Aasmani Faishlah ( KEPUTUSAN SAMAWI )

Allah sekali-kali tidak memberikan kepada orang-orang kafir jalan untuk mencela orang-orang mukmini.
SERUAN MENUJU KEPADA KEPUTUSAN SAMAWI
Hakikat sebenarnya mengenai fatwa kufur yang diberikan oleh Tuan Mian Nazir Hussaini Dehiawi dan keadaan yang sebenarnya mengenai kemenangan-semu serta seruan yang ditujukan kepadanya dan kepada orang-orang yang sefaham dengannya adalah supaya menyerah kepada putusan samawi.
Kendati Mian Nazir Hussaini dari Delhi itu sendiri tidak bebas dari fatwa kufur dan dari diniyatakan sebagai orang yang pertama di antara orang-orang kafir di Hinidustan, beliau begitu bersemangatnya mengafirkan orang-orang Muslim laininya sebersemangat seorang orang-saleh mengislamkan orang-orang laini, beliau menikmati kesenangan yang amat besar dalam tinidakan menjatuhkan fatwa terhadap seorang muslim laininya, meskipun beliau tidak menemukan alasan barang sebuah pun. Murid kesayangannya, Mian Muhammati Hussaini, asal Batala, yang mendapat julukan Syeikh, juga mengikuti langkahnya. Bahkan Tuan Syeikh ini agak lebih hebat lagi daripada gurunya dalam menjatuhkan fatwa kafir itu. Pendirian sang guru dan sang murid itu kira-kira demikian: apabila pada penglihatan mereka di dalam diri seseorang terdapat sembilan puluh sembilan buah alasan yang memenuhi persyaratan keimanan, tapi yang sebuah lagi tidak difahami oleh mereka, karena kepicikan akal mereka sendiri, maka orang itu, menurut mereka, layak disebut kafir. Seperti itu pula halnya kedua tokoh yang terhormat itu telah memperlakukan hamba yang lemah ini.
1. Barangsiapa membaca dengan cermat karangan-karangan hamba yang lemah ini, Barahini Ahmatiiyah, Surmah Casyam Ariya, dan sebagainiya, akan tampak dengan jelas kepadanya betapa hamba yang lemah ini merupakan seorang khatiim agama Islam yang mempertaruhkan hidupnya dan betapa hamba yang lemah ini berkurban dalam upaya menyebarkan pesona-pesona kebesaran Rasulullah satu..
2. Walaupun demikian, Tuan Nazir Hussaini dan murid beliau dari Batala itu tidak menampakkan sikap tenggang rasa dan kesabaran sebelum mereka menjatuhkan fatwa kafir atas hamba yang lemah ini.
Keadaan Nazir Hussaini sungguh patut disayangkan, karena dalam usianya yang sudah lanjut itu beliau tidak menginidahkan akibatnya dan sama sekali tidak menginidahkan nilai kejujuran serta ketakwaan, dan hinigga di ambang kematian beliau memperagakan contoh yang amat buruk keadaan batininya. Seorang ulama yang cinita kepada Tuhan, jujur, lagi mutaki, hendaknya merasa berkewajiban menjaga agar – selama beliau belum mendapatkan suatu alasan yang sahih untuk menjatuhkan fatwa kafir dengan yakini dan mutlak atas diri seseorang mengenai pendapat-pendapat yang diutarakannya – jangan tergesa-gesa mencap kafir, sebelum pendapat-pendapat itu diucapkan dengan terang-terangan oleh orang yang bersangkutan dan tidak diinigkari oleh yang bersangkutan itu kemudian.
Akan tetapi, baiklah kita perhatikan, adakah Mian Nazir Hussaini berjalan di atas jalur ketakwaan ataukah beliau melangkah ke jurusan yang laini lagi? Yang jelas ialah, Tuan Mian Nazir Hussaini telah sama sekali melepaskan nilai-nilai ketakwaan dan kejujuran.
Di Delhi aku telah menyebarkan tiga buah selebaran. Di dalam surat-surat selebaran itu aku menyatakan bahwa aku seorang muslim dan akidah yang aku anut adalah Islam. Bahkan aku, dengan bersumpah Demi Allah Yang Mahakuasa, menyampaikan seruan bahwa di dalam setiap tulisan dan pidatoku, tidak ada suatu perkara pun yang, naudzubillah, bertentangan dengan akidah Islam dan hanya pihak penentang Sendirilah yang salah paham. Padahal, aku beriman dengan segenap hati dan jiwa kepada segala adalah Islam; dan aku tidak senang kepada akidah yang bertentangan dengan agama Islam. Akan tetapi, Tuan Mian Sahib (Mian Nazir Hussaini) sedikit pun tidak mau menghiraukan kata-kataku dan, tanpa sekilas pun menyelidiki dan mengkaji, lantas saja menyatakan aku kafir. Bahkan sekalipun beliau mendengar aku dengan lantang menyuarakan:
– Aku seorang mukmini! Aku seorang mukmini! Namun, beliau tetap juga mengatakan – Engkau bukan mukmini! Dan di sana-sini, baik di dalam tulisan-tulisan maupun di dalam pidato-pidato beliau sendiri ataupun di dalam selebaran-selebaran murid-murid beliau, hamba ini disebut kafir, tidak beragama, dan dajal. Pada umumnya, diumumkan di dalam selebaran-selebaran bahwa hamba ini kafir, tak beriman, dan mendurhakai Tuhan dan Rasulullah satu..
Walhasil, Mian Nazir Hussaini dengan hasutannya itu telah membangkitkan prahara (angini ribut) di kalangan khalayak ramai. Orang-orang di Hinidustan dan orang-orang Punjab telah terjerumus ke dalam galaunya fitnah yang hebat, terutama orang-orang Delhi. Percikan bunga api itu telah menyulut kemarahan mereka hinigga berkobar-kobar. Barangkali di kota Delhi terdapat hampir sebanyak enam puluh atau tujuh puluh ribu orang Islam. Akan tetapi, jaranglah di antara mereka, wallahu a’alam, yang tidak mencaci maki, melaknat, dan mengejek hamba yang lemah ini, atau tidak ikut serta dalam aksi mendengar cacian dan makian. Semua perbendaharaan amal yang dihimpun oleh Mian Nazir Hussaini inilah yang menyebabkan beliau pada akhir hayatnya harus menerima pembalasan. Dengan menyembunyikan kesaksian yang benar, beliau menanam di dalam ratusan ribu hati manusia kesan bahwa sebenarnya orang ini (Pendiri Jemaat Ahmatiiyah, peny.) orang kafir lagi layak dilaknat dan keluar dari Islam.
Pada hari-hari ketika aku bermukim di kota Delhi, setelah menyaksikan orang-orang di kota itu ramai-ramai mengafirkan, aku menerbjtkan sebuah selebaran khusus, dan aku menulis beberapa pucuk surat yang dialamatkan kepada Mian Nazir Hussaini. Dengan sangat merendahkan diri dan dengan segala kerendahan hatiku menyatakan bahwa aku bukan orang kafir. Tuhan Maha Mengetahui bahwa aku seorang muslim. Aku beriman kepada segala akidah yang dianut oleh para pengikut golongan Ahli Sunnah wal Jama’ah. Aku berpegang teguh kepada Kalimah Tayyibah……..
Aku mendirikan salat ke arah Kiblat. Aku bukan orang yang menda’wakan kenabian (dalam artian yang mengemban syariat, peny.), bahkan aku beranggapan bahwa penda’wa semacam itu keluar dari daerah Islam. Aku pun telah menulis bahwa aku tidak menginigkari malaikat. Demi Allah, aku percaya kepada malaikat seperti dipercayai di dalam syariat. Aku pun telah menjelaskan bahwa aku tidak menginigkari Lailatul Qadar, bahkan aku beriman kepada Lailatul Qadar yang penjelasannya terdapat di dalam Kitab Suci Alquran dan Hatiis-hatiis. Aku pun telah mengungkapkan bahwa aku beriman kepada, dan tidak menginigkari, wujud malaikat Jibril dan wahyu risalat. Begitu pula aku tidak menginigkari Hari Peradilan dan Hari Kebangkitan. Tidak seperti orang-orang naturalis yang picik akal, aku tidak menaruh keraguan terhadap kebesaran-kebesaran dan kekuasaan-kekuasaan sempurna Tuhan kita. Tidak pula aku seorang yang memalinigkan muka dan kenyataan adanya mukjizat-mukjizat yang nampaknya jauh dan akal itu.
Berkali-kali, di dalam pertemuan umum, aku mengungkapkan bahwa aku meyakini kekuasaan Tuhan yang tak terbatas itu. Bahkan pada hematku, kekuasaan Tuhan yang tak mengenai batas itu merupakan prasyarat Ketuhanan. Seandainiya setelah mengakui Tuhan lalu menetapkan Dia sebagai Wujud yang tak berdaya bertinidak, maka Tuhan semacam itu bukan Tuhan. Dan, apabila, nauzubillah, Dia demikian lemah keadaannya, maka orang-orang yang menggantungkan nasib mereka padaNya itu sekalipun hidup tapi sesungguhnya mereka tak bernyawa dan segala harapan mereka sudah sirna. Tidak ayal lagi bahwa tiada suatu perkara pun merupakan sesuatu yang asinig bagi-Nya. Ya, perkara itu hendaknya layak dan sesuai dengan kemegahan dan kekudusan-Nya serta tidak bertentangan dengan sifat-sifat-Nya yang paripurna dan janji-janjiniya yang benar itu. Namun, Mian Nazir Hussaini, kendatipun adanya segala macam pernyataan aku, beliau dengan tegas menulis bahwa aku sudah difatwakan kafir dan mereka semuanya menganggap aku kafir dan tak beriman. Bahkan pada tanggal 20 Oktober 1891, hari ditetapkannya diskusi seperti telah disiarkan sebelumnya dalam surat-surat selebaran tersebut di atas, Mian Nazir Hussaini beberapa kali berkelit menghinidari diskusi dengan mengatakan yang sama: “Anda kafir! Buktikan akidah Anda sesuai dengan agama Islam dan sesudah itu baru boleh berdiskusi!” Pada waktu itu pun aku mengatakan dengan penuh rasa hormat bahwa aku bukan orang kafir, bahkan aku ini beriman kepada segala perkara yang telah ditetapkan oleh Allah Taala sebagai akidah-akidah orang-orang Islam. Bahkan, seperti telah tercantum di dalam selebaran tanggal 23 Oktober 1891, aku dengan tulisan tangan sendiri menulis sebuah tulisan pula menyatakan bahwa aku beriman kepada semua akidah tersebut; namun, sayang sekali Mian Sahib (Mian Nazir Hussaini) tetap menganggap diri hamba yang lemah ini kafir dan terus-menerus menulis pernyataan kafir dan itulah dalih di tangannya, yang karena beliau tidak mau berbahas dengan aku mengenai hidup atau matiniya Nabi Isa dengan mengatakan, “Anda kafir. Bagaimana kami dapat berbahas dengan orang-orang kafir.” Seandainiya pada diriniya ada sekelumit saja nilai ketakwaan, maka semenjak waktu itu pula – ketika aku menyebarluaskan selebaran tentang akidah-akidah Islam dan menyatakan aku seorang muslim – seharusnya beliau melepaskan fatwa pengkafiran dan seperti halnya beliau memasyhurkan fatwa kafir di tengah-tengah ribuan orang, demikian pula halnya di dalam pertemuan-pertemuan beliau harus menyatakan kekeliruannya sendiri dan dengan terang-terangan harus memberi kesaksian tentang keislamanku dan beliau seharusnya menyelamatkan diri dari sangka-menyangka tanpa alasan, dan dengan menghilangkan hiruk-pikuk fatwa kekafiran yang berlawanan dengan kenyataan, beliau menciptakan satu alasan bagi diriniya pada sisi Allah.
Akan tetapi, sekali-kali beliau tidak berlaku demikian, malahan selama aku bermukim di kota Delhi terdengar bahwa Mian Sahib mengeluarkan dari mulut beliau sendiri kata-kata yang kotor lagi tak layak-diucapkan mengenai hamba yang lemah ini dan mengumandangkan fatwa pengkafirannnya. Kendatipun diupayakan agar beliau menahan diri dari cara yang tidak patut ini dan mengekang mulutnya, namun perkataan “kafir…kafir…” yang dilontarkan ke alamatku Demikian rupa telah menguasai mulutnya sehinigga beliau tidak dapat mengerem mulut beliau. Nafsu amarah telah mencengkeram hatiniya demikian rupa sehinigga tidak ada sedikit pun terluang untuk rasa kecut kepada Allah Taala bermukim di hatiniya.
Aku tidak berkeiniginian untuk lebih merentang-panjangkan ihwai pengkafirannya itu. Setiap orang akan bertanggung jawab atas perbuatannya dan aku bertanggung jawab atas perbuatanku sendiri. Akan tetapi, sayangnya ialah, beliau menaruh perhatian terhadap tuduhan-tuduhan yang tak beralasan dari pekerjaan-pekerjaan yang licik; dalam pada itu beliau enggan menaruh perhatian terhadap apa yang sebenarnya pantas dibahas dan beliau tidak mau menaruh perhatian terhadap masalah yang mengandung perselisihan di dalamnya; yakni, masalah wafat Almasih a.s..
Aku berkali-kali menulis kepada beliau bahwa aku tidak berselisih faham dengan beliau dalam suatu akidah laininya kecuali dalam hal ini bahwa aku berpendirian tidak seperti beliau mengenai kehidupan Almasih di langit secara jasmani. Bahkan aku percaya bahwa beliau sudah wafat dan pasti sudah memasuki alam maut. Aku yakini akan kewafatan beliau dan mengapa tidak yakini kalau Tuhan-ku, Majikan-ku, di dalam Kitab Suci-Nya, yaitu di dalam Alquranul Karim, telah memasukkan beliau di antara golongan orang-orang yang sudah meniniggal dunia. Di dalam seluruh lembaran suci Alqutan, tidak satu kali pun disebut-sebut mengenai kehidupan yang menyimpang dari kebiasaan dan mengenai kedatangan beliau untuk kedua kaliniya. Bahkan, Dia jelas-jelas menyebutkan bahwa Isa sudah wafat. Oleh sebab itu, aku berpendapat bahwa hidup beliau dengan raga wadagnya (jasad kasarnya) dan pada suatu waktu akan datang lagi ke dunia tidak saja bertentangan ditilik dan segi pandang ilham yang aku terima sendiri, bahkan aku berpendapat bahwa kehidupan Almasih menurut nas-nas Alquran yang jelas, qath’ i, dan yaqini, adalah sia-sia dan batil.
Andaikata keteranganku ini berbau kekafiran atau dusta, maka mari berbahas mengenai hal itu. Kemudian, apabila beliau menunjukkan bukti dan Alquran dan Hatiis mengenai hidupnya Nabi Isa a.s. dengan tubuh kasar, maka aku akan menarik kembali pendirian itu. Bahkan aku akan membakar kitab-kitabku yang mengandung tulisan mengenai pendirianku itu. Apabila beliau tidak bisa berdiskusi, maka ayolah bersumpah mengenai masalah ini bahwa di dalam Alquran tidak ada barang sedikit pun disebut-sebut mengenai wafat Almasih bahkan hanya disebut-sebut tentang hidupnya Almasih. Atau, ada Hatiis Sahih laininya yang menyiniggung ihwal diangkatnya beliau dan memberi penafsiran yang bertolak belakang tentang kata tawaffi untuk membuktikan hidupnya Almasih dengan jasad kasar. Kemudian, apabila dalam jangka waktu satu tahun tidak tampak tanda yang jelas dari hatiirat Allah Taala bahwa beliau bersumpah palsu, yakni, beliau tidak dicoba dalam suatu kemurkaan Ilahi, maka tanpa menunda-nunda, aku akan bertobat kepada beliau. Akan tetapi, sayang, kendati hal itu telah kuminita berkali-kali kepada Mian Sahib, beliau dalam hubungan dengan diskusi ini tidak mau bersumpah dan tidak juga berhenti dari menyebut kafir. Ya, untuk menyembunyikan dari khalayak ramai kehinaan menarik diriniya ini, beliau menerbitkan selebaran-selebaran yang sarat dengan dusta dan di dalamnya berkali-kali menyatakan bahwa walaupun beliau terus-menerus mengundang hamba ini untuk berdiskusi dan bersedia juga untuk mengangkat sumpah, namun, katanya, hamba inilah yang kecut dan tidak mau tampil ke arena pertandinigan.
Sungguh ajaib, pada satu pihak beliau dijuluki orang Mian Sahib dan Syeikhul Kul, tapi pada pihak laini beliau begitu berani berdusta! Mengenai beliau apa yang harus kukatakan kecuali laknat Allah atas orang-orang yang berdusta. Semoga Allah menaruh kasih-sayang atas beliau. Andaikan saja beliau memiliki sedikit cahaya firasat, pastilah beliau mengerti dengan seyakini-yakininya bahwa semua hal yang dikemukakan oleh Mian Sahib beserta para muridnya itu merupakan kepalsuan yang keji dan hanya bualan orang jalanan belaka. Kalau dari pihakku sudah menyiarkan selebaran demi selebaran agar Mian Sahib mau mengadakan diskusi dengan aku mengenai masalah wafat Almasih, dan untuk maksud itu aku pun terpaksa menanggung resiko dan biaya untuk tiniggal di Delhi selama satu bulan penuh, maka dapatlah seorang yang berjiwa lurus mengerti bahwa bila Mian Sahib dengan hati yang jujur siap menghadapi diskusi mengapa aku tidak siap melayani diskusi dengan beliau, Ada sebuah pepatah mengatakan, Sanc ko aanc nehini – Kbenaran itu selamanya berjaya. Demikian pula halnya aku sekarang hatiir untuk berbahas mengenai masalah wafat Almasih seperti sediakala.
Andaikan Mian Sahib setuju datang ke kota Lahore untuk mengadakan diskusi, maka aku sendiri akan memberi ongkos pulang-pergi khusus untuk beliau pribadi. Apabila beliau suka datang dengan memberi pernyataan secara tertulis, aku akan mengirim ongkos lebih dahulu tanpa menunda-nunda. Sekarang aku tidak mau pergi ke Delhi untuk maksud berdiskusi, karena aku telah menyaksikan keberinigasan orang-orang Delhi. Dan aku telah mendengar kata-kata mereka yang membangkitkan suasana onar dan keberinigasan.
