Tujuan Penciptaan Manusia

Dasar yang menjadi pokok masalah yang akan saya bahas dalam uraian ini, terutama sekali tentang akhlak dan ruhani umat manusia. Namun supaya hal ini dapat dimengerti dan mudah dipahami, kita mulai, dari awal terbentuknya jasad manusia itu sendiri.

Proses Penciptaan Manusia
Awal penciptaan sampai terbentuknya jasad manusia secara sempurna, di dalam Al-Qur’an diterangkan ada 7 tingkatan, hal ini dapat kita baca dalam surah Al-Mu’minun:
“Dan sesungguhnya telah Kami jadikan manusia dari intisari tanah liat. Kemudian Kami letakkan dia sebagai air mani di dalam tempat penyimpanan yang terpelihara. Kemudian Kami bentuk air mani itu jadi segumpal darah, maka Kami bentuk segumpal darah itu jadi segumpal daging (tanpa bentuk), maka Kami bentuk segumpal daging tak berbentuk itu tulang-tulang, kemudIan Kami saluti tulang-tulang itu dengan daging, kemudian-Kami tumbuhka dia menjadi makhluk lain. Maka Maha Berkatlah Allah, sebaik-baiknya Pencipta” (Al-Mu’ minun: 13-15).
Tentang hal kejadián manusia, jika dilihat secara lahiriah sebagaimana tersebut di atas, memang asalnya dari suatu bahan yang tak berharga dan tiada berarti, namun walau pun demikian toh manusia masih tetap lebih mulia dibanding dengan makhluk Tuhan lainnya, terlebih-lebih lagi kalau kita membaca firman Tuhan di dalam Al-Qur’an, Allah Swt. menerangkan bahwa penciptaan manusia itu sungguh telah dilebihkan dari makhluk-makhluk lainnya, firman-Nya:
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam penciptaan yang sebaik-baiknya” (At-Tin: 5).
Bahkan dengan sañgat indah sekali di lain tempat Tuhan berfirman:
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak cucu Adam dan Kami angkat mereka di daratan dan di lautan dan Kami angkat mereka di daratan dan di lautan dan kami beri reski yang baik dan kamo lebihkan mereka jauh di atas kebanyakan dari yang telah kami ciptakan” (Bani israil: 71l) -
Dari kedua rangkaian ayat tersébut nampak jelas kepada kita, penciptaan manusia itu jauh lebih mulia dibanding dengan makhluk-makhluk Tuhan lainnya, baik yang ada di daratan ataupun di lautan, manusia tetap lebih unggul.
Tapi hendaknya kita jangan merasa bangga karena alasan tersebut, sebaliknya kitá harus dapat menggunakan karunia Allah tersebut dengan sebenar-benarnya.
Dalam firman-Nya yang lain Allah Swt. menerangkan:
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang bertaqwa”(Al-Hujarat: 14).
Berdasarkan ayat tersebut, manusia, makhluk yang mulia itu akan lébih mulia lagi dalam pandangan Allah Swt. bilamana ia bertaqwa, atau beriman dan beramal shaleh, seperti yang diisyaratkan surah At-Tin: 7, oleh karena itu kita hendaknya harus selalu mawas diri, mengingat karunia Allah dan mengingat firman Allah Swt. Seperti yang diisyaratkan Allah swt. dalam ayat yang lain, firman-Nya:
“Dialah yang telah menjadikan sempurna segala sesuatu yang telah diciptakannya, dan Dia memulai penciptaan manusia dari tanah liat. Kemudian Dia rnenjadikan keturunannya dari patisani cairan (nutfàh) yang tak bermakna. Kemudian Dia melngkapinya dengan kemampuan kemampuan yang sempurna, dan Dia meniupkan ke dalamnya Ruhnya, dan Dia telah menjadikan telinga dan mata dan hati, (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur” (As-Sajadah: 8-10).
Telah menjadi fitrat manusia, bila mereka dianugerahi segala kebutuhan dan dipenuhi segala kekurangannya, biasanya mereka lupa daratan. Hal tersebut membuktikan kebenaran ayat di atas; dimana Allah Swt. mula pertama menciptakan manusia dari suatu benda yang hina dan tak bermakna, akan tetapi atas kemurahan dan karunia-Nya Dia telah memberikan kemampuan-kemampuan yang sempurna dan meniupkan ruh-Nya ke dalamnya demi kesempurnaan jasad manusia tersebut, bahkan guna memenuhi segala kebutuhan dan guna mudahnya mencapai segala kebutuhan dan keperluan tersebut, Dia telah menjadikan telinga, mata dan hati. Namun setelah terciptanya jasad manusia tersebut yang begitu baik dan sempuma, Tuhan berfirman; kebanyakan di antara mereka seoláh-olah tidak tahu diri. Yakni, tidak mau bersyukur kepadanya. Oleh karena sifat congkak semacam itulah maka pada setiap kaum dan di sêtiap zaman, Allah swt. mengutus nabi/rasul-Nya untuk membawa mereka supaya mereka kenal kepada-Nya dan supaya mereka mengetahui maksud penciptaan mereka.

