di dalam berdagangnya dihiasi dengan kejujuran dan kehati-hatian sebagaimana yang dilakukan oleh para ulama sebelumnya seperti Imam Abu Hanifah, Abu Said Bakar bin Muna mengatakan; Ketika barang dagangan Imam Bukhari tiba, pada sore harinya para pedagang berkumpul hendak membeli barang dangangan tersebut. Mereka bersedia memberikan laba sebesar lima ribu dirham kepada Imam Bukhari tetapi beliau mengatakan “Kalian pergilah, karena malam telah tiba”, keesokan harinya, pedagang yang lain datang lagi hendak membeli barang dagangan tersebut dan bersedia memberi laba sepuluh ribu dirham, tetapi beliau menolaknya sambil berkata “Sesungguhnya semalam aku telah berniat hendak menjual barang dagangan ini kepada pedagang penawar pertama” akhirnya barang itu diberikan kepada pedagang yang pertama menawarnya yaitu dengan laba lima ribu dirham sambil berkata ‘Aku tidak suka membatalkan niatku’.
Ibadahnya
Waqi’bin Jarra, berkata “Jika anda ingin menghafal hadits, maka praktekkanlah hadits tersebut”. Oleh karena itu kita dapati di dalam kitab sejarah para ulama telah menyebutkan bahwa Imam Bukhari dalam hidup kesehariannya selalu berusaha untuk sejalan dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah. Muhammad bin Abu Hatim al-Warraq berkata “Aku pernah melihat di tubuh Imam Bukhari lalat kerbau (sejenis binatang penyengat) yang menyengat tubuhnya sebanyak tujuh belas sengatan tetapi beliau tidak bergeming di dalam sholatnya, dan saat ditanya beliau mengatakan “Sungguh aku lebih suka menyelesaikan bacaan suratku di dalam sholat”.
Setiap orang yang memohon kepada Allah pasti akan dikabulkan, ketika ditanya; Apakah engkau telah membuktikan ?, Imam Bukhari menjawab ‘Iya, sungguh aku telah membuktikan itu, aku pernah doá dua kali dan semuanya dikabulkan oleh Allah, dan sejak sekarang aku tidak mau berdoá lagi yang berkaitan dengan dunia. Ketika ditanya alasan keengganannya itu beliau menjawab “Sebab aku takut dapat mengurangi amal-kebaikanku atau membuat aku terburu-buru dengan urusan dunia”.
Imam Bukhari bila memasuki bulan Ramadhan beliau mendirikan sholat dengan para jamaáhnya, setiap rakaátnya dibaca dua puluh ayat hingga khatam dalam satu malam. Dan di waktu sahur beliau membaca separuh al-Qurán atau sepertiganya dan mengkhatamkannya di waktu berbuka. Setiap harinya beliau hampir tiga kali khatam al-Qurán selama bulan Ramadhan. Imam Bukhari berkata ”Siapa yang mengkhatamkan al-Qurán niscaya doánya akan diijabah oleh Allah”.
Imam Bukhari selain terkenal sebagai seorang yang sangat zuhud dan tekun beribadah beliau juga terkenal sebagai orang yang sangat dermawan, beliau seringkali mengatakan “Apa manfaatnya bagi seorang Muslim melakukan kedustaan dan bersifat kikir !”.

Guru-gurunya
Pengembaraannya ke berbagai negeri telah mempertemukan Imam Bukhari dengan guru-guru yang berbobot dan dapat dipercaya, yang mencapai jumlah sangat banyak. Diceritakan bahawa dia menyatakan: “Aku menulis hadith yang diterima dari 1.080 orang guru, yang semuanya adalah ahli hadith dan berpendirian bahawa iman adalah ucapan dan perbuatan.” Di antara guru-guru besar itu adalah Ali ibn al-Madini, Ahmad ibn Hanbal, Yahya ibn Ma’in, Muhammad ibn Yusuf al-Faryabi, Maki ibn Ibrahim al-Bakhi, Muhammad ibn Yusuf al-Baykandi dan Ibn Rahawaih. Guru-guru yang hadithnya diriwayatkan dalam kitab Shahih-nya sebanyak 289 orang guru.
Keutamaan dan Keistimewaan Imam Bukhari
Kerana kemasyhurannya sebagai seorang alim yang super jenius, sangat banyak muridnya yang belajar dan mendengar langsung hadithnya dari dia. Tak dapat dihitung dengan pasti berapa jumlah orang yang meriwayatkan hadith dari Imam Bukhari, sehingga ada yang berpendapat bahawa kitab Shahih Bukhari didengar secara langsung dari dia oleh sembilan puluh ribu (90.000) orang (Muqaddimah Fathul-Bari, jilid 22, hal. 204). Di antara sekian banyak muridnya yang paling menonjol adalah Muslim bin al-Hajjaj, Tirmidzi, Nasa’i, Ibn Khuzaimah, Ibn Abu Dawud, Muhammad bin Yusuf al-Firabri, Ibrahim bin Ma’qil al-Nasafi, Hammad bin Syakr al-Nasawi dan Mansur bin Muhammad al-Bazdawi. Empat orang yang terakhir ini merupakan yang paling masyhur sebagai perawi kitab Shahih Bukhari.