(Orang mukmini tidak akan membiarkan jariniya disengat biniatang untuk kedua kaliniya dari satu lubang, peny.).
Aku pun berkata bahwa apabila aku menghinidar dari berbahas mengenai masalah wafat Almasih, maka ribuan laknat atas diriku oleh sebab aku menghalangi orang dan jalan Allah. Dan apabila Mian Sahib menghinidar, maka laknat itu bolehlah separuhnya bagi beliau. Apabila beliau tidak juga sudi hatiir, maka aku memberi izini kepada beliau untuk diam di tempat beliau sendiri lalu dengan perantaraan tulisan-tulisan boleh beliau mengemukakan kebenaran.
Walhasil, bagaimana caranya pun aku akan hatiir serta menunggu tanggapan dari Mian Sahib. Lebih-lebih aku dengan bersemangat siap menantikan tanggapan dari Mian Sahib, oleh karena pada anggapan orang-orang wawasan ilmu beliau palinig luas. Di kalangan para ulama di Hinidustan beliau adalah bagaikan akar. Sedikit pun tidak diragukan bahwa dengan memotong akar maka segala cabang-rantinig pohon akan dengan sendiriniya Iuluh. Jadi, seyogianya aku memusatkan perhatian aku terhadap akar ini saja dan pada gilirannya nanti cabang-rantinignya akan dengan sendiriniya tamat riwayatnya. Dengan perantaraan diskusi ini akan terbuka kepada dunia dalil-dalil apa saja dimiliki oleh sang Syeikhul Kul ini. Dalil-dalil meyakinikan mengenai kehidupan Almasih a.s, di langit yang manakah karenanya beliau telah menjerumuskan khalayak ramai ke dalam kobaran api provokasi? Namun, inigatlah juga akan nubuatan berikut ini, yang artiniya:
“Mereka sekali-kali tidak akan berani berbahas.”
Dan, apabila mereka akan melakukan juga, mereka akan mendapat malu demikian rupa sehinigga sukarlah bagi mereka untuk menyembunyikan muka.
Aduhai, aku merasa kecewa sekali – karena sanjungan kalian kepada kehidupan di dunia yang hanya untuk beberapa hari ini – kalian telah menyembunyikan kebenaran dan alih-alih menegakkan kejujuran malah kalian memilih ketidakjujuran. Sedianya beliau tahu Benar ihwal wafat Hazrat Almasih yang terbukti dan nas-nas Alquranul Karim dan Hatiis-hatiis; namun, karena dari awal hinigga akhir beliau berkhianat dan tidak bersikap jujur, beliau tetap dengan sengaja mengesampinigkan kesaksian-kesaksian ini. Dengan menjadikan diri sendiri musuh kental kebenaran, beliau telah menyebarkan kepalsuan di tengah-tengah khalayak ramai bahwa di dalam Alquranul Karim tercantum Almasih Ibnu Maryam telah diangkat ke langit dengan jasad wadag (ragawi) dan di témpat manapun tidak ada sebutan tentang wafat beliau. Namun, di dalam hati beliau mengetahui bahwa beliau tidak beralasan mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan Kitabullah. Oleh karena itu, tidak berani tampil guna berdiskusi dengan niat yang lurus dan menghinidari cara berdiskusi yang bersahaja lagi jelas tentang kewafatan Almasih ini.
Hal ini mengundang amarah karena Tuhan Yang Mahamulia lagi Mahaperkasa telah berfirman bahwa Almasih lbnu Maryam telah wafat, sedang Mian Nazir Husseini mengatakan, “Tidak, sekali-kaii tidak, bahkan ia diangkat dengan tubuh wadagnya diangkat ke langit dalam keadaan hidup.”
Wahai, Nazir Husseini! Anda tadiniya seorang pengikut Alquran yang baik. Sungguh ajaib, di mana pun di dalam Alquran tidak disebut-sebut tentang diangkatnya Almasih ke langit, kecuali disebutkan bahwa sesudah beliau diwafatkan barulah diangkat ke hatiirat-Nya, sebagaimana pada umumnya dikatakan kepada para mutaki yang wafat dikatakan
– “Kembalilah kepada Tuhan engkau” (Surah Al-Fajr:29).
Jadi, demikian pula halnya untuk Rafa’Ilallah (diangkat ke hatiirat Allah) dan Ruju’ llallah (kembali ke hatiirat Allah) yang mengandung syarat harus wafat lebih dahulu, ini juga dialami oleh Hazrat Almasih. Di manakah kaitan logikanya antara Rafa’ Ilallah dalam artian pengangkatan derajat roharii, dengan Rafa’ Ilallah dalam artian diangkat ke langit secara badari ? Aduhai, alangkah sayangnya orang-orang ini telah mengabaikan Alquranul Karim, dan betapa sirnanya keagungan Alquran dan hati mereka! Dan, tempat Kalam Suci Allah lambat-laun diarnbil alih oleh kecinitaan terhadap jalur yang tanpa dasar. Mereka dibekali kitabkitab, namun Allah Taala telah merampas pengertian mereka. Cita-cita (nafsu) untuk menang telah mengesampinigkan kejujuran dan keimanan. Keangkuhari serta kesombongan menjauhkan mereka dan penenmaan akan kebenaran.
Aku sekelumit pun tidak bersedih hati walaupun Mian Nazir Husseini beserta murid-muridnya telah memasyhurkan diri meraih kemenangan yang semu tapi bertentangan dengan kenyataan dan menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya. Padahal, sesungguhnya, Mian Sahiblah yang kalah dan terpukul mundur dengan kehinaan yang akan diderita selama-lamanya. Demikian jatuhnya sehinigga sekarang beliau tidak akan bangkit kembali, sampai-sampai beliau akan berlalu dan alam ini dalam kekalahan besar serupa itu. Lalu, seandainiya citra tentang kemenangan-semu yang ditaruh di hatiapan matanya, guna menutupi cemoohan dari khalayak ramai, menyenangkan hatiniya sendiri untuk beberapa detik lamanya maka mengapa aku harus merasa kurang senang. Bahkan apabila ditinijau dengan mata kasihan, maka itulah yang sepantasnya bagi beliau karena aku tahu dengan seyakini-yakininya bahwa setelah mendapat kekalahan yang telak dalam menghadapiku beliau menelan cukup banyak kesedihan dan kemarahan. Hati beliau terluka parah oleh dampak rasa malu pada masa akhir hayat. Sekarang, seandainiya beliau tidak menabuh genderang untuk mengumumkan kemenangansemunya yang bertentangan dengan kejadian sebenarnya itu, betapa hatiniya yang lemah dimakan usia dapat menanggung cedera yang demikian besarnya. Jadi, barangkali, ia wajib membela diriniya sehinigga menganggap kebohongan yang begitu besar itu sebagai barang yang sah. Sekarang, aku pun setelah menyampaikan kebenaran, tidak lagi memandang perlu menutup-nutupi kegembiraan-semunya. Sebab, mempersoalkan kalah menang merupakan pikiran yang memalukan. Pecinita kebenaran hanya menghendaki kebenaran – baik diraih dalam bentuk suatu kemenangan ataupun diperoleh dalam bentuk kekalahan. Akan tetapi, karena terpedaya oleh tulisan-tulisan yang salah dan bernada tidak bersahabat, juga karena termakan oleh kemasyhuran yang tidak pada tempatnya, khalayak awam menjadi terkesan dan berangsur-angsur menganggap tulisan-tulisan itu seakan-akan benar dan aktual. Kemudian kesan buruk itu pun mendatangkan kerugian atas citra keagamaan orang-orang. Oleh karena itu, menyatakan kebenaran merupakan suatu keharusan bagiku dan merupakan utang yang tanpa membayarnya tidak bisa lunas. Akan tetapi, aku menyayangkan bahwa dalam usia yang lanjut itu beliau harus mengalami kesedihan untuk kedua kaliniya.
Bukan pada tempatnya untuk memaparkan pula salah satu di antara kezaliman-kezaliman yang dipandang sah oleh beliau berkenaan dengan diriku. Beliau, tanpa tedeng alinig-alinig, membiarkan Batalwi (Muhammati Husseini Batalwi, peny.) sebebas-bebasnya berbuat dan beliau. sudah merasa puas karena ia sudah menjadi setali tiga uang dalam caci-maki dan sumpahserapah, mencoreng-moreng nama baik hamba yang lemah ini. Jadi, ia sudah memenuhi maksud Mian Sahib dan bahkan sudah melewati ambang batas, serta sedikit pun tidak menginidahkan ayat suci yang berbunyi:
“Allah tidak menyukai pelontaran kata-kata buruk di muka umum.”
Demikian kotor kata-katanya bahkan melebihi ucapan orang-orang dari kalangan serendah-rendahnya dalam melontarkan makian-makian. Orang yang tampak lahirnya berwatak bersih nirmala ini, di Mesjid Jami’ Delhi, di hatiapan ratusan orang, mencerca hamba ini dengan kata-kata yang kotor. Di antara orang-orang yang mendengar makian pada waktu itu adalah seorang karyawanku juga bernama Syeikh Hamid Ali, yang dibenarkan juga kesaksiannya oleh orang-orang laininya. Demikian pula sesepuh (orang yang dipertua) yang terhormat ini di stasiun Phillor, di muka sekumpulan orang berkata mengenai diriku bahwa aku akan tewas seperti anjinig layaknya.
Di dalam tulisan-tulisan umum disebutnya hamba ini kafir dan dajal; dan di atas sebuah kartupos bertanggal 11 Oktober 1891 beliau menulis kepada Munshi Fatah Muhammati, seorang karyawan di Jammu, yang pada saat ini berada di depanku, tiada laini yang ditulisnya kecuali makian. Baik dalam tulisan-tulisan terbuka ia mencaci-maki dengan këras maupun dalam kartupos-kartupos yang dengan bebas dapat dibaca oleh setiap orang, beliau menumpahkan kata-kata yang kotor serta meluapkan gelora semangatnya hinigga mencapai titik puncaknya. Adakah Tuhan menyukai adat ini atau dapatkah ini dikatakan cara yang sopan? Di dalam sebuah kartupos bertanggal 11 Oktober orang tua yang terhormat ini menulis tentang hamba ini dengan nada bersemangat, “Orang ini seBenar-Beriamya kafir, dajal, muihid (atheist), dan pendusta.”
Wahai, Majikan-ku! Wahai, Sembahan-ku! Aku menyerahkan balasan terhadap segala ucapan keras, segala sumpah-serapah, dan segala cacian orang ini ke hatiirat Engkau. Seandainiya itulah kehendak Engkau maka apa juapun yang Engkau kehendaki, maka itu merupakan pula kesenangan bagiku. Lebih dan itu, selaini keridhaan Engkau, tiada sesuatu yang kudambakan. Hatiku tidak tersembunyi dan pandangan Engkau. Penglihatan Engkau tembus hinigga mencapai dasar lubuk hatiku. Apabila di dalam diriku terdapat kekurangan maka tampakkanlah. Dan, apabila pada pemandangan Engkau ada keburukan di dalam diriku maka aku memohon perlinidungan ke hatiirat Engkau terhadap keburukan itu.
Wahai, Pembimbinig-ku Yang kucinitai! Andaikan aku menempuh jalan menuju kehancuran maka selamatkanlah diriku dan jalan itu dan tunjukkanlah pekerjaan yang mengandung keridhaan Engkau. Jiwaku berkata: Engkau adalah milikku dan menjadi kepunyaanku semenjak Engkau berkata, “Aku beserta engkau”. Semenjak Engkau berkata kepadaku:
“Aku akan menghiniakan barangsiapa yang bermaksud menghiniakan engkau,”
dan semenjak Engkau berkata kepadaku dengan nada menghibur dan menunjukkan kasih-sayang:
“Engkau mempunyai kedudukan di sisi-Ku yang tidak dikenal oleh orang-orang,”
sejak saat itu juga ke dalam hatiku meresap jiwa. Kata-kata penawar hati dan Engkau merupakan obat yang mcnyembuhkan luka-luka. Kalimat-kalimat dan Engkau yang sarat dengan kecinitaan merupakan penghibur hatiku yang duka-lara. Aku tadiniya tenggelam di dalam kesedihan, lalu Engkau memberi kabar suka Demi kabar suka. Aku tadiniya korban musibah, lalu Engkau bertanya kepadaku. Sayang-ku, bagiku kegembiraan ini mematiai dengan adanya Engkau jadi milikku dan aku milik Engkau. Serangan Demi serangan Engkau akan mematahkan barisan musuh. Segala janji Engkau pasti akan menjadi genap. Engkau pengampun segala kesalahan hamba Engkau.
Kemudian, aku kembali kepada pokok uraian dengan maksud menjelaskan kepada para pemerhati apa yang telah kulukiskan mengenai ketajaman mulut Batalwi itu hanyalah sekedar contoh. Sebab, mulut kotor orang ini tidak bisa dikendalikan lagi dan, sesungguhnya, segala kelancangannya itu bersumber pada diri Mian Nazir Husseini. Sebab, seorang murid sekali-kali tidak akan berani menentang maksud sang guru. Mian Sahib sendiri mengobral kata-kata kotor dan menyuruh orang laini berbuat sama. Tak sepatah pun ucapan kotor Batalwi sempat dianggap makruh oleh Mian Sahib; dan Batalwi menulis pula sebuah selebaran yang dikerjakan di rumah Mian Sahib. Di dalam selebaran tersebut ia mencantumkan kalimat mengenai diri hamba ini sebagai berikut:
“Inilah mangsa buruanku yang, dasar nasibnya buruk, telah datang ke Delhi dan masuk ke dalam cengkeramanku. Aku gembira oleh karena mendapatkan kembali buruanku itu.”
Para pemerhati! Katakanlah dengan jujur betapa rendahnya kata-kata itu. Aku dengan terus-terang berkata bahwa dewasa ini biar budak-budak yang sopan-santun pun tahu malu sedikit dan orang-orang berwatak rendah sejak zaman Iampau pun tidak pernah mengungkapkan kata-kata takabur yang penuh dihiasi omongan besar tapi rendah semacam itu.
Seandainiya aku Benar menjadi buruan Tuan Batalwi mengapa aku pergi ke Delhi untuk menangkap ustadnya. Apakah kedudukan murid lebih besar dan guru? Apabila justru sang ustadlah yang telah ditangkap dalam cengkeramanku bagaikan seekor burung, lalu hendaklah para pemerhati memaklumi: adakah aku yang menjadi buruan Tuan Batalwi ataukah, kebalikannya, Batalwi sendiri menjadi mangsa perburuanku? Kelancangan Batalwi sudah mencapai ambang batas puncaknya dan di dalam Benaknya bersarang seekor cacinig yang pasti Tuhan harus mengeluarkannya. Sungguh sayang, waktu ini sang penentang kita ini mengumbar kebohongan dan fitnah dan inigini rnembangun kehormatan mereka dengan memakai sarana ketakaburan ala Firaun. Sebelum Firaun bersama lasykarnya tenggelam, ia senantiasa mengira bahwa Musa a.s. adalah buruannya. Pada akhimya, Sungai Nil memperlihatkan siapa sebenarnya yang menjadi buruan. Aku menyayangkan bahwa lawan yang tidak cakap tapi licik itu telah telanjur memaksaku menggunakan katakata yang keras. Padahal fitratku menjauhi tinidakan mengeluarkan perkataan yang tajam seperti itu.
Aku tak inigini mengatakan apa-apa, namun Batalwi dan gurunya mengundangku berbuat seperti ini. Sekarang pun, adalah baik bagi Batalwi kalau mau mengubah siasat dan mengekang mulutnya. Jika tidak, pada hari itu ia akan inigat akan kekeliruannya dengan menangis-nangis.
Dan tugas Kami tiada laini hanyasekedar menyampaikan tabligh dengan seterang-terangnya.
Dan biji gandum akan tumbuh gandum pula
Jangan melupakan pembalasan akibat perbuatan
Karena Allah, dan dengan tulus-ikhlas, aku menasihatkan orang-orang yang gembira oleh selebaran-selebaran bohong yang di dalamnya disebut-sebut tentang kemenangan-semu Mian Nazir Husseini, hendaknya mereka jangan keruan ikut menanggung beban dosa kebohongan yang tidak sepantasnya dilakukan ini.
Aku telah menjelaskan secara terinici di dalam selebaranku tanggal 23 Oktober 1891 bahwa Mian Sahiblah yang melarikan diri dan ajang diskusi. Alangkah nakal dan tidak tahu malunya tuduhan yang dilemparkannya mengenai diriku seakan-akan kecut kepada Nazir Husseini. Naudzubillah! Aku sekali-kali tidak kecut kepadanya dan mengapa aku harus kecut? Aku menganggap kiayi-kiayi yang rendah ini tunanetra belaka dibandinigkan dengan wawasan-wawasan mendalam (bashirat) yang dilimpahkan dan langit kepadaku. Demi Allah, aku tidak menghiraukannya sedikit pun, sebagaimana aku tidak menghiraukan seekor bangkai cacinig. Adakah seorang yang hidup kecut akan orang yang sudah mati?
Mengertilah dengan seyakini-yakininya bahwa ilmu agama adalah rahasia samawi dan orang yang mengenai rahasia samawi ialah yang memperoleh karunia dan langit. Siapa yang sampai kepada Allah dia jualah yang mencapai rahasia-rahasia firman-Nya yang sedalam-dalamnya. Siapa yang menimba keberkatan di dalam limpahan cahaya yang penuh, dialah yang memperoleh pengertian-pengertian secara utuh.
Ya, apabila dikatakan aku kecut akan makian-makiannya dan aku kecut hati oleh kata-katanya yang sarat dengan kenajisan, maka ada sedikit benarnya karena biasanya orang-orang sopan kecut kepada orang-orang yang omongannya buruk. Orang-orang yang beradab senantiasa menghinidar dan orang-orang yang mulutnya kotor. Orang mukmini tidak kecut kepada orang hinia, melainikan hanya kecut kepada watak rendah orang itu.
Hakikat yang sebenarnya ialah merupakan kehendak Ilahi bahwa Dia menyinigkap kedok Mian Nazir Husseini dan menampakkan hakikat suaranya yang bergendang paha (gembira melihat orang laini dirundung malang). Dengan Demikian para pemerhati yang tajam pandangannya akan mengetahui bahwa kehendak Ilahi genaplah sudah. Seluruh modal Nazir Husseini – ketakwaannya, pengabdiannya kepada Tuhan, ilmunya, dan makrifatnya – diketahuilah sudah. Dikarenakan oleh hukuman atas ketakwaannya ku Ia mendapat kehinaan. Akan tetapi, masih ada kehinaan yang tersedia baginiya dan bagi orang-orang yang sejalan pikirannya. Hal-ihwalnya akan kuterangkan di bawah ini.