Tujuan Penciptaan Manusia
Perlu ditambahkan, têrbentuk dan terciptanya jasad manusia bukanlah suatu hal yang kebetulan dan tidak tanpa tujuan serta bukan hanya untuk makan, minum, bersenäng-senang dan lain sebagainya. Sebab jika demikian hat tersebut benar-benar bertentangan dengan kebijaksanaan Allah Swt. Dia berfirman dalam AlQuran:
“Apakah kamu menyangka bahwasanya Kami jadikan kamu tanpa tujuan, dan bahwasanya tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Al-Mu’minun :116).
Berdasarkan ayat tersebut jelas bagi kita, bahwa dijadikannya manusia itu mempunyai tujuan tersendiri yang sangat agung dan mulia. Tujuan tersebut dapat kita baca dalam AlQuran yakni hanya semata-mata untuk menyembah kepadanya dan untuk mengembangkan dan mencerminkan di dalam dirinya sifat-sifat Allah Swt. sebab ia sendiri telah dianugerahi kepribadian yang selaras dengan sifat Ketuhanan. Dalam firrnan-Nya:
“Dan Aku tidak menciptakan fin dan manusia melainkan sup aya mereka rnenyembah. kepada-Ku” (Adz-Dzariyat: 57).
Arti yang utama dari kata ibadah ialah; menundukkan diri sediri kepada disiplin keruhanian yang keras, laIü bekerja dengan segala kemampuan dan kekuatan yang ada, sampai sepenuh jangkauannya; sepenuhnya serasi dan taati kepada pemerintah-perintah Ilahi, agar menerirna materai pengesahan Tuhan dan dengan demikian mampu mencampurkan dan menjelmakan dalam dirinya sendiri sifat-sifat Allah Swt. Sebagainana tersebut dalam ayat itu, itulah maksüd dan tujuan agung lagi mulia bagi penciptaan manusia dan memang itulah makna ibadah kepada Tuhan. (Tafsir Shagir – Hz. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad).

