Peran Ibu dan Dekadensi Moral

Tantangan yang dihadapi oleh dunia kontemporer saat ini salah satunya adalah perbaikan terhadap dekadensi moral, yaitu perbaikan terhadap jatuhnya nilai-nilai moral kemanusiaan yang mengakibatkan timbulnya berbagai macam kejahatan, kerusuhan, sikap individualisme yang tinggi, sikap tidak menghormati dan tidak adanya toleransi dan kepercayaan satu sama lain. Ada banyak faktor yang menjadi penyebab jatuhnya nilai-nilai moral ini. Secara umum, kemunduran-kemunduran tersebut merupakan dampak kurangnya perhatian dan penerapan terhadap nilai-nilai keagamaan, yang mana nilai-nilai ini merupakan unsur yang membentuk kehidupan dan jiwa dari agama itu sendiri. Sejauh mana pengikut suatu agama tidak mengamalkan ajaran-ajaran agama yang dianutnya, sejauh itu pulalah kemunduran yang akan terjadi.
Semua agama, secara keseluruhan, mengajarkan dua hal kepada pengikutnya. Yaitu bagaimana cara berhubungan dengan Tuhan, dan kedua adalah mengajarkan agar para pengikutnya melakukan amalan-amalan terpuji terhadap satu sama lain. Tidak ada agama yang mengajarkan para pengikutnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan buruk dan dosa. Meskipun ada, itu bukanlah ajaran murni yang diberikan Tuhan di dalam agama itu sendiri, melainkan adalah hasil dari campur tangan para pengikut agama tersebut. Sebagai contoh, didalam agama Kristen, Rasul Paulus mengajarkan bahwa semakin dosa seseorang itu berlimpah, maka karunia Tuhan pun semakin melimpah ruah. (Roma 3:7 dan 5:20).
Terlepas dari itu semua, saat ini saya tidak akan menjelaskan mengenai pandangan agama-agama yang kini telah dimasuki oleh paham-paham yang tidak sesuai dengan ajaran aslinya, namun lebih spesifik akan diuraikan pandangan Islam mengenai perbaikan-perbaikan terhadap dekadensi nilai-nilai moral kemanusiaan, yang letak pondasi utamanya adalah peran seorang ibu dalam mendidik anaknya .
Peran Orang Tua Terhadap Pembentukkan Anak
Orang tua merupakan pelaku utama terhadap pembentukkan agama, sifat dan karakter anak-anaknya. Sebagaimana Hazrat Rasulullah s.a.w. bersabda :

ما من لو د الايو لد علي ا لفظره فا بواه يهودانه أ وينصرانه أويمجسا نه كما تنبح البهيمة بهيمة جمعا ء هل تحسون فيا من جدعاء البخا ري

Yaitu, tidaklah setiap anak yang dilahirkan kecuali dalam keadaan suci, maka orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. Seperti halnya seekor induk yang melahirkan anaknya, dimana kalian tidak akan mendapatkan seekorpun dari mereka yang telinganya terpotong. (HR.Bukhari).
Dalam hadits ini, Rasulullah s.a.w. jelas menyebutkan bahwa setiap orang dilahirkan dalam keadaan suci. Seseorang yang dalam hidupnya diwarnai keburukan-keburukan dan dosa, tidak akan semata-mata instan terjadi ketika dia besar, tapi itu merupakan rentetan dari sekian banyak rentetan yang bermuara kepada pendidikan orang tuanya. Setiap gerak-gerik, ucapan serta perbuatan orang tua, melalui proses yang panjang dan berulang-ulang, dilihat dan diserap oleh anaknya yang kemudian menjadi suatu bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupannya. Inilah yang dimaksud oleh Rasulullah s.a.w., yakni orang tualah yang menjadikan anaknya Yahudi, Nasrani atau Majusi.
Pendidikan Penting Diberikan Sejak Dini
Didalam Islam , Rasulullah s.a.w. memberikan gambaran bahwa pendidikan yang paling penting itu adalah pendidikan orang tua terhadap anaknya sejak dini. Mengenai hal ini, beliau bersabda :

Yakni, suruhlah anak-anakmu shalat jika mereka sudah berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka supaya shalat setelah berumur sepuluh tahun, selanjutnya pisahlah tempat tidur mereka sendiri-sendiri.
Jelas dalam hadits ini ditekankan mengenai pendidikan agama yang diberikan kepada anak-anak yang merupakan sesuatu yang tidak bisa disepelekan, yaitu shalat. Ini juga bersesuaian dengan hadits yang sebelumnya, bahwa yang paling utama diberikan kepada anak adalah pendidikan agamanya.
Ibu, Peran Utama
Sejak kecil, seorang anak dirawat dan dibesarkan dengan tidak terlepas dari pangkuan, belaian, kebersamaan dan kasih sayang ibunya. Segala apa yang diperlukan, ibulah yang senantiasa memberikan perhatian yang lebih dari pada yang lain, termasuk ayah anak itu sendiri. Ibulah yang senantiasa tahu sebab apa anaknya menangis, bagaimana cara membuat anaknya tersenyum dan tertawa, apa yang baik bagi anaknya dan apa yang buruk yang harus dihindari. Ibulah yang senantiasa rela berkorban demi anaknya kapanpun dan dimanapun hanya untuk kebaikan dan kebahagiaan anaknya. Dia rela dirinya tersiksa dan terluka asalkan anaknya sehat dan selamat. Inilah gambaran kecil mengenai sifat dasar yang dimiliki oleh seorang ibu terhadap anaknya. Jika semua hal ini dilakukan dengan sebaik-baiknya dengan pondasi dasar utamanya adalah pendidikan agama, maka apa yang diinginkan agar anaknya menjadi anak yang saleh, akan tercapai. Namun sayang, meskipun tidak sedikit juga yang menekankan pendidikan terhadap anaknya, dimana di era modern kini perkembangan telah begitu pesatnya dari segala segi, sehingga banyak orang tua yang kurang memperhatikan pendidikan anaknya.
Di zaman ini, dimana kaum wanita menuntut “kesetaraan” gender dengan kaum laki-laki, yaitu sebagaimana kaum laki-laki bisa memperoleh pekerjaan dan kedudukan di masyarakat, begitu juga kaum wanita, mereka menginginkan kesetaraan ini. Memang, Islam menjamin hak-hak wanita dan juga wanita memiliki kedudukan yang sama di masyarakat, yaitu sebagaimana kaum laki-laki berhak mengemukakan pendapatnya, begitupun juga dengan kaum wanita, mereka memiliki hak yang sama dalam hal ini.
Akan tetapi, yang terjadi saat ini adalah kaum wanita, dikarenakan sibuk dengan pekerjaannya, akhirnya waktu yang seharusnya dia lewatkan bersama anaknya, tidak ia lakukan, bahkan dari pada tidak sama sekali, anaknya dititipkan kepada orang lain dan tanggung jawab pendidikannya pun diberikan kepadanya. Sehingga dampaknya adalah kepada pendidikan anaknya. Kaum wanita yang seperti ini, hasilnya adalah mereka tidak sempat untuk memberikan pendidikan agama kepada anaknya. Meskipun bisa, apa yang mereka lakukan tidaklah maksimal. Sehingga pendidikan agama yang seharusnya menjadi basic dan pondasi kehidupan baginya, tidak terbentuk dengan kokoh. Malahan justru, karena pengaruh lingkungan sekitarnya, yang bisa dikatakan kurang adanya batas-batas yang jelas dan pasti, anak itu tumbuh dan berkembang didalamnya. Contohnya, bagaimana kehidupan di negeri-negeri barat – dimana pendidikan yang diterapkan adalah pendidikan-pendidikan keduniaan dan kecil sekali yang memprioritaskan kepada pendidikan agama – karena pengaruh lingkungan dan kesibukan orang tua, khususnya ibu, telah menjadikan kehidupan anak-anaknya ketika dewasa kurang atau bahkan bisa dikatakan tidak memiliki nilai-nilai moral keagamaan. Mungkin boleh jadi negeri-negeri barat mengklaim bahwa dirinya adalah negeri yang memiliki kebudayaan dan peradaban yang tinggi, namun jika kita renungkan, didalamnya kosong dari jiwa dan nilai-nilai agama. Tidak sedikit kejahatan-kejahatan yang dilakukan bukan hanya dengan cara sembunyi-sembunyi, bahkan mereka seolah-olah tidak merasa takut lagi terhadap hukum dan kecaman dari masyarakat.
Oleh karena itulah, demi menjaga kedamaian dan kestabilan dalam masyarakat, Islam mengajarkan untuk menitik beratkan pendidikan agama terhadap anak keturunannya. Islam tidak melarang kaum wanita untuk memenuhi haknya, tapi Islam juga menekankan agar kaum wanita melaksanakan kewajibannya, yang mana kewajibannya itu merupakan kunci keberhasilan anaknya dimasa depan. Pondasi utama seorang anak adalah pendidikan agamanya, dan inilah sebenarnya hak yang harus didapatkan pertama kali sebagai bekal kehidupannya. Serta sedemikian rupa kemuliaan seorang ibu, sampai-sampai Rasulullah s.a.w. memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya bahwa surga itu adalah terletak dibawah telapak kaki ibu.
Dengan demikian, inilah jaminan yang diberikan oleh Islam kepada dunia, bahwa untuk mengatasi dekadensi moral yang terjadi dewasa ini salah satunya adalah dengan menekankan orang tua terhadap pendidikan agama kepada anak-anakanya, sehingga di waktu yang akan datang, nilai-nilai moral yang kini telah berada di titik jurang kehancuran, bisa diperbaiki. Dan dalam agama Islam inilah, terdapat ajaran- ajaran yang indah mengenai pendidikan terhadap anak-anak yang apabila kaum ibu melaksanakannya dengan optimal dan sebaik-baiknya, akan tercipta masyarakat baru yang berTuhan, sehingga perkembangan zaman yang sedemikian rupa pesatnya, jiwa dari nilai-nilai moral keagamaan pun tidak kosong dari diri manusia, dengan demikian akan terwujud keadilan dan ketentraman secara menyeluruh didalamnya. Insya Allah.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s