SIRATUL MAHDI: Beberapa Riwayat Hidup Pendiri Jemaat Oleh: ZA Khudori (MUBALIGH IkaDa)

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي اْلأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِّنْهُمْ
يَتْلُوا عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلاَلٍ مُّبِينٍ –
وَءَاخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Dia-lah Yang telah membangkitkan di tengah-tengah bangsa yang buta huruf
seorang rasul dari antara mereka yang
membacakan kepada mereka tanda-tanda-Nya, dan mensucikan mereka,
dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah
walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata.
Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum pernah bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana
(QS 62/Al-Jumu’ah: 3-4).
Dalam rangka Hari Masih Mau’ud AS yang ke-120 (23 Maret 1889-2009) ini akan saya ceritakan kembali riwayat hidup Hadhrat Pendiri Jemaat AS ke hadapan hadirin sekalian. Semua riwayat ini saya kutip dari Siratul Mahdi karya Hadhrat Qamarul Anbiya Mirza Bashir Ahmad, MA, RA. (adik dari Hadhrat Khalifatul Masih II RA) yang dimuat secara berseri di Majalah LI 1985-1988 (Bunga Rampai Karangan-karangan Bernafaskan Agama: Ikha 1366/Oktober 1987 M, No. 1/hlm. 5-7; Bunga Rampai: Aman 1367 HS/Maret 1988 M, No. 2/hlm. 5-6; Bunga Rampai: Aman 1367 HS/Maret 1988 M, No. 2/hlm. 5-6; Edaran LI: Wafa 1364 HS/Juli 1985 M, No. 83/hlm. 19-21 & 35; Edaran LI: Hijrah 1364 HS/Mei 1985 M, No. 81/hlm. 3-7).
Pendahuluan
Ada baiknya sebelum saya menceritakan Siratul Mahdi dimaksud, perlu dijelaskan serba ringkas tentang istilah siirah. Kata ini bentuk jamaknya adalah siyar yaitu kumpulan cerita yang dikenal tentang raja-raja Parsi. Tapi kemudian kumpulan cerita tersebut tidak hanya terbatas pada raja-raja Parsi saja melainkan tokoh-tokoh penting lainnya. Metode siirah dalam Islam seperti telah dicontohkan dalam metode penyusunan Hadits yang berfungsi sebagai penjelas Al-Quran. Sedang dalam tarikh Islam, kitab yang sangat terkenal dalam bidang ini ialah Siirah Ibnu Ishaq. Karya ini kemudian lanjutkan oleh story-teller berikutnya, Ibnu Hisyam dan qushshoh (penutur sejarah) lainnya. Istilah lain dari siirah adalah biografi.
Kini mari kita simak Siratul Mahdi berikut ini:
(1) Penanggalan Sejarah yang Belum Permanen
Wafat Sang Ayah & Kakak
Hadhrat Mirza Bashir Ahmad RA meriwayatkan: Ayahanda Hadhrat Masih Mau’ud AS, Mirza Ghulam Murtadha, wafat pada bulan Juni 1876 atau menurut sebuah tulisan Hadhrat Masih Mau’ud AS sendiri: 20 Agustus 1875; sedangkan kakak beliau, Mirza Ghulam Qadir wafat pada tahun 1883. Kakek berusia 80 tahun lebih ketika wafat dan Pak De kurang lebih berusia 55 tahun.
Wafat Hadhrat Masih Mau’ud AS
Mengenai tanggal lahir Hadhrat Masih Mau’ud AS terdapat perselisihan. Berkenaan dengan ini tulisan-tulisan beliau sendiri menyebut bermacam-macam. Pokoknya kelahiran itu terjadi di zaman kekuasaan Sikh. Dan dahulu tidak tersimpan catatan mengenai tanggal-tanggal kelahiran. Hadhrat Masih Mau’ud AS menerangkan pada beberapa tempat: tahun 1839 atau 1840; tetapi tahun-tahun itu dibetulkan oleh tulisan-tulisan beliau sendiri juga.
Hudhur Aqdas Tidak Ingat
Sebenarnya beliau sendiri kurang yakin mengenai perkiraan beliau sendiri. Lihat “Barahin Ahmadiyah” jilid V hlm. 193 (dan tanggal yang sebenarnya nampaknya adalah tahun 1836), selain itu menurut salah sebuah tulisan Hadhrat Masih Mau’ud AS, tanggal wafat kakek ternyata Juni 1874, akan tetapi sejauh penyelidikan saya, tahun 1874 dan 1875 itu keduanya salah dan kita ketahui dari dokumen-dokumen pemerintah, tanggal yang benar adalah tahun 1876. Akan tetapi Hadhrat Masih Mau’ud AS sendiri tidak mengingatnya. Wallahu a’lam.
(Sumber: Bunga Rampai Karangan-karangan Bernafaskan Agama. Ikha 1366/Oktober 1987: No. 1/hlm. 5-7).
(2) Saudara Kandung Hadhrat Ahmad AS
Hadhrat Mirza Bashir Ahmad RA meriwayatkan: Ibunda menerangkan bahwa Hadhrat Masih Mau’ud AS adalah salah seorang di antara lima bersaudara: laki-laki dan wanita.
Saudara wanita tertua adalah yang menikah dengan Mirza Beg Hishiarpuri. Saudara wanita Hadhrat Masih Mau’ud AS ini adalah ahli pelihat rukya dan kasyaf, bernama Murad Bibi.
Lebih muda dari beliau ini adalah Mirza Ghulam Qadir.
Lebih muda dari ini lagi adalah anak laki-laki yang meninggal ketika masih kecil.
Lebih muda dari ini lagi adalah saudara wanita yang lahir kembar dengan beliau, namanya Janat.
Yang bungsu adalah Hadhrat Masih Mau’ud AS.
Ibunda menerangkan bahwa Hadhrat Masih Mau’ud AS pernah bersabda bahwa kakak wanita beliau pernah melihat mimpi memperoleh sebuah azimat. Ketika beliau bangun dari tidur, terdapat sebuah benda dari kulit kayu (dari jenis tertentu) bertuliskan Surah Maryam di tangannya. (Keterangan dari saya pribadi –Hadhrat Mirza Bashir Ahmad RA: Saya telah melihat kulit kayu tersebut yang sampai sekarang terpelihara di tangan istri kakak tertua saya yakni Ibu Mirza Rasyid Ahmad).
(Sumber: Bunga Rampai No. 2: Aman 1367 HS/Maret 1988 M/hlm. 5-6).
(3) Wahyu-wahyu Bersejarah
Hadhrat Mirza Bashir Ahmad RA meriwayatkan: Sudah lama berselang Hadhrat Masih Mau’ud AS sebenarnya mulai menerima ilham. Namun ilham yang denga jelas menyatakan bahwa beliau adalah diutus oleh Allah untuk mengadakan islah atas keadaan umat adalah di dalam bulan Maret 1882 tatkala beliau tengah menulis kitab Barahin Ahmadiyah jilid III (lihat: Barahin Ahmadiyah jilid III hlm. 238). Akan tetapi pada waktu itu beliau belum menerima baiat bahkan beliau masih menunggu perintah lebih lanjut untuk itu. Ternyata ketika firman Ilahi pada bulan Desember 1888 beliau mengumumkan menerima baiat dan dengan perantaraan surat selebaran mengundang orang-orang dan pada awal 1889 mulai menerima baiat.
Akan tetapi hingga waktu itu pun beliau hanya mendakwakan diri sebagai Mujaddid dan diutus oleh Tuhan. Dan sungguh pun sejak mendakwakan diutus oleh Tuhan, juga di dalam ilham-ilham, beliau diisyaratkan dengan jelas adanya kenyataan beliau menjadi Masih Mau’ud namun kehendak kodrat Ilahi sampai beberapa lama beliau tidak mendakwakan diri sebagai Masih Mau’ud, diutus untuk memperbaiki keadaan umat dalam corak seperti Isa Al-Masih dan beliau adalah matsil (prototype) Al-Masih. Setelah itu pada awal tahun 1891 beliau mengumumkan aqidah bahwa Isa Al-Masih sudah wafat dan beliau mendakwakan sebagai Al-Masih yang Dijanjikan untuk umat ini. Titik awal gelombang perlawanan khalayak masyarakat terhadap beliau ialah sejak pengakuan itu.
Mengenai kenabian dan kerasulan beliau pun sudah terdapat isyarat di dalam ilham-ilham permulaan. Akan tetapi kehendak Ilahi masih menahan beliau hingga abad yang ke-20 pun terbit dan sejak itu beliau mulai mempergunakan –tanpa tedeng aling-aling- perkataan nabi da rasul berkenaan dengan pribadi beliau. Dan pada khususnya, pendakwaan beliau sebagai matsil (prototype) Krishna disiarkan beliau lama sesudah itu yakni dalam tahun 1904 dan semua hal adalah di bawah kekuasaan Tuhan. Dalam hal ini tidak ada campur tangan beliau sedikit pun. Di dalam perikehidupan Rasulullah SAW pun tampak gejala yang bertahap ini dan di dalam hal ini terdapat banyak hikmahnya yang pada tempat ini tidak mungkin diterangkan.
(Sumber: Bunga Rampai No. 2: Aman 1367 HS/Maret 1988 M/hlm. 5-6).
(4) Gangguan Kesehatan (I): Vertigo
Hadhrat Mirza Bashir Ahmad RA meriwayatkan: Ibunda yang mulia menceritakan kepada saya bahwa pertama kalinya Hadhrat Masih Mau’ud AS mendapat gangguan penyakit pening kepala (tujuh keliling) dan hysteria ialah sejak beberapa hari setelah wafat Basyir Awwal (ialah kakak kami yang tertua yang wafat pada tahun 1886). Malam hari pada waktu sedang tidur beliau batuk-batuk dan sesudah itulah kesehatan beliau memburuk. Beberapa waktu kemudian, suatu ketika beliau keluar untuk mengerjakan shalat dan seraya berjalan beliau bersabda bahwa hari itu beliau merasa kurang enak badan. Ibunda berkata bahwa tak lama sesudah itu Syeikh Hamid Ali (seorang khadim Hadhrat Masih Mau’ud AS; sekarang ia sudah wafat) mengetuk pintu dan meminta agar segera diberi seperiuk air panas. Ibunda berkata bahwa beliau maklum bahwa kesehatan Hadhrat Masih Mau’ud AS semakin memburuk. Oleh karena itu beliau berkata kepada prempuan pembantu rumah-tangga supaya menanyakan kepadanya betapa keadaan kesehatan Hadhrat MasihMau’ud AS. Syeikh Hamid Ali berkata bahwa beliau sedikit buruk kesehatannya. Ibunda segera mengenakan pardah lalu pergi ke dalam mesjid. Hadhrat Masih Mau’ud AS tengah berbaring. Ketika ibunda menghampiri ke dekat beliau, Hadhrat Masih Mau’ud AS bersabda, “Tadi kesehatanku sangat buruk tetapi sekarang membaik. Aku tadi sedang shalat, tiba-tiba tampak benda kehitam-hitaman naik di hadapanku dan membumbung terus sampai langit. Kemudian aku berteriak dan roboh ke lantai tak sadarkan diri.”
Ibunda berkata, “Sesudah itu Hadhrat Masih Mau’ud AS mulai sering terserang pening kepala – tujuh keliling.”
Saya bertanya, bagaimana gejala-gejalanya. Ibunda berkata, kaki dan tangan menjadi dingin dan saraf tegang, khususnya saraf pendek dan kepala pening. Pada mulanya peyakit itu sangat keras kemudian setelah itu tidak begitu keras lagi dan menjadi sudah agak terbiasa. Saya bertanya, apakah sebelum itu Hadhrat Masih Mau’ud AS tidak pernah mendapat sakit kepala? Ibunda berkata, sebelum itu memang ada daur (siklus) beliau merasa pening kepala yang ringan. Saya bertanya, apakah Hadhrat Masih Mau’ud AS biasa memimpin sendiri shalat? Ibunda mengiakan. Namun, kata beliau, sesudah beliau mengidap pening kepala, beliau tidak lagi memimpin shalat. Riwayat ini adalah sebelum beliau mendakwakan diri sebagai Al-Masih.
(Di dalam riwayat ini perkataan yang dipakai oleh ibunda mengenai sakit kepala Hadhrat Masih Mau’ud AS ialah “hysteria” dan maksudnya bukanlah penyakit hysteria menurut ilmu kedokteran. Ternyata, sebagaimana telah diuraikan di dalam jilid II no. 325 dan 369, pada hakikatnya Hadhrat Masih Mau’ud AS tidak mengidap penyakit hysteria; oleh karena itu Hadhrat Masih Mau’ud AS sendiri, bilamana menyebut penyakit beliau ini dalam tulisan beliau, tidak pernah mempergunakan kata hysteria dan sebagainya. Tidak pula menurut ilmu kedokteran penyakit pening kepala disebut hysteria atau “miraq” melainkan untuk itu bahasa Inggris barangkali dipakai kata vertigo yang adalah semacam sakit kepala juga, kepala pening dan jaringan saraf pada pundak dan sebagainya terasa tegang. Dalam keadaan demikian ini sulitlah bagi si sakit berjalan atau pun berdiri. Tetapi sudah pasti tidak ada pengaruh apa-apa pada kesadaran dan perasaan. Oleh karena itu penulis (Hadhrat Mirza Bashir Ahmad RA) melihat berbilang kali Hadhrat Masih Mau’ud AS berada dalam keadaan pening kepala tapi tidak pernah melihat keadaan yang menandai pengaruh atas kesadaran dan perasaan. Penyakit beliau ini pun sesungguhnya sesuai denga nubuatan Rasululah SAW yang menyebutkan bahwa Masih Mau’ud AS akan turun kelak dengan bersalutkan dua helai cadar berwarna kuning (yakni dua macam penyakit). Lihat “Misykaat” Bab Isyaraatus-Saa’ah, dengan mengacu kepada Kitab Hadits Muslim dan sebagainya.
Pada waktu timbul penyakit kepala pening, merupakan gejala yang sudah lazim bahwa tampak benda-benda di sekitar berputar-putar dan naik ke atas. Oleh karena pada waktu serangan pening kepala itu si penderita cenderung menutup mata maka biasanya benda-benda itu tampak berwarna kehitaman dan ia berada dalam keadaan seperti tak sadarkan diri melainkan karena terlampau lemahnya sehingga mata tidak dapat terbuka atau tidak dapat berbicara. Walloohu a’lam.
(Sumber: Edaran LI No. 83: Wafa 1364 HS/Juli 1985 M/hlm. 19-21 & 35).
(5) Gangguan Kesehatan II: Diare
Sakit Terakhir
Hadhrat Mirza Bashir Ahmad RA meriwayatkan: Ibunda yang mulia menceritakan kepada saya bahwa ketika Hadhrat Masih Mau’ud AS menderita sakit terakhir kalinya dan keadaan beliau telah menjadi gawat. Ibunda mengatakan, “Allah, apa gerangan ini?” Mendengar ucapan itu Hadhrat Masih Mau’ud AS bersabda, “Inilah yang selalu pernah kukatakan.”
Sehari Sebelum Hari itu
Saya (Hadhrat Mirza Bashir Ahmad RA) hendak menerangkan secara singkat bahwa Hadhrat Masih Mau’ud AS pada tanggal 25 Mei 1908 yakni petang hari Minggu, benar-benar dalam keadaan baik. Malam harinya, selepas shalat Isya saya masuk ke dalam rumah. Saya melihat beliau sedang duduk bersantap bersama-sama ibunda di atas dipan. Saya pergi naik ke atas kasur dan membaringkan diri lalu kantuk pun datang menyerang saya.
Diare & Mardhul Maut
Menjelang subuh saya dibangunkan atau barangkali terbangun sendiri oleh suara-suara orang berjalan hilir-mudik dan bicara, kiranya apa gerangan tampak kepada saya? Hadhrat Masih Mau’ud AS sakit keras terserang penyakit diare (mencret) dan keadaan beliau menjadi gawat dan tabib serta orang-orang lain lagi silih berganti berupaya dengan sibuknya. Ketika saya melemparkan pandangan pertama kepada Hadhrat Masih Mau’ud AS maka hati saya menjadi kecut karena sebelum itu saya tidak pernah melihat beliau di dalam keadaan serupa itu. Hati saya pun dihinggapi kesan bahwa ini merupakan mardhul maut (sakit penghantar maut).
Nadi Mulai Berdenyut Kembali
Beliau telah semakin lemah. Dalam pada itu dokter memeriksa denyut nadi dan hasilnya menunjukkan negatif. Semua yang hadir mengerti: beliau wafat dan seketika itu juga suasana menjadi gempar. Akan tetapi sebentar kemudian nadi mulai berdenyut kembali namun keadaan tetap rawan.
Tetap Memperhatikan Shalat
Dalam pada itu waktu subuh pun menjelang. Saat langit telah tampak taram-temaran orang-orang mengangkat tempat peraduan Hadhrat Masih Mau’ud AS dari luar beranda untuk dimasukkan ke dalam kamar. Maka Hadhrat Masih Mau’ud AS bertanya, “Apakah waktu shalat subuh telah tiba?” Kalau tidak salah, Syaikh Abdurrahman Al-Qadiani yang berkata, “Hudhur, sudah tiba.”
Tayamum & Shalat yang Tak Selesai
Beliau (Hadhrat Masih Mau’ud AS) menepuk-nepuk telapak tangan ke atas kasur, bertayamum dan dalam posisi berbaring beliau mulai mengerjakan shalat. Akan tetapi dalam keadaan demikian itu beliau tak sadar sepenuhnya dan tidak dapat menyelesaikan shalat beliau. Sebentar kemudian beliau bertanya, “Apakah waktu shalat sudah tiba?” Disebutkan orang bahwa sudah waktu. Kemudian beliau menghimpun niat. Akan tetapi saya ingat, beliau tidak dapat menyelesaikan shalat beliau.
Tulisan Terakhir
Pada saat itu keadaan beliau sangat menderita dan resah. Kurang lebih jam 08.00 atau 08.30, dokter bertanya tentang apa yang secara khusus dirasakan sakit, namun beliau tidak dapat memberi jawaban. Oleh sebab itu beliau meminta secarik kertas, sebuah penah dan tinta. Beliau bersitelekan dengan tangan kiri dan beliau mengangkat badan dari kasur hendak menulis namun dengan susah payah hanya dapat menggoreskan 2-4 kata. Kemudian karena lemahnya, pena menggoreskan garis di atas kertas dan beliau tergolek lagi. Ini merupakan tulisan terakhir yang mengungkapkan keluhan lidah sakit. Sebagian tulisan itu tidak terbaca. Tulisan itu diberikan kepada ibunda.
Keadaan Semakin Gawat
Lewat jam 09.00 keadaan Hadhrat Masih Mau’ud AS semakin gawat dan beberapa saat kemudian beliau mulai mengeluarkan suara menggelegak (seperti air mendidih). Dalam gelegak itu tidak ada suara lain kecuali nafas panjang dan suara keckec … Saya pada waktu itu berdiri di sebelah kepala beliau. Demi melihat keadaan itu, ibunda yang pada waktu itu berada di kamar sebelah diberitahu. Beliau bersama beberapa wanita isi rumah dating ke depan tempat peraduan beliau dan duduk di lantai. Kemudian dokter Muhammad Husein Syah Sahib Lahori memberi suntikan di bagian dada beliau yang karena itu tempat itu sedikit bengkak. Namun tidak sedikit pun tampak membaik. Bahkan sebagian orang beranggapan buruk bahwa dalam keadaan serupa itu mengapa beliau dibuat menderita.
Ruh Beliau Melayang
Hingga beberapa saat gelegak-gelegak masih ada dan setiap selang bernafas ada saat berhenti yang panjang dan … ruh beliau melayang untuk kembali menghadap Sang Maha Kekasih. Alloohumma sholli ‘alaihi wa ‘alaa mathoo’ahu wa baarik wa sallam.
Diare Pertama
Ketika saya menceritakan kembali ke hadapan ibunda riwayat yang seperti saya tuliskan di atas untuk memperoleh pembenaran dan bilamana saja wafat Masih Mau’ud AS disebut-sebut, ibunda mengatakan, “Diare pertama menyerang saat waktu makan. Akan tetapi hingga beberapa waktu kami memijat-mijat kaki Hadhrat Masih Mau’ud AS dan beliau berbaring dengan tenangnya lalu tertidur. Aku (ibunda) pun tidurlah. Akan tetapi sejenak kemudian Hadhrat Masih Mau’ud AS ingin buang air dan barangkali 1 atau 2 kali beliau ke kamar kecil untuk buang air. Setelah itu beliau merasa amat lemah. Maka beliau membangunkanku. Aku bangun. Beliau demikian lemah kondisi badannya sehingga beliau berbaring di atas tempat tidurku saja dan aku pun duduk memijat kaki beliau.
Diare Kedua: Tidak dapat ke Kamar Kecil
Beberapa waktu kemudian Hadhrat Masih Mau’ud AS bersabda, “Tidurlah!” Aku berkata, “Tidak, saya ingin memijati.” Dalam pada itu beliau diare. Akan tetapi kini kondisi badan beliau demikian lemahnya sehingga beliau tidak dapat pergi ke kamar kecil. Untuk itu aku mengatur keperluan di dekat tempat tidur dan di sana beliau duduk dan buang hajat kemudian bangkit lalu berbaring. Aku pun memijati lagi kaki beliau. Akan tetapi kondisi badan beliau sudah kian menjadi sangat lemah.
Diare lagi: Kepala Terantuk Kayu
Sesudah itu beliau diare lagi dan kemudian beliau batuk-batuk. Ketika lepas dari batuk beliau menginginkan berbaring. Begitu lemah lunglai keadaan beliau sehingga waktu hendak berbaring beliau terkulai lalu jatuh ke belakang. Kepala beliau terantuk ke palang kayu tempat tidur dan keadaan rona beliau menjadi berubah.
Maulwi Nuruddin & Mia Mahmud Dipanggil
Dengan gelisah aku berkata, “Allah, gerangan apa ini?” Beliau bersabda, “Inilah yang pernah kukatakan tempo hari.”
Saya (Hadhrat Mirza Bashir Ahmad RA) bertanya, “Adakah Ibu mengerti apa yang dimaksudkan oleh Hadhrat Sahib?”
Ibunda berkata, “Ya!” Beliau pun berkata, “Ketika keadaan telah menjadi gawat dan semakin lemah, aku mengatakan, apakah Maulwi Sahib (Hadhrat Maulwi Nuruddin Sahib) harus dipanggil? Beliau mengatakan, “Pangillah!” lagi beliau bersabda, “Bangunkan Mahmud!” Kemudian aku bertanya, “Apakah saya harus memanggil juga Muhammad Ali khani (yakni Nawab Sahib)?”
Ibunda mengatakan bahwa beliau tidak ingat, apakah Hadhrat Masih Mau’ud AS memberi jawaban, beliau tidak ingat apa jawaban itu.
Rasulullah SAW juga Mengalami Mardhul Maut
Di dalam hadits ada tersebut bahwa Rasulullah SAW pun sangat menderita pada saat mardhul maut dan sangat gelisah, resah dan dalam keadaan payah. Kami melihat Hadhrat Masih Mau’ud AS menjelang wafat beliau juga hamper-hampir menyerupai keadaan seperti itu. Hal ini mungkin mengherankan orang-orang yang kurang maklum. Sebab pada pihak lain mereka mendengar dan melihat bahwa para sufi dan para wali wafat biasanya dalam keadaan sangat tenteram dan tenang. Sebabnya ialah seorang nabi apabila hendak wafat maka segala pertanggungjawaban mengenai umat beliau dihadapkan kepada beliau. Keprihatinan mengenai masa depan mereka selanjutnya mencekam perasaan beliau. Beliau lebih mengetahui daripada seluruh umat manusia bahwa kematian merupakan sebuah pintu yang dengan melewatinya manusia akan berdiri di hadapan Tuhan. Jadi kedatangan maut dipandang dari satu segi membawa kegembiraan kepada beliau karena saat pertemuan dengan Sang Kekasih telah mendekat maka pada pihak lain rasa tanggungjawab beliau yang sangat besar dan keprihatinan mengenai masa depan umat beliau menjerumuskan beliau ke dalam lembah penderitaan yang luar biasa. Namun para sufi dan wali bebas dari pikiran-pikiran serupa itu. Mereka hanya memikul beban diri mereka sendiri. Sedangkan di atas pundak para nabi terletak tanggungjawab mengenai ribuan, laksaan dan puluhan juta manusia. Jadi perbedaannya jelas.
(Saya –Hadhrat Mirza Bashir Ahmad RA- bertanya kepada ibunda mengenai apa yang diceritakan oleh ibunda dalam riwayat ini bahwa ketika ibunda memperlihatkan sikap gelisah, Hadhrat Masih Mau’ud AS bersabda, “Inilah yang senantiasa pernah kukatakan,” dan apa maksud ucapan beliau itu. Beliau mengatakan bahwa maksud Hadhrat Masih Mau’ud AS ialah sebagaimana beliau senantiasa berkata bahwa saat kwafatan beliau telah mendekat. Jadi sekarang waktu yang dijanjkan itu telah tiba. Dan ibunda berkata bahwa dalam kata-kata seakan-akan Hadhrat Masih Mau’ud AS sedikit berupaya menentramkan hati ibunda supaya jangan gelisah. Sebab itulah saat yang ditakdirkan dan mengenai itu Hadhrat Masih Mau’ud AS senantiasa menyebutkan setelah diberitahu oleh Allah. Dan sebagaimana janji itu akan menjadi genap, demikian pula halnya jani-jaji lainnya pun mengenai pertolongan Allah dan sebagaimana sesudah wafat beliau pasti akan menjadi sempurna dan semua kita menjadi jaminan. Selain itu ibunda yang mulia mengatakan bahwa Hadhrat Masih Mau’ud AS semakin kerap buang air yang karena itu menjadi sangat lemah … dan beliau karena penyakit itu pulang ke rahmatullah).
(Sumber: Edaran LI No. 81: Hijrah 1364 HS/Mei 1985 M/hlm. 3-7).
Demikian Siratul Mahdi yang dapat saya ceritakan dengan harapan seperti Al-Quran nyatakan:
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لأُوْلِي اْلأَلْبَابِ
مَاكَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ
وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Sesungguhnya dalam riwayat mereka itu ada pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Ini bukanlah suatu hal yang telah dibuat-buat melainkan suatu penyempurnaan apa yang telah ada sebelumnya dan penjelasan terperinci untuk segala sesuatu dan suatu petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman (QS 12/Yusuf: 112).

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s