“PERANAN KHILAFAT DALAM MENANGANI MASALAH-MASALAH FIKIH”


Allah swt telah menurunkan Al-Quaran Karim, sebagai Kitab yang sempurna dan yang terahir. Di dalamnya semua kepentingan Agama, ahlak, dan rohani kita dijelaskan secara lengkap dan mendasar. Masalah apapun yang dihadapi manusia sampai hari kiamat, pemecahannya terdapat di dalam Al-Qur’an dan Allah ta’ala telah menjadikan Rasulullah Saw. Sebagai Uswah yang sempurna untuk memberikan pengajaran sekaligus pengamalan tentang petunjuk itu sesuai dengan yang diperintahkan Al-Qur’an. Sebagaimana Al-Qur’an sendiri memberikan kesaksiannya tentang kesempurnaan akhlak Beliau Saw :
(Al-Ahzab, 33: 22)
Yakni bagi kalian yaitu orang-orang yang berharap untuk berjumpa dengan Allah Swt dan alam ukhrawi serta banyak mengingat Allah, terdapat contoh mulia dalam diri Rasulullah Saw. Yang mereka harus ikuti.

Kemudian didalam ayat lain dikatakan bahwa:

“ Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah”. (Q.S Al Hasyr 60: 8)

Untuk menjaga kesucian Agama islam ini , Allah swt senantiasa menciptakan wujud-wujud suci pada umat Rasulullah Saw. Mereka diserahi tugas untuk memelihara ajaran Al-Qur’an, seperti para nabi – nabi Allah, khalifah dan Imam-imam agama lainnya. Pada akhir zaman ini , sesuai dengan Nubuatan Nabi Muhammad Saw. bahwa islam akan kembali dipimpin oleh seorang utusan Allah yang bergelar sebagi Imam mahdi dan Masih mau’ud a.s, kini telah tergenapi dalam wujud Hadhrat Mirza Gulam Ahmad a.s. wujud yang penuh berkat yang di utus oleh Allah swt sebagai Hakaman ‘adalan. Dimana sala satu tugas beliau untuk mempersatukan hati Umat manusia, yang dahulunya dalam keadaan berpecah belah, dan sebagai Hakaman‘adalan dalam memecahakan permaslahan- permaslahan yang timbul dikalangan umat islam yang mengakibatkan terjadinya perpecahan dikalangan umat Islam salasatu diantaranya adalah masalah fiqih.

Continue reading

Satu Senyum untuk Derita Perjalanan


Oleh : Ridhwan Ibnu Luqman

Berjalan, kepanasan, kelaparan, dan kehausan
Anak manusia pergi menempa diri mencari sebuah arti
Bukan untuk mimpi atau sekedar cita-cita
Manusia yang hina belajar memaknai taqwa

Jika hidup adalah perjalanan
Maka inilah arti dari seorang pengabdi mencari ridha Illahi
Surga yang dinanti atau neraka yang sengaja dilupakan
Bukan tujuan Murid Imam Mahdi berjalan kaki

Kutengok wajah dunia yang semakin kusam
Dan laku setiap insan yang berhias diri hanya untuk sendiri
Kepedulian seolah lenyap ditelan zaman
Dan tersisa Iman yang perlu siraman Murid Imam Mahdi

Aku yang sombong, selalu berkata bisa dan pasti mampu
Namun kala itu tubuhku bak debu kotor beterbangan
Hari itu aku adalah kutu yang tak bermutu
Kemudian Perjalanan mengupas kebanggaan jadi titik kesadaran

Hari itu penuh siksa penuh derita dan segala
Tapi kepuasan hanya ada pada satu senyuman
Hamesyah Muskrate rahe
Akhirnya perjalanan jadi arti merias diri di hadapan Illahi

