Ekonomi, Akhlak dan Agama

Sistem dan Tujuannya
Salah satu tujuan dibuatnya suatu sistem adalah untuk mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam melaksanakan suatu kegiatan serta untuk memperoleh keuntungan dan manfaat darinya. Dari sejak awal diciptakannya manusia, keinginan untuk meraih suatu kebahagiaan, ketentraman dan kehidupan yang lebih baik sudah merupakan sesuatu yang mendasar yang ada dalam diri dan fitrat manusia itu sendiri, Kenapa demikian? Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan disertai kelebihan yang istimewa yang tidak dimiliki oleh makhluk yang lainnya, yaitu berupa akal dan fikiran. Dengannya, manusia bisa memikirkan dan menimbang-nimbang mana yang baik yang harus dilakukan, dan mana yang bisa mengakibatkan suatu keburukan dan kerugian sehingga perlu untuk dihindari.
Dalam pemenuhan akan hak-haknya, manusia bisa memperolehnya melalui dua jalan, yaitu pemenuhan yang diraih melalui usaha dari individu masing-masing, dan pemenuhan yang diraih melalui kerjasama dalam suatu sistem tertentu yang disepakati oleh komunitas atau anggota masyarakat dalam suatu wilayah tertentu. Namun demikian, meskipun manusia bisa menjalankan kegiatannya berdasar atas kemampuannya, ia pun tidak terlepas dari yang namanya sistem yang harus dilakukan, yang mana apabila hal tersebut tidak dilaksanakan, maka apa yang diinginkannya itu akan sulit untuk dicapai. Contoh kecilnya adalah dalam bidang perdagangan. Seorang pedagang rokok, apabila ia ingin mendapatkan keuntungan dari dagangannya, tentunya ia akan memperhatikan beberapa aspek, seperti bagaimana cara mengatur keuangan, kualitas barang yang akan didagangkan dan juga peta wilayah perdagangannya. Oleh karena itu, inilah sistem yang tidak boleh tidak harus dilakukan untuk memperoleh hasil dan keuntungan darinya.
Berkenaan dengan sistem yang lain yang cakupannya lebih luas, misalnya adalah sistem ekonomi dan keuangan dalam suatu negara. Seperti telah disebutkan, bahwa dibuatnya sistem itu pada dasarnya adalah untuk memberikan kemudahan serta keuntungan secara menyeluruh, tidak dibedakan apakah ia orang kaya atau orang miskin, pedagang atau pengusaha, petani atau buruh dan sebagainya, semuanya bisa mendapatkan dampak positif dari pelaksanaan sistem tersebut. Begitupun dengan sistem ekonomi dan keuangan negara. Suatu negara dalam pelaksanaannya melakukan pengawasan untuk melindungi atau mengayomi hak milik orang-orang sederhana (masyarakat kecil) dari kebinasaan dan kehancuran ekonomi mereka dari pengusaha besar dengan jalan eksploitasi yang tidak wajar.
Namun demikian, meskipun tujuannya adalah baik yaitu untuk kemaslahatan dan kemakmuran rakyat, pada kenyataannya terdapat banyak keburukan-keburukan dan ketidakstabilan yang timbul darinya. Adapun faktor yang menjadi penyebab timbulnya keburukan-keburukan ini antara lain adalah sistem ekonomi tersebut hanya merupakan sistem yang didasarkan oleh keduniawian semata, yaitu yang menjadi tujuan utamanya adalah peroleh keuntungan yang sifatnya lahiriah dan kurang memperhatikan adanya keuntungan yang bersifat rohani yang dengannya bisa secara terbuka timbul persaingan yang sehat unuk memberikan semangat dan menggairahkan setiap orang untuk bisa berbuat amalan yang baik. Sebagai contoh kita bisa melihat di Indonesia sekarang-sekarang ini. Persaingan yang tidak sehat begitu semaraknya kini, sehingga tak sedikit orang yang dalam memenuhi hak-haknya yaitu berupa keuntungan yang sebesar-besarnya – terlepas dari unsur kesengajaan atau pun tidak – telah melanggar batas-batas yang telah ditentukan dengan melakukan berbagai macam cara, yang dengannya banyak yang menjadi korban akibat dari perbuatan-perbuatan buruk tersebut. Dengan demikian, jelaslah bahwa suatu sistem ekonomi yang sepenuhnya dibuat atas dasar keduniawian saja tidak bisa menimbulkan dampak positif secara menyeluruh dalam jangka waktu yang lama.
