KEWAFATAN DAN TURUNNYA AL-MASIH ISA IBNU MARYAM ‘Alaihis-salaam

اِذْقَالَ اللهُ يـاـعِيْسىا اِنِّيْ مُتَوَفِّيْكَ وَرَافِعُكَ اِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَجَاعِلُ الَّذيْنَ اتَّبَعُوْكَ فَوْقَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا اِلـاـى يَوْمِ الْقِيـاـمَةِ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيْمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ

“INGATLAH ketika Allah berfirman: ‘Wahai Isa, sesungguhnya Aku akan mematikan engkau secara wajar dan akan meninggikan derajat engkau di sisi-Ku dan akan membersihkan engkau dari tuduhan orang-orang ingkar dan akan menjadikan orang-orang yang mengikuti engkau unggul di atas orang-orang ingkar, hingga Hari Qiyamat; kemudian kepada-Ku-lah tempat kembalimu, lalu Aku akan menghakimi tentang apa yang diperselisihkan di antaramu’.” (Surat Ali Imran, 3 : 56)

Nabi Isa ‘Alaihis-salaam sudah wafat adalah tajdid
Keyakinan Isa ‘Alaihis-salaam masih hidup di langit dengan jasadnya itu sebenarnya mengotori keindahan wajah Islam, yang harus dibersihkan agar tampak keindahannya. Keyakinan itu telah diterima oleh sebagian besar kaum muslimin sebelum zaman Hazrat Mirza Ghulam Ahmad ‘Alaihis-salaam, meski pada saat itu ada Ulama yang berkeyakinan bahwa Nabi Isa ‘Alaihis-salaam itu sudah wafat, namun Ulama yang berpendapat demikian tidak mampu menerangi hati kaum muslimin untuk merubah paradigma mereka, bagaikan bintang yang tertutup awan.

Hazrat Mirza Ghulam Ahmad ‘Alaihis-salaam pendiri Jamaah Ahmadiyah telah mendakwakan bahwa Nabi Isa ‘Alaihis-salaam, penerima Kitab Injil itu, sungguh telah wafat (Al-Khutbah Al-Ilhamiyah, halaman 61; Al-Huda Wat-Tabshirah Liman-yara, hal. 121). Dakwah ini merupakan salah satu contoh tajdid (pembaruan) untuk meluruskan pemahaman agama kaum muslimin saat itu. Sebab mereka umumnya masih berkeyakinan bahwa Nabi Isa ‘Alaihis-salaam masih hidup di langit (Anwaarut-Tanziil Wa-Asraarut-Ta’wiil, Juz II, halaman 127-128). Ajaran dogmatis demikian itu hanya berdasarkan penafsiran yang keliru terhadap ayat Alquran dan Hadits. Maka tidak aneh jika pendapat demikian ini bertentangan dengan ayat-ayat Alquran sebagai dalil yang qath’i, yang antara lain menyatakan bahwa manusia itu hidup hanya di bumi (bukan di langit) dan di sana pula mereka memperoleh penghidupan.
Allah SubchaanaHu wa Ta’aalaa berfirman:
وَلَقَدْ مَكَّـنـّاـكُمْ فِى اْلاَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيْهَا مَعَايِشَ
“Dan sungguh Kami telah menempatkan kamu (manusia) di bumi dan Kami jadikan beraneka sumber penghidupan bagimu di sana pula.” (Al-A’raf, 7 : 11) )

Bukankah Nabi Isa ‘Alaihis-salaam itu manusia juga? Dan ia memerlukan makan dan minum sebagaimana para Nabi yang lain (QS 21 : 8-10)?. Karena itu pasti beliau akan mengalami kematian di bumi ini juga dan tidak mungkin dapat hidup di langit dengan jasadnya.

Kepercayaan asli Kristen
Kalau begitu dari mana asal mula keyakinan bahwa Nabi Isa ‘Alaihis-salaam itu masih hidup di langit? Secara pasti belum diketahui orang yang pertama menyebar-luaskan keyakinan tersebut, tetapi dapat dipastikan bahwa sejak sepeninggal Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam keyakinan tersebut sudah masuk ke dalam kaum Muslimin bersamaan dengan berduyun-duyunnya kaum Ahli Kitab masuk Islam. Sebagaimana terlihat dalam beberapa buku Islam. Dan, itulah yang disebut Nashraniat, yakni ajaran Nashrani atau Kristen yang masuk ke dalam Islam. Lihat Tafsir Al-Azhar karangan HAMKA.