Dalam bidang kekuatan hafalan, ketazaman pikiran dan pengetahuan para perawi hadith, juga dalam bidang ilat-ilat hadith, Imam Bukhari merupakan salah satu tanda kekuasaan (ayat) dan kebesaran Allah di muka bumi ini. Allah telah mempercayakan kepada Bukhari dan para pemuka dan penghimpun hadith lainnya, untuk menghafal dan menjaga sunah-sunah Nabi kita Muhammad SAW. Diriwayatkan, bahawa Imam Bukhari berkata: “Saya hafal hadith di luar kepala sebanyak 100.000 buah hadith shahih, dan 200.000 hadith yang tidak shahih.”
Mengenai kejeniusan Imam Bukhari dapat dibuktikan pada kisah berikut. Ketika ia tiba di Baghdad, ahli-ahli hadith di sana berkumpul untuk menguji kemampuan dan kepintarannya. Mereka mengambil 100 buah hadith, lalu mereka tukar-tukarkan sanad dan matannya (diputar balikkan), matan hadith ini diberi sanad hadith lain dan sanad hadith lain dinbuat untuk matan hadith yang lain pula. 10 orang ulama tampil dan masing-masing mengajukan pertanyaan sebanyak 10 pertanyaan tentang hadith yang telah diputarbalikkan tersebut. Orang pertama tampil dengan mengajukan sepuluh buah hadith kepada Bukhari, dan setiap orang itu selesai menyebutkan sebuah hadith, Imam Bukhari menjawab dengan tegas: “Saya tidak tahu hadith yang Anda sebutkan ini.” Ia tetap memberikan jawaban serupa sampai kepada penanya yang ke sepuluh, yang masing-masing mengajukan sepuluh pertanyaan. Di antara hadirin yang tidak mengerti, memastikan bahawa Imam Bukhari tidak akan mungkin mampu menjawab dengan benar pertanyaan-pertanyaan itu, sedangkan para ulama berkata satu kepada yang lainnya: “Orang ini mengetahui apa yang sebenarnya.”
Setelah 10 orang semuanya selesai mengajukan semua pertanyaannya yang jumlahnya 100 pertanyaan tadi, kemudian Imam Bukhari melihat kepada penanya yang pertama dan berkata: “Hadith pertama yang anda kemukakan isnadnya yang benar adalah begini; hadith kedua isnadnya yang benar adalah beginii…”
Begitulah Imam Bukhari menjawab semua pertanyaan satu demi satu hingga selesai menyebutkan sepuluh hadith. Kemudian ia menoleh kepada penanya yang kedua, sampai menjawab dengan selesai kemudian menoleh kepada penanya yang ketiga sampai menjawab semua pertanyaan dengan selesai sampai pada penanya yang ke sepuluh sampai selesai. Imam Bukhari menyebutkan satu persatu hadith-hadith yang sebenarnya dengan cermat dan tidak ada satupun dan sedikitpun yang salah dengan jawaban yang urut sesuai dengan sepuluh orang tadi mengeluarkan urutan pertanyaanya. Maka para ulama Baghdad tidak dapat berbuat lain, selain menyatakan kekagumannya kepada Imam Bukhari akan kekuatan daya hafal dan kecemerlangan pikirannya, serta mengakuinya sebagai “Imam” dalam bidang hadith.
Sebahagian hadirin memberikan komentar terhadap “uji cuba kemampuan” yang menegangkan ini, ia berkata: “Yang mengagumkan, bukanlah kerana Bukhari mampu memberikan jawaban secara benar, tetapi yang benar-benar sangat mengagumkan ialah kemampuannya dalam menyebutkan semua hadith yang sudah diputarbalikkan itu secara berurutan persis seperti urutan yang dikemukakan oleh 10 orang penguji, padahal ia hanya mendengar pertanyaan-pertanyaan yang banyak itu hanya satu kali.”Jadi banyak pemirsa yang hairan dengan kemampuan Imam Bukhari mengemukakan 100 buah hadith secara berurutan seperti urutannya si penanya mengeluarkan pertanyaannya padahal beliau hanya mendengarnya satu kali, ditambah lagi beliau membetulkan rawi-rawi yang telah diputarbalikkan, ini sungguh luar biasa.
Imam Bukhari pernah berkata: “Saya tidak pernah meriwayatkan sebuah hadith pun juga yang diterima dari para sahabat dan tabi’in, melainkan saya mengetahui tarikh kelahiran sebahagian besar mereka, hari wafat dan tempat tinggalnya. Demikian juga saya tidak meriwayatkan hadith sahabat dan tabi’in, yakni hadith-hadith mauquf, kecuali ada dasarnya yang kuketahui dari Kitabullah dan sunah Rasulullah SAW.”
Dengan kedudukannya dalam ilmu dan kekuatan hafalannya Imam Bukhari sebagaimana telah disebutkan, wajarlah jika semua guru, kawan dan generasi sesudahnya memberikan pujian kepadanya. Seorang bertanya kepada Qutaibah bin Sa’id tentang Imam Bukhari, ketika menyatakan : “Wahai para penenya, saya sudah banyak mempelajari hadith dan pendapat, juga sudah sering duduk bersama dengan para ahli fiqh, ahli ibadah dan para ahli zuhud; namun saya belum pernah menjumpai orang begitu cerdas dan pandai seperti Muhammad bin Isma’il al-Bukhari.”