Sistem Ekonomi Islam
Didalam buku Struktur Ekonomi Menurut Islam karya Hazrat Khalifatul Masih II ra., dijelaskan bahwa struktur ekonomi masyarakat Islam adalah menyatukan kemerdekaan individu dengan pengawasan negara, yang turut campur tangan dalam situasi tertentu, sedang tiap-tiap individu diberi hak kebebasan (kemerdekaan) berbuat menurut kondisi tertentu pula. Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa kemerdekaan bertindak pada tiap-tiap orang itu artinya adalah agar seseorang sanggup menyediakan harta rohani buat kehidupan yang akan datang. Selain dari itu, juga bisa timbul suatu keterbukaan dalam persaingan yang sehat untuk menggairahkan orang berbuat amal yang baik.
Ketika kita merenungkan hal ini lebih lanjut, sistem ekonomi Islam ini mengandung bukan hanya unsur ekonomi semata demi memenuhi kepuasan lahirian manusia, akan tetapi yang tak kalah pentingnya juga adalah unsur agama dan akhlak yang menjadi dasar utama demi memperoleh kebahagiaan batiniah.
Dengan demikian, tatkala timbul suatu masalah, pemecahan terhadap masalah tersebut tidak hanya bisa terselesaikan melalui sudut pandang ekonomi saja, karena pemecahan demikian itu mengarah kepada aliran dimana lingkungan akhlak dan agama tidak turut ambil bagian didalamnya. Oleh karena itu, seseorang yang tidak percaya kepada suatu agama, atau ia tidak memperhatikan aspek-aspek keagamaan, akan meneliti masalah ekonomi ini hanya atas dasar ekonomi belaka. Akan tetapi, seseorang yang membaktikan hidupnya kepada agama, tidak akan menjalankan suatu sistem ekonomi dengan dasar ekonomi melulu, bahkan dia akan mencari suatu sistem ekonomi yang memenuhi tiga aspek, yaitu ekonomi itu sendiri, agama dan akhlak.
Jemaat Ahmadiyah Menjalankan Sistem Ekonomi Islam
Pada dasarnya, Hazrat Masih Mau’ud as. diutus oleh Allah s.w.t. ke dunia ini adalah untuk tujuan “yuhyiddiina wa yuqiimussyaari’ah”, yaitu menghidupkan kembali agama Islam sesuai dengan apa yang digambarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah s.a.w. melalui penegakkan syariat yang terdapat dalam Al-Qur’an suci. Oleh karena itu, penerepan sistem ekonomi dalam jemaat pun, yang dalam hal ini adalah sistem keuangan, pada dasarnya adalah sesuai apa yang dianjurkan oleh ajaran Islam.
Sebagaimana diketahui bahwa didalam jemaat ini terdapat berbagai macam pengorbanan harta, seperti Candah Am, Candah Wasiyat, Tahrik Jadid, Waqfi Jadid, Iuran Badan dan lain-lain, yang tujuan dari pengorbanan-pengorbanan ini adalah selain untuk membersihkan harta dari segala macam keburukan, memperoleh kedekatan dan ridho dari Allah s.w.t., juga tujuannya adalah untuk membantu setiap orang yang membutuhkan, baik berupa makanan, pakaian, tempat tinggal, rumah sakit, dan sekolah. Oleh karena itu, ini merupakan suatu keunggulan yang tidak dimiliki oleh organisasi manapun di dunia ini, dimana hanya didalam jemaat-lah segala pengorbanan itu ditujukan untuk kepentingan umat manusia dengan pengelolaan dan sistem yang kokoh dibawah bimbingan dan pengawasan Hazrat Khalifatul Masih demi untuk kemenangan Islam di akhir zaman.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s