Bagi kaum Kristen, wajib meyakini Isa Al-Masih (Yesus Kritus) masih hidup di langit (Surga). Keyakinan itu didasarkan atas ajaran Paulus dan kawan-kawannya antara lain terdapat dalam Injil Markus: “Setelah Tuhan Yesus selesai berbicara kepada mereka, Ia terangkat ke Surga lalu duduk di sebelah kanan Allah” (Markus, 16:19). Juga terdapat dalam Injil Lukas: “Yesus membawa mereka ke luar kota. Ketika sampai di Betania, ia mengangkat tangan-Nya memberkati mereka, Ia terangkat dan naik ke Surga, mereka menyembah Dia, lalu kembali ke Yerusalem dengan penuh suka cita” (Lukas, 24 : 50-52). Atas dasar ayat-ayat Injil ini dapat disimpulkan bahwa kepercayaan tentang Nabi Isa ‘Alaihis-salaam atau Yesus Kristus masih hidup di langit adalah kepercayaan asli Kristen.

Dalil dan bukti Nabi Isa ‘Alaihis-salaam sudah wafat
Allah swt. telah menyatakan dengan jelas dan tegas dalam Alquran bahwa Nabi Isa ‘Alaihis-salaam itu telah diwafatkan secara wajar.
Allah swt. berfirman:
اِذْقَالَ اللهُ يـاـعِيْسىا اِنِّيْ مُتَوَفِّيْكَ وَرَافِعُكَ اِلَيَّ
“Ingatlah ketika Allah berfirman: ‘Wahai Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkan engkau (secara wajar) dan akan meninggikan (derajat) engkau di sisi-Ku’.” (Ali-Imran, 3 : 56)

Kata “tawaffa” jika subyeknya Allah artinya mencabut nyawa. Kata ini digunakan dalam Alquran sebanyak 25 kali. 23 kali berarti mencabut nyawa ketika dimatikan dan 2 kali berarti mengambil nyawa pada waktu tidur, tetapi perlu diingat bahwa dalam dua ayat itu ditambahkan kata keterangan “manaam” atau “lail” artinya tidur atau malam (QS 39 : 43; 6 : 61). Jadi, tidak ada arti lain bahwa “tawaffaa” yang ditujukan kepada Nabi Isa ‘Alaihis-salaam itu adalah diambil nyawanya, ketika rambut beliau telah beruban (QS 3 : 47), alias beliau ‘Alaihis-salaam sudah lanjut usia, karena ayat-ayat itu tidak disertai kata manam atau lail, yang artinya tidur atau malam.

Menurut Hadits Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, nyawa Nabi Isa ‘Alaihis-salaam dicabut ketika beliau ‘Alaihis-salaam berusia 120 tahun (Ath-Thabrani dalam “Al-Kabir”, dari Fathimah Radhiyallaahu ‘anha, dan Kanzul-Umal, Juz XI/32262; Tafsir Ibnu Katsir, Jilid II, halaman 246). Sahabat Abu Bakar As-Shiddiq Radhiyallaahu ‘anhu juga berkeyakinan bahwa semua nabi sebelum Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam itu telah wafat. Buktinya tatkala Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam wafat, Umar bin Khathab Radhiyallaahu ‘anhu berdiri di masjid Nabawi dengan pedang terhunus di tangan beliau dan berkata, “Barangsiapa mengatakan bahwa Muhammad Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah wafat, aku akan memenggal batang lehernya. Beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak wafat, tetapi telah pergi kepada Tuhannya, seperti Nabi Musa ‘Alaihis-salaam pernah pergi kepada Tuhannya dan menghukum orang-orang munafik”. Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallaahu ‘anhu yang telah menyaksikan ke tempat peristiwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam wafat itu dengan tegas menyuruh Umar Bin Khathab Radhiyallaahu ‘anhu untuk duduk, dan sementara beliau Radhiyallaahu ‘anhu memberi wejangan kepada kaum muslimin yang telah berkumpul di masjid. Beliau Radhiyallaahu ‘anhu membacakan ayat Alquran:

وَمَا محُـَمَّدٌ اِلاَّ رَسُوْلٌ قَدْخَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ اَفَائِنْ مَّاتَ اَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلـاـى اَعْقَابِكُمْ
“Dan Muhammad tidak lain hanyalah seorang Rasul, sesungguhnya telah berlalu rasul-rasul sebelumnya. Maka, jika ia mati atau terbunuh, akan berpalingkah kamu atas tumitmu?” (Ali Imran, 3 : 145)

Berkat ayat Alquran ini mereka yakin bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam sungguh-sungguh telah wafat (mati). Ayat ini menjadi bukti yang tidak dapat dibantah lagi bahwa Nabi Isa ‘Alaihis-salaam juga telah meninggal dunia, karena jika tidak demikian, dalil yang diucapkan sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallaahu ‘anhu pasti tidak dapat membungkam sahabat Umar Bin Khathab Radhiyallaahu ‘anhu dan kaum muslimin yang ragu-ragu tentang wafatnya Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada saat itu. Peristiwa di atas merupakan “ijma‘ para sahabat yang pertama”, yang tidak mungkin diingkari. Oleh karena itu sahabat Abdullah Ibnu Abbas Radhiyallaahu ‘anhu menafsirkan ayat penggalan ayat: “ اِنِّيْ مُتَوَفِّيْكَ اَيْ اِنِّيْ ممُـِيْتُكَ — Sesungguhnya Aku (Allah) mewafatkan engkau (Isa Ibnu Maryam ‘Alaihis-salaam), maknanya sesungguhnya Aku mematikan kamu.” (Bukhari, 65 : 12)

Demikian juga para ulama terkenal yang hidup sebelum Hazrat Mirza Ghulam Ahmad ‘Alaihis-salaam banyak yang berpendapat bahwa Nabi Isa ‘Alaihis-salaam itu sudah mati. Mereka itu adalah: Imam Maliki Rachimahullaahu, Imam Bukhari Rachimahullaahu, Imam Ibnu Hazm Rachimahullaahu, Imam Ibnu Qoyyim Rachimahullaahu, Imam Qatadah Rachimahullaahu dan Ibnu Katsir Rachimahullaahu. Bahkan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad ‘Alaihis-salaam menambahkan satu bukti berupa makam Nabi Isa ‘Alaihis-salaam di Kasymir, India. Beliau ‘Alaihis-salaam menyatakan dengan tegas bahwa meskipun Nabi Isa ‘Alaihis-salaam dianiaya oleh kaum Yahudi di atas tiang salib, namun beliau tidak sampai wafat di sana dan Allah tidak meninggalkannya sebagai orang yang tercela. Setelah peristiwa penyalipan yang gagal itu, Allah memerintahkan beliau supaya hijrah dari Palestina. Maka, beliau bersama ibunya melakukan perjalanan jauh ke timur untuk menyampaikan risalahnya kepada suku-suku Israil, hingga beliau sampai di Kasymir, India dan wafat di sana, lalu dimakamkan di Jalan Khanyaar, Srinagar, Kasymir, India (Al-Huda Wat-Tabshirah Liman-yara, halaman 125-127).

Kaum Kristen tahun 2005 ini, jumlah pengikutnya tiga milyar lebih, mereka berkeyakinan bahwa Isa Al-Masih Ibnu Maryam ‘Alaihis-salaam itu adalah Allah (QS 5 : 73) dan mereka menyembahnya. Pada hal Isa Al-Masih Ibnu Maryam ‘Alaihis-salaam sendiri mengaku hanya sebagai hamba Allah yang diberi Kitab dan hanya sebagai seorang Nabi (QS 19 : 31), dan kini beliau ‘Alaihis-salaam sudah wafat dengan selamat (QS 19 : 34), maksudnya tidak wafat karena disalib (QS 4 : 158). Menurut firman Allah dalam Alquran bahwa di kalangan Bani Israil kematian karena disalib adalah kematian yang hina (QS 5 : 34), sedangkan menurut Bibel kematian karena disalib adalah kematian terkutuk (Ulangan, 21 : 22-23). Akibat kepercayaan mempertuhan Isa Al-Masih ‘Alaihis-salaam (Yesus Kristus) kaum Kristen menjadi tersesat jauh dari jalan yang benar (QS 5 : 78), maka dari itu mereka disebut Adl-Dlollin (QS 1 : 7), sebab mereka mempertuhan Isa Al-Masih, (QS 5 : 117), seseorang yang sudah mati. Mereka dan bapak-bapak mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang ketuhanan Isa Al-Masih (Yesus Kristus). Bahkan ajaran mereka itu hanyalah kebohongan belaka (QS 18 : 5). Maka dari itu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam memberikan gelar kepada mereka Al-Masihid-Dajjal (Al-Masih yang palsu). Diungkapkannya keyakinan yang menyesatkan ini, agar setiap orang sadar dengan hati tulus bahwa agama Kristen itu telah menyimpang jauh dari ajaran Nabi Isa ‘Alaihis-salaam, dan mereka mau bertobat dan mengabdi kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa yang menjadi tujuan hidup manusia di dunia ini (QS 51 : 57)

Salah satu kehendak Allah SubchaanaHu wa Ta’aalaa ialah menghapuskan doktrin ketuhanan Isa Al-Masih atau Yesus Kristus dan ibundanya, Maryam (QS 5 : 18) yang sebenarnya ajaran buatan Paulus. Maka dari itu berbahagialah orang yang ikut berperan serta dalam rencana Tuhan untuk melenyapkan doktrin tersebut dari hati umat Kristen dan orang yang terpengaruh doktrin mereka.

Cara Allah SubchaanaHu wa Ta’aalaa Menyelamatkan Nabi Isa ‘Alaihis-salaam
Al-Masih Isa ibnu Maryam ‘alaihis salam adalah hamba Allah yang dilahirkan ke dunia ini tanpa perantaraan seorang bapak (19:21) sebagaimana layaknya manusia seperti kita, beliau ‘alaihis salam diangkat sebagai Nabi yang dikarunia sebuah Kitab (19:31) namanya Injil (57:28), beliau ‘alaihis salam diberkati di manapun berada, beliau ‘alaihis salam diperintah menunaikan shalat dan zakat, berbakti kepada ibunya, bersikap tidak sombong dan tidak celaka sehingga beliau diselamatkan oleh Allah Ta‘ala, baik ketika beliau ‘alaihis salam dilahirkan, diwafatkan maupun dibangkitkan (19:32-34). Jadi, beliau ‘alaihis salam diwafatkan secara alami setelah beliau ‘alaihis salam mencapai usia tua (3:47). Dalam satu Hadits beliau ‘alaihis salam dinyatakan berusia 120 tahun. Jadi, kira-kira 87 tahun lagi beliau mengemban amanat risalah Ilahi setelah peristiwa percobaan pembunuhan dan penyaliban, sebagaimana firman Allah Ta‘ala

Dan mereka berkata: Sesungguhnya kami (kaum Yahudi) telah membunuh Al-Masih, Isa ibnu Maryam, Rasul Allah. Mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, akan tetapi itu disamarkan kepada mereka. Dan, sesungguhnya orang-orang yang berselisih dalam hal ini niscaya ada dalam keraguan tentang ini; mereka tidak mempunyai pengetahuan yang pasti tentang ini melainkan mengikuti dugaan belaka; dan mereka tidak yakin telah membunuhnya. Kebalikannya Allah telah mengangkat dia kepada-Nya dan Allah itu Maha-perkasa, Maha-bijaksana (An-Nisa, 4:158-159).

Apabila ayat tersebut dibaca dengan utuh dan dikaitkan dengan ayat sesudahnya, maka dapat difahami bahwa pengakuan kaum Yahudi yang menyatakan telah berhasil membunuh Al-Masih Isa ibnu Maryam ‘alaihis salam dengan cara menyalibnya dibantah oleh Allah Ta‘ala dengan menyatakan bahwa mereka tidak berhasil membunuh dan menyalibnya sampai mati akan tetapi percobaan pembunuhan atau penyaliban beliau ‘alaihis salam itu ditampakkan serupa dengan orang dibunuh atau disalib pada mereka. Artinya, beliau ‘alaihis salam benar-benar mereka tangkap dan mereka siksa. Kemudian, beliau ‘alaihis salam mereka gantung di atas salib, tetapi sebelum 3 jam beliau ‘alaihis salam pingsan, tampak seperti orang yang sudah mati di atas salib, karena lasykar Romawi tidak mematahkan kedua kaki beliau ‘alaihis salam sebagaimana yang mereka lakukan kepada kedua penjahat yang disalib bersamaan dengan beliau ‘alaihis salam. Kemudian beliau ‘alaihis salam diturunkan dari tiang salib oleh kedua murid beliau ‘alaihis salam bernama Yusuf Arematea dan Nekodemus dan luka-luka akibat penganiayaan mereka dirawat dan diobati, lalu beliau ‘alaihis salam dimasukkan ke dalam gua. Nah, setelah 3 hari beliau ‘alaihis salam tinggal dalam gua, lalu sembuh dari sakitnya dan menemui murid-muridnya agar mereka tahu bahwa beliau belum wafat. Bahkan beliau ‘alaihis salam makan bersama mereka. Inilah upaya percobaan pembunuhan dan penyaliban yang tidak sempurna yang mengakibatkan mereka berselisih pendapat tentang kematian beliau ‘alaihis salam karena mereka tidak memiliki bukti tentang kematian beliau ‘alaihis salam. Bahkan mereka ragu akan kematian beliau ‘alaihis salam di atas salib, karena pendirian mereka yang mengatakan telah membunuhnya itu hanya didasarkan atas persangkaan, bukan didasarkan ilmu, maka mereka tidak mempunyai keyakinan yang mantap tentang kematian beliau ‘alaihis salam. Inilah, kebijaksanaan Allah Yang Maha Perkasa dalam memberikan pertolongan kepada beliau ‘alaihis salam.

Ada orang yang memaknakan dan memahami ayat tersebut bahwa orang lain yang diletakkan di atas salib setelah wajahnya diserupakan dengan Al-Masih Isa ibnu Maryam, sedangkan beliau ‘alaihis salam sendiri diangkat ke langit. Pemahaman demikian ini tidak didukung oleh ayat Alquran, Hadits dan fakta sejarah. Bahkan bertentangan dengan semuanya. Bahkan, Ilmu Nahwu saja tidak membenarkan terjemahan demikian, sebab Naa‘ibul-Faa‘il, berupa isim dhomir mustatir taqdirnya HUWA hanya dapat dikembalikan kepada bentuk isim Mashdar pada kalimah Qataluu atau Shalabuu, seperti kembalinya dhomir HUWA kepada isim Mashdar pada kalimat I‘diluu dalam ayat Alquran di bawah ini:
اِعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى
Berbuat adillah kalian semua, itu adalah lebih dekat kepada taqwa (Al-Maidah, 5:9)

Pemahaman yang menyatakan Isa Al-Masih ‘alaihis salam selamat dari kematian di atas salib dengan cara diangkat ke langit tersebut, justru menunjukkan kelemahan dan ketidak bijaksanaan Allah Ta‘ala dalam menyelamatkan Al-Masih Isa ibunu Maryam ‘alaihis salam, dengan alasan:
o Tafsir itu menunjukkan Allah Ta‘ala itu Tuhan Penakut. Karena Dia menyembunyikan Isa ibnu Maryam ‘alaihis salam di langit, seakan-akan Dia takut kalau Kaum Yahudi menangkapnya. Agar kaum Yahudi tidak mencari beliau ‘alaihis salam, maka Dia menyerahkan kepada mereka orang lain yang diserupakan dengan Al-Masih Isa ibnu Maryam.
o Tafsir itu menunjukkan bahwa Allah Ta‘ala tidak mencintai Al-Masih Isa ibnu Maryam ‘alaihis salam, buktinya Dia membuat orang yang diserupakan dengannya untuk disiksa dan dibunuh di atas salib. Sehingga kaum Yahudi tidak akan mengakui bahwa beliau sebagai Rasul atau Nabi Allah Ta‘ala. Karena mereka berkeyakinan bahwa orang yang mereka bunuh di atas salib adalah benar-benar Al-Masih Isa ibnu Maryam ‘alaihis salam dan orang yang mati di atas salib menurut Kitab mereka adalah orang terkutuk atau terbukti sebagai Nabi palsu.
o Tafsir itu menunjukkan bahwa Allah Ta‘ala menjadikan kaum Yahudi dalam keadaan sesat selamanya, karena Dia telah menyerahkan kepada mereka orang yang disamakan dengan Al-Masih Isa ibnu Maryam ‘alaihis salam sehingga mereka yakin berdasarkan penglihatan mata kepala mereka sendiri (‘ainul-yaqin) bahwa orang yang mereka bunuh di atas salib itu benar-benar Al-Masih Isa ibnu Maryam ‘alaihis salam. Padahal menurut Kitab Suci mereka orang yang dibunuh di atas salib itu menunjukkan sebagai orang yang terkutuk, bukan seorang Rasul atau Nabi yang benar.
o Tafsir itu memperkuat bahwa agama Kristen sekarang ini adalah agama yang benar, sebab menurut Alquran sendiri jika Al-Masih itu masih hidup, maka ajaran beliau ‘alaihis salam akan tetap terjaga dari kesalahan (5:118). Akibatnya, tabligh Islam kepada kaum Nasrani menjadi tertutup rapat.
o Tafsir itu akan menghasilkan satu kesimpulan bahwa Nabi kita Al-Mushthafa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu Nabi atau Rasul yang dusta, alias palsu (Na‘udzu billahi min dzalik), karena menurut Alquran terutusnya Nabi kita Al-Mushthafa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dalam surat Al-Shaff disebutkan dengan nama Ahmad itu akan datang setelah Al-Masih Ibnu Maryam ‘alaihis salam diwafatkan (61:7).

Rahmat di balik Wafatnya Nabi Isa ‘alaihis-salaam
Mengapa Allah SubchaanaHu wa Ta’aalaa menjelaskan wafatnya Nabi Isa ‘Alaihis-salaam berulang-ulang dalam Kitab Suci Alquran? Jawabnya, karena di balik kewafatan beliau ‘Alaihis-salaam, Allah akan membangkitkan seorang Rasul, Nabi Besar Pembawa Rahmat bagi alam semesta. Karena itu, wafatnya Nabi Isa ‘Alaihis-salaam merupakan saat berpindahnya Kerajaan Rohani Allah dari Bani Israil kepada Bani Ismail. Rasul dan Nabi Besar itu bernama “Ahmad”—salah satu nama Nabi Besar Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang dikabarsukakan oleh Nabi Isa ‘Alaihis-salaam (QS 61 : 7). Oleh karena itu, Nabi Besar Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mendakwakan diri sebagai seorang Nabi yang dikabarsukakan oleh Nabi Isa ‘Alaihis-salaam. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اَنَا دَعْوَةُ اِبْرَاهِيْمَ وَبُشْرَى عِيْسـاـى ابْنِ مَرْ َيمَ
“Aku adalah [seorang Rasul] berkat doa ayahku—Ibrahim, dan kabar suka Isa putra Maryam.” (Ibnu Sa’ad dari Abdur Rahman bin Mu’mar ra dan Kanzul-Umal, Juz XI/31834, 31835)

Dengan demikian, kaum Kristiani yang setia kepada Nabi Isa ‘Alaihis-salaam wajib beriman kepada Rasul Allah yang bernama Ahmad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam karena kabar suka tentang datangnya “Ahmad” ini ditujukan kepada para pengikut beliau (Nabi Isa ‘Alaihis-salaam) itu. Dan, umat Islam wajib berkeyakinan bahwa Nabi Isa sudah wafat. Sebab, jika umat Islam sendiri masih berkeyakinan Nabi Isa ‘Alaihis-salaam masih hidup, maka kaum Kristiani akan mengatakan “Ahmad” atau “Muhammad” itu—na’uudzubillaahi min dzaalik—sebagai “Rasul atau nabi palsu” dikarenakan menurut Kitab Injil mereka, Nabi “Ahmad” yang dikenal sebagai “Paraklit”, “Penolong” atau “Roh Kebenaran” akan datang setelah Nabi Isa ‘Alaihis-salaam pergi/wafat (Yohanes, 12:13; 14; 14:16-17; 15:26; 16:17).

Turunnya Isa ‘Alaihis-salaam di Akhir Zaman
Banyak Hadis Rasulullah saw yang menubuwatkan akan turunnya Nabi Isa di akhir Zaman. Begitu banyaknya Hadis tentang itu sampai-sampai Imam Jalaluddin Suyuthi menilai bahwa Hadis tersebut mencapai derajat Mutawatir Ma‘nawi, karena itu tidak diragukan lagi kebenaran Hadis tersebut, sehingga semua golongan Islam meyakini dan menunggu kedatangannya. Di antara tugasnya adalah membenarkan Muhammad saw dan agamanya, sebagai Imam Mahdi, Hakim yang adil, memecahkan salib atau membunuh Dajjal, meniadakan peperangan, menghilangkan pajak dan membagi-bagikan harta, sebagaimana Hadis-hadis tersebut di bawah ini:

ثُمَّ يَجِيْئُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ عَلَيْهِمَا السَّلاَمُ مِنْ قِبَلِ الْمَغْرِبِ مُصَدِّقًا بِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى مِلَّتِهِ فَيَقْتُلُ الدَّجَّالَ
Kemudian Isa ibnu Maryam ‘alaihimas salam datang dari arah barat dengan membenarkan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan agamanya, lalu ia membunuh Dajjal (Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya, Al-Thabrani dalam Al-kabir dan Al-Ruyani, Al-Hakim dalam Al-Dhiya’ul-Muqaddas fil-Mukhtarah dari Samrah radhiyallahu ‘anhu dan Kanzul-Ummal, Juz XIV/38795)

ثُمَّ يَنْزِلُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ مُصَدِّقًا بِمُحَمَّدٍ عَلَى مِلَّتِهِ إِمَامًا مَهْدِيًا وَحَكَمًا عَدَلاً فَيَقْتُلُ الدَّجَّالَ
Kemudian Isa ibnu Maryam turun dengan membenarkan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas agamanya sebagai Imam Mahdi dan Hakim yang adil, lalu ia membunuh Dajjal (Al-Thabrani dalam Al-Kabir dari Anillah bin Mughaffal radhiyallahu ‘anhu dan Kanzul-Ummal, Juz XIV/38808)

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَيُوْشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيْكُمْ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا وَإِمَامًا عَدَلاً فَيَكْسِرُ الصَّلِيْبَ وَيَقْتُلُ الْخِنْزِيْرَ وَيَضَعُ الْجِزْيَةَ وَيَقْبِضُ الْمَالَ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ ، حَتَّى تَكُوْنَ السَّجْدَةُ الْوَاحِدَةُ خَيْرًا مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا
Dan demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sungguh Isa ibnu Maryam hampir turun di kalangan kamu sebagai hakim yang adil, imam yang adil, lalu ia akan memecahkan salib, membunuh babi, menghilangkan pajak, membagi-bagikan harta sampai-sampai tiada seorang pun yang menerimanya, sehingga sekali sujud lebih baik daripada dunia dan apa yang ada di dalamnya (Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya, Al-Bukhari, Muslim, At-Turmudzi, Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan Kanzul-Ummal, Juz XIV/38842)

Dari beberapa Hadis tersebut, timbul pertanyaan siapakah yang dimaksudkan dengan Nabi Isa Al-Masih yang akan turun di akhir Zaman dalam Hadis Rasulullah itu? Apakah Nabi Isa Al-Masih dari Bani Israil yang pernah diutus 2000 tahun lalu? Jawabnya, tidak mungkin beliau yang akan turun ke dunia ini di akhir zaman, karena hal itu akan bertentangan dengan Al-Quran. Menurut Kitab Al-Quran, orang yang sudah mati tidak akan dikembalikan lagi dalam keadaan hidup dengan jasadnya ke dunia ini, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran:

Hingga, apabila maut datang kepada salah seorang dari mereka, ia berkata berulang-ulang mengemis, “Ya, Tuhanku, kembalikanlah aku; Supaya aku dapat mengerjakan amal shaleh dalam hidup yang telah kutinggalkan di belakang”. Sekali-kali tidak dapat kembali ke dunia dalam keadaan hidup dengan jasadnya! Sesungguhnya ini hanyalah perkataan yang ia ucapkan. Dan dibelakang mereka ada dinding penghalang hinga hari tatkala mereka akan dibangkitkan lagi (Al-Mu’minun, 23:100-101)

Demikian pula, jika Nabi Isa Al-Masih ibnu Maryam Bani Israil yang akan turun ke dunia di akhir Zaman, berarti beliau itu seorang Nabi yang akan berbohong kepada Allah di Hari Pengadilan-Nya, karena kalau beliau yang turun pasti beliau mengetahui bahwa kaum Kristiani itu telah menyembah beliau dan Maryam, ibu beliau. Padahal, Allah menyatakan dalam ayat Al-Quran bahwa di Pengadilan Akhirat nanti beliau akan menjawab pertanyaan Tuhannya dengan mengatakan: Tidak tahu bahwa diri beliau dan ibunya dijadikan sebagai 2 tuhan, selain Allah oleh kaum Kristiani sebagaimana ayat Al-Quran berikut ini:

Dan, ketika Allah berfirman: Wahai Isa anak Maryam, apakah engkau berkata kepada manusia, ‘Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah? Ia menjawab: Maha-suci Engkau. Tidak layak bagiku mengatakan apa yang bukan hakku; sekiranya aku telah mengatakannya tentu Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang terkandung dalam pikiranku dan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam pikiran Engkau. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha-mengetahui segala yang gaib; Tidak pernah aku mengatakan kepada mereka selain apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, yaitu: Beribadahlah kepada Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka; akan tetapi setelah Engkau mewafatkan aku, maka Engkaulah Yang menjadi Pengawas mereka dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu (Al-Maidah, 5:117-118)

Mengingat jawaban Al-Masih Isa ibnu Maryam yang menyatakan tidak mengetahui kalau kaum Kristiani menjadikan beliau dan Maryam, ibunya sebagai 2 tuhan selain Allah di hadapan-Nya di Pengadilan Akhirat nanti, berarti bukan beliau yang akan turun kedunia sebagai Al-Masih Isa ibnu Maryam, sebab jika beliau yang akan turun pasti beliau menyaksikan apa yang diajarkan dan yang disembah kaum Kristiani seperti sekarang ini. Apalagi kalau memperhatikan Hadis berikut ini, apakah tidak lucu dan menjadi ejekan umat manusia yang berakal bahwa seorang Nabi yang usianya 2000 tahun lebih akan melaksanakan pernikahan dan dikaruniai anak, sebagaimana Hadis berikut ini:

يَنْزِلُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ إِلَى اْلأَرْضِ فَيَتَزَوَّجُ وَيُولَدُ لَه وَيَمْكُثُ خَمْسًا وَأَرْبَعِينَ سَنَةً ثُمَّ يَمُوتُ فَيُدْفَنُ مَعِي فِي قَبْرِي فَأَقُومُ أَنَا وَعِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ فِي قَبْرٍ وَاحِدٍ بَيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ
Isa ibnu Maryam akan turun ke bumi, lalu ia menikah dan dikaruniai anak laki-laki, ia tinggal selama 45 tahun, kemudian meninggal dunia dan ia dikubur bersamaku dalam satu kuburan, maka aku dan Isa ibnu Maryam berdiri dalam satu kuburan di antara Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhuma (Ibnul-Jauzi dari Abdullah bin Amer radhiallahu ‘anhu dalam Kitabul-Wafa’ dan Misykatu Syarif, Jilid III/5253)

Pendek kata, sungguh janggal dan tidak masuk akal serta bertentangan dengan Al-Quran, pemahaman yang menyatakan bahwa Nabi Isa as dari Bani Israil yang akan diturun ke dunia di Akhir Zaman ini. Adapun pemahaman yang didukung Al-Quran dan Hadis serta sesuai dengan sunnatullah adalah Nabi Isa as secara Majazi yang berasal dari kalangan umat Islam sendiri, sebagaimana dinyatakan dalam Hadis-hadis berikut ini:
كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ ابْنُ مَرْيَمَ فِيكُمْ فَأَمَّكُمْ
Bagaimana kalian apabila Ibnu Maryam turun di kalangan kalian lalu ia memimpin (menjadi Imam) kalian (Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan Kanzul-Ummal, Juz XIV/38840)

كَيْفَ بِكُمْ إِذَا نَزَلَ ابْنُ مَرْيَمَ فِيكُمْ وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ
Bagaimana dengan kalian apabila Ibnu Maryam di kalangan kalian turun dan ia sebagai Imam di antara kalian (Al-Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dan Kanzul-Umal, Juz XIV/38845)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s