Imam al-A’immah (pemimpin para imam) Abu Bakar ibn Khuzaimah telah memberikan kesaksian terhadap Imam Bukhari dengan mengatakan: “Di kolong langit ini tidak ada orang yang mengetahui hadith, yang melebihi Muhammad bin Isma’il.” Demikian pula semua temannya memberikan pujian. Abu Hatim ar-Razi berkata: “Khurasan belum pernah melahirkan seorang putra yang hafal hadith melebihi Muhammad bin Isma’il; juga belum pernah ada orang yang pergi dari kota tersebut menuju Iraq yang melebihi kealimannya.”
Al-Hakim menceritakan, dengan sanad lengkap. Bahawa Muslim (pengarang kitab Shahih), datang kepada Imam Bukhari, lalu mencium antara kedua matanya dan berkata: “Biarkan saya mencium kaki tuan, wahai maha guru, pemimpin para ahli hadith dan dokter ahli penyakit (ilat) hadith.” Mengenai sanjungan diberikan ulama generasi sesudahnya, cukup terwakili oleh perkataan al-Hafiz Ibn Hajar yang menyatakan: “Andaikan pintu pujian dan sanjungan kepada Bukhari masih terbuka bagi generasi sesudahnya, tentu habislah semua kertas dan nafas. Ia bagaikan laut tak bertepi.”
Imam Bukhari adalah seorang yang berbadan kurus, berperawakan sedang, tidak terlalu tinggi juga tidak pendek; kulitnya agak kecoklatan dan sedikit sekali makan. Ia sangat pemalu namun ramah, dermawan, menjauhi kesenangan dunia dan cinta akhirat. Banyak hartanya yang disedekahkan baik secara sembunyi maupun terang-terangan, lebih-lebih untuk kepentingan pendidikan dan para pelajar. Kepada para pelajar ia memberikan bantuan dana yang cukup besar. Diceritakan ia pernah berkata: “Setiap bulan, saya berpenghasilan 500 dirham,semuanya dibelanjakan untuk kepentingan pendidikan. Sebab, apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal.”
Imam Bukhari sangat hati-hati dan sopan dalam berbicara dan dalam mencari kebenaran yang hakiki di saat mengkritik para perawi. Terhadap perawi yang sudah jelas-jelas diketahui kebohongannya, ia cukup berkata: “Perlu dipertimbangkan, para ulama meninggalkannya atau para ulama berdiam diri tentangnya.” Perkataan yang tegas tentang para perawi yang tercela ialah: “Hadithnya diingkari.”
Meskipun ia sangat sopan dalam mengkritik para perawi, namun ia banyak meninggalkan hadith yang diriwayatkan seseorang hanya kerana orang itu diragukan. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahawa ia berkata: “Saya meninggalkan 10.000 hadith yang diriwayatkan oleh perawi yang perlu dipertimbangkan, dan meninggalkan pula jumlah yang sama atau lebih, yang diriwayatkan perawi yang dalam pandanganku, perlu dipertimbangkan.”
Selain dikenal sebagai ahli hadith, Imam Bukhari juga sebenarnya adalah ahli dalam fiqh. Dalam hal mengeluarkan fatwa, ia telah sampai pada darjat mujtahid mustaqiil (bebas, tidak terikat pendapatnya pada madzhab-madzhab tertentu) atau dapat mengeluarkan hukum secara sendirian. Dia mempunyai pendapat-pendapat hukum yang digalinya sendiri. Pendapat-pendapatnya itu terkadang sejalan dengan madzhab Abu Hanifah, terkadang sesuai dengan Madzhab Syafi’i dan kadang-kadang berbeda dengan keduanya. Selain itu pada suatu saat ia memilih madzhab Ibn Abbas, dan disaat lain memilih madzhab Mujahid dan ‘Ata dan sebagainya. Jadi kesimpulannya adalah Imam Bukhari adalah seorang ahli hadith yang ulung dan ahli fiqh yg berijtihad sendiri, kendatipun yang lebih menonjol adalah setatusnya sebagai ahli hadith, bukan sebagai ahli fiqh.
Di sela-sela kesibukannya sebagai seorang alim, ia juga tidak melupakan kegiatan lain yang dianggap penting untuk menegakkan Dinul Islam. Imam Bukhari sering belajar memanah sampai mahir, sehingga dikatakan bahawa sepanjang hidupnya, ia tidak pernah luput dalam memanah kecuali hanya dua kali. Keadaan itu timbul sebagai pengamalan sunah Rasul yang mendorong dan menganjurkan kaum Muslimin belajar menggunakan anak panah dan alat-alat perang lainnya. Tujuannya adalah untuk memerangi musuh-musuh Islam dan mempertahankannya dari kejahatan mereka.
Cara Imam Bukhari dalam menulis kitab hadits
Sebagai intelektual yang berdisiplin tinggi, Imam Bukhari dikenal sebagai pengarang kitab yang produktif. Karya-karyanya tidak hanya dalam disiplin ilmu hadits, tapi juga ilmu-ilmu lain, seperti tafsir, fikih, dan tarikh.Fatwa-fatwanya selalu menjadi pegangan ummat sehingga ia menduduki derajat sebagai mujtahid mustaqil (ulama yang ijtihadnya independen), tidak terikat pada mazhab tertentu, sehingga mempunyai otoritas tersendiri dalam berpendapat dalam hal hukum .