Pentingnya Manusia Bersyukur
Bila kita menghayati keterangan tentang kejadian manusia dalam firman Allah Swt. di atas (Al-Mu’minun: 13-15 dan (As-Sajadah: 8-10), secara mendalam; memang sudah sepantasnya dan sewajarnya manusia melakukan sujud syukur atau rnenyembah kepada-Nya sebagai tanda terima kasih atas limpahan karunia dan nikmat-Nya yang tiada terhingga itu, bahkan sebenarnya tidak wajar jika manusia diperintah lebih dulu untuk menyembah dan bersyukur ke hadiratnya, dengan kata lain ia harus mengerti sendiri. Namun berhubung Tuhan Yang Maha Tahu lebih mengetahui keadaan manusia yang mempunyai sifat sangat sombong dan girang itu, sebagaimana difirmankan:
“Dan jika Kami membuat manusia merasakan rahmat Kami, kemudian Kami tarik kembáli dari padanya, sesungguhnya ia berputus-asa, tidak bersyukur. Dan jika Kami membuat dia merasakan kebahagiaan setelah kemalangan menimpanya, niscaya ia akan berkata: Hilang lenyapIah segala kesusahan daripadaku, Sesungguhnya Ia terlampau girang dan sangat sombong’’ (Hud : 10-11 dan .lihat juga Qs. ‘10:13; 17:6.8).
Karena itu Allah swt. di dalam Al Quran berulangkali menyeru kepada umat manusia supaya mereka bersyukur kepadanya, atas anugerah, nikmat dan karunia yang telah dilimpahkannya. Hal tersebut dengan tegas sekali dapat kita baca dalam firman-Nya:
“Maka ingatlah kepada-Ku (yang telah melimpahkan karunia kepadamu) niscaya Aku pun akan ingat kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah ingkar (menyangkal/menolak) nikimat-Ku” (AI-Baqarah: 153).
Dan dalam ayat lain kita baca lagi:
“Dan ketika Tuhan engkau mengemukakan, jika kamu berterimakasih, tentulah akan Ku-limpahkan lebih banyak (Karunia) padamu; tetapi jika kamu mengingkarinya (maka ketahuilah) bahwa sesungguhnya azab-Ku sangat keras” (QS. Ibrahim: 8).
Maksud dari Bersyukur
Kata-kata syukr (syukur) di dalam Al-Qur’an,. dapat dibagi 3 bagian, pertama: Dengan hati atau pikiran, ialah dengan suatu pengertian yang tepat dalam hati mengenai manfaat yang diperolehnya; kedua: Dengan lidah, yakni dengan jalan memuji, menyanjung atau memuliakan orang yang berbuat kebajikan; dan ketiga: Dengan anggota badan, ialah dengan membalas kebajikan yang diterima setimpal dengan jasa itu. (Tafsir Shagir – Hz. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad).
Kedua rangkaian ayat diatas memberikan isyarat kepada kita, bersyukur itu perlu dan penting dilakukan setiap orang, dan terutama bagi yang menamakan dirinya Muslim, Hal tersebut digambarkan dan diisyaratkan oleh firman-Nya:
“Tetapi jika kamu mengingkarinya (‘maka ketahuilah) bahwa sesungguhnya azab-Ku sangat keras “. (Ibrahim: 8).
Kita bertanya, mengapa jika manusia mengingkari atau menolak dan menyangkal karunia dan nikmatnya, Tuhan memperingatkan dengan azabnya yang sangat keras?! Hal ini tiada lain adalah suatu gambaran dan isyarat, bahwa bersyukur itu perlu dan penting dilakukan. Allah berfirman Iebih tegas lagi ayat yang lain:
“Bersyukurlah kalian kepada-Ku dan janganlah sekali-kali kalian ingkar (menyangkal) dan menolak nikmat-Ku” (Al-Baqarah: 153).
Setelah kita mengetahui bersyukur itu perlu dan penting dilakukan sekarang bagaimana caranya bersyukur: Bersyukur dalam arti kata yang sebenarnya bukan hanya mengucapkan di bibir saja, baik kepada manusia atau pun kepada Allah Swt, umpamanya; “Ya Allah kami ucapkan syukur atas limpahan rahmat dan karunia-Mu” tidak! Sama sekali tidak cukup hanya demikian, melainkan Ia harus memenuhi beberapa syarat, yakni; bilamana ía bersyukur, ia harus merendahkan diri dan mengingat hikmah dan manfaat suatu hal yang diperolehnya, sehingga timbul dalam dirinya kecintaan terhadap yang memberi dan mengakui atas qadar yang diterimanya, serta ia harus menyanjung, memuji kepada yang memberi atau paling tidak ia harus membalas dengan jasa yang setimpal dengan apa yang diperolehnya dan setelah itu ia harus mempergunakan apa yang diperolebnya dengan setepat-tepatnya.
Dalam menyatakan syukur kepada Allah Swt. tentu saja dalam prakteknya tidak sama dengan pernyataan syukur kepada manusia, berhubung Allah Swt, mempunyai sifat tersendiri, yakni Dia tidak membutuhkan sesuatu dan siapapun, hal tersebut berarti juga bahwa. Dia tidak membutuhkan balasan jasa. Oleh karena itu pernyataan syukur kepada Allah Swt. tiada lain kecuali penyembahan hakiki, bertasbih, memperbanyak dzikir/mengingat, menerima dan mempergunakan rahmat dan karunia-Nya dengan sebesar-besarnya dan setepat-tepatnya.

About these ads
  1. No trackbacks yet.

You must be logged in to post a comment.
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: