KEWAFATAN NABI ISA AS MENURUT AL QUR’AN

Allah Ta’ala berfurman dalam surah Al Maidah 118

“ Tidak pernah aku mengatakan kepada mereka selain apa yang telah Engkau perintahkan kepada ku, yaitu “Beribadahlah kepada Allah , Tuhan-ku dan Tuhan-mu.” Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka, akan tetapi, setelah.Engkau mewafatkan aku.maka Engkau-lah Yang menjadi Pengawas atas mereka dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu”;

“Sesungguhnya ingkarlah.orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah swt. itu adalah Al-Masih ibnu Maryam,” padahal Al-Masih berkata, “Hai Bani Israil, beribadahlah kepada Allah swt. Tuhan-ku dan Tuhan-mu.”Sesungguhnya, barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah swt. ,maka sesungguhnya Allah swt. mengharamkan surga baginya dan tempat tinggalnya ialah Api. Dan tak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun”.(Al Maidah: 73)

Nabi Isa as. Mengajarkan menyembah hanya satu Tuhan (Matius 4:10 dan Lukas 4:8).

Allah Ta’ala berfirman dalam Alquran:

“ Wahai Tuhan kami sesungguhnya kami telah mendengar seorang penyeru memanggil kepada keimanan, bahwa, ‘Berimanlah kepada Tuhan-mu,’ maka kami telah beriman. Wahai Tuhan kami, ampunilah bagi kami, dosa-dosa kami,dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami dan wafatkanlah kami dalam golongan orang-orang baik.”(Al Imran 194)

Dalil ke dua
Allah swt berfirman dalam Al quran:

“Ingatlah ketika Allah swt. berfirman, “Hal Isa, sesungguhnya [a] Aku akan mematikan engkau [424] secara wajar dan [b] akan meninggikan [424a] derajat engkau di sisi-Ku dan akan membersihkan engkau dari tuduhan orang-orang yang ingkar dan akan menjadikan orang-orang yang mengikut engkau di atas [424b] orang-orang yang ingkar hingga Hari Kiamat; [c] kemudian kepada Aku-lah kamu kembali, lalu Aku akan menghakimi di antaramu tentang apa yang kamu perselisikan.”(Ali Imran :56)

Mutawaffi diserap dari kata tawaffa . Orang mengatakan Mutawaffallu zaidan. Artinya, Tuhan telah mengambil nyawa si Zaid; ialah, Tuhan telah mematikannya. Bila Tuhan itu subyek dan manusia itu obyek kalimat, maka tawaffa tak mempunyai arti lain, kecuali mencabut nyawa pada waktu tidur atau mati, Ibn Abbas r.a. telah menyalin Mutawaffika sebagai mumiituka, ialah, Aku akan mematikan engkau ( Bukhari). Demikian pula Zamakhsyari, seorang ahli bahasa Arab kenamaan mengatakan, “Mutawaffika berarti, Aku akan memelihara engkau dari terbunuh oleh orang dan akan menganugerakan kepada engkau kesempatan hidup penuh yang telah ditetapkan bagi engkau dan akan mematikan engkau dengan kematian yang wajar, tidak terbunuh” (Kasyaf). Pada hakikatnya, para ahli kamus Arab sepakat semuanya mengenai pokok itu bahwa kata tawaffa seperti digunakan dalam cara tersebut tidak dapat mempunyai tafsiran lain dan tiada satu contoh pun dari seluruh pustaka Arab yang dapat dikemukakan tentang kata itu, bahwa kata itu di gunakan dalam suatu arti yang lain. Para alim dan ahli-ahli tafsir terkemuka, seperti :
(1) Ibn Abbas
(2) Imam Malik
(3) Imam Bukhari
(4) Imam Ibn Hazm
(5) Imam Ibn Qayyim
(6) Qatadah
(7) Wahhab
dan lain-lain mempunyai pendapat yang sama (Bukhari, bab tentang Tafsir; Bukhari, bab tentang Bad’al Khalq; Bihar; Al-Muhalla. Ma’ad hlm.19; mantsur ii; Katsir). Kata itu dipakai oada tidak kurang dari 25 tempat yang berlainan dalam Alquran dan pada tidak kurang dari 23 dari antaranya berarti mencabut nyawa pada waktu wafat. Hanya dalam dua tempat artinya, mengambil nyawa pada waktu tidur; tetapi, di sini kata-keterangan “tidur” atau “malam” telah dibubuhkan ( 6:61; 39:43 ). Kenyataan bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat itu tidak dapat dibantah. Rasulullah saw. diriwayatkan telah bersabda, “Seandainya Musa a.s. dan Isa a.s. sekarang masih hidup, niscaya mereka akan terpaksa mengikuti aku” (Katsir).Beliau malahan menetapkan usia Isa a.s. 120 tahun (Ummal). Alquran dalam sebanyak 30 ayat telah menolak kepercayaan yang bukan-bukan, tentang kenaikan Isa a.s. dengan tubuh kasar ke langit dan tentang anggapan bahwa beliau masih hidup di langit.

Dalil ke tiga
Allah Ta’ala berfirman dalam Al Quran:

“Al-Masih ibnu Maryam itu tidak lain melainkan seorang rasul; sesungguhnya telah wafat rasul-rasul sebelumnya. Dan ibunya adalah seorang yang benar. Keduanya dahulu makan makanan. Perhatikanlah, betapa Kami menjelaskan Tanda-tanda bagi mereka, kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling”.(Al Maidah 76)

Tafsir :
Ayat ini mengemukakan sejumlah dalil yang menentang ketuhanan Nabi Isa as.
a. Nabi Isa as. tidak melebihi rasul-rasul lainnya dalam hal apa pun
b. Beliau dilahirkan oleh seorang wanita
c. Seperti makhluk manusia lainnya, beliau tunduk kepada hukum alam, harus mengalami perasaan haus dan lapor, dan juga tunduk kepada gejala-gejala alam.

Kemudian Allah Ta’ala berfirman

”Dan tidak Kami jadikan mereka jasad yang tidak makan makanan, dan tidak mereka hidup kekal.(Al Ambiya: 9)

“Meskipun orang-orang ingkar menganggap semua rasul Allah swt. sebagai manusia biasa, namun keberatan itu tetap terulang terhadap tiap-tiap rasul, bahwa seperti manusia biasa, rasul itu makan dan minum, dan berjalan kian-kemari di jalan-jalan serta tunduk kepada semua keperluan jasmani manusia (25:8), atas dasar alasan itu mereka menolak rasul. Di sini secara tidak langsung telah disinggung sikap orang-orang ingkar yang tidak selaras itu. Mereka tidak mau mengeri kenyataan ini – demikianlah maksud ayat ini mengatakan – bahwa rasul-rasul dibangkitkan sebagai “contoh” dan “teladan” bagi manusia, dan bagaimana mereka dapat berlaku sebagai teladan, jika mereka itu bukan manusia seperti mereka dan tidak seperti mereka pula tunduk kepada keperluan- keperluan badan jasmani ? Sebagai manusia, mereka tidak kebal dan tidak dapat menjadi kebal terhadap keperluan-keperluan jasmani atau terhadap kehancuran atau kematian.

Dalil ke Empat

Allah Ta’ala berfirman:

Dan,]Muhammad tidak lain melainkan seorang rasul. Sesungguhnya telah berlalu rasul-rasul sebelum nya. Jadi, jika ia mati atau terbunuh, akan berpalingkah kamu atas tumitmu?Dan, barangsiapa berpaling atas tumitnya maka ia tidak akan memudaratkan Allah swt. sedikit pun.Dan, Allah swt. pasti akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur..(Ali Imran :145)

Tafsir:
Kabar angin tersebar di Uhud bahwa Rasulullah saw. syahid. Ayat ini mengisyarat kan kepada peristiwa itu dan bermaksud mengatakan bahwa meskipun kabar itu tiak benar, tetapi sendainya pun Rasulullah saw. benar and pada hakikatnya telah syahid, hal itu tidak boleh menjadikan keimanan orang-orang mukmin goyah. Muhammad saw. hanyalah seorang nabi dan sebagaimana semua nabi sebelum beliau telah wafat, maka beliau pun pasti akan wafat. Tetapi Tuhan kepunyaan Islam itu Hidup kekal. Tercantum dalam tarikh bahwa tatkala Rasulullah saw. wafat, Umar r.a. bediri di Masjid Medinah dengan pedang terhunus di tangan beliau dan berkata, “Barangsiapa mengatakan Rasulullah saw. wafat, akan aku penggal batang lehernya. Beliau tidak wafat, melainkan telah pergi ke Tuhan-nya (beliau telah naik ke langit) seperti halnya Nabi Musa a.s. pernah pergi kepada Tuhan-nya dan beliau niscaya akan kembali lagi untuk menghukum orang-orang munafik.” Abu Bakar r.a. setiba di tempat peristiwa itu dengan tegas menyuruh Umar r.a. duduk, dan sementara beliau memberi wejangan kepada orang-orang Muslim yang telah berkumpul di masjid, beliau membacakan ayat ini juga; ayat ini menyakinkan mereka bahwa Rasulullah saw. sungguh-sungguh telah wafat, dan dengan demikian mereka diliputi oleh kesedihan yang sangat mendalam. Ayat ini sambil lalu membuktikan bahwa semua nabi sebelum Rasulullah s.a.w.telah wafat; sebab, sekiranya seorang di antaranya masih hidup, maka ayat ini sekali-kali tidak akan ditukil sebagai bukti tentang wafat Rasulullah saw. Sebenarnya Islam tidak mengandalkan kehidupannya atas seseorang, betapa pun besarnya orang itu. Tuhan adalah Pembinanya dan Dia-lah Pemeliharanya dan Penjaganya. Tetapi, ayat ini tidak boleh diartikan bahwa Rasulullah saw. dapat syahid dalam peperangan atau di tangan seorang pembunuh. Kepada beliau dijanjikan perlindungan Tuhan dari segala bahaya yang mengancam jiwa beliau ( 5:68 ). Musuh bersuka ria ketika kabar angin itu tersebar ke mana-mana bahwa Rasulullah saw. syahid. Tetapi hal itu ternyata merupakan suatu rahmat tersembunyi untuk kaum Muslimin. Hal itu mempersiapkan mereka untuk menerima pukulan berat yang kemudian menimpa mereka ketika beliau benar-benar wafat, Jika mereka tidak mendapat pengalaman ini, mereka tak akan mampu menanggungnya.

Dalil ke Lima

Allah Ta’ala berfirman dalam Al Quran:

Dia berfirman, “ Di situlah kamu sekalian akan hidup dan di situlah kamu akan mati, dan darinya kamu akan dikeluarkan.” (Al a’raf 26)

Tafsir:

Jika diartikan secara umum, ayat ini mengisyaratkan bahwa tak ada manusia dapat naik ke langit dengan tubuh kasarnya. Manusia harus hidup dan mati di bumi ini juga. Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai ini lihat catatan no. 2934 pada ayat 34 Surah ar-Rahman (Peny.)

‘’Dan tidak Kami jadikan mereka jasad yang tidak makan makanan, dan tidak mereka hidup kekal”. (Al ambiya :9)

“Dan tidak pernah Kami utus seseorang dari rasul-rasul sebelum engkau, malainkan mereka akan makan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebagian dari kamu cobaan bagi sebagian yang lain untuk melihat apakah kamu bersabar. Dan adalah Tuhan engkau Maha Melihat”.(Al furqan 21)

Dalil ke Enam

Allah ta’ala berfirman dalam Al quran:

Dan Dia telah menjadikanku(Isa as) diberkati di mana pun aku berada, dan telah memerintahkan kepadaku shalat dan zakat selama aku hidup ;(Maryam :32)

Di sini sangat jelas Allah Ta’ala telah memerintahkan kepada nabi Isa as.agar selama kehidupn beliau di dunia harus mendirikan solat dan membayar zakat

Dalil ke tujuh
Allah ta’ala berfirman dalam Al quran:

Dan Kami tidak pernah menjadikan seorang manusia sebelum engkau hidup kekal. Maka jika engkau mati, apakah mereka akan hidup kekal ? (Al Ambiya:35)

Semua syariat dan sistem agama yang bermacam-macam di masa sebelum Rasulullah saw. telah ditetapkan dan ditakdirkan untuk mengalami kehancuran dan kematian ruhani, dan hanyalah syariat Rasulullah saw. – syariat Islam – yang ditakdirkan akan hidup dan akan berlaku terus, sampai akhir zaman. Ayat ini dapat pula mengadung maksud, bahwa tidak seorang pun yang kebal terhadap kehancuran dan kematian jasmani, bahkan Rasulullah saw. pun tidak. Kekekalan dan keabadian merupakan sifat-sifat Tuhan yang khusus.

Dalil ke delapan

Dalam sebuah Hadis yang di riwayatkan oleh Imam Tabrani,Fatimah ra.menerangkan bahwa Rasulullah saw.bersabda:

Artinya:”Sesungguhnya Isa ibnu Maryam usianya seratus dua puluh tahun”.
(Kanzul Ummal ,Alauddin alhindi,Muassasaytur Risalah ,Beirut,1989,jilid x,p.479.

Dalil ke Sembilan

Allah Taa’la berfirman

“Dan ucapan mereka, “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa Ibnu Maryam, Rasul Allah swt.,” padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula mematikannya di atas salib, [697] akan tetapi ia disamarkan [698] kepada mereka seperti telah mati di atas salib. Dan, sesungguhnya orang-orang yang berselisih dalam hal ini niscaya ada dalam keraguan tentang ini; [a] mereka tidak mumpunyai pengetahuan yang pasti tentang ini melainkan menuruti dugaan; dan mereka tidak membunuhnya [699] dengan yakin.” (An Nisa:158)

Ma shalabuu-hu artinya, mereka tidak menyebabkan kematian dia pada tiang salib, sebab shalab itu cara membunuh yang terkenal. Orang berkata Shalaba al lishsha, yakni ia membunuh pencuri itu dengan memakunya pada tiang salib. Ayat itu tidak mengingkari kenyataan bahwa Nabi Isa a.s. dipakukan ke tiang salib, tetapi menyangkal beliau mati di atas tiang salib itu.

Kata-kata syubbiha lahum artinya, Nabi Isa a.s. ditampakkan kepada orang-orang Yahudi seperti orang yang mati disalib; atau hal kematian Nabi Isa a.s. menjadi samar atau menjadi teka-teki kepada mereka. Syubbiha ‘alaihi al-amru, artinyahal itu dibuat kalang-kabut, samar atau teka-teki kepadanya (Lane).

Ungkapan, maa qataluu-hu yaqinan, artinya :
(1) mereka tidak membunuh dia dengan tepat
(2) mereka tidak mengubah (dugaan mereka) jadi keyakinan yakni, pengetahuan mereka tentang kematian Nabi Isa a.s. pada tiang salib tidak demikian pastinya sampai tidak ada suatu celah keraguan pun dalam pikiran mereka bahwa mereka benar-benar telah membunuh beliau.

Dalam hal ini kata pengganti hu dalam qataluu-hu menunjuk kepada kata benda zhann (dugaan). Orang-orang Arab berkata qatala asy-syai khubran, yakni ia memperoleh pengetahuan sepenuh nya dan pasti mengenai hal itu supaya meniadakan segala kemungkinan untuk meragukan hal itu (Lane, Lisan, dan Mufradat).

Bahwa Nabi Isa a.s. tidak wafat pada tiang salib tapi wafat secara wajar dan jelas nampak dari Alquran. Fakta-fakta berikut, sebagaimana dikisahkan dalam Injil sendiri, memberi yang kuat kepada keterangan Alquran itu :

(1) Karena Nabi Isa a.s. itu seorang Nabi Allah swt., beliau tak mungkin mati pada kayu salib, sebab menurut Bible, “orang yang tergantung itu kutuklah bagi Tuhan Allah swt.” (Ulangan 21:23).
(2) Beliau telah berdoa kepada Tuhan dalam kesakitan yang amat sangat supaya “biarkan kiranya cawan (kematian di atas salib) ini lepas dariku” (Markus 14:36; Matius 26:29; Lukas 22:42); dan doa beliau telah terkabul (Iberani 5:7).
(3) Beliau telah mengabarkan sebelumnya bahwa seperti Nabi Yunus a.s. yang telah masuk ke perut ikan hiu dan telah keluar lagi hidup-hidup (Matius 12:40), beliau akan tinggal dalam “perut bumi” selama tiga hari dan akan keluar lagi hidup-hidup.
(4) Baliau telah menubuatkan pula bahwa beliau akan pergi mencari kesepuluh suku bangsa Israil yang hilang (Yahya 10:16). Bahkan orang-orang Yahudi di masa Nabi Isa a.s. pun mempercayai bahwa suku-suku bangsa Israil yang hilang itu telah terpencar ke berbagai negeri ( Yahya 7:34, 35).
(5) Nabi Isa a.s. telah terpancang pada tiang salib hanya selama kira-kira tiga jam (Yahya 19:14) dan sebagai orang yang memiliki kesehatan jasmani yang normal, beliau tidak mungkin wafat dalam waktu yang sependek itu.
(6) Segera sessudah beliau diturunkan dari tiang salib, pinggang beliau ditusuk dan darah serta air keluar darinya. Hal demikian merupakan tanda yang pasti bahwa beliau masih hidup ( Yahya 19:34 ).
(7) Orang-orang Yahudi sendiri meresa tidak yakin tentang kematian Nabi Isa a.s. sebab mereka telah meminta kepada Pelatus untuk menempatkan penjaga di kuburannya “supaya jangan murid-muridnya datang mencuri Dia, serta mengatakan kapada kaum, bahwa Ia sudah bangkit dari antara orang mati” (Matius 27:64).
(8) Tak didapatkan dalam semua Injil barang sebuah pun pernyataan tertulis dari seorang saksi yang menerangkan bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat ketika beliau diturunkan dari tiang salib atau ketika beliau ditempatkan dalam kuburan. Lagi pula, tak seorang pun dari antara murid beliau hadir di tempat kejadian penyaliban, semuanya melarikan diri tatkala Nabi Isa a.s. dibawa ke tempat penyaliban. Kejadian yang sebenarnya rupa-rupanya demikian, boleh jadi disebabkan oleh impian istrinya agar “Jangan berbuat barang apapun ke atas orang yang benar itu” (Matius 27:19), maka Pilatus telah percaya bahwa Bani Isa a.s. tidak bersalah, dan karenanya telah bersekongkol dengan Yusuf Arimetea – seorang tokoh dari perkumpulan Essene, tempat Nabi Isa a.s. sendiri pernah menjadi anggotanya, sebelum beliau diutus sebagai nabi – untuk menolong jiwa baliau . Sidang pemeriksaan perkara Nabi Isa a.s. berlangsung pada hari Jum’at, karena Pilatus dengan sengaja mengulur waktu dengan perhitungan bahwa esok harinya jatuh Hari Sabat, saat orang-orang terhukum tidak dapat dibiarkan di atas tiang salib sesudah matahari terbenam. Ketika pada akhirnya Pelatus merasa terpaksa menghukum Nabi Isa a.s., ia memberikan keputusannya hanya tiga jam sebelum terbenamnya matahari, dengan demikian menyakinkan dirinya bahwa tak ada orang yang normal kesehatannya tinggal di atas tiang salib dalam waktu yang sesungkat itu dapat mati. Selain itu Pilatus telah sudi mengusahakan agar Nabi Isa a.s. diberi anggur atau cuka dicampur dengan rempah-rempah mur (myrrh) untuk mengurangi perasaan sakitnya. Tatkala sesudah tida jam lamanya tergantung, beliau diturunkan dari salib dalam keadaan tak sadarkan diri (mungkin karena pengaruh cuka yang diminumkan kepada beliau), Pilatus dengan senang hati mengabulakan permintaan Yusuf Arimatea dan menyerahkan badan baliau kepadanya. Lain halnya dari kedua penjahat yang digantung bersama-sama Nabi Isa a.s. tulang-tulang beliau tidak dipatahkan dan Yusuf Arimatea telah meletakkan beliau di suatu rongga yang ruangnya luas, digali dibagian samping bukit padas. Ketika itu tidak ada ilmu pemeriksaan mayat (medical autopsi), tidak ada percobaan stethoscopis, tidak diadakan pemeriksaan dari segi hukum dengan pertolongan kesaksian dari mereka yang terakhir bersama beliau (“Mystical life of Yesus”) oleh H. Spencer Lewis ).
(9) Marham Isa (salep Isa) yang terkenal itu dibuat dan dipakai untuk mengobati luka-luka Nabi Isa.as., dan beliau diurus serta dirawat oleh Yusuf Arimatea dan Nicodemus yang juga seorang yang sangat terpelajar dan anggota yang amat terhormat dari Ikatan Persaudaraan Essene.
(10) Setelah luka-luka beliau cukup sembuh, Nabi Isa a.s. meninggalkan kuburan itu dan menemui beberapa murid beliau dan bersantap bersama mereka, lalu menempuh perjalanan jauh dari Yerusalem ke Galilea dengan berjalan kaki (Lukas 24:50).
(11) “The Crucifixion by an Eye Witness,” sebuah buku yang untuk pertama kalinya diterbitkan pada tahun 1873 di Amerika Serikat, merupakan terjemahan dalam bahasa Inggeris dari sebuah naskah surat dalam bahasa Latin purba yang ditulis tujuh tahun sesudah peristiwa salib oleh seorang warga Essene di Yerusalem kepada seorang anggota perkumpulan itu di Iskandaria, memberi dukungan yang kuat kepada pendapat bahwa Nabi Isa a.s. telah diturunkan dari salib dalam keadaan masih hidup. Buku itu menceritakan secara terinci semua kejadian yang menjurus kepada peristiwa salib, pemandangan di bukit tempat terjadinya penyaliban dan jiga peristiwa-peristiwa yang terjadi kemudian. Lihat juga Edisi Besar Tafsir Bahasa Inggeris.

Dua pendapat yang berbeda tersebar di tengah-tengah orang-orang Yahudi mengenao dugaan wafat Nabi Isa a.s. kerena penyaliban. Beberapa di antara mereka berpendapat bahwa beliau pertama-tama dibunuh, kemudian badan beliau digantung pada tiang salib, sedang yang lainnya berpendapat bahwa beliau dibunuh dengan dipakukan pada tiang salib. Pendapat yang pertama tercermin dalam Kisah Rasul-rasul 5:50, kita baca, “Yang sudah kamu ini bunuh dan menggantung Dia pada kayu itu.” Alquran membantah kedua pendapat ini dengan mengatakan, “mereka tidak membunuhnya, dan tidak pula mematikannya di atas salib,” Pertama Alquran menolak pembunuhan Nabi Isa a.s. dalam bentuk apapun, dan selanjutnya menyangkal cara pembunuhan yang khas dengan kalan menggantungkan pada salib. Alquran tidak menolak ike bahwa Nabi Isa a.s. digantung pada tiang salib; Alquran hanya menyangkal wafatnya di atas tiang salib.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s