Pendapat-pendapatnya bisa sejalan dengan Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi) (pendiri mazhab hanafi), tetapi terkadang bisa berbeda dengan mereka. Sebagai pemikir bebas yang menguasai ribuan hadits shahi, suatu saat di sejalan dengan Ibnu Abbas, Atha ataupun Mujahid.
Diantara puluhan kitabnya, yang paling masyhur ialah kumpulan hadits shahih yang berjudul Al-Jami’ash-Shahih, yang belakangan lebih populer dengan sebutan Shahih Bukhari. Ada kisah unik tentang penyusunan kitab ini. Suatu malam imam Bukhari bermimpi bertemu dengan Rasulullah Nabi Muhammad SAW, seolah-olah Nabi Muhammad SAW berdiri dihadapannya.
Imam Bukhari lalu menanyakan makna mimpi itu kepada ahli mimpi.Jawabannya adalah beliau (Imam Bukhari) akan menghancurkan dan mengikis habis kebohongan yang disertakan orang dalam sejumlah hadits Rasulullah SAW. Mimpi inilah, antara lain yang mendorong saya untuk menulis kitab “Al-Jami `ash Shahih”, tuturnya.
Dalam menyusun kitab tersebut, Imam Bukhari sangat berhati-hati. Menurut Al-Firbari, salah seorang muridnya, ia mendengar Imam Bukhari berkata. “Saya susun kitab Al-Jami `ash Shahih ini di Masjidil Haram, Mekkah dan saya tidak mencantumkan sebuah hadits pun kecuali sesudah [[shalat istikharah]] dua rakaat memohon pertolongan kepada Allah, dan sesudah meyakini betul bahwa hadits itu benar-benar shahih”. Di Masjidil Haram-lah ia menyusun dasar pemikiran dan bab-babnya secara sistematis.
Setelah itu ia menulis mukaddimah dan pokok pokok bahasannya di Rawdah Al-Jannah, sebuah tempat antara makam Rasulullah dan mimbar di Masjid Nabawi di Madinah. Barulah setelah itu ia mengumpulkan sejumlah hadis dan menempatkannya dalam bab-bab yang sesuai. Proses penyusunan kitab ini dilakukan di dua kota suci tersebut dengan cermat dan tekun selama 16 tahun. Ia menggunakan kaidah penelitian secara ilmiah dan cukum modern sehingga hadits haditsnya dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan bersungguh-sungguh ia meneliti dan menyelidiki kredibilitas para perawi sehingga benar-benar memperoleh kepastian aka kesahihan hadits yang diriwayatkan. Ia juga selalu membandingkan hadits satu dengan yang lainnya, memilih dan menyaring, mana yang menurut pertimbangannya secara nalar paling sahih. Dengan demikian, kitab hadits susunan Imam Bukhari benar-benar menjadi batu uji dan poenyaring bagi sejumlah hadits. “Saya tidak memuat sebuah hadits pun dalam kitab ini kecuali hadits-hadits shahih”, katanya suatu saat.
Di belakang hari, para ulama hadits menyatakan, dalam menyusun kitab Al-Jami `ash-Shahih Imam Bukhari selalu berpegang teguh pada tingkat kesahihan paling tinggi dan tidak akan turun dari tingkat tersebut, kecuali terhadap beberapa hadits yang bukan merupakan materi pokok dari sebuah bab.
Menurut Al’ Allamah Ibnu Shalah, dalam kitab Muqaddimah, kitab Shahih Bukhari itu memuat 7275 hadits selain itu ada hadits-hadits yang dimuat berulang, ada 4000 hadits yang dimuat utuh tanpa pengulangan. Penghitungan itu juga dilakukan oleh Syekh Muhyiddin An Nawawi dala kitab At-Taqrib.Dalam pada itu Ibnu Hajar Al-Atsqalani dalam kata pendahuluan untuk kitab Fathul Bari, yakni syarah atau penjelasan atas kitab Shahih Bukhari, menulis, semua hadits shahih uang dimuat dalam Shahih Bukhari (minus hadits yang dimuat berulang) sebanyak 2.602 buah. Sedangkan hadis yang mu’allaq (ada kaitan satu dengan yang lain, bersambung) namun marfu (diragukan) ada 159 buah. Adapun jumlah semua hadis shahih termasuk yang dimuat berulang sebanyak 7397 buah. Perhitungan berbeda diantara para ahli hadits dalam mengomentari kitab Shahih Bukhari semata-mata karena perbedaan pandangan mereka dalam ilmu hadits.
Diperoleh dari “http://id.wikipedia.org/wiki/Cara_Imam_Bukhari_dalam_menulis_kitab_hadits”

Imam Ahli Hadits
Kecerdasan dan keseriusan Imam Bukhari telah menjadikan ia berhasil menjadi pakar hadits peringkat teratas di zamannya dan menjadi panutan ahli-ahli hadits yang lahir sesudahnya.Dimana pun Imam Bukhari singgah, disitu para ulama’ dan ahli hadits berkumpul untuk mendengarkan hadits darinya. Para ulama’ dari kota Basrah berlari di belakang Imam Bukhari untuk mendapatkan hadits padahal saat itu beliau masih sangat muda.
Terkadang Imam Bukhari terpaksa menghentikan perjalanannya dan menyampaikan hadits pada ratusan orang yang mengerumuninya ditepi jalan.

Ketika Imam Bukhari datang ke kota Naisabur, beliau disambut empat ribu penunggang kuda yang ingin mendengar hadits darinya, ini belum termasuk penunggang keledai dan pejalan kaki.
Sewaktu Imam Bukhari sampai di kota Balkh, para ahli hadits meminta agar Imam Bukhari meriwayatkan kepada mereka satu hadits dari tiap-tiap perawi yang pernah ditemuinya. Maka Imam Bukhari mendiktekan seribu hadits dari seribu perawi.

Di kota Basrah ketika Imam Bukhari datang, seorang penyeru mengumumkan di Masjid Jami’ Basrah, “Wahai para ahli ilmu, Imam Bukhari telah datang.” Mereka pun segera keluar dari rumah untuk mencari Imam Bukhari. Ternyata Imam Bukhari sholat dibelakang salah satu tiang Masjid. Semua mata memandang pemuda tersebut. Usai shalat, mereka minta agar Imam Bukhari berkenan menyampaikan hadits-haditsnya, semakin hari semakin banyak yang hadir hingga jumlahnya mencapai ribuan. “Wahai penduduk Basrah,” kata Imam Bukhari memulai pembicaraannya. “Aku masih muda, namun kalian memintaku untuk menyampaikan hadits. Baiklah, akan kusampaikan pada kalian hadits-hadits tentang penduduk negeri kalian.”
Dari dulu hingga sekarang, banyak pujian para ulama’ yang ditujukan pada Imam Bukhari. Yahya bin Jakfar berkata, “seandainya aku mampu menambahkan umurku untuk Imam Bukhari niscaya aku lakukan, karena matiku adalah kematian seorang saja, sedangkan kematian Imam Bukhari berakibat hilangnya ilmu agama.”
Husin bin Harits berkata, “aku tidak pernah melihat seseorang seperti Imam Bukhari, seakan-akan beliau diciptakan hanya untuk hadits.”

Suatu ketika Muslim bin Hajjaj datang kepada Imam Bukhari seraya berkata, “Biarkan aku mencium kakimu wahai guru semua guru, dokter hadits dan pemimpin ahli hadits.”
Imam Bukhari dikenal sebagai orang ‘alim yang cerdas serta kuat ingatannya. Sebagai ilustrasi, dalam usia belasan tahun ia pernah diuji oleh 10 orang ulama hadits terkenal. Dikemukakan kepadanya 100 buah hadits (masing-masing ulama mengemukakan 10 buah hadits) yang sanadnya telah ‘dijungkirbalikkan’ sedemikian rupa. Bagaimana hasilnya? Bukhari bukan hnya meluruskan sanad-sanad (mata rantai periwayatan) dari semua hadits tersebut, akan tetapi ia mampu mengulang terlebih dahulu satu persatu dari 100 buah hadits yang
‘dijungkirbalikkan’ sanadnya itu persis sebagaimana yang diucapkan oleh para pengujinya.
Menjadi tokokh besar seperti Imam Bukhari, tak sedikit rintangan yang harus dilalui, beliau sempat difitnah dan diusir dari negerinya, Bukhara. Ini berawal ketika Khalid bin Ahmad, penguasa Bukhara, mengutus seseorang untuk menyampaikan pesan kepada Imam Bukhari, agar datang utuk menemuinya di Istana dengan membawa kitab-kitab haditsnya. Maka Imam Bukhari menjawab, “Saya tidak akan menghinakan ilmu dengan membawanya ke rumah-rumah orang, kalau memang Sultan memiliki hajat, maka dialah yang harus datang ke masjid atau rumahku. Kalau tidak mau, silahkan saja Sultan menutup majlisku, supaya saya dihari kiamat terlepas dari dosa menyembunyikan ilmu, karena Nabi bersabda, ‘Barang siapa ditanya tentang suatu ilmu dan dia menyembunyikannya, maka dia dikekang dengan kekang api.’”
Ketika Imam Bukhari diusir dari Bhukhara, Beliau ditanya, “Bagaimana pendapatmu tentang hari ini?” Imam Bukhari menjawab, “Saya tidak peduli, yang penting agamaku selamat”.

Imam Bukhari berakhlaq mulia, hidup zuhud, wara’, ikhlas dan dermawan. Selain itu, Imam Bukhari adalah figur pedangang yang jujur. Suatu ketika, Ahmad, putra Imam Bukhari menjualkan dagangan ayahnya. Para pedagang mendatanginya, mereka berniat membeli barang-barang itu dengan memberi keuntungan lima ribu, namun Ahmad belum berkenan melayani, “Pulanglah.kalian.malam.ini,”.katanya.Esok harinya rombongan pedagang yang lain datang dan ingin membelinya dengan memberi keuntungan sebesar 10 ribu. “Tidak, kami sudah berniat menjualnya pada mereka yang datang tadi malam,” tegas Ahmad.