Perjalanan Melebur Kesombongan


Paidl Safar 11-13 Maret 2012
Oleh : Ridhwan Ibnu Luqman
Tepat dua tahun lalu, saya menjadi saksi betapa kerasnya perjuangan kakak-kakak senior dalam menghadapi Ujian Paidal Safar. Entah itu latihan, persiapan peralatan-peralatan, hingga perhelatan Paidl Safar itu dimulai. Semua siswa Jamiah Ahmadiyah Indonesia pasti mengalami dan akan mengalami ujian ini. Dan tahun ini adalah giliran dari angkatan XVIII ( Delapan Belas ). Jauh-jauh hari sebelum perhelatan Ujian ini, saya dan teman seangkatan mempersiapkan semua keperluan, dan melewati beberapa latihan, yang tentunya mendukung saat pelaksaan Paidl Safar.
Dalam kurun waktu satu tahun lebih, saya dan teman-teman seangkatan melewati beberapa latihan. Entah itu latihan jarak dekat ; yang cukup melewati daerah sekitar kampus, atau latihan dengan jarak yang jauh. Dalam latihan jauh kami senantiasa mengunjungi cabang-cabang disekitar JABODETABEK, karena selain dari latihan jalan kaki, kamipun bisa bersilaturahmi dengan para anggota Jemaat di cabang yang kami kunjungi. Cabang-cabang yang telah menampung kami dan menjadi tempat persinggahan latihan yaitu, Lenteng Agung, Serua, Sindang Barang, Gondrong, dan Perigi.
Selain dari itu, perlengkapan tak kalah penting dalam menunjang kegiatan ini. Beberapa item penting seperti Sendal atau sepatu, kaos kaki, peralatan obat-obatan, topi, suplemen dan lainnya, Kurang dari satu minggu sebelum Paidl Safar dimulai beberapa item itu sudah kami penuhi.
Terakhir senjata kami sebelum beraksi di medan perjalanan adalah pengalaman. Pengalaman dari para Mubaligh dan senior-senior Jamiah yang tentunya telah mencicipi ujian ini. Apa saja yang diintruksikan panitia dan saran dari yang lebih berpengalaman, kami serap dan kami laksanakan. Sempat berfikir untuk tidak memperdulikan apa yang disarankan panitia dan yang lainnya, karena saya berfikir saya mempunyai cara tersendiri, yang lebih pas dan cocok untuk saya. Namun saya sadar bahwa itu merupakan benih dari kesombongan. Seberapa yakin saya dengan teori saya, tidak mungkin mengalahkan pengalaman para senior dan yang laiinnya. Dan dihari-hari terakhir saya penuhi dan laksanakan semua amanat, saran, serta perintah dari para senior dan panitia. Hingga sayapun sanggup mengatakan siap 100 % baik persiapan dan juga mental. Dan perjalananpun dimulai…

Continue reading

UNIVERSALITAS AL-QURAN : UPAYA MENYELAM MAKNA SHALIH LI KULLI ZAMAN WA MAKAN


PEMBUKA


Islam, yang diyakini sebagai titik puncak kesempurnaan agama, dianalogi seperti sebuah batu berlian yang pada tiap sudutnya memancarkan binar cahaya dan kemilau yang mengandung daya pikat kuat luar biasa. Allah SWT dalam kalam-Nya dengan lugas menyatakan. “…. pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam sebagai agama bagimu…(QS. Al-Maidah [05] : 04). Ayat ini diyakini sebagai sebuah legitimasi tekstual yang tegas tak terbantahkan, kesempurnaan Islam adalah sesuatu yang niscaya dan pasti. Pada tataran ini, seluruh umat Islam bersuara satu dan seragam.
Berbicara tentang Islam dan kesempurnaannya berarti berbicara tentang al-Quran. Islam dan al-Quran merupakan dua terma yang tidak bisa dilepas satu dengan yang lain. Keseluruhan ajaran Islam termaktub dalam kitab yang terdiri dari 114 surah dan 30 juz itu. Rasulullah saw bersabda, “Yang terbaik di antara kamu adalah yang mempelajari al-Quran dan mengajarkannya.” Artinya, sebagai kitab suci, al-Quran tiada cukup hanya sekedar dimuliakan lantas dihias dan disimpan di menara gading. Barang siapa menklaim diri sebagai umat Islam dan pengikut Rasulullah saw secara otomatis berkewajiban untuk tidak hanya terjebak dalam budaya pengkultusan yang kerontang dari pendalaman dan pengamalan. Mestilah ada perjuangan dan dan kerja keras untuk mentransformasi bimbingan yang termaktub dalam al-Quran ke dalam pola pengamalan dan perilaku nyata di tengah pusaran realitas kehidupan, sehingga klaim keberislaman tidak lantas berhenti dan stagnan hanya sekedar klaim.

Continue reading

Sekte Eseni


Oleh :
Ridhwan Ibnu Luqman

Qumran
Asal usul ‘Essene‘ Nama
Merupakan salah satu sekte Yahudi yang hidup dan berkembang di tepi Laut Mati sejak tahun 65-an SM hingga 70-an M.
Essene secara etimologi “Essene” dari “Essæi” atau “ Ἐσσηνοὶ = ” yang berarti Yang saleh, yang sederhana, rendah hati. Yosefus dalam Literaturnya yang lain, Essæi = Ἐσσαῖου = Yang “diam” atau “pendiam”. Ada pendapat lain mengatakan, berasal dari Syria “Hase,” “Hasen,” , “ḥasaya” orang-orang saleh. De Sacy dan diadopsi oleh Ewald, Wellhausen, dan Schürer dari bahasa Aram “asa” “untuk menyembuhkan,” atau “penyembuh”.

Continue reading

Farisi


Oleh : Ridhwan Ibnu Luqman

Farisi

Definisi
Kata Farisi berasal dari bahasa Ibrani פרושים p’rushim, dari perush, yang berarti penjelasan. Jadi kata Farisi berarti “orang yang menjelaskan” (לפרש, “lefareish – menjelaskan”). Terjemahan harafiahnya “memisahkan”, tidak begitu akurat, karena “memisahkan” adalah להפריש “lehafrish,” dari akar kata yang terkait dengan kata dalam bahasa Aram, upharsin (dan membagi) dalam tulisan di dinding dalam Kitab Daniel 5:25.

Continue reading

Yerusalem


Latar belakang
Mendengar nama yerusalem mungkin sesuatu yang tidak asing lagi bagi kita, nama ini sering muncul dipelbagai media masa baik media cetak maupun elektronik. Ya, yerusalem adalah sebuah kota suci bagi tiga agama besar yang ada didunia ini selain itu Yerusalem juga merupakan kota dengan panorama alam yang indah dan menakjubkan, sehingga banyak para pelancong yang berdatangan untuk berziarah ataupun hanya sekedar berlibur. Namun dibalik kemashuran dan keindahannya itu ternyata tersimpan sebuah sejarah panjang mengenai sebuah kota yang dulu Tuhan muliakan dan hinakan pula, nah dengan alasan itulah saya berusaha mengkaji sejarah panjang tersebut dalam bentuk sebuah makalah singkat mengenai Yerusalem dengan mangacu kepada Alkitab, literatur-literatur umum dan peta dunia. Mudah-mudahan melalui makalah ini semua orang dapat mengenal yerusalem tidak dari nama ataupun keindahannya saja bahkan dari segi historisnya juga.
a). Arti Nama
Di seluruh Alkitab, Yerusalem disebutkan lebih dari 800 kali. Nama Yerusalem dalam catatan paling awal, kota itu disebut “Salem”. (Kejadian 14:18), Ada banyak ungkapan dan gelar lain yang digunakan dalam Alkitab untuk memaksudkan kota itu. Sekali peristiwa, sang pemazmur menggunakan namanya yang semula, yaitu “Salem”. (Mazmur 76:2) Sebutan lainnya ialah: “kota Yehuwa” (Yesaya 60:14), “Kota Raja Agung” (Mazmur 48:2 bandingkan Matius 5:35), “Kota Keadilbenaran” dan “Kota Setia“. (Yesaya 1:26), “Zion” (Yesaya 1:26), dan “kota kudus” (Nehemia 11:1; Yesaya 48:2; 52:1; Matius 4:5) Nama “el Quds“, yang artinya [Kota] Kudus“, masih menjadi nama populer kota itu dalam bahasa Arab. Nama yang tercantum dalam peta-peta modern tentang Israel adalah Yerusyalayim.
Yerusalem itu sendiri berasal dari (bahasa Ibrani: ירושלים Yerushalayim, bahasa Arab: أورسالم القدس Ūrsālim-Al-Quds atau hanya القدس Al-Quds saja. Arti nama kota itu tidaklah pasti. Kata ibraninya dalam PL biasanya adalah yerusyalaim tapi bentuk ini tidak biasa, karena bahasa ibrani tidak mempunyai dua huruf hidup berurutan. Dalam bahasa ibrani selanjutnya keganjilan itu diatasi dengan menyisipkan huruf ‘y’, sehingga menjadi yerusyalayim. Bentuk ini sebaiknya dimengerti sebagai bentuk jamak (sebab akhiran –ayim berarti rangkap dua), dan memandang kota itu seolah-olah dua bagian. Meskipun ada yang mencoba mengaitkan arti nama Yerusalem dengan arti nama Shalem, nama dewa orang Semitik Barat, rasul Paulus memperlihatkan bahwa setengah bagian terakhir nama itu sesungguhnya berarti “Damai”. (Ibrani 7:2) Dalam bahasa Ibrani, pengejaan setengah bagian terakhir kata ini menyiratkan suatu bentuk ganda, jadi berarti “Kedamaian Ganda”. Dalam teks-teks bahasa Akad (Asiria-Babilonia), kota itu disebut Urusalim (atau Ur-sa-li-im-mu). Atas dasar ini, beberapa pakar menyatakan bahwa nama itu berarti “Kota Damai”. Tetapi bentuk Ibraninya, yang secara logis seharusnya menjadi patokan, tampaknya berarti “Pemilik (Fondasi) Kedamaian Ganda”.
Dalam bahasa yunani PB nama itu dialihaksarakan dengan dua cara yang berbeda, yaitu Hierosoluma (seperti dalam Mat 2:1) dan Hierousalem (seperti dalam Mat 23:37).bagian pertama kata itu langsung mengingatkan orang akan kata Yunani hieros, artinya ‘kudus’, dan barang kali kata itu secara keseluruhan hendak memberi pengertian ‘salem yang kudus’. Dalam Yes 52:1 yerusalem disebut ‘kota yang kudus’, dan sampai saat ini sebutan itu sering diterima dalam arti demikian.
Nama kota ini selalu berubah sesuai dengan kekuatan penguasanya, secara kronologis perubahannya adalah : Yerusalem, Urusalem, Yepus, Kota Daud, Yudes, Ary’il, Aelia Capitolina, baitul muqdis atau Al-Quds Asy Syarif, Urusalem Al Quds.
b). Letak geografis


Continue reading