Ilham Allah Taala:
Inilah Kitab yang Kami meteraikan atasnya dan sisi Kami.
Wahai, Tuhan! Wahai, Yang Empunya bumi dan langit!
Wahai, Pelinidung Jemaat Engkau dan segala musibah!
Wahai, Yang Maha Pengasih, Penuntun, dan Pemandu!
Wahai, Yang di tangan-Nya ada karunia dan qadha!
Di persada bumi telah timbul huru-hara yang maha dahsyat.
Kasihanilah makhluk-makhluk Engkau, wahai, Pencipta jiwa!
Nampakkanlah suatu mukjizat dan sisi Engkau
Agar persengketaan dan fitnah akan pupus.
Tampakkanlah mukjizat dan kodrat ,Engkau
Wahal, Pencipta makhluk, Engkau memiliki segala kodrat!
Pembela kebenaran telah menjadi musnah dan hanyalah tiniggal nama.
Tampakkanlah Tanda supaya hujjah menjadi sempurna!
KEPUTUSAN SAMAWI
Sebelum aku memaparkan “Keputusan Samawi”, aku merasa perlu menulis sepatah dua patah kata sekedar penjelasan. Adalah jelas bahwa orang-orang yang sungguh-sungguh mukmini pada pemandangan Allah Taala dan orang-orang yang dipilih oleh Allah secara khusus bagi-Nya serta dengan tangan-Nya Sendiri membersihkan mereka dan memberi tempat kepada mereka di tengah-tengah orang-orang suci, dikatakan oleh Allah Taala:
Yakni, identitas mereka pasti tertera pada wajah mereka dan bekas-bekas sujud dan ibadah mereka. Di dalam janji-janji Allah tidak ada kesalahan dan kekhilafan. Oleh karena itu keberadaan ciri-ciri atau tanda-tanda pada orang-orang mukmini, yang di dalam Alquran disebutkan tolok-ukurnya, termasuk di antara prasyarat-prasyarat keimanan. Tandatangda merupakan batu uji dan tolok ukur bagi orang-orang m4lkinini untuk mengambil keputusan mengenai seorang pribadi yang diriamakan oleh para ulama sebagai kafir dan diniyatakan seorang muftari (yang mengadaada kedustaan), dan seorang muihid (atheist).
Walhasil, apabila seseorang menyebut kafir kepada saudaranya yang muslim dan tidak puas dengan ikrar keimanan saudaranya yang mengucapkan Kalimah Tayyibah:
dan saudaranya itu mempercayai segenap akidah Islam serta memandang segala yang difardukan, batas-batas, dan hukum-hukum Islam sebagai hal-hal yang wajib diamalkan. Batas-batas tak boleh dilanggar, dan hukum harus dipatuhi. Sejauh mungkini harus beramal sesuai dengan peninitah-perinitah itu. Maka cara mengambil putusan terakhir ialah mereka diuji dengan alamat-alamat yang telah diniyatakan oleh Allah Taala di dalam Alquran untuk membedakan antara mukmini dan kafir. Dengan Demikian, barangsiapa yang, pada hakikatnya, mukmini pada pemandangan Allah Taala, maka Dia – sesuai dengan janji-Nya – akan membebaskannya dan tuduhan kafir. Allah Taala akan memperlihatkan bedanya di antara mereka dan supaya persengketaan keseharian menjadi selesai.
Setiap orang berakal akan mengerti bahwa apabila hamba ini, menurut dugaan Mian Husseini beserta muridnya, sungguh-sungguh kafir, dajal, pendusta, patut dilaknat, dan keluar dan daerah Islam, maka Allah Taala dalam perselisihan ini tidak akan memperlihatkan suatu Tanda apapun guna memBenarkan hamba ini. Sebab, berkenaan dengan orang-orang ‘kafir dan orang-orang yang menentang agama-Nya, yang tak beriman dan yang mardud (tertolak), Allah Taala sekali-kali tidak akan menurunkan bantuan-Nya dengan memperlihatkan tanda-tanda keimanan. Betapa Dia akan melakukan yang Demikian kalau Dia mengetahui bahwa mereka musuh agama dan dijauhkan dan nikmat keimanan. Nah, Mian Nazir Husseini dan Batalwi telah menulis fatwa kufur dan tak-beragama atas diriku. Andaikata Benar aku kafir, dajal, dan musuh agama, maka di dalam ajang perselisihan ini Allah Taala sekali-kali tidak akan membantu aku dan bahkan aku akan dijauhkan dan bantuan-bantuan-Nya lalu Demikian terhinianya, layaknya seperti seorang kazzab (pendusta) patut menerima hukuman besar. Dengan cara Demikian para penganut agama Islam akan selamat daripada kejahatanku dan kaum musliinini semuanya akan aman dan kekacauan yang ditirnbulkan oleh diriku. Akan tetapi, apabila keajaiban kodrat timbul: Mian Nazir Husseini sendiri beserta golongannya, yakni Batalwi dan sebagainiya, senantiasa terkucil dan terasinig dan alamat-alamat bantuan, sedang bantuan Ilahi akan menyertai diriku, maka dalam keadaan Demikian juga kebenaran akan terbuka kepada khalayak manusia dan pertikaian-pertikaian keseharian akan selesai.
Sekarang, makluiniah hendaknya, Allah Taala telah memBerii empat buah janji agung di dalam Kitab Suci Alquran mengenai Bantuan Samawi untuk orang-orang mutaki yang paripurna dan orang-orang mukmini yang paripurna. Janji-janji itu sebagai berikut.
PERTAMA, orang mukmini yang paripurna senantiasa dan kerap kali mendapat kabar suka dan Allah Taala; yakni, kepadanya diBerii tahu sebelum kejadian tentang apa-apa yang diiniginikan olehnya atau mengenai kehendak-kehendak sahabat-sahabatnya.
KEDUA, kepada orang mukmini yang paripurna disinigkapkan tabir kegaiban berkenaan bukan saja dengan pribadiriya sendiri atau kanibkerabatnya, melainikan juga mengenai takdir apa saja yang akan turun ke dunia. Atau, kepada seorang mukmini pilihari acap diberi tahu tentang akan datangnya perubahari nasib beberapa tokoh temama kaliber dunia.
KETIGA, doa-doa orang mukmini yang paripurna serinigkali dikabulkan dan terkabulnya doa-doa seninigkali pula diBeriitahukan lebih dahulu.
KEEMPAT, kepada orang-orang mukmini yang paripurna disinigkapkan banyak rahasia, ilmu-ilmu yang cangih, engetahuanpengetahuan yang mendalam, dan nilai-nilai ajaib yang terkandung di dalam Alquran.
Dengan keempat ciri khas itu seorang mukmini yang panipurna, secara nisbi selalu mengungguli orang-orang laini. Kendatipun kaidah ini tidak selamanya berlaku, yaitu, orang mukmini yang paripurna setiantiasa dan secara terus-menerus menenima kabar-kabar suka dani Allah Taala, atau selamanya Dia tak pelak lagi berkenan mengabulkan setiap doanya dan senantiasa diberi tahu setiap akan terjadi kecelakaan, dan tidak pula setiap waktu ilmu-ilmu Alquran akan dibukakan kepadanya secara Berikesiniambungan. Akan tetapi, dibandinigkan dengan orang-orang laini, keempat cini khas tersebut lebih banyak dIsandang oleh orang mukmini yang panipuma. Walaupun ada kemungkinian bahwa kepada orang yang laininya pun, seperti umpamanya kepada orang-orang yang mempunyai kelemahari, secara kadang-kadang diberi bagian sedikit dan nikmatnikmat itu. Namun, yang menjadi ahli waris yang Asli nikmat-nikmat itu tetap orang-orang yang paripurna.
Ya, Benar bahwa martabat seorang mukmini yang panipuma itu tak tampak kentara kepada setiap orang yang lemah daya pikirannya dan tidak pula tampak kepada orang yang berpandangan picik tanpa kehatiiran kekuatan bandirig. Sebab, sungguhpun seluruh ciri khas itu dengan sendiriniya tampak pada pribadi seorang mukmini yang paripuma, kerapkali kepada orang mukmini yang paripuma datang berkunjung untuk memohon doa orang-orang yang menurut suratan takdimya sama sekali tidak akan meraib keberhasilan (dalam hidupnya) dan tak pelak sudah tertulis Semenjak azali bahwa keberuntungannya akan secara terus-menerus membelakangi mereka. Maka, orang-orang itu, disebabkan oleh kegagalan hidupnya, tidak dapat mengenaii ciii kemakbulan doa orang mukmini yang paripuma itu. Bahkan mereka menjadi lebih-lebih menjadi ragu-ragu. Disebabkan oleh ketidakberuntungannya mereka tidak dapat mengenai kelebilian daya kemakbulan doa orang mukmini yang paripurna itu. Sungguhpun orang mukmini yang paripurna itu pada pemandangan Allah menyandang derajat dan martabat yang tiniggi dan Dia meluruskan pekeijaan-pekerjaannya yang betapa pun sulitnya; atas permohonan dan doanya, beberapa takdimya yang serupa dengan takdir mubram (takdir yang tak dapat dihinidarkan) bisa juga diubah. Akan tetapi, takdir hakiki dan takdir mubram mutlak tak dapat diubah sekalipun oleh doa orang mukmini yang paripuma, walaupun ia penyandang derajat kenabian atau kerasulan sekalipun.
Walhasil, secara nisbi, mukmini yang paripurna itu dapat dibedakan dan orang laini dalam keempat ciii khas tersebut di atas walaupun tidak selamanya dapat berhasil. Jadi, kalau sudah terbukti bahwa, secara nisbi, orang mukmini yang paripuma itu mempunyai banyak kelebihari dalam banyaknya perolehari kabar suka, dalam banyaknya kemakbulan doa, dalam banyaknya penyinigkapan rahasia-rahasia gaib, dan dalam banyaknya penyinigkapan ilmu-ilmu Alquran, tidak ada cara yang terbaik untuk menguji orang mukrnini yang paripurna dan orang yang laininya selaini dengan bertandirig – kedua-duanya diuji dan dicoba. Yakni, keempat ciii khas itu dijadikan batu uji dan dijadikan tolok ukur, lalu pada waktu bertandirig, kita memperhatikan siapakah orangnya yang dengan tolok ukur dan timbangan ini memenuhi syarat dan siapa orangnya yang keadaannya kurang sempurna lagi cacat.
Sekarang, hendaklah segenap hamba Allah menjadi saksi bahwa hamba ini – karena Allah semata, secara terang-terangan, dan Demi cinita
kebenaran dengan segenap hati dan jiwa – menyetujui untuk bertandirig. Untuk melangsungkan pertandinigan ini, siapa yang akan berhatiapan dengan aku di arena, hendaknya ia yang nomor wahid, yaitu, Mian Nazir Husseini sendiri dan Delhi. Beliaulah yang setelah lebih dan empat puluh tahun tekun mengajarkan Alquran dan Hatiis, kemudian memperlihatkan contoh ilmu dan amalnya dengan menulis fatwa kufur atas hamba ini sehinigga membuat ribuan orang yang Beritabiat liar mempunyai prasangka buruk lalu menyuruh mereka memaki-maki dengan memakai perkataan yang kotor dan membiarkan Batalwi bertinigkah bagai hewan liar lagi gila, mengeluarkan dan mulutnya busa taklir (tuduhan kafir) dan kutukan; dalam pada itu ia sendiri mengaku mukmini yang panipuma, Syaikhul Ku!, dan Syaik.hul ‘Arab wal ‘Ajam. Oleh sebab itu, beliaulah yang pertama-tama diseru untuk tampil di ajang pertandinigan ini.
Ya, beliau mempunyai kewenangan menyertakan pula Batalwi karena sekarang ia pun mengaku-ngaku peihat mimpi. Bahkan aku bermkan wewenang kepada beliau untuk mengajak serta Maulwi Abdul Jabbar Sahib juga, hamba Allah yang saleh penerus almarhum Maulwi Abdullab Sahib; selaini itu boleh mengajak Maulwi Abdur Rahmati asal Lakhoke yang telah menyebarkan selebaran berkenaan dengan diriku berisikan pengumuman bahwa aku adalah penerima ilham yang menyesatkan. Beliau ini memBerii fatwa kufur kepadaku. Selaini itu pun boleh juga menyertakan Maulwi Muhammati Basyir dan Bhopal yang. adalah salah seorang dan pengikut-pengikutnya. Apabila Mian Sahib (Mian Nazir Husseini), sesuai dengan kebiasaannya suka menghinidar, maka Tuan-tuan yang disebutkan di atas hendaknya maju menggantikannya. Apabila mereka itu semuanya berusaha menghinidar maka Maulwi Rasyid Ahmati Sahib Ganggohi hendaknya memberanikan diri tampil dalam ajang ini, sebab beliaulah anggota utama golongan Muqallid dan bersamanya juga boleh disertakan setiap orang yang termasuk golongan Sufi, Pirzadah dan Sajjadahnasyini •*) Mereka ini, seperti halnya para ulama laininya menganggap hamba ini kafir, muftari (yang mengada-ada kedustaan), dan kazzab (pendusta). Apabila mereka itu semua berpalinig dan pertandinigan dan mengelak dan ajakan aku ini dengan berkilah dan mengemukakan
*) Pirzadah putra tokoh rohariituan yang dimuliakan;
Sajjadahnasyrn = golongan elit keturunan orang suci.
macam-macam alasan yang tidak masuk akal, genaplah sudah hujah Tuhan atas mereka. Aku seorang yang diutus oleh Tuhan dan aku telah diberi kabar suka mengenai kemenangan. Oleh sebab itu, aku memanggil Tuan-tuan yang kusebutkan di atas. Adakah yang akan tampil di muka aku? Tempat penyelenggaraan pertandinigan ini yang terbaik adalah di kota Lahore yang merupakan ibukota Propinisi Punjab. Untuk tujuan ini hendaklah ditetapkan sebuah panitia. Apabila pihak lawan setuju akan saran ini maka anggota panitia ini harus ditetapkan atas kesepakatan kedua belah pihak. Pada saat perdebatan berlangsung, pendapat mayoritas pendengar akan diperhatikan dan, seyogianya, guna menguji secara seksarna Keempat Ciri Khas itu kedua pthak selama jangka waktu satu tahun agar secara berkala mengirim naskah-naskah mereka kepada panitia tersebut sesuai dengan jadwal yang ditentukan. Panitia tersebut harus mengirim kepada kedua belah pihak, sesuai dengan jadwal dan secara terinici, tandatangda bukti penerimaan naskah-naskah yang telah diterimanya.
CIRI KHAS PERTAMA
Cara menguji kabar-kabar suka ialah: apa saja yang ditampakkan oleh Allah Taala kepada kedua pihak dalam Bentuk ilham, kasyaf (pemandangan gaib), dan sebagainiya itu hendaknya dIsampaikan kepada panitia itu menurut tanggalnya dengan diperkuat oleh empat orang saksi dan kalangan Islam sebelum waktunya.
CIRI KHAS KEDUA
ini adalah bertalian dengan kabar-kabar gaib mengenai peristituaperistitua dan musibah-musibah yang akan melanda dunia pada umumnya, diatur sesuai juga dengan yang pertama. Hendaklah diinigat bahwa panitia akan menyimpan rahasia ini sebagai amanat. Panitia harus mengikrarkan sumpah mengenai hal itu bahwa sebelum bahari-bahari itu dibuka di muka pertemuan umum, untuk mengadakan penilaian atas kedua belah pihak yang berbantah, jangan sekali-kali menyampaikan sesuatu kepada teliniga pihak luar, kecuali kalau kebocoran rahasia itu berada di luar linigkup wewenang panitia itu.
CIRI KHAS KETIGA
Cara menguji kemakbulan doa. Panitia harus menerbitkan sebuah selebaran untuk mengumpulkan data mengenai orang-orang dan segala agama – Islam, Kristen, Hinidu, Yahudi; pendek kata, agama apa saja – yang ditimpa suatu musibah yang besar. Masinig-masinig mengemukakan diriniya agar dimasukkan dalam grup orang-orang yang terkena musibah. Maka tanpa pilah-pilah mereka harus ditenima; sebab, Allah Taala pun menyampaikan nikmat-nikmat jasmani (duniawi) tanpa mengadakan diskriininiasi, tanpa membeda-beda agama. Guna menghimpun para korban musibah, harus terus diatur penyiapan data mengenai tiap orang yang terkena musibah dengan diBerii batas waktu sebulan atau berapa waktu yang dianggap baik oleh panitia. Data-data itu dicantumkan dalam kartu-kartu dan dihimpun dalam sebuah kotak. Sesudah itu dibuat dua perangkat (set) .kartu-catatan (record card) dengan ukuran sedang dan masinig-masinig disusun menurut urutan abjad nama, di sampinig itu dicantumkan pula data-data tanggal lahir, kebangsaan, tempat tiniggal, agama, pekerjaan dan sebagainiya. Kemudian kartu-kartu itu diserahkan kepada kedua belah pihak.
Kedua pihak (yang berbalah) akan memeriksa nama orang-Qrang yang menjadi korban musibah dan kedua set kartu-catatan itu dibagibagi antara mereka dengan mengocoknya lebih dahulu. Jika ada seorang korban musibah tiniggal di negeni yang jauh dan karena tidak berdayanya maka tidak bisa datang, hendaklah panitia mengadakan cabang di kota tempat si korban tiniggal dan mengirimkan data-data kepada Ketua Panitia.
Perolehari kartu yang di dalamnya tercantum Si korban musibah akan dianggap menjadi bagian pihak yang ditentukan oleh Allah lewat undian tadi. Panitia wajib mengumpulkan korban-korban musibah dan menghatiirkan mereka pada tanggal yang ditetapkan dengan menyiarkan surat-surat selebaran beberapa ininiggu sebelumnya. Semua biaya guna menerbitkan selebaran-selebaran menjadi tanggung jawabku. *) Salman tiap kedua set kartu data yang sudah siap disiznpan juga oleh Panitia dan itulah hari ketetapan sebagai hari pertama untuk mencapai jangka waktu satu tahun. Tiap pihak akan terus mendoa untuk para korban yang menjadi bagian masinig-masinig dan, menurut ketentuan yang telah disebutkan, Se- gala proses akan dicatat dalam buku registrasi Panitia. Apabila dalam jangka waktu sam tahun, atau sebelum timbulnya saat yang semenjak itu dapat cliperkirakan akan banyak terjadi penerimaan doa dan kemenangan yang nyata, salah sam pihak meniniggal dunia dan semua urusan pertandinigannya ditiniggalkan maka akan dianggap kalab, sebab Allah Taala dengan iradah-Nya yang khas telah menyebabkan urusannya tidak genap sehinigga kebatilannya tampak. Perkiraan banyaknya korban yang tertolong dijadikan persyaratan, karena kemakbulan doa dapat diuji hanyaberdasar pada patokan bilangan banyaknya. Kalau bukan sebagaimana telah Kami terangkan, mungkinilah bahwa orang-orang yang memohon doa hanyaterdiri atas beberapa orang banyaknya; umpamanya dua atau tiga orang. Maka di dalam kegagalannya terkandung Taqdir Mubram atau takdir yang tak dapat dielakkan. Yakni, menurut kehendak Yang Mahakuasa, ditakdirkan secara mutlak bahwa mereka sama sekali tidak akan dapat melepaskan diri dan musibah-musibah dan, para mulyawan roharii – para wali, dan para nabi – serinig mengalami bahwa beberapa orang mahrum atau terasinig dan pengaruh doa mereka. Sebabnya ialah, di dalam kegagalan mereka terkandung Taqdir Mubram. Oleh karena itu pula menetapkan seorang atau dua brang korban musibah sebagai tolok ukur adalah cara yang menyesatkan. Boleh jadi, di dalam kegagalan mereka terkandung unsur Taqdir Mubram.
Walhasil, jika mereka menghadap kepada seorang orang-suci untuk meminita bantuan doanya, tapi karena kendala Taqdir Mubramnya maka jadi sia-sia, dalam keadaan seperti ini kemakbulan doa orang suci tetap tidak tampak kepada mereka. Bahkan, barangkali, pikiran mereka menjurus kepada buruk sangka lalu beritikad kurang baik terhadap orang suci tersebut dan karena itu bukan saja mereka mendapat nasib buruk di dunia melainikan juga nasibnya sendiri di akhirat akan menjadi rusak. Sebab, menguji dengan cara demikian, sebagian orang pada zaman para nabi telah tergelinicir dan sampai-sampai mereka menjadi murtad. Perkara ini merupakan hakikat suatu makrifat. Kemakbulan doa-doa pribadi-pribadi yang makbul diketahui lewat banyaknya doa-doa yang diijabah, yakni, banyak doa mereka dikabulkan – tapi bukan segala dan seluruh doa mereka dikabulkan.
*) Setelah membaca tulisan ini Tuan Maulwi Ghulam Qadir Sahib Fadhih, pemilik dan pemimpini umum harian “Punjab Gazettte”, Sialkot, mengungkapkan lewat tulisannya bahwa semua ongkos penerbitan serta penyiaran selebaran-selebaran akan ditanggung oleh beliau. Fajazahwnallahu ahsanal jaza! – Semoga Allah membalas jasanya dengan sebaik-baiknya (Pen.).
Walhasil, selama bilangan orang-orang yang kembali kepada kebenaran belum mencapai kadar yang berlimpah-limpah, selama itu pula tidak akan dapat diketahui kemakbulannya. Hakikat dan keagungan yang seutuhnya baru akan tampak dengan senyata-nyata bila bilangan kemakbulan doa seorang mukmini yang paripuma diperbandinigkan dengan kemakbulan doa orang laini. Jika tidak, maka mungkini saja banyaknya bilangan itu tampak sedikit pada pemandangan seorang yang sudah terbiasa kecam-mengecam dan hatiniya buruk. Pada hakikatanya, dlkabulkannya banyak doa – yang merupakan hal yang nisbi dan penilaian yang benar, meyakinikan, mutlak, dan karenanya menutup mulut para penginigkar – hanya tampak dengan jalan mengadakan perbandinigan. Umpamanya, beribu-ribu korban musibah dilayani oleh dua orang yang mengaku muslim paripurna dan Mustajabud Da’waat (doa-doanya makbul). Berkat kemakbulan doa seorang yang mengaku muslim paripurna itu ada sisa 50 orang atau 25 orang yang tidak berhasil diselamatkan dan antara sejumlah seribu korban musibah, sedangkan yang selebihnya berhasil diselamatkan. Sedangkan dari antara kelompok laininya, dari seribu orang, barangkali ada 25 orang atau 50 orang yang selamat dari kegagalan dan sisanya masuk dalam kategori gagal. Maka akan jelas bedanya antara yang makbul dan yang mardud (doanya ditolak).
Golongan materialis masa kini agaknya telah menjadi korban keraguan dan kewaswasan ini; sebab, sejak awal kodrat alam telah membagi sesuatu ke dalam dua kategori – yang bakal terjadi dan yang tidak bakal terjadi. Oleh karena itu memohon supaya doa dikabulkan adalah tidak berarti sama sekali. Namun, keraguan itu sama sekali merupakan pikiran yang mentah. Sesungguhnya, sebagaimana Tuhan telah menetapkan khasiat-khasiat dalam segala macam obat-obatan walaupun dikuasai oleh hukum kodrat alam, demikian pula halnya di dalam obat-obatan pun ada khasiat-khasiat yang dibuktikan lewat percobaan-percobaan. Adapun Wujud Yang Suci dari segala noda telah menetapkan sejak dahulu kala sebagai sunah-Nya untuk mengabulkan doa-doa. Merupakan sunah-Nya pula bahwa korban musibah yang ditetapkan sejak azali patut diselamatkan, mendapat keselamatan berkat siraman berkat pribadi-pribadi yang suci atau berkat doa-doa serta tawajuh mereka itu, atau karena keberkatan wujud-wujud yang meraih martabat Qurb Ilahi (kedekatan kepada Allah) dan Qabuliyyat Ilahi (Keberterimaan Allah) di dunia ini.
Sungguhpun di dunia ini banyak juga kaum penyembah berhala yang pada saat mengalami musibah tidak menginidahkan keberadaan orang-orang mukmini yang paripuma. Mereka sama sekali tidak mempercayai kemakbulan doa dan sepenuhnya menggantungkan diri hanya pada upaya-upaya dan sarana-sarana lahiriah. Memperhatikan jalan kehidupan mereka, boleh jadi pikiran seorang yang berpikiran dangkal akan terkicuh serta mengatakan bahwa orang-orang semacam itu pun bisa menanggulangi kesulitan-kesulitan. Kemudian, bagaimana dapat dibuktikan dengan jelas doa-doa orang-orang yang makbul diterima oleh Allah dalam jumlah yang besar?
Jawaban yang diberikan oleh Alquran atas keraguan tersebut ialah sebagai berikut. Walaupun seseorang meminita pertolongan kepada berhala atau kepada dewa-dewa atau lewat upaya-upaya lahiriah guna meraih apa-apa yang diiniginikannya, pada hakikamya, hukum-kodrat suci Allah Taala mengatakan bahwa semua perkara (keberhasilannya) itu berkat pengaruh keberadaan wujud-wujud yang makbul pula. Berkat nafas-nafas suci mereka dan sebab keberkatan-keberkatan mereka maka jagat raya ini makmur adanya. Sebab keberkatan-keberkatan merekalah maka air hujan turun, dan sebab keberkatan-keberkatan merekalah dunia ini tetap aman sentausa, dan segala malapetaka serta kekacauan pun dijauhkan. Sebab keberkatan-keberkatan merekalah maka orang-orang duniawi berhasil dalam upaya-upaya mereka. Sebab keberkatan-keberkatan merekalah maka sang rembulan terbit dan sang mentari memancarkan cahayanya. Mereka adalah cahaya dunla. Selama mereka berada di dunia dan selama mereka hatiir di dunia ini – ditilik dan segi jenis wujudnya – selama itu dunia tetap terang benderang, bersamaan dengan punahnya wujud-wujud itu akan punah pulalah alani dunia ini, sebab mereka adalah MATAHARI DAN BULAN YANG HAKIKI BUMI INI!
Dan uraian tadi jelas bahwa yang menjadi kedambaan dan bahkan tumpuan hidup Bani Adam adalah wujud-wujud itu. Kelestarian dan tumpuan hidup Bani Adam, bahkan kelestarian dan tumpuan hidup segala makhluk, adalah terletak pada wujud mereka. Seandainiya mereka tidak hatiir maka tengoldah apa yang dapat diraih dan berhala-berhala dan faedah apa saja yang dapat dipetik dan upaya-upaya lahiriah? ini merupakan rahasia yang dalam sekali, dan untuk memahaminiya tidaklah cukup hanyadengan memakai akal duniawi belaka, melainikan menghendaki Nur atau Cahaya yang diraih oleh orang-orang bijak. Sesunguhnyalah, segala Bentuk keraguan dapat dijauhkan dengan mengadakan tolok bandirig. Sebab, pada waktu bertandirig, Allah Taala secara istimewa menghendaki agar kehormatan inisan yang memiliki daya kemakbulan dan keberkatan sejati yang diperoleh dan Allah Taala itu akan ditampakkan. Jika seorang penyembah berhala tampil di arena berhatiapan dengan seorang muwahid (yang beriman kepada Tauhid), lalu salinig menguji kemakbulan doa masinig-masinig, maka si penyembah berhala ftu akan mengalami kenistaan dan kehinaan yang besar. Oleh sebab itulah aku pun telah mengatakan sebelum ini bahwa guna menguji seorang mukmini yang paripurna tidak ada cara yang laini semudah cara mengadakan pertandinigan – yang berkenaan dengan itu doanya tidak dikabulkan dan lewat pengetahuan Allah diberi tahu kepadanya mengenai ketidakdikabulkannya. Lalu, dalam rangka pekerjaan itu, kalau segala upaya bangsa Eropa dan bangsa Amerika dikerahkan, atau seluruh dunia merebahkan kepala mereka di depan segala berhala di dunia, atau seluruh penduduk dunia memohon keberhasilan dalam perkara ini di dalam doa-doa mereka masinig-masinig, pasti tidak akan berhasil. Kebajikan orang mukmini yang paripuma mengalir ke seluruh dunia dan roda dunia terus bergulir karena keberkatannya. Mukmini yang paripuma itu, secara sembunyi di latar belakang, menjadi sarana setiap orang untuk mencapai segala maksudnya. Baik ia dikenal atau tidak oleh orang-orang, namun barangsiapa yang secara khusus beriradah dan berakidah menghadapkan muka kepadanya, orang ini akan menggapai segala keiniginian dan tujuan duniawiniya lewat keberkatan mukmini yang paripuma itu, bahkan urusan agamawiniya sendiri tertata rapi, imannya menjadi kuat, dan ia dapat mengenai Tuhannya. Bila Ia dengan setia bernaung di bawah sayap mukmini paripurna itu dan tidak meniniggalkan dia di tengah perjalanan, maka ia akan dapat menyaksikan Tanda-tanda samawi dengan berlimpah-limpah.
Di dalam karangan ini aku telah menuliskan beragam korban musibah sebagai syarat, dengan maksud agar rahmat Allah zahir dalam berbagai Bentuk; dan umumnya setiap orang dan berbagai sifat dan selera dapat memahaminiya. Korban dan berbagai musibah dapat memahaini dan contoh-contoh sebagai berikut. Umpamanya, ada seseorang menderita suatu jenis penyakit. Ada lagi seseorang yang telah atau akan menerima hukuman yang tidak seharusnya dikenakan kepadanya. Ada pula seseorang yang tidak mempunyai anak. Yang laininya lagi telah menikmati kedudukan yang mulia dan martabat yang tiniggi, tapi kemudian jatuh ke dalam kenistaan dan patut dikasihani. Laininya lagi yang berada di dalam cengkeraman orang yang berlaku aniaya tethatiapnya. Ada pula yang dililit oleh utang di atas kemampuannya dan luar biasa besar jumlahnya. Ada orang yang anaknya murtad dan keluar dan Islam. Yang laininya dirundung malang yang pada saat ini aku tidak dapat menjelaskan.
CIRI KHAS KEEMPAT
Dibukanya ilmu-ilmu Alquran. Dalam kaitan ini, aturan yang terbaik ialah masinig-masinig pihak menulis makrifat-makrifat, kebenaran-kebenaran, dan rahasia-rahasia yang terkandung dalam beberapa ayat suci Alquran, lalu dibacakan pada suatu pertemuan umum dengan disaksikan oleh panitia. Kemudian, andaikata apa yang ditulis oleh salah satu pihak ternyata sudah ada dalam suatu kitab tafsir yang sudah ada sebelumnya, maka ini akan dianggap hanya sebagai jiplakan dan patut disesalkan. Akan tetapi, apabila rahasia-rahasia dan makrifat-makrifat Alquran yang diuraikannya itu sahih, tidak diragukan, baru lagi canggih serta melebihi pikiran para mufasir terdahulu, dan ditilik dan segala segi pandang bersih dan kekakuan, lagi pula menzahirkan pesona, keagungan, dan kemuliaan Alquranul Karim, begitu pula di dalamnya terkandung suatu nilai kegagahari, kehebatan, dan cahaya kebenaran, maka makluinilah bahwa itu adalah dan Allah Taala. Guna menzahirkan kehormatan, kemakbulan, dan kepiawaian hamba-Nya yang makbul, Dia telah menganugerahkan kepada hamba-Nya itu Ilmu Ladduni-Nya – yakni ilmu yang diithamkan oleh-Nya.
Tiap-tiap dari keempat batu uji yang telah kurumuskan itu demikian mulus lagi bersihnya sehinigga barangsiapa yang memperhatikannya dengan seksama, tidak pelak lagi ia akan menerima hal ini: guna mengambil keputusan antara pihak-pihak yang bersengketa, tidak ada jalan laini selaini jalan kerohanian yang bersih lagi mudah ini Aku berikrar dan bersumpah Demi Allah Yang Mahakuasa, seandainiya aku kalah dalam pertandinigan ini, maka aku sendiri akan menyebarluaskan pernyataan aku palsu dan kemudian Mian Nazir Hussein Sahib dan Sheikh Batalwi tidak lagi perlu memfatwakan aku kafir dan muftari. Dalam keadaan ini aku akan menyatakan diri layak menerima kehinaan, kenistaan, dan cemoohan. Pada pertemuan ini aku akan mengikrarkan juga bahwa aku tidak datang dan Allah dan semua pengakuanku batil adanya. Tetapi, Demi Allah, aku berkeyakinan dan aku bersaksi bahwa Tuhan-ku tidak akan berbuat serupa itu dan sekali-kali Dia tidak menyia-nyiakanku.
Sekarang, andaikata para ulama yang kusebutkan di atas menghindar – kalau mereka mau menghindar – dan ujian yang gamblang dan jelas itu bukan hanya bersikap tidak adil malah, pada hematku, dengan diamnya mereka dan hanya dengan memberi jawaban-jawaban yang tidak relevan, mereka akan membuat sangkaan orang-orang yang berakal menjadi buruk sekali terhadap mereka.
Apabila pada saat mereka berhatiapan dengan orang yang tampil di ajang pertandinigan dengan hati yang lurus, malah tenus-menerus berkelatkelit, membuat-buat helah dengan memBerii jawaban yang di dalamnya hak dan batil dicampuradukkan, maka, inigatlah, tidak akan ada seorang pencani kebenaran atau pecinita kebenaran akan suka akan jawaban itu. Bahkan, orang-orang yang adil akan memandangnya dengan pandangan sedih. Adalah mungkini kalau dalam hati seseorang akan timbul pikiran (pertanyaan) bahwa mengapakah orang yang membuat pengakuan menjadi Masih Mau’ud tidak mempenlihatkan secara sepihak Tanda yang dengan memperlihatkan Tanda itu orang-orang akan merasa puas? Jawabannya ialah, semua orang itu adalah pengikut ulama-ulama itu, dan ulama-ularna itu lewat surat-sunat selebanan menyebarkan di tengah-tengah khalayak ramai pernyataan bahwa orang ini kafir dan dajal. Berapa banyaknya pun Tanda diperlihatkan, ia tetap tidak layak diterima. Ternyata, Syeikh Batalwi, di dalam sebuah selebarannya yang panjang dan dicetak olehnya sesudah perdebatan di Ludhiana dengan terang-terangan menulis kata-kata seperti itu dan dengan sangat inigkar dan degil menerangkan berkenaan dengan hamba ini bahwa orang (yakni hamba ini) yang diseru supaya memperlihatkan Tanda-tanda samawi ini hendaknya tidak menghiraukan seruan ini, sebab Tanda (semacam itu) dizahirkan juga oleh Ibnu Sayyad, dan Dajal Ma’hud (Dajal Yang Dijanjikan). Kemudian, betapa Tanda bisa diandalkan.
Sampai sini mas…
Selaini itu, aku pun mendengar dan membaca di dalam selebaranselebaran lawanku, katanya bahwa apabila orang ini (yakni penulis ini) mengutarakan suatu mimpi yang mengandung kebenaran atau rnenzahirkan suatu nubuatan berdasarkan ilham, maka di dalam hal-hal itu apa keistimewaannya? Kepada orang-orang kafir pun diperliha1kan mimpimimpi yang Benar, bahkan kadang-kadang kepada mereka pun dibcritahukan sesuatu sebelum waktunya.
Sementara orang mengatakan dengan angkat sumpah bahwa hal itu pun mereka peroleh, tetapi tidak mereka ketahui bahwa dengan meiniiki uang sekedar dua sen saja seorang tukang ininita-ininita tidak dapat disebut orang kaya. Dengan memiliki cahaya kecil, seekor cacinig kelemayar (cacinig pijar) tidak dapat disebut matahari. Namun, tanpa mengadakan pertandinigan, orang-orang ini bagaimanapun tidak dapat mengerti. Pada waktu bertandirig mereka mempunyai pilihari: apabila mereka sendiri tidak berdaya maka baikiab disertakan sepuluh atau dua puluh orang kafir saja.
Pendek kata, seandainiya para maulana itu tidak setuju juga kepada Tanda-tanda sepihak ini dan menyatakan kepadaku kafir dan menggolongkan Tanda-tandaku ke dalam Tanda-tanda yang dicapai dengan usaha secara evolusi dan bukan secara mukjizat atau memandang dengan pandangan meremehkan, maka bagaimanakah akibatnya? Betapa akan mendapat kepuasan dengan Tanda-tanda itu orang-orang awam yang hati serta teliniganya dipenuhi oleh hal-hal serupa itu. Akan tetapi, pcrtandirigan yang diselenggarakan dengan peragaan Tanda-tanda yang mcnyangkut keimanan itu merupakan suatu hal yang jelas lagi terang shinigga ulama-ulama ini tidak akan dapat mengemukakan sebuah pun alasan yang dibuat-buat. Selaini itu pun banyak sekali kebenaran akan zahir secara terbuka pada waktu pertandinigan. Tidak ada kemungkinian laininya yang serupa itu guna menzahirkan kebenaran. Ya, apabila orangorang ini tmdak berdaya di arena pertandinigan ini, maka wajiblah mereka menerbitkan sebuah surat selebaran, atas kesepakatan bersama, menyatakan bahwa mereka tidak sanggup bertandirig dan pada diri mereka tidak terdapat tanda-tanda sebagai orang mukmini yang paripuma. Sejanjutnya tulislah kata-kata: Kami pun berikrar, setelah menyaksikan Tanda-tanda orang ini (yakni hamba mni), akan menenima kebenarannya tanpa memberikan alasan yang dibuat-dibuat. Untuk meyakinikan khalayak ramai juga Kami akan memBerikan pula pengarahari-pengarahari. Selaini itu akan menerima segala pengakuannya juga. Kemudian akan melepaskan rencana-rencana jahat memfatwakan kafir dan mengakui hamba mni.
Dalam keadaan Demikian hamba yang lemab ini berjanji, dengan karunia dan kasih-sayang Allah Taala, akan memBerii bukti mengenai Tanda-tanda sepihak itu. Aku berharap semoga Allah Taala Yang Mahaperkasa akan memperlihatkan Tanda-Nya kepada mereka serta akan menjadi pendukung dan penolong hamba-Nya. Semoga Dia secara sungguh-sungguh tapi pasti akan menggenapi segala janji-Nya. Namun, apabila orang-orang itu tidak menyiarkan tulisan serupa itu maka, biar bagaimana, pertandiniganlah yang terbaik agar pikiran mereka dan keangkuhari mereka – menampilkan diri sebagai Mukmini Kamil, Syeikhulkul, Pemimpini Zaman. Selanjutnya mengaku dianugerahi kehormatan sebagai nara ilham dan bercakap-cakap dengan Tuhan tapi orang ini pada kenyataannya lebih buruk dan seorang kafir, dajal, dan anjinig sekalipun – akan mendapat penyelesaian yang sebaik-baiknya. Faedah yang terdapat di dalam pertandinigan ini salah satunya lagi ialah, keputusan yang sedianya dikehendaki daripadaku secara sepihak dengan mengambil jangka waktu yang panjang, akan diperoleh dalam beberapa hari saja melalui pertandinigan ini. Jadi, pertandinigan ini pada hakikatnya ialah guna mengambil keputusan antara pihak yang bertikai: siapa yang seBenar-Benarnya mukmini dan siapa yang menyandang di dalam diriniya sifat kafir. Cara ini cara yang palinig mudah dan jalan ini jalan yang palinig dekat. Dengan cara ini pertikaian akan dapat diselesaikan dengan cepat. Seakan-akan jarak yang beratus kilometer jauhnya, dapat ditempuh dengan satu langkah dan ghairat Allah Taala akan segera tampak sehinigga akan terbukti apa hakikat yang seBeriamya. Faedah yang sangat besar daripada pertandinigan ini ialah, di dalam pertandinigan ini tidak ada lagi peluang bagi kedua-dua pthak melemparkafl kecaman sefla mengemukakan helah dan alasan yang tidak-tidak. Akan tetapi, di dalam Tanda-tanda sepihak itu kecaman dan orang yang buruk hatiniya terhadap Tanda-tanda yang sepihak itu bisa menjerumuskafl khalayak umum ke dalam kesesatan. Orang-orang yang arif rnengetahui bahwa banyak Tanda yang sepihak telah tarnpak lewat hamba yang lemah ini dan orang-orang yang menyaksikannya masih hidup. Namun, adakah para ulama akan menerima Tanda-tanda itu meskipun kepada mereka telah dikemukakafl buktiniya? Sekali-kali tidak akan! Dan, inigat pula hal ini bahwa semua perkataan dan cara yang telah ditempuh ini semata-mata inigini supaya segera memutuS perkara orangorang mungkar ini. Selaini itu pun bertujuan untuk membuat mereka mengerti dan untuk menyempurnakafl hujah terhadap mereka; begitu juga dengan niat untuk memperlihatkafl pengejawantahari kebenaran secara sempurna, serta untuk menyampaikan amanat yang telah diberikan oleh Allah kepada hamba yang lemah ini. Sebenarnya, penzahirafl Tanda-tanda tidak terbatas pada pertandinigan. Rangkaiafl Tanda Demi Tanda tampak secara berkesiniambungan semerijak awal dan setiap orang yang tiniggal secara bersahabat denganku – dengan syarat ia bersifat jujur dan istiqamah (konsisten) – dapat melihat sedildt-baflyak Tanda-tanda itu. Di waktu yang akan datang pun Allah Taala tidak akan meniniggalkan Jemaat ini tanpa Tanda dan tidak akan melepaskan pertolonganNya terhadap Jemaat ini. Bahkan, sebagaimafla Dia berjanji, Dia sudah pasti akan terus-meflerUS memperlihatkafl Tanda-tanda yang segar pada waktunya, sebelum Dia menggeflapi hujah-Nya dan sebelum Dia memperlihatkafl perbedaafl antara keburukafl dan kebaikan. Dia Sendiri berfirmafl di dalam MukalamahNya berkenaan dengan pribadi hamba yang lemah ini:
Yakni,
“Seorang Juru Perinigat telah datang ke dunia namun dunia tidak menerimanya. Akan tetapi, Tuhan akan menerimanya dan dengan serangan- serangan yang dahsyat akan menampakkan kebe – narannya,”
Dan, aku tidak dapat berharap serangan itu tidak akan terjadi, sekalipun penzahirannya bukanlah berada di dalam kewenanganku. Aku meyakinikan Anda sekalian bahwa aku Benar.
Wahai, Saudara-saudaraku yang tercinita! Yakinilah bahwa selama Tuhan Samawi tidak menyertai seseorang, sekali-kali ia tidak akan memperlihatkan keberanian serupa itu sehinigga ia berdiri dengan gigihnya menghadapi seluruh dunia dan mendakwakan hal-hal yang berada di luar kekuasaannya. Dapatkah orang yang dengan kuat dan gigihnya berdiri menghadapi seluruh dunia begitu saja atas kemauannya sendiri? Sekali-kali tidak bisa, melainikan ia berdiri dengan perlinidungan Zat Yang Mahakuasa dan dengan dukungan Tangan gaib yang di dalam genggaman kekuasaan-Nya seluruh langit dan bumi, begitu pula setiap roh dan setiap jisim berada. Oleh karena itu, nyalangkanlah mata! Mengertilah bahwa Tuhan telah memberi kekuatan kepada hamba yang lemah tapi mendapat anugerah kehormatan bewawancakap (berdialog) dengan Dia.ini. DaripadaNya-lah dan atas perinitah-Nya yang gamblanglah maka aku mempunyai keberanian berdiri dengan gagah-berani dan dengan hati yang teguh menghadapi orang-orang yang mengaku Pemimpini dan Syeikhul Arab wal .‘Ajam dan Muqarrabullah (yang akrab dengan Allah) Mir. Di antara mereka ada yang mempunyai jemaat dan mengaku sebagai Mulham (orang yang menerima ilham) dan bermukalamah Ilahiyah (berwawancakap dengan Tuhan). Dan, menyatakan atas keyakinian mereka sendiri berdasarkan itham bahwa aku seorang kafir dan penghuni neraka.
Jadi, aku tampil di arena untuk menghadapi semua orang itu atas izini Allah Taala supaya Dia akan memperlihatkan perbedaan di antara yang Benar dan yang dusta; dan supaya tangan-Nya merendahkan si pendusta lalu Dia menolong serta membanm pribadi yang dikaruniai dan dikasihi oleh-Nya. Oleh karena itu, wahai, Saudara-saudara! Perhatikanlah! Undangan yang dIsampaikan olehku kepada Mian Nazir Husseini dan golongannya, itu seBeriamya merupakan jalan untuk mengambil keputusan yang tegas antara aku dan Mian Nazir Husseini. Sekarafig, apabila pada pemandangan para ulama, aku Benar-Benar seorang kafir, dajal, muftari, dan pengikut jalan syaitan, mengapa mereka mendua hati (ragu-ragu)? Tidakkah mereka membaca di dalam Alquran bahwa pada waktu bertandirig, bantuan ilahi justru menyertai orang-orang mukmini. Allah Yang Mahaagung berfirman di dalam Alquran:
Yakni,
_, , , , , _ _,_, —, —
“Dan janganlah kamu lesu dan jangan pula berduka cita; dan kamu pasti unggul jika kamu Benar-Benar orang-orang rnukrnini” (3.140).
Dan Dia berfirman:
_ _._
Sekali-kali Allah tidak akan memberi kepada orang-orang kafir jalan untuk mereka menjadi unggul atas orang-orang rnukinini” (4.142).
Oleh karena itu, perhatikanlah! Allah Taala telah menyampaikan kepada orang-orang mukmini berita kemenangan di dalam Alquran di saat mcnghatiapi pertandinigan; yakni, Allah Taala senantiasa menjadi Pembela dan Penolong orang-orang mukmini dan, sudah barang tentu, Dia sekali-kali tidak mungkini menjadi Penolong dan Pembela orang-orang yang iniengadaada kedustaan. Oleh sebab itu, bagaimanakah orang yang tidak layak dan dijadikan oleh Allah Taala Sendiri musuh-Nya, serta diketahui oleh-Nya scorang muftari atau seorang pereka kedustaan itu dapat menyandang ciri khas keimanan yang sebandirig dengan orang mukrnini yang sejati? Mengapa ini bisa terjadi, orang-orang yang menjadi sahabat-sahabat tersayang Allah Taala dan ahli waris sejati itham-ilham dan selaini itu merupakan orangorang mukmini paripurna dan Syaikhul Kul, pada waktu bertandirig tetap terluput dan Tanda-tanda keimanan dan kedok mereka tersinigkap sehinigga mendapat kehinaan yang besar? Allah Taala sengaja menimpakan kerugian atas pamor mereka dan nama balk mereka. Akan tetapi, kehatiiran mereka di balai siniggasana Ilahi ditolak dan, sesuai dengan perkataan Syeikh Batalwi, keadaannya lebih buruk dan anjinig, kafir, dan dajal; dan menurut perkataan Mian Nazir Husseini, mereka Benar-Benar dijauhkan dan iman, muihid (atheist), dan lebth buruk dan segala makhluk – sekalikali tidak mungkini di dalam diri mereka dijumpai Tanda-tanda keimanan dan pada waktu pertandinigan tidak mungkini Allah Taala membuat mereka menang dan berjaya.
Para pemerhati! Hendaklah berkata secara jujur: adakah bantuan samawi dan roharii itu diuntukkan bagi orang-orang mukmini ataukah bagi orang-orang kafir? Dalam keseluruhari uraian ini aku telab membuktikan bahwa guna menzahirkan perbedaan antara yang Benar dan yang batil, pertandinigan merupakan keperluan yang amat mendesak –
agar wajah setiap pendusta menjadi hitam-legam.
Aku telah cukup bersabar dan merasa jengkel atas kelancangan mulut Hazrat Syeikhul Kul Sahib dengan murid-muridnya. Beliau-beliau terus menolak ajakan. Sekarang, selaku orang yang diutus oleh Allah Taala, aku menyampaikan undangan dan Allah kepada Syeikhul Kul beserta para jemaatnya. Aku berkeyakinian bahwa Allah Taala Sendiri akan mernutuskan perbalahari (pertikaian) ini. Dia akan menguji jalan pikiran orang-orang dan mencobai keadaan hati orang-orang. Dia tidak menyukai keterlajakan (tinidakan berlebihari), melukai hati orang laini dan mulut berbisa. Dia tidak akan ambil perdiili. Orang yang mutaki ialah orang kecut kepada-Nya. Dalam hal ini aku tidak merasa kebilangan pamor apabila orang menyatakan kepadaku anjinig atau meneniaki aku kafir dan dajal. Apakah sesungguhnya kehormatan manusia itu? Kehormatan yang sejati diraih hanyasemata-mata karena senTuhan berkas Cahaya-Nya. Andaikata Dia tidak nidha kepadaku dan pada pemandanganNya aku diriilai buruk, maka dalam keadaan Demikian apa bandirigannya anjinig, aku ribuan kali lebih buruk dan seekor anjinig!
I. Bila Tuhan tidak senang dengan hamba-Nya Tiada hewan seperti dia terlempar lebih jauh
(dan kasih-sayang Tuhan)
2. Jika Kami memelihara nafsu rendah laksana anjinig
Tentu Kami lebih rendah daripada anjinig di gang-gang
3. Wahai, Tuhan! Pembimbinig Jalan
Bagi mereka yang mencari jalan
Wahai, Wujud Yang kecinitaan kepada-Nya
Merupakan roh Kami
4. Jadikanlah kesudahari Kami sesuai dengan keridhaan Engkau Agar Kami meraih kejayaan di dua alam
5. Makhluk dan alam kedua-duanya
Terjerumus keadaan kacau-balau
Sedangkan mereka yang mencani Engkau
Bermukim di tempat laini
6. Ada orang yang kepadanya Engkau anugerahkan Nur Dan ada yang Engkau biarkan bergelimpang di tanah
7. Mata, kupinig, dan hati memperoleh Cahaya dan Engkau
8. Wujud Engkau sumber segala Karunia dan Hidayah
(Syair bahasa Parsi diteijemahkan oleh Mian Abdul Hayee, HP)
Walhasil, aku berlinidung kepada Tuhan Yang Mahakuasa lagi Mahasuci. Aku menyerahkan segala urusanku kepada-Nya dan aku tidak akan membalas cacian dengan makian, dan tidak pula aku hendak mengatakan suatu apapun. Wujud Tunggal itulah Yang akan mengatakan. Sungguh sayang, orang-orang ini telah membawa hal yang kecil terlampau jauh, tidak menganggap Tuhan berkuasa melakukan apa yang dikehendakiniya dan tidak menganggap berkuasa mengutus siapa yang dikehendakiniya. Apakah manusia dapat melawan Tha? Adakah anak Adam diberi hak untuk unjuk rasa terhadap-Nya – mengapa Tha melakukan hal serupa ini dan mengapa tidak melakukan hal itu? Adakah Dia tidak berkuasa menganugerahkan kekuatan dan sifat kepada orang laini? Adakah Dia tidak berkuasa menerapkan satu warna dan corak kepada orang laini? Adakah Dia tidak berkuasa menamai orang laini dengan suatu nama? Andaikata manusia Beriiman kepada kekuasaan Tuhan yang amat luas itu, niscaya dia tanpa ragu akan memberi jawaban terhadap pertanyaanpertanyaan tersebut tadi. Ya, tak pelak lagi Allah Taala berkuasa atas segala sesuatu dan Dia dapat menggenapi firman-firman-Nya serta nubuatannubuatan-Nya menunut pola, jalan, dan cara yang sesuai dengan kehendakNya.
Para pemerhati! Saudara-saudara sendiri dapat mereñungkan dan memperhatikan – adakah pada suatu tempat tercantum juga keterangan tentang Isa yang bakal datang itu Benar-Benar nabi Bani Israil asal Nazareth yang disebut-sebut dalam Inijil itu? Kitab BuKhan yang disebut Kitab Hatiis yang palinig sahth sesudah Kitab Suci Alquran, alih-alih menyebut hal itu
malah menulis – ImaMiru dan antara kamu sertamemberi kesaksian tentang wafalnya Isa almasih.
Wahai, pemilik sepasang mata, perhatikanlah! Wahai, orang-orang yang mencinitai keadilan, pikir dan jawablah pertanyaan ini: adakah pada salali satu tempat di dalam Alquranul Karim tercantum pula bahwa pada suatu saat Tuhan akan mengutus seseorang yang akan bertugas mematahmatahkan semua kayu salib dan akan membunuh pana Ziininii (yakni, orangorang yang bukan-Islam sebagai rakyat negeri Islam, peny.), akan menerapkan hukum baru, membunuh babi-babi, dan membatalkan beberapa hukum Alquranul Karim? Dalam pada itu, adakah dalam Alqunan disebut bahwa ia akan memansukhkan (membatalkan) ayat-ayat yang berbunyi:
‘Hari ini telah kusempurnakan agamamu bagimu” (5:4)
dan:
“Higga nereka membayar upeti den gan menanggapnya sebagai anugerah” (9:29)
dan akan menggantikan wahyu Alquran dengan wahyu baru?
Wahai, orang-orang! Wahai, orang-orang yang disebut generasi muslim! Janganlah menjadi musuh Alquran dan janganlah pula memberlakukan silsilah wahyu baru sesudah Khataman Nabiyyini. Tunjukkanlah rasa malu kepada Tuhan yang di hatiapan-Nya kamu sekalian akan hatiir.
Bilakhir, aku hendak memberi tahu kepada para pemerhati bahwa segala hal yang telah difatwakan kafir oleh Hazrat Maulwi Husseini Sahib beserta jemaatnya yang telah menamai aku katir dan dajal serta melontarkan cacian kepadaku Demikian rupa sehinigga seorang yang sopan pun tidak akan senang melontarkan cacian yang Demikian terhadap orang yang bukan kaumnya sendiri dan ia membuat pernyataan seakan-akan segala hal itu terkandung di dalam kitab-kitabku, “Tauzih. Maram” dan “Izalah Auham”. Jika Allah Yang Mahakuasa menghendaki, pada waktu yang dekat ini aku akan memperlihatkan semua keberatan itu kepada orang-orang yang mericinitai keadilan di dalam sebuah rIsalah yang permanen – adakah Benar aku ini menentang akidah Islam ataukah matanya sendiri sudah teralinig tutupan dan hatiniya termeterai sehinigga kendati mengaku seperti sebuah jembatan yang sekonyong-konyong patah dan air bah mengepung dan segala penjuru mata angini, mereka ini menghalangi-halangi orangorang dan meneruskan perjalanan.
Inigatlah, pada akhimya, orang-orang itu dengan malu sekali akan menutup mulut mereka sendiri dan dengan perasaan yang sangat menyesal serta amat nista akan menurunkan suhu-semangat pengafirannya hinigga akan menjadi dirigini – tak ubahnya seperti air dItuangkan ke atas api yang sedang berkobar-kobar. Akan tetapi, seluruh kemampuan, kecerdasan, dan kebijakan manusia terletak di dalam tinidakan ini; yakni, sebelum memberi pengertian kepada orang laini ia sendiri harus lebih mengerti dan sebelum menunjukkan kepada orang laini hendaklah ia lebih dahulu menemukan apa yang akan ditunjukkannya. Akan datang saat ketika mereka akan bertobat sesudah mereka mengafirkan dan mencaci-maki orang laini. Sesudah berburuk sangka dan berprasangka buruk kemudian akan timbul sangka baik. Namun, bagaimanakah keadaan yang baik itu dapat dibandinigkan dengan keadaan buruk ini.
Maka, wahai kaum yang tercinita. yang menganggap waktu sebagai satu anugerah! Pendapatmu tidak Benar bahwa di awal abad ini Tuhan Langit dan Bumi tidak mengutus seorang mujadid dan hatiirat-Nya selaini mengirim kafir dan dajal supaya di atas permukaan bumi ini kekacauan merajalela.
Wahai, kaumku! Hargailah nubuatan Nabi Besar Muhammati satu. dan kecutlah kepada Allah Taala. Janganlah menampik nikmat!
Jika engkau orang bijak
Jangan engkau malas
Jika engkau berhati
Pergunakanlah hari-hari ini
Jangan-jangan engkau
Tidak akan menjumpai hari-hari semacam ini
Selamat-sejahtera siapa yang mengikuti Petunjuk!
CATATAN:
Pada hati tanggal 27 Desember 1891 selepas sembahyang zuhur, bertempat di mesjid raya Qadian, naskah nIsalah ini dibacakan oleh Maulwi Abdul Karim Sahib Sialkoti di hatiapan khalayak ramai. Seusainiya, usul dikemukakan kepada para hatiiriini, siapa kira-kira yang akan ditetapkan sebagai anggota Panitia dan bagaimana Panitia mulai melaksanakan tugasnya. Para hatiiriini (yang namanya tertera di bawah ini dan datang hanyauntuk mempertimbangkan serta memusyawarahkan ihwal saran-saran yang telah dikemukakan di atas) menetapkani bahwa rIsalah termaksud ini hendaknya disebarluaskan. Pihak lawan, sesudah memakluininiya dan atas kesepakatan kedua belah pthak, menetapkan anggota-anggota dan mulai meninidakianjuti. Tuan-tuan yang hatiir di dalam pertemuan tersebut, namanya tercantum di bawah ini:
Munshi Muhammati Arura Sahib, Mahkamah Magistrate, Kapurthala
Munshi Muhammati Abdur Rahman Sahib, Mahkamah Jarnaili, Kapurthala
Munshi Muhammati Habibur Rabman Sahib, Rais, Kapurthala
Munshi Zafar Ahmati Sahib, Kapurthala, pegawai Kantor Pengadilan
Munshi Muhammati Khan Sahib, Kapurthala, pegawai Kantor Pengadilan
Munshi Sardar Khan Sahib, Kapurthala, pegawai Kantor Pengadilan
Munshi Imdad Ini Sahib, Kapurthala, pegawai Jawaan Pengajaran
Maulwi Muhammati Husseini, Kapurthala
Hafiz Muhammati Ini Sahib, Kapurthala
Mirza Kuhda Bakhs Sahib, malerkotla, guru privat keluarga Hazrat
Muhammati Ini Sahib
Deputy Haji Sayyid Fatah Ali Shah Sahib, pegawi tiniggi urusan. kanal
Haji Khwaja Muhammati Diri Sahib, Rais, Lahore
Mian Muhammati Chattu Sahib, Rais, Lahore
Khalifah Rajab-ud-Diri Sahib, Rais, Lahore
Munshi Syamsuddiri Sahib, Lahore
Munshi Raj-ud-Diri Sahib, Akuntan,Kantor Pemeriksa Keuangan, Lahore
Munshi Nabi Baksh Sahib, pegawai “
Hafiz Fazi Ahmati Sahib, ““
Maulwi Rahimullah Sahib, “““
Maulwi Ghulam Hussaini Sahib, Imam Mesjid Gumti Bazar, Lahore
Munshi Abdur Rahman Sahib, Mesjid ChMian, Lahore
Munshi Karam ilahi Sahib, Lahore
Sayyid Nasir Shah Sahib Fasih, sub-inisiniyur
Hafiz Muhammati Akbar Sahib, Lahore
MaulwiGhulam Qadir Fasih, pemilik dan penelia pers Punjab
Punjab Press & Municipal Coininiissioner, Sialkot
Maulwi Abdul Karim Sahib, Sialkot
Mir Hainid Shah Sahib, pegawai tiniggi, Siakot
Mir Mahmud Shah Sahib, ahui pengutip naskah
Munshi Muhammati Diri, pegawai pajak, Salkot
Hakim Fazli-ud-Diri Sahib, Rais, Behra
Munshi Ahmatiullah Sahib, karyawan kantor, JaMiru
Sayyid Muhammati Shah Sahib, Rais, JaMiru
Inistri Umar-ud-Diri, JaMiru
Maulwi Nur-ud-Danini Sahib, Tabib Khusus Kesultanan JaMiru
Khalifah Nuruddiri Sahib, JaMiru
Qazi Muhammati Akbar Khan, JaMiru
Syeikh Muhammati Jan Sahib, Nazir Abad
Mualwi Abdul Qadir Sahib, guru sekolah, Jamalpur
Syeikh Rahmatullah Sahib, Municipal Coininiissioner, Gujrat
Syeikh Abdur Rahman Sahib, B.A., Gurat
Munshi Ghulam Akbar Sahib, karyawan kantor, Lahore
Munshi Dost Muhammati Sahib, polisi, JaMiru
Mufti Faziul Rahman Sahib, Rais, JaMiru
Munshi Ghulam Muhammati Sahib, Lahore
Sam Syer Shah Sahib, JaMiru
Sahibzada Iftikhar Ahmati Sahib, Ludhiana
Qazi Khawaja Au Sahib, pemborong, Ludhiana
Hafiz Nur Ahmati Sahib, pemilik pabrik, Ludhiana
Shahzada Haji Abdul Majid Sahib, Ludhiana
Haji Abdur Rahmati Sahib, Ludhiana
Syeikh Shahab-ud-Diri, Ludhiana
Maulwi Mahkam,ud-Diri Sahib, Amritsar
Syeikh Nur Ahmati, pengusaha percetakan Riaz Hinid, Amritsar
Munshi Ghulam Muhammati Sahib, Amritsar
Mian Jamal-ud-Diri Sahib, Sekhwan
Mian Imamuddiri Sahib, Sekhwan
Mian Khairuddiri Sahib, Sekhwan
Mian Muhammati Isa Sahib, guru sekolah, Nosyerah
Mian Charagh Au Sahib, Theh Ghulam Nabi
Syeikh Sahabuddiri Sahib, Sohal
Mian Abdullah Sahib, Sohal
Hafiz Abdur Rahman Sahib, Sohian
Doroghah Ni’mat Au Sahib Hasyini, Batala
Hafiz Hainid AlIsahib, karyawan Mirza Sahib
Hafiz Jan Muhammati Sahib, imam mesjid, Qadian
Babu Au Muhammati Sahib, Rais, Batala
Mirza Ismail Beg Sahib, Qadian
Mian Badhe Khan, kepala desa, Beri
Mirza Muhammati Au Sahib, Rais, Patti
Syeikh Muhammati Umar Sahib, putera Haji Ghulam Muhammati Sahib, Batala
UNDANGAN UNTUK MENYAKSIKAN TANDA-TANDA SAMAWI KEPADA DR. JAGAR NATH, KARYAWAN PEMERINITAH DAERAH JAMIRU
Sahabatku yang mukhlis dan sejawat di jalan Allah, Maulwi Hakim Nuruddiri Sahib, yang fana mencari keridhaan Allah, karyawan dan tabib Pemerinitah Daerah JaMiru, telah mengirim surat kepada hamba ini tanggai 4 Januari 1892 yang kata-katanya antara laini berbunyi sebagai berikut: Hamba yang hinia-diria Nuruddiri men ghatiap Yang Mu/ia Hazrat Masih-uz-Zaman, Sallama-hur Rahman,
Assalamu a1aikum wa Rahmatullahi wa Barakatuhu!
Dengan penuh rasa takzim hamba bermaksud menyampaikan kata-kata dengan perantaraan warkah ini. Sesudah itu, di JaMiru ini telah berhembus berita aneh laksana taufan melanda dengan hebatnya dan men genai itu hamba anggap pada tempatnyalah menulis den gan terinici.
Di dalam rIsalah “Izalah Auham” Huzur telah menu/is mengenai Dr. Jagar Nath bahwa dia telah men gelakkan diri. Kini Tuan Dokier itu telah men garakan kepada sejumlah banyak orang yang men getahui masalah ini bahwa ia dengan tegas tidak sekali-kali melarikan diri dan tidak pu/a menginiginikan suatu Tanda istimewa. la tidak menghendaki orang mati dihidupkan dan tidak pu/a men ghendaki pohon yang sudah kerinig-mersik dihijaukan kembali. Yakni, tidak menginiginikan suatu Tanda istimewa yang berada di dalam Jan gkauan kekuatan manusia.
Kini, hendaklah menjadi jelas kepada para pemerhati bahwa mulamula Tuan Dokter itu, di dalam suratnya meminita Tanda-tanda istimewa seperti menghidupkan orang mati dan sebagainiya. Aku telah menulis kepada beliau sebagai jawaban atas suratnya itu bahwa meminita Tanda istimewa itu tidak dibenarkan. Allah Taala menzahirkan Tanda hanyabila sesuai dengan iradah-Nya dan kebijakan-kebijakan-Nya. Dan, apabila yang disebut Tanda itu memang berada di luar jangkauan kekuatan manusia, maka apa perlunya meminita yang istimewa. Untuk menguji keabsahari suatu Tanda, cara ini pun sudah cukup karena kemampuan-kemampuan manusia tidak dapat menandiriginiya. Tuan Dokter itu tidak memberi tanggapan atas surat itu.
Sekarang, lagi-lagi Tuan Dokter itu menyatakan keiniginian untuk menyaksikan Tanda dan memohon dengan sangat supaya menghilangkan kendalanya yang pertama dan hanyamenginiginikan Tanda – berupa apa saja – tetapi hendaknya tampak di atas kemampuan manusia. Sebab itu, pada hari i, hari Sabtu tanggal 11 Januari 1892, sepucuk surat lagi dilayangkan ke alamat Tuan Dokter tersebut dengan pos tercatat sebagai seruan kepada kebenarari yang isiniya ialah apabila beliau, setelah menyaksikan suatu Tanda, tanpa menentukan suatu syarat, dengan hati yang jujur bersedia masuk Islam. Kemudian hendakiah menyiarkan di dalam surat-surat kabar yang tersebut pada catatan-kaki di bawah ini*) pcrnyataan dengan sumpah sebagai berikut:
*) “Punjab Gazette”, Sialkot; “RIsalah Anjuman Nimayat Islam,” Lahore; “Akhbar Am”, Lahore; dan “Nur Afsyan”, Ludhiana.
Saya anak si Anu, penduduk kota Anu, negara-bagian JaMiru, dengan jabatan sebagai dokter. Pada waktu ini saya menyatakan sumpah dengan hati yang sama sekali penuh dengan niat yang suci, mencari kebenaran, dan setulus-tulusnya, seandainiya saya menyaksikan suatu – Tanda yang mendukung kebenaran Islam dan tandirigannya tidak dapat saya tunjukkan dan tidak dapat saya pcrlihatkan contohnya dalam linigkup kemampuan manusia, maka tanpa menunda-nunda lagi saya akan masuk Islam.
Publikasi dan ikrar itu pentinig, karena Tuhan Yang Mahategak untuk selama-lamanya lagi Mahasuci tidak menghendaki pengunjukan Tanda sebagai olahraga dan permainian belaka. Selama seorang manusia tidak dengan sepenuhnya merendahkan diri dan tidak dengan tujuan meraih petunjuk untuk bertobat kepada-Nya, selama itu Dia tidak akan membeni perhatan kepadanya dengan pandangan kasih-sayang. Dengan publikasi itu dibuktikan keikhlasan dan niatnya yang bulat. Dan, karena hamba ini, atas pembenitaan dan Allah Taala, menjanjikan waktu satu tahun untuk menzahirkan Tanda-tanda itu maka jangka waktu itu akan berlaku bagi Tuan Dokter itu. Bagi pencari kebenaran, jangka waktu itu tidaklah tenlalu lama. Seanclainiya aku tidak berhasil, maka hukuman dan denda yang setimpal dengan kadar kemampuanku seperti dIsarankan oleh Tuan Dokter untukku, aku akan menyetujuiniya. Demi Allah, dalam keadaan sebagai orang yang kalah aku sedikit pun tidak akan mencari-cari alasan untuk menerima hukuman mati sekalipun.
Lebih elok kukorbankan jiwaku di jalan-Nya
Dunia takkan rugi andai aku tidak berada
Wassalam! Selamat-sejahteralah siapa yang mengikuti petunjuk.
Yang mengumumkan dan menyiarkan selebaran,
MIRZA GHULAM AHMATI QADIANI
11 Januari 1892
CATATAN PENULIS:
Akan kukutip beberapa kalimat dan surat Hazrat Maulwi Sahib (Maulana Hakim Nuruddiri Sahib, peny.). Hendaklah kalimat-kalimat itu . ,, dibaca supaya dimakluini betapa dan sampai batas mana karunia Allah telah terlimpah atas diri beliau sehinigga beliau membuktikan kelapangan dada, semangat juang, dan keyakinian yang sempurna. Kalimat-kalimat itu sebagai berikut:
Yang Mulia Mirza Sahib,
Sudilah Huzur memberi tempat kepada hamba di telapak kaki Huzur. Yang hamba iniginikan adalah keridhaan Allah dan bersedia melakukan apa saja untuk menarik keridhaan-Nya. Andaikata tugas Huzur men ghendaki pen galiran darah manusia, maka hamba yang tak layak (namun hatiniya sarat dengan kecinitaan) ini men ghendaki agar dapat berguna dalam pekerjaan ini.
Sekian bunyi kalimat tersebut. Semoga Allah melimpahkan pahala yang baik kepada beliau.
Hazrat Maulwi Sahib,. seorang yang tenggelam dalam kefanaan di jalan Allah dengan merendahkan diri, berlaku sopan-santun, mengorbankan harta dan kehormatan. Bukan beliau sendirii yang mengungkapkan perkataan itu melainikan roh beliaulah yang berbicara. Sesungguhnya, kita baru dapat disebut hamba Allah yang sejati kalau kita dapat atau bersedia mengembalikan kepada-Nya nikmat-nikmat apa saja yang telah dianugerahkan oleh-Nya kepada kita. Jiwa kita merupakan barang amanatNya dan Dia berfirman:
Sesungguhnya Allah memerinitahkan kepada kamu sekalian supaya menyerahkan amanat kepada ahliniya.
Kepala yang tidak mengikuti jalan yang ditapaki sang kekasih
Sangat berat untuk ditarik dengan tangan
BAHARI RENUNGAN BAGI MEREKA
YANG MENCINITAI KEADILAN
Benar kalau dikatakan bahwa manakala mata-hati talc berfurigsi maka mata-jasmani pun, bahkan seluruh pancainidera, akan menjadi tidak berfungsi. Dalam lceadaan Demikian, walaupun manusia melihat ia tidak meithat. Ta mendengar tapi tidak mendengar. Ta mengerti tetapi tidak mengerti. Kebenaran tidak dapat bermukim di lidahnya. Tengoklah yang tercinita Tuan Maulwi kIta yang disebut orang bijak itu. Disebabkan olch purbasangkanya, beliau telah terbenam dalam kedunguan. Pada akhimya, beliau datang seperti orang-orang yang menjadi musuh agama mulai mereka-reka kedustaan.
Seseorang menulis mengenai hamba ini bahwa kepadaku dikabarkan melalui itham berkenaan dengan seorang anakku bahwa ia akan menjadi seorang pribadi yang cemerlang, padahal ia hanyahidup untuk beberapa bulan dan akhimya mati. Aku heran, pada waktu para kiayi yang selalu tergesa-gesa dalam bertinidak itu mengatakan hal-hal serupa itu tidak inigat akan ayat suci yang berbunyl:
“Laknat Allah atas orang-orang yang berdusta (A1-Imran: 62). Dan, mengapa mereka sekonyong-konyong rnemamerkan penyakit lepra-batininya dan menunjukkan sikap tidak bersahabat terhadap Islam? Seandainiya ada rasa malu barang sedikit, buktikanlah sekarang, di dalam ilhamku yang mana ditulis bahwa anak yang wafat ini sesungguhnya “Putra Yang Dijanjikan”.*) Dalam ilbam hanyadikabarkan, secara rinigkas, bahwa akan lahir putra serupa itu. Sedangkan di dalam itham tersebut tidak ditetapkan siapa penggenap ilham tersebut. Bahkan di dalam surat selebaran pada bulan Pebruari 1886 dicantumkan kabar gaib juga bahwa beberapa anak akan wafat dalam usianya yang masth dini. Lalu, dengan meniniggalnya anak ini, adakah satu kabar gaib sudah genap ataukah suatu kabar gaib sudah terbukti dusta?
Kini, taruhlah, andaikata pun atas dasar ijtihati (tafsiran) sendiri, Kami mengagak-agak tentang salali satu anak Kami bahwa anak inilah barangkali Putra Yang Dijanjikan itu, lalu ternyata ijtihati Kami itu salah, maka dalam hal ini apa salab itham tersebut? Adakah di dalam ijtihati para nabi tidak ada contohnya? *)
Andaikata Kami telah menulis di dalam salah sam kitab Kami suatu itham yang qati (tegas) berkenaan dengan anak yang wafat itu, silahkan Anda kemukakan. Berkata dusta sainia saja dengan makan barang najis. Anehnya ialah, mengapa orang-orang ini sudah menjadi gemar akan makan barang yang najis? Hinigga sekarang sudah terdapat ratusan ilhàm. menjadi kenyataan dan sudah termasyhur, namun para kiayi ini tidak pernah menyebut sebuah pun, Demi rasa simpati terhadap Islam.
Telah kuperdengarkan lebth dahulu kabar di hatiapan ratusan orang ihwal kegagalan maksud Dalip Sinigh mengadakan peja1anan keliuinig di Hinidustan dan Punjab. Aku telah mengatakan lebih dahulu kepada beberapa orang Hinidu berita kematian Pandit Diyanand selang beberapa bulan sebelum terjadi kematiannya. Adapun mengenai anak ini, Basyiruddini Mahmud, yang lahir sesudah anak yang pertama telah kuberitahukan sebelumnya di dalam sebuah selebaran. Aku pun telah memberi kabar lebih dahulu kepada orang-orang ihwal Sardar Muhammati Hayat Khan bahwa ia akan dialctifkan kembali dan akan menempati jabatan semula sesudah ia dipecat dan jabatannya. Datangnya musibah atas Syeikh Mehr All Sahib, Rais (Kepala Marga) di Hoshiarpur sudah kubenitakan sebelum waktunya dan bahkan telah dimasyhurkan di kalangan ratusan orang. Demikian pula sejumlah ratusan Tanda telah zahir dan yang menyaksikannya masth ada. Adakah para kiayi pakar agama itu pernah menyebut-nyebut ihwal Tanda
*) Hazrat Mirza Ghulam Ahmati as. mengurnumkãn dalam suraLkabar Riaz Hinid, 4mri1sar tanggal I Maret 1886 kabar suka dan Alah mengenai akan lahimya seorang putra yang luar biasa cemerlangnya. Pura Yang Dijanjikan termaksud bemarna Basyiruddini Mahmud Ahrnad, lahir ranggal 12 Januari 1889 dan kemudian hari menjadi penerus beliau, menyandang sebutan Mushlih Mau’ud dan Khalifatul Masib IL Di bawah pimpinian Putra inilah Jemaat Ahnsadiyah ternyata mengalami kesnajuan yang luar biasa pesatnya. Adapun mengenai puma yang wafat ini diisyaratkan dalam wahyu laininya secara tersendiri. (Catatan dan penyalini)
*) Umpamanya ijtihati Rasuluilah satu. ternLang Surah Al-Faith: 28 (Baca Pengantar Untuk Mempelajari Alquran’, hIm. 293-293). (Catatan dan penyalini)
tanda itu? Siapakah yang harus membuka hati orang yang hatiniya telah dimeterai oleh Allah Taala? Saat ini pun orang-orang ini harus mencamkan dalam pikiran bahwa Islam sedikit pun tidak akan cedera oleh sikap mereka yang tidak beahabat itu! Mereka akan mati dengan sendiniya bagaikan seekor cacinig. Cahaya Islam dan hari ke hari akan semakini cemerlang. Allah menghendaki semburat cahaya Islam akan menyebar ke seantero dunia. Keberkatan-keberkatan Islam tidak akan terhenti karena omorigan kosong para kiyai yang bermental lalat itu. Allah Taala, dengan kata-kata yang jelas, berkata kepadaku,
“Aku Pemenang, Aku akan memberi kemenangan kepada Engkau. Engkau akan melihat ban wan yang ajaib dan orang-orang yang inigkar, yakni, sebagian orang yang nasib mereka ditakdirkan memperoleh petunjuk, akan merebahkan dini di tempat-tempat persujudan mereka seraya mengatakan, Ya Tuhan Kami, ampunilah -dosa-dosa Kami. Kami sudah berbuat keliru,’ Yang akan zahir adalah busana-busana kebenaran. Maka tempuhlah jalan kegigihari sebagaimana diperinitahkan kepada engkau. Mukjizar-mukjizat akan zahir pada saat bila Ian gkah kebenaran telah mencapai puncaknya. Oleh karena itu, jadilah engkau seu:uhnya kepunyaan Allah dan jadilah engkau segenapnya bersama-sama Allah. Mudah-mudahari Tuhan akan men gangkat enkau ke martabat yang di dalamnya engkau akan dIsanjung.”
Dan di dalam sebuah ilham, dengan kata-kata yang berulang dan sedikit-banyak beragam, Dia berfirman,
,, Akan Kuanugerahkan kehormatan kepada engkau dan akan Kuberkati tapak-tapak petilasan engkau sehinigga raja-raja akan mencari keberkatan dan pakaian engkau.”
Sekararig, wahai, para Maulwi! Wahai, orang-orang yang menyandang sifat bakhil! Andaikan kalian mempunyai kekuatan, cobalah urungkan nubuatan-nubuatan Allah ini! Pergunakanlah segala macam tipu daya! Jangan menyia-nyiakan tipu-daya itu biarsegelinitir pun. Kemudian, saksikanlah, adakah tangan Allah ataukah tangan kalian yang berjaya pada akhimya?
Semoga selamat-sejahtera siapa yang mengikuti petunjuk!
.. Yang memberi perinigatan dan nasihat,
MIRZA GHULAM AHMATI
MIR ABAS ‘ALT SAHIB LUDHIANA
Bila ‘kau mendengar ucapan para rohariiwan
Jangan mengatakan ucapannya tidak benar
Wahai, pujaanku, ‘kau talc dapat men gkaji ucapan
Itulah initi kesalahanmu!
(Sebentuk syair dalam bahasa Parsi)
Mir Sahib ini seorang pribadi yang mengenainiya telah kutulis di dalam kitabku “Izalah Auham” pada halaman 790; ia termasuk di dalam jemaat orang-orang yang telah baiat kepadaku. Sayang, ia sudah tergelinicir karena ulah beberapa orang yang menimbulkan waswas, bahkan juga telah masuk ke dalam barIsan lawan. Sementara orang akan tercenung karena mengenainiya memang telah diilhamkan sebagai berikut:
Jawabnya ialah, arti ilham tersebut hanyasekedar Demikian: Akarnya menancap den gan kokoh dan dahari-dahariniya menjangkau lan gil (14:25).
Dalam hal ini tidak ada penjelasan berdasar pada asal (akar) fitratnya- atas hal apa Ia menancapkan dini dengan kokohnya. Tidak syak lagi, hal ini patut diterima bahwa di dalam diri manusia ada suatu sifat yang baik tertanam di dalam fitratnya dan di atas fitrat itu ia selamanya berdiri kokoh dan fitrat itu abadi. Dan, apabila seorang kafir beralih dan keadaan kafir ke Islam, ia pun membawa fitratnya yang baik tadi. Begitu pula, kemudian ia beralih dan Islam kepada kekafiran, sifat balk itu dibawanya juga. Sebab, di dalam fitrat Allah dan makhluk Allah tidak ada pergantian dan peruhahari.
Perseorangan-perseorangan umat manusia adalah bagaikan beragam-ragam tambang galian. Ada tambang mas; ada tambang perak; ada tainibang kuninigan.
Jadi, kalau di dalam ilham tersebut di atas disebut-sebut suatu sifat yang baik di dalam fitrat Mir Sahib yang tidak berubah, maka bukanlah suatu hal yang mengherankan dan tidak pula berubah, maka bukanlah suatu hal yang mengherankan dan tidak pula ada hal yang harus diperdebatkan. Tidak syak lagI, ini merupakan masalah yang kita sepakati bersama. Jangankan dikata lagi pada diri orang-orang Islam, sedangkan pada diri orang-orang kafir pun terdapat sifat-sifat baik dan memiliki akhlak dalam fitrat mereka. Allah Taala tidak menciptakan benda apapun di dalam kegelapan dan kekelaman yang mutlak. Ya, benar pula kalau dikatakan bahwa ada fit.rat balk yang talc terbimbinig pada jalan yang lums (Shiratal Mustaqiim) — dengan perkataan laini jalan lums itu Islam namanya – fitrat itu tidak dapat dijadikan sarana untuk memperoleh nijat (keselamatan) di alam ukhrawi. Adapun sebabnya ialah, nilai balk yang menempati perinigkat tertiniggi adalah: Iman, Kearifan akan Tuhan, menempuh jalan yang lurus, dan kecinitaan kepada Tuhan. Apabila nilai-nilai tersebut tidak ada maka nilai-nilai laininya menjadi talc bermakna.
Selaini itu, itham tersebut di atas telah turun pada zaman ketika Mir Sahib masih berada dalam keadaan mapan. Didapati padanya daya kekuatan yang hebat, dan di dalam hatiniya bermukim perasaan juga bahwa ia akan tetap berada dalam keadaan teguh. Oleh karena itu, Allah Taala membeni kabar ihwal keadaannya pada waktu itu. Hal ini telah dimaklumi secara luas dalam wahyu ajaran-ajaran Allah. Dia membeni kabar menurut keadaannya pada waktu itu. Seseorang berada dalam kafir diniamakan orang kafir. Dan, yang berada dalam keadaan mukmini dan tsabit qadam (mantap), ia disebut mukmini, mukhlis, dan Isabit qadam. Di dalam Firman Allah (Alqunan, peny.) terdapat banyak contoh. Dan, dalam hal ini tiada syak lagi bahwa pribadi Mir Sahib, selama sepuluh tahun masth tergolong di antara orangorang yang bensahabat dengan hamba ini secara tulus, cinita, dan mantap. Dan disebabkan oleh semangat ketulusannya itu maka bukan hanyabeliau pribadi yang baiat, bahkan kanib-kerabatnya, rekan-rekannya, sahabat-sahabatnya, dan initra-initra laininya juga ikut masuk ke pangkuan jemaat ini. Selama jangka waktu sepuluh tahun itu ada Demikian banyak surat yang dikirim oleh beliau sarat dengan nuansa keikhlasan serta kemauan-kemauan yang balk. Pada waktu ini aku tak dapat mengatakan berapa kira-kira jumlahnya secara tepat. Akan tetapi, ada barangkali mendekati dua ratus pucuk surat yang di dalamnya beliau menggambarkan keadaan hati beliau yang tulus dan kemauan-kemauan baik beliau dengan cara dan sikap merendahkan dini. Bahkan di dalam beberapa surat beliau menyebutkan beberapa mimpi yang di dalamnya diniyatakan bahwa hamba ini benar dan Allah dan lawan-lawan hamba ini keliru. Seam itu pula, benlandaskan padamimpi-mimpi itu, keikutsertaannya dalam jemaat ini tampaknya akan kekal sehinigga, seolah-olah, dL dunia dan di alam kemudian beliau akan tetap bersama Kami. Demikian pula acapkali beliau memasyhurkan mimpi-mimpiniya di tengah-tengah khalayak rarnai dan juga memberitahukan mimpi-mimpiniya kepada murid-muridnya serta pengikut-pengikutnya yang setia.
Sekarang, jelas tampak bahwa orang yang telah menzahirkan ketulusan hatiniya dengan Demikian bergeloranya, jika ilham Allah Taala turun sesuai dengan keadaan orang yang Demikian pada waktu itu – yang tegar, teguh, dan tidak goyah, maka ilharn tersebut tidak akan dapat kita katakan bertentangan dengan kenyataan. Banyak ilham yang mencerininikan keadaan yang hatiir sekarang, tanpa sekelumit pun ada kaitan dengan perkara-perkara yang bakal datang.
Selaini itu, selama manusia hidup, tidak ada kepastian mengenai kesudahari hidupnya yang buruk. Sebab, hati manusia berada di dalam genggaman Allah Yang Mahakuasa. Mir Sahib adalah Mir Sahib! Apabila Tuhan menghendaki, orang yang hatiniya sekeras batu dan termeterai sekalipun, dalam sekejap mata dapat menatap ke arah kebenaran.
Pendek kata, ilham ini membuktikan kenyataan yang ada sekarang. Tidak secara pasti hal itu menjadi dalil mengenai akibat akhir. Banyak orang yang meniniggalkan orang suci lalu akhirnya mereka menjadi musuh sengit orang suci tersebut. Akan tetapi, kemudian ketika mereka menyaksikan maraknya pesona kodrat, mereka menjadi malu dan menangis tersedu-sedu. Mereka mengakui dosa mereka lalu mereka bertobat. Hati manusia berada di dalam genggaman Tuhan dan ujian-ujian dan Wujud Yang Mahabijak itu senantiasa menyentai manusia.
Jadi, akan halnya Mir Sahib ini, oleh sebab suatu kementahariniya dan suatu kekurangannya yang tersembunyi, ia sudah jatuh dalam ujian. Kemudian, sebagai dampak dan ujian itu – iradah yang semula menggebugebu itu menimbulkan dalam dininiya sembelit (susah buang hajat) dan dan sembelit timbul kekerinigan dan keterasinigan. Dan keterasinigan menjadi rawan sopan-santun, dan dan rawan sopan-santun lalu hatiniya termeterai, dan dan hatiniya termeterai ia secara terang-terangan hersikap tidak bersahabat. Kemudian timbul maksud merendahkan, meremehkan, dan menghiniakan. Keadaan yang Demikian ini haruslah diwaspadai! Adakah orang menduga atau menyangka bahwa Mir Abbas Au akan mengalarni keadaan yang Demikian? Apa yang dikehendaki oleh Tuhan, itulah yang diperbuat-Nya.
Sahabat-sahabatku, hendaklah mendoa untuknya dengan rasa kasih supaya saudara kita yang lemah lagi alpa ini tidak diiniskinikan daH Rahmat Tuhan. Dan, inisya Allah, aku pun akan berdoa. Aku sedianya inigini mengutip beberapa suratnya, sebagai contoh, dan menyertakannya di dalam rIsalah ini guna menampakkan kepada khalayak ramai, sampai ambang batas mana derajat yang semula telah dicapai oleh Mir Àbas Au dalam keikhlasan dan bagaimana beliau selalu menzahirkan mimpi-mimpiniya, dan bagaimana beliau menulis surat dengan kata-kata yang merendahkan dini serta dengan kata-kata yang penuh rasa takzim. Namun, alangkah sayangnya, di dalam rIsalah yang sekecil ini tidak ada tempat teduang untuk itu. Jika Allah Yang Mahakuasa menghendaki, pada suatu saat kelak, bila perlu, akan kuperlihatkan juga.
Demikian ini merupakan suatu contoh mengenai perubahariperubahari yang bisa terjadi di dalam dini seorang inisan. Orang yang tadiniya selalu, dan setiap saat, meiniara hatiniya supaya jadi tempat siniggah iradah-iniadah yang tulus lagi agung dan hebat – sebagaimana tertuang di dalam surat-suratnya yang dilayangkan kepadaku, beliau sempat menyebut hamba ini Khahfatullah fit Ardh (Khalifah Allah di atas muka bumi ini, peny.) – hari ini bagaimana keadannya?
Walhasil, kecutlah kepada Tuhan! Berdoalah selalu agar Dia menegakkan di atas hati kalian kebenaran, berkat kanunia-Nya semata-mata, dan semoga Dia menyelamatkanmu dari bahaya tergelinicir. Janganlah mengandalkan dini pada istikamahmu (keiniginianmu) belaka. lhwal istikamah ini, adakah orang yang lebih unggul dan Hazrat Umar Faruk r.a. yang pada suatu ketika dihatiapkan kepada suatu ujian? Seandainiya tidak ada raihari tangan Tuhan membantu beliau, Tuhan Mahatahu entah bagaimana keadaannya pada waktu itu.
Sekalipun aku sangat bersedih hati atas ketergeliniciran Mir Abas Au Sahib, namun kemudian ketika aku menyadari bahwa aku datang atas purwarupa (menurut contoh Asli) Hazrat (Isa)Almasth a.s., maka perlu pula sebagian orang yang mengaku setia kepadaku menampakkan contoh sebagian murid Hazrat Almasih. Adalah jelas bahwa beberapa sahabat yang sangat akrab dengan Hazrat Almasih a.s. dan berkenaan dengan keikhlasan mereka wahyu pun diturunkan kepada beliau a.s., pada akhimya mereka telah meniniggalkan beliau.
Yudas Iskariot, betapa tadiniya ia seorang sahabat Hazrat Almasih a.s. yang acap bersantap dan satu pirinig (dengan beliau a.s.) dan membanggakan kasih-sayang yang mendalam terhadap beliau. Juga ia dibeni kabar gembira ihwal takhta kerajaan surga yang kedua belas. Dan, tentang Peterus, betapa tadiniya ia seorang yang saleh dan akan hal pribadiniya dikatakan oleh Hazrat Isa a.s. bahwa kunci surga ada di tangannya. Ia dibeni hak-pihih untuk membuat orang masuk ke dalam taman surga atau tidak. Akan tetapi, apa yang telah diperbuatnya tampak kepada para pembaca Inijil. Ia berdiri di hatiapan Hazrat Almasih. Sambil menudinig kepada Hazrat Almasih, Nauzubillah, ia berkata dengan suara lantang, Aku melaknat orang ini!”
Akan tetapi, Mir Sahib belum sampai ke batas itu. Siapa yang mengetahui, apa yang bakal terjadi esok hari atas nasib Mir Sahib. Kendatipun beliau ditakdirkan akan tergelinicir dan diisyaratkan kepadanya juga dengan pemakaian kata-ganti perempuan (feininiinie gender) dalam perkataan .(Dipakai huruf (ha) dan bukan (hu), yang mengisyaratkan sifat kelemahari Mir Sahib, peny.). Namun, kewaswasan yang telah dihembus-hembus oleh Bataiwi Sahib telah menyeret lebih jauh keadaan Mir Sahib ke dalam kesesatan. Mir Sahib seorang yang bersahaja dan sedikit pun tidak memahaini pernik-pernik rahasia masalah keagamaan. Sedangkan Hazrat Bataiwi dan sebagainiya telah mengobarkan sentimen beliau dengan tuhIsan-tuhIsan mereka yang bersifat menghasut.
Aku telah mendengar bahwa Syeikh Bataiwi telah bersumpah berkenaan dengan para pengikut-setia hamba ini bahwa
(niscaya akan kusesatkan mereka itu semua) dan begitu macam terlajaknya atau berlebihariniya ia bertinidak sehinigga tidak mengecuahikan Syeikh Najdi juga dalam di dalam tulisannya itu sehinigga mengucilkan para salihini. Kendatipun sangat girang oleh adanya beberapa orang yang telah membelot (dan Jemaat, peny.), namun hendaldah beliau inigat bahwa seluruh kebun tidak mungkini bihasa karena sebuah rantinig telah menjadi keninig. Rantinig yang dikehendaki oleh-Nya menjadi keninig dipangkas-Nya lalu digantikan oleh-Nya dengan rantinig-rantinig yang sarat dengan bunga-bunga dan bebuahari. Hendaklah Bataiwi Sahib inigat bahwa apabila satu orang keluar dan Jemaat ini maka Allah Taala akan menggantiniya dengan puluhari orang dan hendaldah behiau merenungkan ayat ini:
Artiniya: –
“Maka segera Allah akan mendatangkan suatu kaum yang dicinitai oleh-Nya dan mereka pun akan mencinitai-Nya, rnereka akan bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mukmini dan bersikap keras terhadap orang-orang kajlr” (5.55).
Pada akhimya, akan Kami kemukakan kepada pana pemerhati bahwa Mir Abas Au Sahib pada tanggal 12 Desember 1891 telah menyiarkan pula surat seuebaran, sebagai tandinigan, tanpa menghiraukan sopan santun dan di dalamnya sarat dengan kata-kata yang merendahkan derajat. Kata-kata itu tidak berarti apa-apa bagi Kami. Ka1au hati jadi rusak maka, bensamaan dengan itu pun, lidah jadi rusak pula. Walaupun demikian, tiga hal di daham surat selebaran tersebut penlu mendapat tanggapan.
PERTAMA: Di dalam hati Mir Sahib melekat kesan yang bertentangan dengan kenyataan mengenai Perdebatan Delhi. OIeh karena itu, untuk menjauhkan kewaswasan itu surat selebaranku ini akan mematiai, andaikan saja Mir Sahib membacanya dengan seksama.
KEDUA: Di dalam hati Mir Sahib bercokol pengertian yang amat keliru, seakan-akan aku seorang penganut naturalisme – penginigkar mukjizat-mukiizat, penginigkar Lailatul Qadar – dan mengaku penyandang kenabian dan menghinia martabat para nabi alaihimus salam serta berpalinig dan akidah-akidah Islam. Sebab itu, guna menjauhkan purbasangkapurbasangka itu aku telah berjanji, di masa yang dekat aku akan menyiarkan sebuah rIsalah yang permanen berkenaan dengan itu. Apabila Mir Shib membaca nIsalah termaksud dengan perhatian – dengan syarat adanya taufik dan Zat Yang Azali – maka sangka-sangka buruknya yang tanpa dasar dan landasan itu akan sangat menyesalkan purbasangkapurbasangkan buruknya.
KETIGA: Mir Sahib menulis di dalam selebaran tersebut, sesudah mengemukakan kelebihari-kelebihariniya sendiri, seakan-akan beliau memiliki daya Rasul Numa’i, yakni, daya memperlihatkan wujud Rasul (Rasulullah satu.). Temyata, di dalam surat selebaran tersebut beliau menulis berkenaan dengan diriku bahwa di dalam hal ini aku tidak dapat menandinigi. Aku berkata, marilah kita duduk bersama-sama dalam sebuah mesjid lalu menziarahkan (mempertemukan) aku kepada Rasulullah satu. dan meminita pengukuhari penda’waan-penda’waan Anda, atau, aku menziarahkan dan meminita keputusan berkenaan dengan hal itu.
Tulisan Mir Sahib bukan saja membuatku heran, malahan membuat setiap orang yang mengetahui keadaan sebenarnya juga merasa sangat heran sehinigga apabila di dalam dini Mir Sahib memiliki kodrat dan kelebihari – kapan saja beliau inigini, beliau dapat bertatap muka dengan Rasulullah satu. dan bercakap-cakap dengan beliau, bahkan juga dapat memperlihatkan kepada orang laini, Kalau begitu, mengapa beliau baiat kepada hamba ini dan mengapa beliau hinigga jangka waktu sepuluh tahun Iamanya terus tiniggal di tengah-tengah sekumpulan orang yang memperlihaikan ketulusan. Yang mengherankan ialah, satu kali pun Rasulullah satu. tak pernah tampak di dalam mimpi beliau dan mengapa tidak dizahirkan kepada beliau kekeliniuan baiat beliau kepada “si pendusta”, “si j5embuat onar”, dan “si talc beragama” ini; dan mengapa tidak dizahirkan adanya beliau terjebak di dalam kesesatan?
Adakah orang yang berakal sehat dapat memahaini keadaan seseorang yang pernah meraih kemuliaan serta kewenangan pergi menghadap ke hatiapan Rasulullah, kapan saja ia dihatiapkan kepada persoalan, dan bentinidak sesuai dengan sabda dan nasihat beliau untuk menanggulangi persoalannya, Ia selama jangka waktu sepuluh tahun tanpa henti-hentiniya terpenangkap dalam cengkeraman seorang “pendusta”, seorang “penipu”, dan yang menjadi murid seorang “musuh Allah dan Rasul” serta merendahkan derajat Rasulullah, dan ia jatuh ke lapIsan bawah dunia?
Lebih-lebih mengherankan pula, beberapa sahabat Mir Sahib menceriterakan bahwa Mir Sahib menerangkan kepada mereka beberapa mimpiniya dan berkata bahwa beliau melihat Rasulullah dalam mimpi. Dan, berkenaan dengan hamba ini Rasulullah satu. (dalam mimpiniya itu) mengatakan bahwa hamba ini sungguh-sungguh Khalifatullah dan Mujadid. Mir Sahib pun menulis kepadaku surat yang isiniya bernada semacam itu dan di dalam surat itu diceriterakannya mimpi-mimpiniya itu dan membenarkan pengakuan-pengakuanku.
Sekarang, seorang yang berpegang teguh pada keadilan dapat mengerti, apabila Mir Sahib dapat melihat Rasulullah satu. dalam mimpi, maka apapun yang dilihat oleh beliau sebelumnya, itu biar bagaimana patut dipercaya. Dan, apabila mimpi-mimpiniya itu tidak layak dipercaya dan termasuk azghatsi ahiam (mimpi-mimpi yang tidak keruan), maka mimpi-mimpi serupa itu di masa akan datang pun dapat dianggap tidak layak dipercaya.
Para pemerhati dapat mengerti bahwa betapa kosongnya pengakuan memiliki kemampuan menzianahkan kepada Rasul itu. Dan keterangan hatiis shahih tampak bahwa mimpi melihat (bertemu dengan) Rasul itu baru dapat dibebaskan dan pengruh syaitan, kalau di dalam mimpi itu diperlihatkan Rasulullah satu. dengan ciri-cini khas beliau. Jika tidak, maka penampakan syaitan di dalam pakaian para nabi bukan saja boleh jadi, malahan termasuk dalam penistiwa-peristiwa yang acap terjadi. Dan, syaitan yang terkutuk memang sudah biasa memperlihatkan iinitasi Allah Taala dan penampakan arasy-Nya. Lalu, apa kesulitan syaitan untuk menampakkan dini dalam rupa seperti nabi-nabi?
Sekarang, jika demikian keadaannya, maka tarohlah jika seseorang diziarahkan (dipertemukan dalam mimpi) kepada Rasulullah satu., maka mengapa ia merasa puas bahwa ziarah itu benar-benar ziarah kepada Rasulullah. Sebab, orang-orang di masa kini tidak mengetahui dengan sebenar-benarnya tentang Huliyah Nabwi (ciri-ciri khas kenabian), sedangkan tentang Ghair Huliyah penampakan syaitan mereka jaizkan.
Waihasil, bagi orang-orang yang hidup di masa kini alamat yang hakiki mengenai ziarah yang sebenamya ialah, ziarah itu seyogyanya diirinigi oleh beberapa mukjizat dan ciri-cini khas yang karenanya mereka dapat meraih keyakinian bahwa rukya atau kasyaf itu berasal dan Allah Taala. Umpamanya, Rasulullah satu. memberitahukan beberapa kabar gembira sebelum terjadi, atau mengumumkan lebih dahulu sebelum kejadian akan turunnya beberapa takdir Ilahi. Atau, beliau mengumandangkan lebih dahulu ihwal pengabulan beberapa doa. Atau, beliau menerangkan hakikat serta makrifat beberapa ayat suci Alquran yang belum pernah ditulis dan belum pernah disiarkan. Maka, tak pelak lagi mimpi serupa itu akan dianggap benar. Jika tidak, maka bila seseorang mengaku kedatangan Rasulullah satu. dalam mimpiniya dan dikatakan oleh beliau satu. bahwa si Fulan tidak diragukan lagi kafir dan dajal, maka sekarang siapakah yang akan memastikan bahwa ini adalah kaul (ucapan) Rasul satu. ataukah kaul syaitan ataukah si pelihat mimpi itu sendirilah dengan kelihaiannya telah membuat-buat mimpi?
Jadi, seandainiya Mir Sahib memiliki kekuatan menghatiirkan Rasulullah satu. di dalam mimpi, maka Kami tidak inigini merepoikan beliau dengan meminita beliau membuktikan kekuatan itu kepada Kami. Bahkan apabila beliau membuktikan benar-benar melihat sendiri dan dengan pcrantaraan keempat ciri khas yang tclah dininici di atas membuktikan bahwa sesungguhnyalah beliau telah melihat Rasulullah satu., maka Kami akan mempercayainiya. Dan, apabila beliau mendambakan bertandinig, maka man bertandinig secara langsung yang caranya telah Kami paparkan di dalam selebaran ini. Kami pada dasamya belum bisa menerima adanya beliau melihat Rasul. Apa lagi harus menerima pengakuan bahwa beliau dapat membuat orang laini ziarah kepada Rasul.
Langkah pertama untuk menguji apakab Mir Sahib benar atau dusta dalam pengakuan beliau melihat Rasul ialah: seandainiya benar, maka hendaklah beliau menyiarkan suatu mimpi atau kasyaf yang menjelaskan bahwa beliau telah berziarah kepada Rasulullah satu. dan beliau hendaknya menerangkan alamat-alamat ziarah beliau yang ditandai dengan menyebutkan satu-dua nubuatan (ramalan), pengabulan doa, dan penyinigkapan hakikat-hakikat serta makrifat-makrifat. Sesudah itu barulah mengundang orang menyaksikan peragaan perjumpaannya dengan Rasul. Dan, hamba ini pun, dengan tujuan membela kebenaran, bersedia mengupayakan agar Mir Sahib datang ke Qadian guna beliau memperlihatkan keajaiban menghatiirkan Rasul. Di Qadian ada mesjid. Segala biaya transportasi dan konsumsi akan menjadi tanggungan hamba ini.
Hamba ini menyatakan kepada semua pemerhati bahwa ini hanyaomong-kosong belaka dan Mir Sahib tidak akan dapat merhbuktikannya barang sedikit pun. Apabila beliau datang maka kedatangan beliau akan membuka kedoknya sendini. Orang yang berakal sehat akan menilai kebenanan pengakuan orang yang pernah baiat kepadaku dan masuk ke dalam jajaran murid-muridku serta selama sepuluh tahun senantiasa mengatakan ihwal hamba ini Khalifatullah, Imam, Mujadid, dan menceniterakan mimpi-mimpiniya ini. Sungguh patut disayangkan kead aan Mir Sahib kita ini. Semoga Tuhan menaruh kasih kepadanya.
Nubuatan-nubuatan yang penzahirannya ditunggu-tunggu itu dapat dilihat dalam kitab “Izalah Auham” pada halaman 855. Kajilah dengan seksama kitab “Izalah Auham” ini, terutama halaman-halaman 638 dan 396. Tunggulah nubuatan yang dicantumkan dalam surat selebaran tanggal 10 Juli 1887 yang bersamanya terdapat itham ini juga: “Dan mereka bertanya kepada engkau apakah hal ini benar. Katakanlah, ‘Ya, Demi Rab-ku bahwa ini sesungguliniya benar dan kamu tidak mencegah terjadiniya hal ini.’ Kami Sendiri telah mengakadkan nikah engkau dengannya. Tidak ada seorang pun dapat mengubah kata-kata-Ku. Dan, bila mereka melihat Tanda-tanda, mereka akan memalinigkan muka dan tidak akan menerima dan berkata, ‘ini merupakan suatu tipu daya atau sihir yang kental,’
Dan salam sejahtera atas siapa yang memahaini Rahasia-rahasia Kami dan siapa yang mengikuti Petunjuk.
Qadian, 27 Desember 1891
Hamba yang lemah
Pemberi nasihat yang tulus,
GHULAM AHMATI QADIANI
*) Catatan penyalini:
Tidak diberi penjelasan mengenai angka-angka yang bersifat teka-teki ini. Boleh jadi pada suatu saat nanti :Ilmu-ilmu modern akan dapat menyinigkapkan inisteri ini, (peny).
MAKLUMAT
Hendaklah dimaklumi dengan jelas oleh semua mukhlisini dan orang-orang yang masuk ke dalam Silsilah (Jemaat) ini setelah baiat kepada hamba ini bahwa baiat dimaksudkan agar kecinitaan kepada dunia menjadi dinigini. Juga agar kecinitaan kepada Tuhan dan kepada Rasul Maqbul (Rasulullah satu.) yang menguasai hati menimbulkan keadaan iniqita (yakni, memutuskan segala hubungan duniawi) sehinigga perjalanan ke akhirat tidak menjadi terhalang. Walaupun demikian, guna mencapai maksud ini adalah pentinig menjalini persahabatan dan membelanjakan sebagian umur pada jalan ini supaya, apabila Allah menghendaki, dengan jalan menampilkan bukti keyakinian maka kekurangan, kelemahari, dan kemalasan (yang melekat pada pribadi masinig-masinig) menjadi hilang sirna. Kemudian akan timbul keyakinian yang sempurna lalu memekarlah keceriaan, kegairahari, dan gelora cinita.
Oleh karena itu, hendaklah senantiasa dipikirkan dan berdoa agar Allah Taala melimpahkan tautik, dan selama taufik ini b1um diraih hendaklah sewaktu-waktu berjumpa denganku. Sebab, setelah baiat dan masuk ke dalam Silsilah (Jemaat) ini lalu tidak menginidahkan hikmah bertemu denganku, baiat yang serupa itu sama sekali tak mengandung keberkatan dan hanyalah sekedar basa-basi belaka. Dan, karena tidak setiap orang – oleh fitratnya yang lemah atau kekurangmampuan atau unsur jarak yang jauh – tidak mempunyai kesempatan tiniggal (di Qadian, peny,) dan bercengkerama dalam suasana persahabatan denganku atau dalam satu tahun beberapa kali bersusah payah datang unruk bertemu muka denganku – sebab banyak hati yang belum mempunyai hasrat yang menyala-nyala untuk bertemu muka denganku dan belum siap menanggung kesulitan-kesulitan yang berat dan mengatasi kendala-kendala yang besar – maka pada tempatnyalah kalau tiga hari dalam setahun ditetapkan untuk menyelenggarakan Jalsah (Pertemuan). Selama hari-hari yang tangga]nya ditetapkan hatiir pada Jalsah itu bila kesehatan mengizinikan dan ada peluang tia lidak ada kendala-kendala yang berat. Pada hematku, adalah lebih haik kalau tanggal-tanggal itu ditetapkan hari-hari tanggal 27 sampai 29 Desember. Yakni, sesudah hari ini tanggal 30 Desember 1891, jika kelak akan kita jelang tanggal 27 Desember tahun depan, maka Saudara-saudara diharapkan agar sedapat mungkini datang pada hari-hari tersebut, semata-mata karena-Allah untuk menyimak uraian-uraian serba KeTuhanan dan untuk ikut-serta dalam memanjatkan doa bersama-sama. Dalam rangkaian acaranya Saudara-saudara akan disibukkan dengan mendengarkan hakikat-hakikat serta makrifat-makrifat yang pentinig sekali guna meninigkatkan keimanan, keyakinian, dan wawasan ilmu. Selaini itu Saudara-saudara. akan dapat memperoleh kesempatan ikut-serta dalam doa-doa yang khusus dan bertawajuh (memusatkan perhatian) secara khusus. Begitu pula, Saudara-saudara boleh sejauh mungkini menghampiri ambang pinitu mahligai Sang Maha Pemurah lagi Pengasih sehinigga Saudara-saudara akan ditarik kepada-Nya dan diterima di hatiirat-Nya lalu dianugerahi oleh-Nya perubahan yang suci.
Faedah sementara pun pasti ada. Yaitu, setiap tahun pada tanggal-tanggal yang ditetapkan itu saudara-saudara kita yang baru masuk ke dalam Jemaat akan bertemu muka dengan saudara-saudara mereka yang masuk lebih dahulu. Setelah berkenalan satu sama laini maka sudah pasti ikatan silaturahini akan berkembang. Saudara kita yang dalam jangka waktu itu akan berlalu dan dunia yang fana ini, di dalam Jalsah (Pertemuan) ini akan diininitakan doa maghfirat baginiya.
Akan diupayakan pula mempersatukan secara roharii segenap saudara dan mengangkat mereka dan keadaan kegersangan, keterasinigan, dan kenifakan supaya mereka hatiir di siniggasana Tuhan Yang Mahamulia. Di dalam pertemuan roharii ini niscaya terdapat banyak lagi faedah dan manfaat roharii laininya yang, jika Allah Yang Mahakuasa menghendaki, akan tarnpak dan waktu ke waktu secara berkesiniambungan. Bagi saudarasaudara yang kurang mampu, adalah lebih baik kalau sejak awal sekali meniikirkan bagaimana mereka dapat hatiir dalam Jalsali ini. Jika berusaha, dengan membiasakan berhemat, setiap hari atau setiap bulan mengumpulkan dan menyisihkan dana untuk biaya perjalanan, maka biaya untuk perjalanan akan diperoleh tanpa kesulitan, seakan-akan perjalanan itu akan terasa seperti gratis. Akan lebih baik kiranya kalau di antara Saudara saudara yang menyetujui saran ini, mereka diharap sekarang juga memberitahukan secana tertulis. Semua nama Saudara-saudara dicatat dataiii daftar khusus. Siapa yang akan sedapat mungkini dan semampu rnungkini hatiir pada tanggal-tanggal yang ditentukan itu demi kesejahteraan hidup mereka yang akan datang berjanjilah dalam hati dan jiwa untuk hatiir, kecuali kalau mereka dihatiapkan kepada kendala-kendala (halangan-halangan) yang berada di luar kemampuan mereka untuk mengadakan perjalanan tersebut.
Semoga Allah Taala melimpahkan ganjaran yang sebaik-baiknya serta menganugerahkan pahala atas tiap langkah Saudara-saudara yang telah bersusah-payah, semata-mata karena Allah, untuk hatiir pada pertemuan sekarang pada tanggal 27 Desember 1891 dalam rangka musyawarah keagamaan. Amini, sekali lagi Amini!
-o0o-

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s