Sumber :
Majalah Cahaya Nabawiy No.53 Tahun V Jumadil Akhir 1428/ Juli 2007
Diceritakan, Imam Bukhari berkata: “Aku bermimpi melihat Rasulullah SAW.; seolah-olah aku berdiri di hadapannya, sambil memegang kipas yang kupergunakan untuk menjaganya. Kemudian aku tanyakan mimpi itu kepada sebahagian ahli ta’bir, ia menjelaskan bahawa aku akan menghancurkan dan mengikis habis kebohongan dari hadith Rasulullah SAW. Mimpi inilah, antara lain, yang mendorongku untuk melahirkan kitab Al-Jami’ as-Shahih.”
Dalam menghimpun hadith-hadith shahih dalam kitabnya, Imam Bukhari menggunakan kaidah-kaidah penelitian secara ilmiah dan sah yang menyebabkan keshahihan hadith-hadithnya dapat dipertanggungjawabkan. Beliau telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meneliti dan menyelidiki keadaan para perawi, serta memperoleh secara pasti keshahihan hadith-hadith yang diriwayatkannya. Beliau senantiasa membanding-bandingkan hadith-hadith yang diriwayatkan, satu dengan yang lain, menyaringnya dan memlih has mana yang menurutnya paling shahih. Sehingga kitabnya merupakan batu uji dan penyaring bagi hadith-hadith tersebut. Hal ini tercermin dari perkataannya: “Aku susun kitab Al-Jami’ ini yang dipilih dari 600.000 hadith selama 16 tahun.” Dan beliau juga sangat hati-hati, hal ini dapat dilihat dari pengakuan salah seorang muridnya bernama al-Firbari menjelaskan bahawa ia mendengar Muhammad bin Isma’il al-Bukhari berkata: “Aku susun kitab Al-Jami’ as-Shahih ini di Masjidil Haram, dan tidaklah aku memasukkan ke dalamnya sebuah hadith pun, kecuali sesudah aku memohonkan istikharoh kepada Allah dengan melakukan salat dua rekaat dan sesudah aku meyakini betul bahawa hadith itu benar-benar shahih.”
Maksud pernyataan itu ialah bahawa Imam Bukhari mulai menyusun bab-babnya dan dasar-dasarnya di Masjidil Haram secara sistematis, kemudian menulis pendahuluan dan pokok-pokok bahasannya di Rawdah tempat di antara makan Nabi SAW. dan mimbar. Setelah itu, ia mengumpulkan hadith-hadith dan menempatkannya pada bab-bab yang sesuai. Pekerjaan ini dilakukan di Mekah, Madinah dengan tekun dan cermat, menyusunnya selama 16 tahun.
Dengan usaha seperti itu, maka lengkaplah bagi kitab tersebut segala faktor yang menyebabkannya mencapai kebenaran, yang nilainya tidak terdapat pada kitab lain. Kerananya tidak menghairankan bila kitab itu mempunyai kedudukan tinggi dalam hati para ulama. Maka sungguh tepatlah ia mendapat predikat sebagai “Buku Hadith Nabi yang Paling Shahih.”
Diriwayatkan bahawa Imam Bukhari berkata: “Tidaklah ku masukkan ke dalam kitab Al-Jami’ as-Shahih ini kecuali hadith-hadith yang shahih; dan ku tinggalkan banyak hadith shahih kerana khawatir membosankan.”
Kesimpulan yang diperoleh para ulama, setelah mengadakan penelitian secara cermat terhadap kitabnya, menyatakan bahawa Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya selalu berpegang teguh pada tingkat keshahihan yang paling tinggi, dan tidak turun dari tingkat tersebut kecuali dalam beberapa hadith yang bukan merupakan materi pokok dari sebuah bab, seperti hadith mutabi dan hadith syahid, dan hadith-hadith yang diriwayatkan dari sahabat dan tabi’in.
Sanjungan para Ulama terhadapnya
a)
Karya-karya Imam Bukhari
Di antara hasil karya Imam Bukhari adalah sebagai berikut
1.Al-Jami’ as-Shahih (Shahih Bukhari).
2.Al-Adab al-Mufrad.
3.At-Tarikh as-Sagir.
4.At-Tarikh al-Awsat.
5.At-Tarikh al-Kabir.
6.At-Tafsir al-Kabir.
7.Al-Musnad al-Kabir.
8.Kitab al-’Ilal.
9.Raf’ul-Yadain fis-Salah.
10.Birril-Walidain.
11.Kitab al-Asyribah.
12.Al-Qira’ah Khalf al-Imam.
13.Kitab ad-Du’afa.
14Asami as-Sahabah.
15.Kitab al-Kuna.

Sekilas Tentang Kitab AL-JAMI’ AS-SHAHIH (Shahih Bukhari)
Kitab Shahih Bukhari merupakan kitab (buku) koleksi hadits yang disusun oleh Imam Bukhari (nama lengkap: Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah al-Ja’fai) yang hidup antara 194 hingga 256 hijriah.
Koleksi hadits ini di kalangan muslim Sunni adalah salah satu dari yang terbaik karena Bukhari menggunakan kriteria yang sangat ketat dalam menyeleksi hadits. Ia menghabiskan waktu 16 tahun untuk menyusun koleksi ini dan menghasilkan 2.602 hadits dalam kitabnya (9.802 dengan perulangan).

1. Kitab Permulaan Wahyu
2. Kitab Iman
3. Kitab Ilmu
4. Kitab Wudhu’
5. Kitab Mandi
6. Kitab Haid
7. Kitab Tayammum
8. Kitab Shalat
9. Kitab Waktu-Waktu Shalat
10. Kitab Adzan[1]
11. Kitab Shalat Jumat
12. Kitab Haji[2]
13. Kitab Puasa
14. Kitab Shalat Tarawih [dan I’tikaf]
15. Kitab Jual Beli
16. Kitab Salam (Tempah, Pemesanan)
17. Kitab Syuf’ah (Penyewaan)
18. Kitab Ijarah (Upah)
19. Kitab Wakalah (Perwakilan)
20. Kitab tentang Berladang dan Bercocok Tanam
21. Kitab Distribusi Air (Pengairan)
22. Kitab Masalah Hutang
23. Kitab dalam Perselisihan (Pertengkaran)
24. Kitab Luqathah (Barang Temuan)
25. Kitab tentang Perbuatan-Perbuatan Zalim
26. Kitab Syirkah (Perseroan)
27. Kitab Pegadaian
28. Kitab Pembebasan Budak
29. Kitab Hibah (Hadiah) dan Keutamaannya
30. Kitab Syahadah (Persaksian)
31. Kitab Perdamaian
32. Kitab Persyaratan[3]
33. Kitab Wasiat
34. Kitab Jihad dan Ekspedisi
35. Kitab Permulaan Makhluk
36. Kitab Manaqib (Biografi)[4]

37. Kitab Berbagai Keutamaan Shahabat-Shahabat Nabi
38. Kitab Perang[5]
39. Kitab Tafsir[6]
40. Kitab Nikah
41. Kitab Thalaq
42. Kitab Nafkah
43. Kitab Makanan
44. Kitab Akikah
45. KitabSembelihan-Sembelihan, Berburu, dan Membacakan Bismillah atas Hewan Buruan
46. Kitab Korban-Korban
47. Kitab Minuman
48. Kitab Musibah Sakit
49. Kitab Pengobatan
50. Kitab Mengenai Makanan[7]
51. Kitab Adab (Budi Pekerti)
52. Kitab Isti`dzan (Memohon Izin)
53. Kitab Do’a-Do’a
54. Kitab Kalimat-Kalimat yang Melunakkan Hati
55. Kitab Ketentuan Allah
56. Kitab Sumpah dan Nadzar
57. Kitab Kafarat Sumpah
58. Kitab Faraidh (Hukum Waris)
59. Kitab Had (Pidana) dan Apa yang Harus Dihindari dari Had
60. Kitab yang Menjelaskan Orang-Orang yang Diperangi Terdiri dari Orang-Orang Kafir dan Orang-Orang yang Harus Diperangi dari Orang-Oang Murtad Sehingga Mereka Meninggal Dunia[8]
61. Kitab Diyat (Tebusan Kejahatan)
62. Kitab Orang-Orang Murtad dan Orang-Orang yang Menentang Diminta Bertaubat, dan Peperangan Terhadap Mereka
63. Kitab Pemaksaan
64. Kitab Helah (Upaya Tersembunyi)
65. Kitab Tafsir Mimi
66. Kitab Fitnah-Fitnah (Ujian/Siksaan)
67. Kitab Hukum-Hukum
68. Kitab Harapan Jauh (Angan-Angan)
69. Kitab Berpegang kepada Qur’an dan Sunnah
70. Kitab Tauhid[9]

Shahih Bukhari mempunyai 70 kitab menurut terjemahan Ahmad Sunarto dkk. Sedangkan menurut terjemahan M. Muhsin Khan, 93 kitab.[10] Hal ini akibat beberapa perbedaan pembagian kitab. Misalnya Kitab Shalat menurut terjemahan Ahmad Sunarto dkk[1] terhitung sebagai dua kitab dalam terjemahan M. Muhsin Khan, yaitu Book of Prayers (Salat) dan Book of Virtues of the Prayer Hall (Sutra of the Musalla).[10]

Shahih Bukhary
• (ar) Shahih Bukhari, lengkap dengan sanad, penomoran al-Alamiyah.
• (en) Sahih al-Bukhari, dengan teks Arab.
• (en) Translation of Sahih Bukhari (pranala 1, pranala 2), tanpa teks Arab.
• (en) The Sahih Collection of al-Bukhari, sebagian terjemah Shahih Bukhari beserta judul babnya dalam bahasa Inggris.
• (ar) Shahih Bukhari berupa Shamela e-Book, penomoran al-Alamiyah (pranala unduhan).
• (ar) Shahih Bukhari dari Syaikh Utsaimin (pranala unduhan, unduhan Jilid 1, unduhan Jilid 2).
• (ar) Shahih Bukhari dari Sahab.Org (unduhan lengkap 7124 hadits).
• (en) Translation of Sahih Bukhari (pranala unduhan, unduhan 3.99 MB).
1. ^ a b (id) Achmad Sunarto dkk. Tarjamah Shahih Bukhari, Jilid I. CV Asy Syifa`, Semarang. Cetakan Pertama, Desember 1991.
2. ^ (id) —–. Tarjamah Shahih Bukhari, Jilid II. CV Asy Syifa`, Semarang. Cetakan Pertama, Maret 1993.
3. ^ (id) —–. Tarjamah Shahih Bukhari, Jilid III. CV Asy Syifa`, Semarang. Cetakan Pertama, Februari 1992.
4. ^ (id) —–. Tarjamah Shahih Bukhari, Jilid IV. CV Asy Syifa`, Semarang. Cetakan Pertama, Maret 1993.
5. ^ (id) —–. Tarjamah Shahih Bukhari, Jilid V. CV Asy Syifa`, Semarang. Cetakan Pertama, Mei 1993.
6. ^ (id) —–. Tarjamah Shahih Bukhari, Jilid VI. CV Asy Syifa`, Semarang. Cetakan Pertama, Juli 1993.
7. ^ (id) —–. Tarjamah Shahih Bukhari, Jilid VII. CV Asy Syifa`, Semarang. Cetakan Pertama, Juli 1993.
8. ^ (id) —–. Tarjamah Shahih Bukhari, Jilid VIII. CV Asy Syifa`, Semarang. Cetakan Pertama, Juli 1993.
9. ^ (id) —–. Tarjamah Shahih Bukhari, Jilid IX. CV Asy Syifa`, Semarang. Cetakan Pertama, Juli 1993.
10. ^ a b (en) M. Muhsin Khan. Translation of Sahih Bukhari.
Diperoleh dari “http://id.wikipedia.org/wiki/Shahih_Bukhari”
Jumlah Hadith Kitab Al-Jami’as-Shahih (Shahih Bukhari)
Al-’Allamah Ibnus-Salah dalam Muqaddimah-nya menyebutkan, bahawa jumlah hadith Shahih Bukhari sebanyak 7.275 buah hadith, termasuk hadith-hadith yang disebutnya berulang, atau sebanyak 4.000 hadith tanpa pengulangan. Perhitungan ini diikuti oleh Al-”Allamah Syaikh Muhyiddin an-Nawawi dalam kitabnya, At-Taqrib.
Selain pendapat tersebut di atas, Ibn Hajar di dalam muqaddimah Fathul-Bari, kitab syarah Shahih Bukhari, menyebutkan, bahawa semua hadith shahih mawsil yang termuat dalam Shahih Bukhari tanpa hadith yang disebutnya berulang sebanyak 2.602 buah hadith. Sedangkan matan hadith yang mu’alaq namun marfu’, yakni hadith shahih namun tidak diwasalkan (tidak disebutkan sanadnya secara sambung-menyambung) pada tempat lain sebanyak 159 hadith. Semua hadith Shahih Bukhari termasuk hadith yang disebutkan berulang-ulang sebanyak 7.397 buah. Yang mu’alaq sejumlah 1.341 buah, dan yang mutabi’ sebanyak 344 buah hadith. Jadi, berdasarkan perhitungan ini dan termasuk yang berulang-ulang, jumlah seluruhnya sebanyak 9.082 buah hadith. Jumlah ini diluar haits yang mauquf kepada sahabat dan (perkataan) yang diriwayatkan dari tabi’in dan ulama-ulama sesudahnya.
Sumber: Kitab Hadith Shahih yg Enam, Muhammad Muhammad Abu Syuhbah
Imam Bukhari telah menyumbangkan kepada umat Islam khazanah yang tak ternilai harganya. Salah satu kitabnya yang diwariskan kepada kita adalah Sahih Bukhari, yang oleh pengarangnya sendiri disebut sebagai “kitab yang memuat hadits-hadits sahih dan juga mencakup berbagai bidang dan masalah, serta rangkaian sanadnya yang benar-benar bersambung sampai.kepada.Rasulullah.SAW.”
Para ulama’ menyatakan, kitab Sahih Bukhari adalah kitab yang paling terpercaya kebenarannya setelah Al-Qur’an. Sahih Bukhari memuat sejumlah 9082 buah hadits termasuk yang mukarar (terulang penyebutannya). Jumlah ini merupakan hasil penyaringan beliau terhadap tidak kurang dari 600.000 hadits yang telah diselesaikannya dalam waktu 16 tahun, sebagaimana yang telah beliau katakan “Saya ambil untuk kitab As-Sahih dari 600.000 hadits dan tidak aku tulis satu hadits pun kecuali setelah aku mandi dan shalat dua rakaat”.

Bukhari lalu menghadapkan karya-nya kepada guru-gurunya, Yahya ibn Ma’in(w. 233 H), Ali ibn Al-Madani(w. 2235 H), dan Ahmad ibn Hanbal(w. 241 H). Disamping itu, ‘Ajjaj al-khatib menyatakan bahwa Sahih al-Bukhari ini telah didengar dan dipelajari oleh sekitar 90.000 ahli hadits di zamannya. Kemudian melalui berbagai jalur, kitab ini diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya, sampai akhirnya dicetak seperti sekarang ini.
Sumber :
Majalah Cahaya Nabawiy No.53 Tahun V Jumadil Akhir 1428/ Juli 2007

  1. No trackbacks yet.

You must be logged in to post a comment.
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: