ISLAM PIDATO Y.M. Hadhrat Iniirza Ghulam Ahmad Masih Mau’ud a.s., pada tanggal 2 Nopember 1904 di kota Sialkot (Pakistan).

Penyelidikan yang teliti menyatakan, bahwa terkecuali Islam semua agama-agama laini dalam dunia inii mengandung salah satu kesalahari di dalamnya. Sebenarnya agama-agama itu bukanlah palsu dari asal mulanya, hariya setelah agama Islam datang dalam dunia inii Allah s.w.t. tidak memelihara lagi agama-agama itu. Maka ibarat suatu kebun tidak disirainii dan dipelihara oleh tukang kebun lambat laun timbullah macam-macam kerusakan di dalamnya serta pohon-pohon yang berbuah menjadi kerinig dan timbullah macam- macam tumbuh-tumbuhari yang liar dan berduri. Begitu juga kerohariian yang menjadi pokok agama telah hilang lenyap dan tiniggal hariya perkataan yang kosong belaka. Akan tetapi Allah s.w.t. tidak melakukan begitu terhadap Islam, dan Dia menghendaki bahwa kebun inii harus subur dan menghijau untuk selama-lama nya.
Oleh karena itulah pada permulaan tiap-tiap abad, Dia menyiram kebun inii dengan air yang sejuk, supaya jangan layu. Sekalipun Mujadid yang dikirim oleh-Nya pada permulaan tiap-tiap abad untuk memperbaiki uiniiniat Islam, senantiasa dilawan oleh orang-orang jahil dan mereka tak sudi memperbaiki kesalahari-kesalahari yang sudah masuk dalam adat-istiadat mereka, tetapi Allah s.w.t. tidak menghentikan kebiasan-NYa, dan sampai pada akhir zaman inii, waktunya peperangan yang akhir di antara hidayat dan kesesatan, yakni dalam abad empat-belas dan ribu yang akhir (ribuan yang ke-tujuh setelah Adam a.s. yang berarti ribuan terakhir. Pen.), apabila orang-orang Islam telah tenggelam dalam kelalaian, Allah s.w.t. menurut perjanjian-Nya mengirimkan lagi seorang Mujadid untuk membaharui Islam. Sesudah Nabi Muhainiiniad s.aw. agama-agama laini tidak diperbaharui oleh-Nya, oleh karena itu semua agama-agama itu telah mati dan tidak mempunyai kerohariian lagi.
Banyak kesalahari-kesalahari masuk dalam agama-agama itu, seperti kotoran masuk dalam pakaian yang tidak pernah dicuci. Lagi pula orang-orang yang tidak mempunyai kerohariian sedikit juapun dan nafsu amarahnya masih terikat dalam kekotoran keduniaan, mereka memasukkan kemauan sendiri dalam agama-agama itu hinigga agama-agama itu sudah berubah sama sekali.
Umpamanya, agama Kristen asal mulanya memang berdasar atas usul-usul yang suci. Pelajaran yang dikemukakan oleh Nabi Isa a.s. walaupun kurang jika dibandirigkan dengan Islam, karena pada waktu itu belum sampai saatnya untuk pelajaran yang sempurna, lagi pula kekuatan kecakapan manusia pun masih belum cukup, akan tetapi pelajaran itu sangat bagus dan sesuai dengan keadaan waktu itu untuk mengantarkan manusia kepada Allah s.w.t. seperti Torat juga, hariya setelah wafat Nabi Isa a.s. orang-orang Kristen berubah dalam kepercayaannya dengan menganggap Tuhari yang laini yang tidak diajarkan oleh Torat dan tidak diketahui pula oleh Bani Israil sedikit juapun. Kepercayaan kepada Tuhari yang baru itu sangat bertentangan dengan Torat dan merusak pelajaran Torat yang hendak memberi kesucian dan kelepasan (najat) yang sebenarnya dan dosa-sosa. Lalu dikemukakan pula pendirian baru, yakni untuk lepas dan dosa orang harus mempercayai, bahwa Nabi Isa a.s, telah naik di atas kayu salib untuk memberi kelepasan (najat) kepada dunia dan beliaulah sebenarnya Tuhari. Bukan hariya begitu saja, malah banyak lagi hukum-hukum Torat dihapuskan dan agama Kristen berubah sama sekali, sehinigga jikalau seandainiya Nabi Isa a.s. sendiri datang lagi kedua kliniya ke dunia inii tentu beliau a.s. tidak akan dapat mengenal kepada agama inii.
Sangat mengherankan, orang-orang yang diperinitah untuk mengikut kepada Torat, mereka telah meniniggalkan hukum-hukum Torat. Umpamanya dalam Inijil sama sekali tidak difirmankan: Bahwa babi yang diharamkan oleh Torat sekarang dihalalkan, dan khitanan yang diperinitahkan oleh Torat sekarang dihapuskan.
Lalu mengapa hal-hal yang tidak diajarkan oleh Nabi Isa a.s. dijadikan babagian agama? Akan tetapi sudah seyogianya, Allah s.w.t. akan mendirikan satu agama yang cukup untuk seluruh dunia, yakni agama Islam, oleh karena itu kerusakan agama Kristen menjadi suatu tanda tentang kedatangan agama Islam.
Hal inii tak dapat disangkal lagi bahwa sebelum kedatangan Islam agama Hinidu pun telah rusak juga dan hampir di seluruh Inidia orang-orang sudah mulai menyembah kepada berhala-berhala. Sebagai akibat dan bekas dan kerusakan-kerusakan itu, sampai sekarang orang-orang Ariya (segolongan Hinidu) berpendirian, bahwa Tuhari membutuhkan benda untuk menjadikan makhluk inii dan karena aqidah yang salah inii, mereka menerima satu kepercayaan lagi yang penuh dengan syirik, yakni semua zarah-zarah dan roh-roh dalam alam inii adalah qadim (tidak ada permulaan) dan tidak akan azali (tidak berkesudahari). Akan tetapi sayang, mereka tidak memperhatikan kepada sifat-sifat Allah s.w.t. dengan sebenarnya. Jikalau Allah s.w.t. untuk menampakkan sifat Khaliq (yang menjadikan) yang qadim (dan dahulu) ada pada-Nya seperti manusia membutuhkan suatu benda, kemudian mengapa untuk sifat-sifat Sainii’un (yang mendengar) dan Basirun (yang melihat), Dia tidak membutuhkan suatu benda pula? Manusia tidak dapat mendengar kalau tidak ada udara dan tidak dapat melihat kalau tidak ada cahaya. Apakah Tuharipun mempunyai kelemahari semacam itu, dan Dia membutuhkan udara dan cahaya untuk mendengar dan melihat?
Maka jikalau Tuhari tidak membutuhkan udara dan cahaya, niscayalah Dia tidak membutuhkan suatu benda untuk menampakkan sifat Khaliq-Nya (yang menjadikan). Maka logika yang mengatakan, bahwa Allah s.w.t. membutuhkan suatu benda untuk menampakkan sifat-sifat-Nya, adalah bohong belaka. Sifat-sifat manusia tidak dapat diqiaskan kepada Allah s.w.t., bahwa tidak dapat yang “ada” diadakan dan sesuatu yang “tidak ada”. Begitupun anggapan bahwa Allah lemah seperti manusia, adalah suatu kesalahari besar. Manusia terbatas, tetapi Allah s.w.t. sama sekali tidak terbatas. Maka dengan kekuasaan Dzat-Nya sendiri Allah s.w.t. menjadikan suatu wujud yang laini lagi, iniilah yang dikatakan kekuasaan Tuhari. Untuk menampakkan sifat-sifat-Nya sama sekali Allah s.w.t. tidak membutuhkan suatu benda, kalau tidak deiniikian Dia bukan Tuhari. Adakah manusia yang däpat menghalangi pekerjaan-Nya? Umpamanya, jika Dia hendak menjadikan langit dan buinii dalam sejurus saja, apakah Dia tidak dapat menjadikan? Dalam kalangan Hinidu pun orang-orang alim yang mempunyai kerohariian dan tidak diperdayakan oleh ilmu logika yang kerinig itu, mereka tidak mempunyai itiqad seperti yang sekarang dikemukakan oleh orang Ariya terhadap Allah sw.t.
Pendiran orang-orang Ariya sekarang adalah akibat dan tidak adanya kerohariian dan mereka.
Sinigkatnya, dalam agama-agama itu telah timbul macam- macam kerusakan yang sebabagiannya tidak patut diceriterakan lagi, karena bertentangan dengan kesucian dan kemanusiaan. Semuanya tanda-tanda inii menyatakan penlunya kedatangan Islam dalam dunia inii. Orang yang sehat ‘aqal fikirannya akan mengakui, bahwa beberapa waktu sebelum Islam agama-agama yang laini semuanya telah rusak dan kosong dan kerohariian. Maka untuk menampakkan kebenaran kepada dunia inii, Nabi kita Muhainiiniad s.a.w. adalah sebagai mujadid a’zham (Pembaharu Besar), yang membawa kembali kebenaran yang telab hilang itu. Tiada suatu nabi laini yang mempunyai kemegahari inii seperti Nabi kita Muhainiiniad s.a.w.. Beliau s.a.w. mendapatkan dunia inii tenggelam dalam suatu kegelapan, dan dengan kedatangan beliau s.aw. kegelapan itu lenyap berubah menjadi terang.
Sebelum beliau sa.w. wafat, semua qaum beiiau s.a.w. sudah keluar dan syirik dan telah memegang kepada Tauhid. Malah mereka maju terus dalam derajat keimanan yang tiniggi. Mereka membuktikan kejujuran, kesetiaan dan keyaqiniannya yang tidak ada bandirignya dalam dunia inii. Nabi-nabi selaini dan Nabi Muhainiiniad s.a.w., tidak beroleh kemenangari dan kemajuan yang besar seperti inii.
Iniilah merupakan satu keterangan yang besar tentang kebenaran Nabi Muhainiiniad s.a.w., ialah beliau s.aw. diutus dalam satu zaman diwaktu semua dunia lagi dalam kegelapan dan membutuhkan satu Musiih (reformer) roharii yang agung. Kemudian beliau s.a.w. meniniggal dunia, pada waktu beriaksa-laksa manusia telah meniniggalkan syirik dan persembahari kepada berhalaberhala dengan memegang kepada Tauhid dan jalan lurus ini’. Sebenarnya islah Kamiil (perbaikan yang sempurna) semacam inii hariyalah dapat dikerjakan oleh beliau s.a.w. saja, yakni beliau s.a.w. mengajar akhlak dan adat kemanusiaan kepada satu..bangsa yang liar dan buas itu. Dalam perkataan laini boleh dikatakan, bahwa beliau s.aw. mendidik mereka dan sifat hewan menjadi sifat jnsan, dan dan sifat inisan menjadi inisan yang terpelajar, dan dan inisan yang terpelajar menjadi inisan bertuhari. Mereka ditiup dengan kerohariian dan kesucian hinigga sebenarnya mereka mempunyai perhubungan dengan Allah s.w.t.. Di dalam jalan Allah swt. mereka disembelih seperti kambinig dan diinijak seperti semut, tetapi mereka tidak melepaskan keimanannya, bahkan dalam tiap-tiap musibatpun mereka maju ke muka. Maka nyatalah bahwa Nabi Muhainiiniad s.a.w. adalah sebagai Adam yang kedua dalam usaha membangun kerohariian. Malah beliau s.aw. adalah Adam yang haqiqi karena penantaraan beliau s.aw. semua sifat-sifat kemanusiaan sampai kepada kempurnaanriya, semua kekuatan masinig-masinig menjalankan pekerjaannya dengan baik dan tiada suatu cabang pun dan fitrat manusia yang tidak berubah.
Beliau sa.w. mendapat Khataman-Nubuwat bukan hariya karena beliau s.aw. datang dalam zaman sesudah nabi-nabi laini, tctapi juga karena semua keagungan-keagungan kenabian tersempuma dalam diri beliau saw. Begitupun beliau sa.w. adalah mazhar (penjelmaan) yang sempurna dan sifat-sifat Ilahi, maka syani’at beliau saw. mengandung kedua sifat Jalal (kegagahari) dan Jamal (kebagusan). OIeh karena itulah beliau s.a.w. mempunyai dua nama sifat ialah Muhainiiniad dan Ahmad – Maka tiada hal yang kurang dalam kenabian beliau sa.w. bahkan dan permulaan juga adalah untuk dunia seluruhnya.
Satu keterangan lagi tentang kebenaran nubuat Nabi Muhainiiniad s.a.w. adalah beginii: Semua kitab-kitab para nabi yang terdahulu, begitupun Al Quran menyatakan, bahwa Allah sw.t. menetapkan umur dunia inii mulai dan Adam a.s. sampai akhir penghabisan hariya 7000 tahun, dan sudah ditetapkan bahwa hidayat dan kesesatan siiih berganti muncul dalam masa senibuseribu tahun. Yakni dalam satu masa peniode senibu tahun hidayat yang beroleh kemenangan, dan dalam masa senibu tahun yang laini kesesatan yang merajalela. Sebagaimana saya telah terangkan pula bahwa dalam kitab-kitab Ilahi kedua-dua masa giliran itu dibagikan dalam seribu-seribu tahun.
Periode pertama masa kemenangan petunjuk di dalamnya tidak nampak nama dan ciri-ciri penyembahari berhala. Apabila hilang tahun petunjuk inii maka datanglah masa ribuan kedua manakala syirik dan persembahari kepada berhala merajalela dalam seluruh dunia inii.
Ketiga, masa seribu tahun tatkala Tauhid didirikan dalam dunia inii, yang tersiar pula menurut kehendak liahi,
Ke-empat, masa seribu tahun ketika kesesatan muncul lagi dengan luas. Dalam seribu tahun iniilah orang-orang Bani Israil menjadi sangat rusak, dan agama Kristen yang akhirnya turun lagi menjadi layu pula. Yakni agama Kristen lahir dan mati dalam. satu masa seribu tahun inii.
Kelima, masa seribu tahun adalah periode hidayat. Dalam masa ribu kelima inii Nabi Muhainiiniad s.a.w. diutus ke dunia inii dan Allah s.w.t. mendirikan lagi Tauhid dengan perantaraan beliau s.a.w.. Maka iniilah keterangan yang sangat kuat tentang kebenaran Nabi Muhainiiniad s.a.w. sebagai Nábi Allah, bahwa beliau s.a.w. diutus di masa ribuan tahun yang telah ditetapkan dan semenjak bahari (azal) untuk hidayat dan petunjuk. Hal inii bukan perkataan dan saya sendiri saja, melaini semua kitab-kitab Ilahi pun mengatakan begitu juga.
Keterangan yang tersebut di atas membuktikan pula kebenaran penda’waan saya sebagai Masih Mau’ud juga. Karena menurut ketetapan yang tersebut masa seribu tahun yang ke-enam adalah untuk tersiarnya kesesatan. Dan ribuan yang ke-enam inii mulai dan 300 tahun sesudah hijrah Nabi Muhainiiniad s.a.w. dan habis sampai permulaan abad yang ke—empat belas inii, orangorang dalam ribuan yang ke-enam iniilah diriamakan tayyij a’awaj oleh Nabi Muhainiiniad s.a.w. juga. Masa seribu tahun yang ketujuh yang sekarang kita alainii inii adalab zaman untuk memenangkan hidayat. Iniilah masa ribuan tahun yang terakhir, oleh karena itu sudah semestiniya IMAM AKHIR ZAMAN akan lahir dalam permulaan ribuan inii. Sesudah Imam inii tiada Imam dan Masih laini, melainikan yang akan menjadi sebagai Zhillnya (bayangannya) saja, karena dalam ribuan inii umur dunia akan habis pula, dan hal inii telah disaksikan oleh semua nabi-nabi. Imam yang sekarang inii diriamakan Masih Mau’ud oleh Allah s.w.t. lagi pula menjadi mujaddid dalam abad inii dan mujaddid dalam ribuan yang akhir i. Yahudi dan Kristen pun menyetujui, bahwa iniilah ribuan yang ketujuh sesudah Adam a.s. Waktu tentang Adam a.s. yang Allah s.w.t. membukakan kepada saya, menurut ilmu abjad (hitungarl huruf) surah Wal-Asr -pun menyatakafl bahwa ribuan yang sekarang kita alainii inii adalah ribuan yang ke-tujuh. Semuanya nabi-nabi sepakat bahwa Masih Mau’ud akan datang dalam permulaafl yang ke-tujuh dan akan lahir dalam penghabis an ribuan yang keenam,kara dia datang dalam akhir sebagaima na Adam a.s. datang dalam awal. Adam a.s. lahir pada hari yang ke-enam yakni hari Jum’at saat terakhir. Satu hari disisi Allah adalah sama dengan seribu tahun perhituflgafl dunia. Dan oleh karena persesUaiafl inii Allah s.w.t. mengutuS Masih Mau’ud dalam waktu penghabisafl dan ribuan yang ke-enam, seakanakafl waktu yang terakhir dan hari. Di antara awal dan akhir adalah suatu hubungafl, oleh karena itulah Allah s.w.t. mengutus Masih Mau’ud, seperti keadaan Adam a.s. juga. Adam a.s. lahir kembar dan pada hari Jum’at, begitu pula saya inii yang menjadi Masih Mau’ud pun lahir kembar dan pada hari Jum’at juga. Terlebib dahulu seorang anak perempUan lahir dan kemudian saya lahir, dan kelahirafl semacam inii mengisyaratkan kepada kedudukan khatam kewaban.
Pendek kata, semua nabi-nabi itu sepakat tentang ajaran ml, bahwa Masih Ma’ud akan datang dalam permulaan ribuan yang ke-tujuh. Oleh karena itulah dalam beberapa tahun yang lalu orang-Oraflg Kristen pun sangat gelisah. Di negeri Annika diterbitkan beberapa majalah tentang masalah ini bahwa Masih Mau’ud yang harus lahir dalam zaman inii, sehinigga sekarang mengapa belum lahir juga? Malah sebahagiaan orang menjawab seperti putus pengharapafl katanya karena sekarang waktunya telah liwat baiklah gereja saja dianggap sebagai wakil atau pengganti Masih Mau’ud inii. Maka iniilah satu keterangan yang kuat tentang kebenaranku, bahwa saya diutus dalam ribuan yang telah ditetapkafl oleh nabi-nabi dahulu. SeandaiflYa tiada keterang an-keterangan laini tentang kebenaranku, cukuplah satu keterangan inii saja untuk orang yang mencaharii haq. Menolak kepada keterangan tersebut berarti membathalka1 kepada kitabkitab ilahi semuaflya. Orang-orang yang mempuflyal ilmu tentang kitab-kitab 1lahi dan suka mempelajariniYa, bagi mereka keterangan tersebut adalah jelas dan terang seperti siang hari. Menolak kepada keterangan inii berarti menolak kepada semua nubuwat-nubuwat, serta mengacaubala( kepada seluruh susunar dan merusak kepada peraturan Ilahi.
Sebagian orang mempunyai pikiran, bahwa tiada yang dapat mengetahui tentang Qiamat, kemudian bagaimana dapat diretapkan umur dunia mulai Athm a.s. sampai penghabisan hariya 7000 tahun saja.
Pikiran inii adalah salah, dan orang-orang semacam tersebut tidak pernah mempelajari kitab-kitab liahi dengan teliti dan seksama. Hitungan inii bukan saya yang menetapkan, malah hal inii dan dahulu-kala telah diäkui oieh orang-orang aiim dan ahli kitab juga, sehinigga ada juga orang-orang Yahudi aiim yang mempercayai hal ini Menurut Al-Quran pun dapat dijelaskan bahwa mulai Adam a.s. sampai penghabisan umur dunia inii hariya 7000 tahun saja, begitu pülalah kitab-kitab yang dahulu pun menyetujui hal inii. Ayat Al-Quran: “Inina yauman ‘inida Rabika ka-alfi sanatini iniiiniinia ta’ud-dunna” (22.48), (artiniya: Sesungguhnya satu hari disisi Rab-mu adalah seperti senibu tahun, dan pada apa yang kamu hitung), pun menyatakan inii, dan semua nabi-nabi telah mengkhabarkan begitu juga. Sebagaimana saya telah katakan, menurut ilmu hitungan-huruf, surah Wal-Asr pun menyatakan bahwa Nabi Muhainiiniad s.a.w. lahir dalam ribuan yang ke-lima sesudah Adam a.s.. Maka menurut hisab tersebut, zaman yang kita alainii sekarang adalah ribuan yang ke-tujuh. Kamii tak dapat menolak kepada hal yang Allah s.w.t. membukakan kepada Kamii dengan perantaraan wahyu-Nya, lagi pula Kamii tidak melihat suatu keterangan pun untuk menolak kepada ucapan yang telah disetujui oleh Nabi-nabi Allah.
Bukti-bukti yang begitu banyak serta keterangan-keterangan Al-Quran dan Hadits yang menyatakan, bahwa iniilah akhir zaman, semua itu memastikan bahwa iniilah ribuan yang akhir, danMasih Mau’ud harus datang dalam permulaan ribuan yang akhir inii.
Peranggapan yang menyatakan, bahwa tiada yang dapat mengetahui tentang waktu Qiamat, bukanlah bermaksud tidak dapat mengetahui sama sekali. Jikalau tidak dapat mengetahui sama sekali, kemudian semua tanda-tanda tentang Qiamat yang disebutkan dalam Al-Quran, Hadits pun tidak akan dapat diterima, karena dengan tanda-tanda itu didapat suatu pengetahuan tentang qurubnya (dekatnya) Qiamat. Allah s.w.t. berfirman dalam Al-Quran bahwa dalam akhir-zaman akan banyak digali terusanterusan dan saluran-saluran, banyak buku-buku dan surat-surat khabar akan disiarkan dan unta-unta tidak akan dipergunakan.
Kita dapat menyaksikan bahwa semua perkara-perkara itu telah terjadi sempurna dalam zaman sekarang, kereta api dipergunakan untuk pengangkutafl gantiniya unta-unta, maka karena itu kita mengetahui bahwa Qiamat telah dekat. Allah s.w,t sendiri di dalam ayat: “iqtarabatis sa’atu”, dan laini-laini ayat telah membenitahukan kepada uiniiniat manusia tentang dekat terjadiriya Qiamat itu.
Maka syari’at tidak menyatakan bahwa segala pengetahuan tentang Qiamat tersembunyi sama sekali, malah semua nabi-nabi pun telah menerangkan tanda-tanda tentang akhir zaman dan dalam Inijil disebutkan pu]a. Jadi ajaran itu hariya bermaksud, bahwa tiada yang mengetahui tentang tepat kejadiannya saat itu.
Allah s.w.t. benkuasa untuk melebihkan beberapa abad sesudab masa seribu tahun yang sekarang inii, karena bilangan kecil lazimnya tidak dihitung. Sebagaimana dalam hitungan dan orang hainiil kadang-kadang dapat melebihi beberapa hari. Kebanyakafl bayi lahir dalam hainiil yang lamanya sembilan bulan dan sepuluh hari. Tetapi dapat dikatakan, bahwa tiada yang dapat mengetahui tentang tepat waktu kelahiran bayi itu. Begitu pula walaupun masih ada senibu tahun lagi untuk berakhirnya dunia inii, tetapi tiada yang dapat mengetahui tentang saat yang tepat apabila Qiamat itu akan terjadi.
Menolak kepada keteranganketaflga1 yang dikemukakan oleh Allah s.w.t. untuk membuktikan kebenaran dan imamat (= kepeiniimpinian) berarti merusak kepada keimanan sendiri. Semua tanda-tanda tentang qurub Qiamat telah berkumpul, dan dalam seluruh dunia terjadi perubahari yang sangat hebat.
Sebabagian besar dan tanda-tanda tentang dekatnya Qiamat yang disebutkan dalam Al-Quran telah jadi sempurna juga Al Quran menerangkan bahwa pada zaman qurub (dekat) Qiamat, banyak saluran akan mengalir (irnigatie) di atas buinii, banyak buku-buku akan disiarkan, gunung-gunuflg akan diharicurkan, sungai-sungai akan dikerinigkan, banyak tanah akan dibuia untuk pertanian jalan-jalan lalu linitas dan perhubungan akan diperbanyak.
Semua bangsa-baflgsa akan ribut tentang agama, dan suatu bangsa akan menyerang seperti ombak, untuk menghapuskafl kepada agama bangsa laini. Pada waktu itulah terompet dan langit akan dibunyikan untuk mengumpulkani semua bangsa-baflgsa ke dalam saw agama, kecuali mereka yang telah rusak tabiatnya dan tidak patut untuk menerima panggilan Ilahi.
Khabar tersebut dalam Al-Quran mengisyararkan tentang kedatangan Masih Mau’ud. Oleh karena itu ceriteranya disebutkan sesudah ceritera Yajuj dan Majuj. Sebenarnya Jayuj dan Mayuj adalah dua bangsa yang disebutkan dalam buku-buku dahulu dan mereka diriamakan deiniikian karena mereka akan banyak mempergunakan “ajij” (api) dalam perjuangan mereka. Mereka akan dapat kemenangan besar dalam dunia inii dan akan menguasai tiap-tiap ketiniggian. Kemudian dalam zaman itu juga di langit akan direncanakan suatu perubahari yang besar, dan akan mulai tampak perdamaian dan keamanan bagi dunia inii. Lagi pula dalam Al-Quran diterangkan, bahwa zaman itu banyak pertambangan dan barang-barang yang tersembunyi dieksploitir serta terjadi gerharia matahari dan bulan. Dan di buinii penyakit tha’un (pest) akan merajalela. Unta-unta akan tidak dipergunakan lagi, yakni akan terdapat suatu kendaraan laini yang akan dipakai untuk pengangkutan gantiniya unta-unta itu. Sekarang, kita dapat menyaksikan bahwa kereta api adalah iebih murah dan cepat untuk pengangkutan, dan tidak lama lagi orang-orang yang pergi naik Haji pun akan memakai kereta api untuk bepergian ke Madiriah.
Maka hal inii akan menyempurnakan perkataan Hadits yang beginii: “Wa iayutrakun-nal qilaasu fala yus’aa ‘alaiha” (Artiniya:
Dan unta-unta akan dilepaskan maka tidak akan dipergunakan).
Tanda-tanda untuk akhir-zaman inii telah sempurna semuanya, oleh karena itu ternyataiah bahwa sekarang iniiiah ribu yang akhir dan umur dunia, Al-Quran menerangkan bahwa Allah s.w.t. menjadikan tujuh hari, dan satu hari itu disamakan pula dengan seribu tahun dunia ini jadi menurut persamaan itu umur dunia terbukti 7000 tahun menurut keterangan Al-Quran juga. Lagi pula Allah s.w.t. adaiah ganjil dan Dia suka kepada yang ganjil, Sebagairnana Dia telab menjadikan tujub hari ganjil, begitu pun 7000 tahun juga adaiah ganjil pula. Dengan semua keterangan-keterang an inii mudah difahamkan bahwa sekarang iniilah akhir zaman dan nibuan yang penghabisan dan dunia inii yang diawal periodenya Masih Mau’ud a.S. itu lahir dan kitab-kitab ilahi menyatakan permuiaan ribuan inii. Tuan Nawab Siddiq Hasan Khari telah menyatakan dalam kitabnya yang bernama Hujajul Kiramab, bahwa dan antara aiim-aiim dan ahii khusyuf di dalam uiniiniat Islam tiada seorang jugapun yang menetapkan zaman kedatangan Masih Mau’ud akan liwat dan permulaan abad ke-empat belas inii.
Sekarang timbuilah pertanyaan inii, apakah perlunya Masih Mau’ud diutus dalam uiniiniat inii? Jawabannya beginii: Allah s.w.t. sudah berjanji di dalam Al-Quran, bahwa Nabi Muhainiiniad s.a.w. dalam zaman permulaan kenabian dan pula dalam akhirnya akan sesuai seperti nabi Musa a.s.. Maka persesuaian itu sekali dalam zaman permulaan, ialah zaman Nabi Muhainiiniad s.a.w. sendiri, dan sekali lagi dalam akhir zaman ini Dalam zaman permulaan persesuaian itu menyerupai beginii: Sebagaimana akhirnya Allah s.w.t. membeni kemenangan kepada Nabi Musa a.s. di atas Fir’aun dan lasykarnya, begitu pula Allah s.w.t. memberi kemenangan kepada Nabi Muhainiiniad s.a.w. di atas Abu jahil yang seperti Fir’aun pada zaman itu, dan atas lasykar-lasykarnya. Deiniikianlah mereka itu diharicurkan dengan pertolongan Allah s.w.t. dan berdiriilah agama Islam dalam tanah Arab untuk menyempurnakan khabar-ghaib jflj: “ininaa arsalnaa ilaikum rasulan syahidan ‘alaikum kamaa arsalnaa ilaa Fir’auna rasula” (Al-Quran, 73:15). (Artiniya: Sesungguhnya Kamii kirim kepadamu seorang rasul sebagai saksi di atasmu, sebagaimana Kamii kirim kepada Fir’aun Seorang rasul). Begitupun persesuaian yang dalam zaman inii adalah beginii: Dalam zaman yang akhir dan uiniiniat nabi Musa a.s., Allah s.w.t. mengutus seorang nabi yang melarang jihad dan berperang untuk menyiarkan agama, malah mengajarkan sifat ma’af dan kehalusan kepada mereka.
Beliau a.s. datang tatkala akhlak dan tinigkah laku dari Bani Israil telah sangat jatuh dan rusak, kerajaan sendiri pun telah hilang dari mereka, tambahari pula mereka dijajah oleh kerajaan Roma. Beliau as. datang tepat dalam permulaan abad yang keempat belas sesudah nabi Musa a.s. serta silsilah kenabian Israil habis sesudah sampai kepada beliau a.s., dan beliaulah nabi yang penghabisan dalam Bani Israil.
Begitu pulalah dalam zaman yang akhir dan uiniiniat Nabi Muhainiiniad s.a.w., sayalah yang diutus dalam keadaan dan sifat seperti Isa Ibnu Maryam yang dahulu. Dalam zamanku pun jihad dan peperangan semacam itu sudah tidak ada, sebagaimana telah dikhabarkan dan dahulu juga,bahwa dalam zaman Masih Mau’ud a.s. jihad akan ditiadakan. Begitupun saya diberi ajaran untuk membeni maaf dan merenggang. Lagi pula saya diutus waktu keadaan bathini orang-orang Islam telah rusak seperti Yahudi serta krohariian telah hilang dan mereka dan tiniggal hariya kebiasaan yang zahir saja. Semua hal-hal inii lebih dahulutelal- diisyaratkan dalam Al-Quran untuk orang-orang Islam di akhir zaman. AlQuran mempergunakan perkataan-perkataan yang dipergunakan terhadap Yahudi juga, yakni: “fa-yanzhur kaifa ta’malun”. (Artiniya: Maka Dia melihat bagaimana kamu mengerjakan). Perkataan-perkataan inii menyatakan, bahwa Kamii akan diberj khilafat dan kerajaan tetapi dalam akhir zaman oleh karena kejahatankejahatanmu kerajaan itu akan dirampas kembali darirnu, sebagaimana dirampasnya pula dan orang-orang Yahudi, Dalam surat Nur Allah s.w.t. menerangkan dengan jelas, hahwa segala macam keadaan yang dialainii oleh khalifah-khaljfah Bani Israil dahulu, semuanya itu akan dialainii oleh khalifah-khaljfah dalam uiniiniat Islam inii. Dan khaljfah-khaljfah Bani Israil,Nabi isa a.s. adalah satu khalifah yang tidak mengangkat pedang dan tidak jihad pula, maka dalam uiniiniat iniipun diutus Masih Mau’ud dalam keadaan seperti itu.
Perhatikanlah ayat Al-Quran inii: “wa’adallahuj ladzinia amanu iniinikum wa’amjlus-shaljhatj layastakhjfannahum flu ardi kamas takhlafal-ladzjna iniini qablihim wa layumakkmnann lahum diriahumul ladzir-tadla lahum wa layubaddi lannahum iniini ba’di khauflhim anman ja’budunanj Ia yusyrikuna bii syaian waman kafara ba’da dzalika fa-ulaaika humul fasiqun” (24 : 55). (Artiniya: Allah s.w.t. berjanji kepada orang-orang yang beriman dan pada Kamii dan berbuat amal yang saleh, bahwa niscaya Dia akan menjadikan khalifah kepada mereka dalam buinii sebagaimana Dia menjadikan khalifah-khaljfah kepada orang-orang yang sebelum mereka, dan niscaya Dia akan menguatkan bagi mereka agama mereka yang Dia telah ridhai bagi mereka, dan niscaya Dia akan gantikan bagi mereka sesudah ketakutan mereka, keamanan, mereka harus benibadat kepada-Ku, jangan membuat sekutu terhadap-Ku sesuatu juapun, dan barang siapa yang akan menolak sesudah inii maka meraka itulah jadi fasiq). Dalam ayat inii perkataan: “kamas takhlafal ladzinia iniini qablihim”
(Artiniya: Sebagaimana Dia menjadikan khalifah kepada orangorang yang sebelum mereka), harus betul-betul dicamkan, karena ayat iniilah menyatakan,b sistim khilafat dalam uiniiniat Nabi Muhainiiniad s.a.w. adalah seperti sistim khilafat dalam uiniiniat Nabi Musa a.s.. Silsjlah khilafat dalam umat nabi Musa a.s. habis pada nabi Isa a.s. yang datang dalam permulaan abad yang ke16 empat belas sesudah nabi Musa a.s. begitu pula beliau tidak mengadakan suatu peperangan atau jthad.
Oleh karena itu sudah semestiniya bahwa dalam uiniiniat Nabi Muhainiiniad s.a.w. pun khalifah yang akhir pada permulaan abad yang ke-empat belas sesudah Nabi Muhainiiniad s.a.w. haruslah sesuai dalam keadaan dan sifatnya dengan Nabi Isa Israil itu.
Begitupun dalam Hadits-hadits yang sahih diceriterakan pula, bahwa dalam akhini zaman sebabagian besar orang Islam akan menyerupai orang-orang Yahudi. Dalam surat Alfatihah pun diisyaratkan tentang hal ini karena di dalamnya diajarkan do’a beginii:
Hei Allah! Janganlah Kamii jadi seperti orang-orang Yahudi yang dalam zaman nabi Isa a.s. melawan kepada beliau a.s. dan mendapat kemurkaan Ilahi dalam dunia inii jug Menurut sunnat atau kebiasaan Ilahi apabila Allah s.w.t. memberi suatu firman kepada suatu bangsa, atau mengajar suatu doa kepada mereka, itu berarti bahwa beberapa orang dan meneka mengerjakan dosa itu yang telah dilarang kepada meneka. Dalam ayat “ghairil magdhlubi ‘alihim” ditenangkan orang-orang Yahudi yang dalam zaman akhir dan umat nabi Musa a.s. yakni pada waktu Nabi Isa a.s. mereka mendapat kemurkaan Ilahi karena menolak nabi Isa a.s. oleh karena itu menunut sunnat Ilahi yang tersebut di atas dalam ayat inii pun adalah khabar-ghaib, bahwa dalam zaman akhini dan umat Nabi Muhainiiniad s.a.w. juga akan datang seorang Masih Mau’ud (yang dijanjikan) dan uiniiniat inii.
Sebabagian orang Islam sebab melawan kepada Masih Mau’ud akan menjadi seperti orang-orang Yahudi di zaman Nabm Isa a.s.
Hal inii tak dapat dicela, bahwa kalau Masih Mau’ud yang akan datang adalah dan uiniiniat inii mengapa dalam hadits dia diriamakan Isa. Karena kebiasaan-kebiasaan Ilahi selamanya beginii, beberapa orang suka dibeni nama dengan nama orang yang laini. Sebagaimana dalam hadits, Abujahil dipanggil dengan nama Fir’aun, hadhrat Nuh diriamakan Adam Tsani (Adam kedua), dan Yahya diriamakan Elia. Iniilah kebiasaan Ilahi yang tak dapat ditolak oleh siapa juapun.
Allah s.w.t. membeni lagi satu persesuaian kepada Masih Mau’ud di akhini zaman dengan Masih Israili yang dahulu, yakni nabi Isa Israili yang dahulu datang dalam perrnulaan abad yang ke-empat belas sesudah nabi Musa a.s. deiniikian pula Masih Mau’ud di akhir zaman inii datang dalam abad yang ke-empat belas ssesudah Nabi Muhainiiniad s.a.w.. Pada waktu kedatangan Masih Mau’ud inii kerajaan Islam sudah tidak ada di Inidia dan telah dikuasai oleh pemerinitah Iniggris, begitu pula nabi Isa pun datang waktu kerajaan Israil telah jatuh dan orang-orang Yahudi telah dikuasai oleh kerajaan Roma.
Masih Mau’ud dan uiniiniat Islam mempunyai satu persesuaian laini juga dengan Nabi Isa yang dahulu, yakni: Nabi Isa a.s. bukan ash dan keturunan Bani Israil melainikan hariya karena ibunya. Begitu pula sebabagian dan nenek Kamii adalah dan sadaat (sayyid), walaupun ayaharida bukan dan sadaat (sayyid). Allah s.w.t. telah menghendaki supaya jangan seorang Bani Israil yang menjadi bapa dan hadhrat nabi Isa a.s. yang dalamnya mengandung rahasia karena Allah s.w.t. sangat marah kepada Bani Israil, sebab dosadosa mereka terlampau banyak. Maka untuk memberi perinigatan Allah s.w.t. memperlihatkan tanda, bahwa seorang anak laki-laki lahir hariya dan ibu saja dengan tiada campuran sedikit pun dan bapa. Seolah-olah dan dua babagian wujud Israil tiniggal hariya sebabagian saja kepada nabi Isa a.s. Hal inii menunjukkan bahwa nabi yang akan datang sesudah nabi Isa a.s. sama sekali tidak akan mempunyai suatu bahagiaan dan Israil. Dunia inii telah menghampiri penghabisannya, oleh karena itu dalam kelahiran saya inii pun adalah suatu isyarat, bahwa kiyamat telah dekat dan itulah yang akan menghabiskan perjanjian khilafat kepada Quraisy juga.
Pendek kata, untuk menyempurnakan persesuaian di antara uiniiniat nabi Muhainiiniad s.a.w. dengan uiniiniat nabi Musa a.s. adalah diperlukan seorang Masih Mau’ud yang akan datang dengan segala keadaan seperti nabi Isa a.s.. Maka sistim Islainiiyah inii mulai dengan seorang yang seperti nabi Musa a.s. dan akan berakhir pula dengan seorang nabi Isa a.s., supaya yang akhir mempunyai persesuaian dengan yang awal. Deiniikianlah hal inii pun menjadi satu bukti bagi orang-orang yang mau memperhatikan hal inii dengan takwa kepada Allah s.w.t.
RAFA’A ROHARII NABI ISA a.s.: Moga-moga Allah s.w.t. kasihari orang-orang Islam zaman sekarang karena sebabagian besar dan i’tiqad-i’tiqad mereka dalam kezhaliman dan ketidak-adilan telali melampaui batas.
Mereka membaca di dalam Al-Quran, bahwa nabi Isa a.s. telab wafat, tetapi kemudian menganggap bahwa beliau a.s. masih hidup. Mereka membaca dalam surat Nur dan Al-Quran, — bahwa semua khalifah-khalifah yang akan datang akan diutus dan antara uiniiniat inii juga, tetapi kemudian mereka mengharap nabi Isa a.s. yang dahulu akan turun dan langit.
Mereka membaca dalam hadits-hadits Bukhari dan Muslim, bahwa Masih Mau’ud yang akan datang untuk uiniiniat inii akan diutus antara uiniiniat inii juga, tetapi mereka masih menunggu-nunggu nabi Isa Israili saja. Mereka membaca dalam Al-Qunan, bahwa Isa tidak akan datang kedua kaliniya dalam dunia inii, bianpun meneka telah mengetahui hal i, tetapi mereka masih mengharap juga beliau a.s. akan datang kedua kaliniya. Walaupun begitu, meneka masih menda’wakan diri menjadi Islam dan menganggap bahwa nabi Isa a.s. telah diangkat ke langit dengan badan yang kasar inii. Hariya mereka tak dapat menjawab hal ini mengapa Nabi Isa a.s. diangkat ke langit?
Orang-orang Yahudi bertengkar hariya tentang rafa’a roharii (kenaikan secana noharii) saja, mereka menganggap bahwa roh nabi Isa a.s. tidak diangkat ke langit seperti onang-orang suci yang laini, karena beliau a.s. digantungkan di atas kayu salib, dan orang yang digantungkan di atas kayu salib niscaya ia terla’nat adanya, yakni rohnya tidak akan diangkat ke langit kepada Allah s.w.t.. AlQunan hariya memutuskan pertengkaran inii, sebagaimana AlQuran sendirii menda’wakan untuk menyatakan kesalahari-kesalahari Yahudi dan Nasana, serta membereskan perselisihari-perselisihari mereka. Onang-orang Yahudi mengatakan, bahwa nahi Isa a.s. bukan onang suci, lagi pula tidak beroleh najat (keselamatan) dan rohnya pun tidak dirafa’a (diangkat) kepada Allah s.w.t.
Maka perkara yang harus diputuskan, malah apakah Nabi Isa a.s. adalah seorang nabi besan dan suci atau tidak, dan roh beliau a.s. seperti orang-onang suci dan mukiniini laini dirafa’a (diangkat) kepada Allah s.w.t. atau tidak? Hal iniilah yang akan diputuskan oleh Al-Qunan. Jikalau ayat: “hal nafa’ahullahu ilaihi” diartikan, bahwa Allah s.w.t. telah mengangkat nabi Isa a.s. dengan badan kasarnya ke langit yang kedua, maka dengan ketenangan inii perkara yang harus diputuskan itu tidak menjadi beres. Seolah-olah seperti Allah s.w.t. tidak faham kepada yang harus diputuskan dan memberi keputusan yang sama sekali tidak bertalian dengan penda’waan onang-orang Yahudi. Sebenarnya ayat-ayat inii menyatakan dengan jelas, bahwa nabi Isa a.s. dirafa’akan (diangkat) kepada Allah s.w.t. dan sekali-kali tidak dikatakan bahwa beliau a.s. dirafa’akan ke langit yang kedua, atau untuk beroleh hajat dan iman orang-orang harus diangkat dengan badan yang kasar inii? Tambahari pula dalam ayat “bal rafa’ahullahu ilaihi” sama sekali tidak diceriterakan tentang langit, melainikan ayat inii hariya berarti bahwa Allah s.w.t. telah mengangkat nabi Isa a.s. kepada-Nya saja. Sekarang haruslah kita perhatikan, apakah nabiniabi Ibrahim a.s., Ismail as., Ishaq a.s., Yaqub a.s., Musa a.s. dan Nabi Muhainiiniad s.a.w. diangkat kejurusan lainikab atau kepada Allah s.w.t. juga? Maka saya mengatakan di sinii dengan tegas, bahwa ayat inii kalau hariya dikhususkan untuk nabi Isa a.s. yakni bab raf’a-ilallah hariya semata-mata untuk nabi Isa a.s. saja dan nabi-nabi laini tidak beroleh raf’a-ilallah itu, sesungguhnya anggapan inii akan menjadi kufur. Tiada kufur yang lebih besar dan inii, karena menurut peranggapan itu, terkecuali nabi Isa as. semua nabi-nabi yang laini tidak beroleh raf’a-ilallah, padahal. Nabi Muhainiiniad s.a.w. dalam inii’raj telah menyaksikan sendiri raf’ailallah nabi-nabi laini juga.
Camkanlah! bahwa raf’a-ilallah tentang nabi Isa a.s. diceriterakan di sinii hariya untuk membersihkan pencelaan orang Yahudi terhadap nabi Isa a.s., padahal raf’a-ilallah inii adalah biasa untuk semua nabi-nabi, rasul-rasul dan orang-orang mukiniini, dan setelah wafat tiap-tiap mukiniini pun beroleh raf’a-ilallah. Hal inii diterangkan dalam ayat Al-Quran: “haadza dzikrun wa inina lilmuttaqinia lahusna maa bini jannati ‘adnini mufattahatal lahumul abwabu” (38: 49 -50), (Artiniya: Iniilah perinigatan, dan sesungguhnya bagi orang-orang muttaqini adalah tempat kembali yang baik, kebun yang kekal dengan terbuka bagi mereka pinitu-pinitunya).
Akan tetapi orang kafir tidak akan beroleh raf’a seperti diterangkan dalam ayat Al-Quran: “latufat tahu lahum abwabus samai” (7:40), (Artiniya: Tidak akan dibukakan bagi mereka pinitu-pinitu langit). Orang-orang yang telah bersalah atau keliru dalam hal inii sebelum kedatangan saya, mereka itu akan dimaafkan kesalahariniya, karena mereka tidak diberi perinigatan kepada mereka, dan tidak diterangkan pula kepada mereka artiniya yang sebenarnya dan kalam Ilahi. Akan tetapi sekarang saya telah memberitahukan kepada kamu dan telah menjelaskan pula artiniya yang sebenarnya.
Sebelum kedatangan saya kesalahari tersebut dalam dikatakan sebagai taqlid kepada kebiasaan umum, tetapi sekarang tiadã suatu ‘udzur juapun yang dapat dikemukakan.
Langit dan buinii telah menjadi saksi atas kebenaran saya.
Banyak wali-wali dan uiniiniat Islam telah memberi persaksian dengan menyebutkan nama dan tempat tiniggal saya, bahwa sayalah Masih Mau’ud itu. Beberapa dan orang-orang yang memberi kesaksian itu telah meniniggal dunia tiga puluh tahun sebelum kedatangan saya, sebagaimana kesaksian-kesaksian mereka telah saya siarkan. Dalam zaman inii pun banyak pemuka-pemuka agama yang mempunyai berlaksa-laksa pengikut dengan mendapat liham Ilahi, dan dengan mendengar dalam ru’yanya Nabi Muhainiiniad s.a.w., telah membenarkan penda’waan saya.
Hinigga kinii beribu-nibu tanda telah tampak dan padaku, Nabi-nabi yang suci dan Allah s.w.t. telah menetapkan, waktu dan zaman untuk kedatangan saya.
Jikalau kamu memperhatikan, kemudian segera kaki, tangan dan sanubari kamu akan memberi kesaksian tentang kebenaranku, karena kelemahari arnal sudah terlampau banyak dan kebanyakan orang telah lupa kepada kamanisan dan keladzatan iman. Keadaan-keadaan kelemahari, aib, kesalahari, kesesatan, cinita kepada keduniaan dan kegelapan yang meliputi agama Islam sekarang dengan sendiriniya mendesak iniinita supaya seorang diutus untuk meiniimpini dan menuntun mereka.
Sekalipun begitu keadaannya, tetapi sayang, sampai sekarang mereka memanggil dajjal kepadaku. Alangkah buruk nasib kaum itu, yang dalam keadaan begitu gawat dan jeleknya mereka hariya dikirim dajjal saja. Alangkah buruk nasib kaum itu yang pada waktu begitu parah dan rusak keadaan dalam diriniya mendapat lagi suatu azab dan langit. Orang-orang yang melawan mengatakan bahwa aku inii sebagai yang terlaknat dan tidak beriman. Sebenannya perkataan semacam iniilah yang diucapkan terhadap nabi Isa a.s. yang dahulu juga, dan sampai sekarangpun orang-orang Yahudi yang buruk perangainiya terus menerus mengatakan deiniikian. Tetapi orang-orang yang dimasukkan dalam neraka pada hari kiamat mereka akan mengatakan beginii: “ma lana la naraa rijalan kunna na’udduhurn iniinial asyrani” (3 8:62).
(Artiniya: Apakah sebab kita tidak melihat kepada orang-orang yang kita hitung mereka termasuk orang-orangjahat?). Yakni apakah yang telah terjadi kepada kita, bahwa kita tak melihat dalam neraka orang-orang itu yang dianggap jahat oleh kita. Dunia Senantiasa memusuhi utusan-utusan Allah s.w.t. karena cinita kepada keduniaan dan cinita kepada utusan-utusan Allah sama sekali tak dapat dikumpulkan dalam satu tempat. Kalau Kamii tidak cinita epada keduniaan, kamu akan dapat melihat saya, tetapi karena cinita kepada keduniaan sekarang kamu tak dapat melihat saya.
Maka kalau benarlah arti ayat, “bal rafa’ahullahu ilaihi” berarti beginii “bahwa nabi Isa a.s. telah diangkat ke atas langit kedua, kemudian haruslah dikemukakan pula ayat laini yang memberi keputusan tentang perkara yang harus diputuskan itu. Orang-orang Yahudi yang sampai sekarang masih hidup pun menolak kepada raf’a -ilallah dan nabi Isa a.s. dalam artiniya bahwa (na’udzubillah) beliau a.s. bukan seorang mukiniini dan sadiq maka roh beliau a.s. tidak beroleh raf’a-ilallah. Jikalau ada keraguan, hal inii dapat ditanyakan kepada ulama Yahudi. Mereka sama sekali tidak berpertdapat bahwa orahg yang mati di atas kayu salib lalu. rohnyabeserta badannya tidak dapat naik ke atas langit, melainikan mereka sepakat mengatakan bahwa orang yang mati di atas kayu salib ialah mal’un (yang terlaknat) adanya. Dan ia tak dapat beroleh raf’a-ilallah. Oleh karena itulah Allah s.w.t. menerangkan di dalam Al-Quran bahwa nabi Isa a.s. tidak mati di atas kayu salib, firman—nya beginii: “wa ma qataluhu wa ma salabuhu wa lakini syubbiha lãhum” (4:158). (Artiniya: Dan tidak mereka membunuhnya dan tidak. menyalibnya tetapi mereka jadi ragu). Dalam ayat inii perkataan”shalabuhu”ditambahkan lagi dengan perkataan “qataluhu supaya menyatakan bahwa hariya diriaikkan atas kayu salib saja tidak mendatangkan laknat, melainikan dengan syarat bahwa sesudah diriaikkan di atas kayu salib lalu dengan niat qatal (membunuh) dipatahkan pula kaki-kaki dan tangan-tangannya serta dipukul pula, kemudian barulah kematian inii akan dikatakan kematian mal’un (yang terlaknat). Akan tetapi Allah s.w.t. telah memeihara nabi Isa a.s. dan kematian semacam itu, betul beliau. a.s. diriaikkan atas kayu salib, tetapi beliau a.s. tidak .mati karena disalib.
Akan tetapi orang-orang Yahudi mendapat keraguan bahwa seolah-olah beliau a.s. telah mati di atas kayu salib. Orang-orang Nasara pun mendapat kesamaran begitu juga, hariya mereka berpendirian bahwa sesudah mati beliau a.s. hidup kembali. Padahal sebenarnya, beliau a.s. hariya pinigsan karena kesakitan yang diderita olehnya di atas kayu salib, dan perkataan “syubbiha lahum” (artiniya: mereka jadi ragu) dan iniilah yang dimaksud dalam perkataan “syubbiha lahum”. Satu persaksian yang palinig mengherankan tentang kejadian inii, ialah satu resep dan “zaif—Isa” yang sudah beratus-ratus tahun senantiasa dicantumkan dalam buku obat-obat orang-orang Ibrani, Romawi, Yunani dan orang-orang Islam juga, dengan keterangan bahwa resep inii disediakan untuk mengobati luka-luka nabi Isa a,s. dahulu.
Pendek kata, pikiran inii sangat memalukan jika Allah s.w.t. telah mengangkat nabi Isa a.s. dengan badan kasarnya ke langit, seperti seolah-olah Dia takut oleh orang-orang Yahudi, supaya jangan sampai mereka dapat menangkapnya.
Orang-orang yang tidak mengerti kepada asal perkara yang harus diputuskan, merekalah yang menyiarkan pikiran-pikiran semacam itu. Lagi pula pikiran tersebut sangat menghinia kepada Nabi Muhainiiniad s.a.w., karena orang-orang kafir Quraisy dengan berulang-ulang telah iniinita mu’jizat supaya beliau s.a.w. naik ke langit di hadapan mata mereka dan membawa kitab dan langit, lalu mereka semua akan beriman kepada beliau s.a.w.. Tetapi mereka dijawab beginii: “qul subharia Rab bi hal kuntu illa basyaran rasula” (17:94). (Artiniya: Katakanlah, Maha Suci Tuhari-ku, tidaklah aku melainikan sam manusia dan rasul). Yakni saya hariyalah satu manusia dan Allah s.w.t. adalah suci dan tidak akan melanggar perjanjian-Nya dengan mengangkat manusia ke langit. Padahal Dia telah menjanjikan, bahwa semua manusia akan hidup hariya di buinii inii, kemudian bagaimanakah Dia akan mengangkat nabi Isa a.s. dengan badan kasarnya ke langit dengan tidak memperdulikan kepada perjanjian-Nya yang beginii: “fiha tahyauna wa fiha tamutuna wa iniiniha tukhrajun” (7:26).
(Artiniya: Di buinii iniilah kamu akan hidup dan di buinii iniilah kamu akan mati dan dan padanyalah kamu akan dikeluarkan pula).
Adapun sebabagian orang-orang yang berpendapat, bahwa mereka tak perlu mempercayai kepada Masih Mau’ud. Mereka mengatakan pula: “Baiklah Kamii menerima bahwa nabi Isa a.s. telah wafat, tetapi apabila Kamii adalah orang Islam yang bersalat dan berpuasa dan ikut kepada perinitah-perinitah Islam, lalu apakah perlunya Kamii mesti mempercayai kepada orang laini.”
Tetapi haruslah diperhatikan orang-orang semacam itu adalah dalam kesalahari besar. Pertama sekali, bagaimanakah mereka dapat mengaku diri Islam jika mereka tidak mengikut perinitah Allah s.w.t. dan rasul-Nya.
Perinitah Allah dan rasul-Nya menyatakan, bahwa apabila Imam Mau’ud (imam yang dijanjikan) telah datang kemudian kamu dengan segera harus menghadap kepadanya, sekalipun dengan merangkak di atas gunung es kamu harus menemuiniya. Akan tetapi berlawanan dengan perinitah Ilahi itu sekarang mereka tidak memperdulikan kepada Imam Mau’ud itu, apakah iniilah yang dikatakan Islam dan ke-Islaman itu?
Bukan hariya begitu saja, malah Masih Mau’ud itu dicaci maki dengan perkataan yang kotor-kotor serta diriamakan kafir dan dajjal. Bahkan orang-orang melawan dan rnenyusahkan saya dengan anggapan bahwa mereka mendapat pahala besar, dan mereka mendustakan saya dengan anggapan bahwa Allah akan senang kepada mereka.
Hai orang-orang yang telah diberi pelajaran untuk sabar dan takwa. Mengapa kamu tergesa-gesa dan berprasangka? Tanda manakah yang tidak diperlihatkan oleh Allah dan keterangan manakah yang tidak dikemukakan oleh-Nya? Akan tetapi kamu tidak menerimanya, dan menolak kepada hukum-hukum Allah s.w.t. dengan keberanian. Dengan siapakah saya musti umpamakan tukang hela dan makar zaman sekarang, mereka adalah seperti seorang pengicuh yang me ri utup matanya di waktu siang hari yang terang benderang dengan mengatakan: “Di manakah matahari?” Hai orang-orang yang menipu kepada diri sendiri. Terlebih dahulu. bukalah mata sendiri, kemudian barulah kamu akan melihat matahari.
Mengatakan kafir kepada seorang rasul Allah adalah mudah, tetapi mengikutiniya dalam jalan-jalan yang halus dan keimanan adalah musykil. Menyebut seorang utusan Allah dajjal adalah gampang, tetapi masuk dalam pinitu yang sempit sesuai ajarannya adalah sukar.
Tiap-tiap orang yang mengatakan bahwa ia tak menghiraukan kepada Masih Mau’ud, sebetulnya ia tidak menghiraukan kepada keimanannya sendiri, orang-orang semacam itu tidak menghargai kepada iman, najat dan kesucian yang sebenarnya. Jikalau mereka memakai sifat keadilan dan mempelajari keadaan bathini mereka sendiri, barulah mereka alçan mengetahui, bahwa selaini dan keyakinian yang barn dan hidup, yang turun dan langit dengan perantaraan nabi-nabi dan rasul-rasul-Nya sembahyang mereka hariya menyerupai suatu adat kebiasaan saja, dan puasa-puasa mereka hariyalah berlapar belaka.
Sebenarnya seseorang tak akan dapat lepas dan dosa dengan sebetulnya, dan tak akan beroleh kecinitaan Ilahi yang sejati, dan tak bertaqwa kepada Allah dengan semestiniya, sehinigga ia belum
mendapat ma’rifat Ilahi dengan fadlal-Nya, serta taufiq dan pada-Nya. Hal inii adalah jelas sekali, bahwa tiap-tiap ketakutan dan kecinitaan akan terdapat karena ma’rifat juga. Barang-barang dalam dunia inii, ada yang dicinitai oleh manusia dan ada pula yang ditakuti oleh manusia, semua keadaan-keadaan inii akan timbul dalam bathini manusia sesudah ma’rifat juga. Memang sebenarnya tidak dapat diperoleh ma’rif at, sehinigga tidak ada fadlal (kurnia) dan Allah s.w.t. dan tidak akan bermanfaat pula kalau tidak ada fadlal dan pada-Nya. Ma’rifat hariya akan datang dengan perantaraan fadlal (kurnia), kemudian dengan perantaraan ma’rifat akan terbukalah suatu pinitu untuk menyelidiki dan menyaksika kebenaran dan hak, lagi pula hariya dengan berulang-ulang datangnya fadlal saja pinitu akan senantiasa terbuka dan tak akan tertutup. Pendek kata, ma’rifat akan diberikan dengan perantaraan fadlal, dan akan kekal dengan perantaraan fadlal juga. Hariya fadlal yang bikini bersih dan terang kepada ma’rifat membukakan segala tutup yang menghalangi menjauhkan debu dan kotoran nafsu amarah dan memberi hidup serta kekuatan kepada roh. Maka fadlal pula yang melepaskan nafsu amarah dan pada ikatan keamarahariniya, membersihkan daripada kekotoran kehendak yang jahat, dan mengeluarkan arus yang keras dan perasaan kenafsuan. Kemudian barulah timbul suatu penubahari dalam bathini manusia, lantas dengan sendiriiniya ia jemu dan benci kepada kehidupan yang kotor. Setelah keadaan yang tersebut, lalu gerak pentama yang tenjadi karena fadlal dalam noh manusia ialah doa. Jangan keliru, bahwa kita pun saban hari berdoa, dan salat pun doa juga yang kita kerjakan, kanena doa yang timbul sesudah ma’rifat dan dengan perantaraan fadlal Ilahi adalah laini dalam sifat dan keadaannya. Itulah suatu barang yang dapat mengharicunkan, suatu api yang dapat membakar, suatu magnit untuk menanik kepada rahmat Ilahi, suatu maut (kematian) yang akhirnya akan menghidupkan dan suatu taufan banjir yang akhirnya menjadi perahu.Tiap-tiap urusan yang telah rusak dapat dipenbaiki dengan itu, dan tiap-tiap racun akhirnya menjadi obat kanena itu. Berbahagialah tawanan yang bendoa dengan tidak mengenal jemu dan lelah, kanena mereka akan dibebaskan pada suatu waktu. Berbahagialah orang-onang buta yang tidak lalai di dalam doa, karena mereka akan mulai melihat pada suatu waktu. Berbahagialah orang-orang dalam kuburan yang memohon pertolongan Ilahi dengan doa, karena pada suatu saat mereka akan dikeluarkan dan kuburan itu,
Berbahagialah kamu, apabila kamu tidak mengenal lelah dan payah untuk berdoa, roh kamu Iebur-lelah untuk berdoa, matamu mengalirkan air mata dan akan menyalakan suatu api dalam dada- mu.
Untuk rnendapatkan rasa kecinitaan dalam suasana terpisah dan menyendiri kamu dibawa ke sudut-sudut yang gelap dan di hutan-hutan yang sunyi senyap, dan membikini kamu menjadi gelisah, pandir dan lupa diri, karena akhirnya akan dibukakan. fadlal Ilahi kepadamu. Kamii yang hariya mengajak kamu kepadaNya adalah yang Pemurah, Pengasih, Yang Penyantun, Benar, Setia dan Penyayang kepada yang tidak berdaya. Maka kamu pun harus setia dan berdo’a dengan penuh kejujuran dan kesetiaan supaya Dia pun akan kasihari kepadamu. Pisahkanlah dirimu dan keributan dan kekacauan dunia inii, agarna janganlah kamu warnai dengan rona kenafsuan. Kalahkanlah dirimu karena Allah dan terimalah kekalahari supaya kamu menjadi waris dan kemenangan-kemenangan yang besar. Orang-orang yang berdoa akan diperlihatkan mu’jizat oleh Allah s.w.t. dan orang-orang yang memohon akan diberi nikmat yang luar biasa. Do’a itu datang dan Allah s.w.t, dan kembali pula kepada-Nya. Dengan perantaraan do’a Allah s.w.t. menjadi dekat, seperti jiwamu adalah dekat kepadamu. Nikmat yang pertama dan dda, ialah manusia mendapat perubahari suci di dalam diriiniya, kemudian karena perubahari itu Allah s.w.t. pun merubah sifat-sifat-Nya. Sifat-sifat Allah s.w.t. tidak pernah berubah, akan tetapi untuk orang yang telah mendapat perubahari inii Dia menampakkan sifat-sifat-Nya dengan suatu cara yang laini lagi yang tidak diketahui oleh dunia. Seolah-olah Dia adalah Tuhari yang laini, padahal tidak ada Tuhari yang laini, hariya penampakan (tajjali) yang baru menyatakan Dia dalam keadaan yang baru. Kemudian dalam keadaan penampakan yang ikhas itu Dia mengerjakan hal-hal untuk orang yang telah beroleh perubahari yang suci itu, yang tidak dikerjakan untuk orang-oranglaini, iniilah yang dikatakan hal yang luar biasa (mu’jizat).
Pendek kata adalah suatu obat yang amat aksir (mujarrab dan mustajab) yang membikini segumpal tanah menjadi suatu barang yang tidak ternilai harganya, dan itulah suatu air yang membersihkan segala kekotoran bathini. Dengan do’alah roh manu26
sia haricur luluh dan mengalirseperti air ke hadapan istana Tauhid Ilahi, begitupun roh itu berdiri pula di hadapan Allah s.w.t. lalu berukuk dan bersujud pula.
Sebagai zhill (bayangan) dan kaifiat roh iniilah diadakan salat 2 yang diajarkan oleh Islam. Berdiriniya (Qiyam) roh itu bermaksud, bahwa ia telah siap sedia untuk menderita segala musibat di dalam jalan Allah dan mengikut segala perinitah-Nya, Rukuknya roh itu berarti bahwa ia condong kepada Allah s.w.t. dengan melepaskan segala kecinitaan dan pertalian-pertalian yang laini, dan menjadi tunduk pada Allah untuk selama-lamanya. Sujudnya roh itu benmaksud bahwa ia menjatuhkan diri di hadapan istana Ilahi dengan menghilangkan diri pribadi dan menghapuskan segala pola diriniya. Deiniikianlah salat yang mempertemukan manusia dengan Allah s.w.t. dan syari’at Islam telah menggambarkan segenap kaifiat salat roh inii dalam salat yang lazim dikerjakan sehari-hari, supaya salat yang zahir inii akan menggerakkan dan mendorong kepada salat roharii itu.
Allah s.w.t. telah menjadikan manusia dengan begitu macam, bahwa senantiasa roh memberi bekas dan pengaruh kepada badan, dan begitu pula badan membeni bekas dan pengaruh kepada roh. Apabila rohmu berduka cita, kemudian mata pun akan mengalirkan air mata, dan apabila rohmu bersenang suka lalu dan air muka pun akan tampak riang gembira, malah kadang-kadang akan mulai tertawa pula. Begitupun bilamana badan menderita sesuatu kesakitan dan kesusahari, kemudian roh pun akan ikut serta dalam penderitaan itu. Apabila badan dapat kesenangan dan suatu hawa yang sejuk, niscaya roh juga akan ikut merasakan lezatnya. Maka ibadah yang zahir inii bermaksud bahwa pertalian di antara badan dan roh dapat menggerakkan roh manusia ke hadapan Allah s.w.t., supaya menyilahkan diri dalam menjalankan qiam, rukuk dan sujud dengan sebenarnya.
Untuk kemajuan, manusia membutuhkan mujahadah (perjuangan) dan salat pun suatu mujahadah juga. Mudah difahamkan, bahwa apabila dua barang telah terikat dengan satu sama laini, kemudian dengan mengangkat salah satu dan barang itu yang laini akan ikut serta bergerak juga, deiniikian pulalah halnya badan dengan roh. Tetapi hariya qiam, rukuk dan sujud dengan badan zahir saja tidak akan berfaedah, kalau tidak diusahalcan supaya roh pun ikut qiam, rukuk dan sujud, sedangkan hal inii tergantung kepada ma’rifat, dan ma’rifat tergantung kepada fadlal (kurnia) Ilahi.
Dan dahulu kala sejak manusia dilahirkan, Allah s.w.t. menjalankan sunnah-Nya beginii, bahwa lebih dahulu dengan fadlalNya yang agung Dia mengirimkan ruhul qudus kepada siapa yang Dia kehendaki. Kemudian dengan pertolongan ruhul qudus menimbulkan kecinitaan-Nya di dalam orang itu, dan memberikan kejujuran dan keteguhari kepadanya, dan dengan macam-macam tanda menguatkan ma’rifatnya serta menjauhkan segala kelemahariniya, sehinigga ia betul-betul bersedia untuk mengurbankan hidupnya di dalam jalan-Nya.
Pertalian dan perhubungan dia dengan Allah s.w.t. menjadi begitu rapat dan kuat yang tak dapat diputuskan oleh suatu musibat atau pedang apapun. Kecinitaannya itu tidaklah didasarkan atas sesuatu yang tidak kekal, tidak tamak kepada surga, tidak takut dan neraka, tidak mengharap kesenangan dunia dan harta henda, tetapi hubungan inii tidak dapat diketahui melainikan oleh Allah s.w.t.. Terlebih ajaib lagi ialah orang yang terikat dalam kecinitaan itu ia pun tak dapat sampai kepada hakekat perhubungan itu, bahwa mengapa dan bagaimana dan untuk apakah perhubungan itu? Karena perhubungan itu adalah dengan azal (yang tiada permulaannya) dan bukanlah karena ma’rifat, maiah ma’rifat datang sesudah perhubungan itu yang menerangi perhubungan itu.
Sebagaimana api terlebih dahulu sudah ada dalam batu tetapi akan menyala dan nampak sesudah di pantik dan dipukul dengan barn pantik. Orang yang mempunyai perhubungan semacam itu di satu pihak mempunyai kecinitaan yang sangat kuat dengan Allah s.w.t., dan di fihak laini ia mempunyai kecinitaan dan hasrat untuk menolong dan memperbaiki sesama manusia. Oleh karena itulah di satu fihak karena pertalian dengan Allah s.w.t. ia senantiasa tertank kepada-Nya, dan di fihak laini karena perhubungannya yang sangat rapat dengan sesama manusia maka orang-orang yang sehat bathininya senantiasa tertarik kepadanya.
Iniisalnya seperti matahari yang senantiasa menarik segenap lapisan buinii kepada diriniya, dan lagi matahari sendiripun senantiasa tertarik kepada suatu jurusan laini juga, samalah halnya orang semacam itu, menurut isthilah agama Islam mereka itu diriamakan nabi, rasul, dan muhaddits. Mereka itu beroleh mukalamah dan mukhatabah (pembicaraan) dan Allah s.w.t. serta berbagai-bagai mu’jizat nampak dan tangan mereka, lagi pula kebanyakan doadoa mereka dikabulkan, dan acapkali mereka dapat menerima jawaban dari Allah s.w.t. dalam dada-dada mereka.
Sebabagian orang-orang yang tidak faham suka mengatakan beginii: “Kamii pun mendapat iniimpi-iniimpi yang benar, kadangkadang ada juga doa-doa Kamii yang dikabulkan dan ada kalanya Kamii mendapat ilham juga, kemudian apakah perbedaan di antara Kamii dengan rasul-rasul-Nya? Maka di sisi mereka itu nabi Allah adalah penipu atau dalam kekeliru.an, karena memegahkan suatu hal yang tak begitu berharga, dan tiada berapa perbedaan di antara nabi dengan orang yang bukan nabi. Iniilah suatu pendirian yang sangat sombong, yang telah mencelakakan orang-orang banyak dalam zaman sekarang. Tetapi bagi orang-orang yang hendak mencan kebenaran adalah keterangan-keterangannya yang jelas adalah sebagai berikut: Sesungguhnya Allah s.w.t. telah meiniilih kepada segolongan manusia dengan fadlal dan kurnia-Nya yang khas, serta memuliakan kepada mereka dengan memberi nikmat-nikmat kerohariian, oleh karena itu meskipun nabi-nabi itu dilawan dan ditolak oleh musuh-musuhnya yang buta-tuli, tetapi nabi-nabi Allah senantiasa beroleh kemenangan juga. Lagi pula nur dan kesucian mereka senantiasa tampak dengan jalan yang sangat luar biasa Sehinigga orang-orang yang cerdik dan berakal mengakui bahwa di antara nabi dengan orang-orang yang bukan nabi adalah perbedaan yang amat besar. Seorang iniiskini peiniinita-iniinita pun mempunyai sedikit uang dan seorang raja pun mempunyai khazanah yang penuh dengan uang, tetapi orang iniiskini itu tak dapat mengatakan bahwa ia sama dengan raja itu.
lJmpamanya biniatang kunang-kunang pun mempunyai cahaya yang kelap-kelip pada waktu malam, dan matahari pun mempunyai cahaya, tetapi kunang-kuang tak dapat mengatakan bahwa ia sama dengan matahari. Allah s.w.t. kadang-kadang suka juga memberi ruya, kasyaf dan ilham kepada orang-orang umum supaya mereka dengan pengalaman sendiri dapat mengenal nabi-nabi Allah. Lagi pula jalan iniipun dapat dipakai untuk menyempurnakan keterangan kepada mereka agar tiada suatu ‘udzur lagi.
Suatu sitat yang istimewa lagi dan hamba-hamba-Nya yang suci mu, ialah mereka mempunyai kekuatan mendidik dan menarik, serta mereka dikiniim untuk mendiriikan keturunan roharii dalam dunia inii. Mereka meiniimpini dan menuntut manusia dengan jalan kenyataan, dan menjauhkan segala kegelapan dan mereka. Oleh karena itu ma’rifat dan kecinitaan Ilahi, kesucian dan taqwa yang sebenarnya serta kegembiraan dan keladzatan iman hariya dengan perantaraan mereka akan timbul dalam kalbu manusia.
Memutuskan perhubungan dengan mereka sama seperti suatu cabang jatuh dan pohonnya. Perhubungan dengan mereka mernpunyai suatu khasiat yang luar biasa, dan agar kita menghubungkan diri dengan mereka mulailah pendidikan dan kemajuan IZerohariian menurut ukuran perhubungan itu masinig-masinig. Bilamana perhubungan itu diputuskan akan mulai pula keadaan keimanan diliputi oleh debu dan kekotoran.
Hariya orang-orang yang takabur dan sombong mengatakan, bahwa ia tak butuh dan tidak perlu nabi-nabi dan rasul-rasulNya, iniilah tanda kerusakan imannya. Dia menipu diriniya dengan mengatakan: Kamii bersembahyang, berpuasa dan mengucapkan kalimah syahadat. Dia mengucapkan deiniikian karena dia tidak mempunyai keimanan, keikhlasan dan kegemaran yang sebenarnya. Dia hams meiniikirkan pula, meskipun manusia dijadikan oleh Allah s.w.t., tetapi satu manusia menjadi perantaraan untuk kelahiran satu manusia laini. Maka sebagaimana dalam silsilah Jasmani adalah bapak-bapak roharii yang menjadi perantaraan untuk kelahiran keturunan roharii. Haruslah berhati-hati, janganlah menipu diri dengan hariya mengemukakan gambar Islam yang lahiriyah.
Kamu haruslah mempelajari kalam Allah s.w.t. dengan teliti untuk mengetahui kehendak dan maksud-Nya. Dia menghendaki dan kamu apa yang telah diajarkan dalam doa surat Alfatihah. “ihdirias sirathal mustaqima sirathal ladzinia an’amta ‘alaihim”. Artiniya: tunjukkanlah Kamii jalan yang lurus, perjalanan orangorang yang engkau ben nikmat atas mereka. Allah s.w.t. berfirman bahwa lima kali satu hari kamu harus membaca doa inii dalam salat, supaya nikmat yang diberikan kepada nabi-nabi dan rasulrasul-Nya akan diberikan pula kepadamu, kemudian bagaimanakah kamu dapat memperoleh nikmat-nikmat itu dengan tidak perantaraan nabi-nabi dan rasul-rasul-Nya?
Maka sudah sewajarnya Allah s.w.t. kadang-kadang mengutus nabi-nabi-Nya yang akan menyampaikan kamu kepada derajat keimanan dan kecinitaan yang tiniggi supaya kamu memperoleh nikmat-nikmat itu. Apakah kamu akan melawan kepada Allah s.w.t. dan menentang kepada undang-undangnya dan dahulu kala?
Dapatkah nuthfah (bibit manusia) lahir dengan tidak perantaraan bapak? Dapatkah teliniga mendengar tanpa perantaraan hawa?
Maka tiada suatu kebodohari yang lebih besar dan pada melawan kepada undang-undang-Nya (dan dahulu kala) itu.
Haruslah diperhatikan pula, bahwa saya. diutus oleh Allah’ s.w.t. dalam zaman sekarng, bukan hariya untuk memperbaiki orang-orang Islam saja, rnalah saya hams memperbaiki kaum-kaum lsla.n, Hinidu dan Kristen ketiga-tiganya. Allah s.w.t. telah menadik n saya sebagai Masih Mau’ud untuk orang-orang Islam dan Kristen, begitu pun sebagai Autar (nabi) untuk orang-orang Hinidu. Kurang lebih 20. tahun saya senantiasa menyiarkan, bahwa untuk menjauhkai dosa-dosa yang penuh dalam dunia inii saya adalah sebagai Masih Ibnu Maryam begitu pula sebagai Raja Krisyna yang adalah sebaai Autar (nabi) yang terbesar dan semua Autar agama Hinidu.
Atau boleh dikatakan menurut hakikat kerohariian sayalah itu juga. hi bukanlah khayal atau dugaan saya sendirii, melainikan Allah yang menguasai buinii dan langit télah menyatakan hal inii kepada sya, bukan hariya ekali tetapi berulang-ulang. Dia telah menerangkan: “EngkaufGf’& onang-orang Hinidu dan Masih Mau’ud untuk orang-orang Islam dan Kristen”, Saya mengetahui orang-orang Islam yangjahii setelah mendengar inii dengan segera akan ir.encap saya kafir, karena saya memakai nama orang Hinidu. Tetapi iniilah wahyu Ilahi yang saya tak dapat sembunyikan, dan iniilai hari per’:ama saya kemukakan hal inii di hadapan satu pertemuan yang hgitu besar, karena orang-orang yang diutus olehNya mereka tidak’ takut suatu pencelaan dan mana pun jua.
Sekarang saya terangkan, apa yang telah dibukakan kepada si y, bahwa Krisyna adalah seonang amat suci yang tidak ada bandirigannya d artara orang Rishi (wall) dan Autar.(nabi) dalam agama Hinidu. Krisyna adalah seorang Autor, yakni nabi dalam zamannya, yang mendapat ruhul qudus dan Allah s.w.t.. Beliau diberi kemenangan dan kemuliaan daripàda-Nya, dan beliau membersihkim tanah airnya dan dosa-dosa. Beliau adalah nabi yang sebenarnya dalam zaman itu, hariya sesudah beliau ajarannya banyak diobah-obih. Beliau mempunyai kecinitaan yang penuh .kepada Allah s.w.t., persahabatan’ dengan kebaikan dan permusuhari dengan kejahatan. Allah s.v..t. telah berjanji untuk mengadakan penjelmaan dan beliau. atau. Autar dalam akhir zaman, maka perjanjiari ni telah sempurna dengan kedatangan saya. Dalam ilham-ilham yang saya terima ada satu ilham tentang diri saya heginii “hei Krisyna rawaddar gaupal ten mehma gita men likhi gel hei” (artiniya: Krisyna yang pengasih, dan pemelihara sapi”, pujianrnu tertulis dalam buku.suci Gita). Saya cinita kepada Krisyna, karena saya adalah mazharnya (penjelmaan) satu hikmat lagi ialah sifat-sifat yang disebutkan dalam Krisyna, yakni pembersih dosa, penyayang dan penolong si iniiskini dan sebagainiya. Sifat-sifat itu juga disebutkan dalam Masih Mau’ud. Maka menurut kerohariian Krisyna dan Masih Mau’ud satu juga, hariya ada perbedaan dalam istilah masinig-masinig golongan.
Sekarang saya sebagai Krisyna memberitahukan kepada orang-orang Ariya tentang beberapa kesalahari-kesalahari mereka. Salah satu dan padanya saya telah ceriterakan lebih dahulu, yakni sikap dan i’tiqad inii adalah salah, bahwa roh-roh dan molekulmolekul alam inii yang disebutkan sebagai “parkarti” atau “parmanu” itu bukan makhluk dan tidak akan haricur pula selamalamanya.
Selaini dan Allah semua makhluk adalah ciptaan-Nya, Dia tidak membutuhkan kepada siapapun juga. Sesuatu yang butuh dan tergantung kepada yang laini niscayalah itu bukan ghair makhluq. Apakah sifat-sifat roh adalah dengan sendiri saja? Apakah tiada yang menjadikan kepadanya? Kalau inii betul, kemudian rohroh pun dapat masuk dalam badan-badan laini dengan sendiriniya, dan molekul-molekul dapat berkumpul dan berpisah dengan sendiriniya juga. Dengan jalan deiniikian tiada suatu keterangan menu- rut akal lagi untuk mempercayai kepada Allah s.w.t.. Kalau akal dapat menerima, bahwa semua roh-roh dengan segala sifat-sifatNya terjadi dengan sendiriniya, kemudian aqal akan menerima juga kepada hal inii, bahwa persambungan dan perpisahari di antara roh dengan badan pun terjadi dengan sendiriniya. Kalau jalan inii untuk terjadi “dengan sendiriniya” masih terbuka, kemudian tiada keterangan lagi untuk menutupkan jalan yang kedua itu. Pendirian inii tak akan dapat dibereskan oleh ilmu manthiq (logika) mana juga. Kesalahari inii telah menjerumuskan orang-orang Ariya ke dalam satu kesalahari yang laini yang akan merugikan mereka sebagaimana kesalahari pertama menghinia kepada Allah s.w.t.. Yakni orang Ariya telah menetapkan bahwa “mukti” (keselamatan, najat) itu hariyalah bersifat sementara saja, dan mereka menganggap penitisan roh (reini camatie) adalah untuk selama-lamanya, yang tak dapat dilepaskan lagi. Menurut aqal yang sehat dan kekurangan semacam inii tak dapat diriisbahkan kepada Allah s.w.t.. Kalau Allah s.w.t. mempunyai kekuasaan untuk memberi keselamatan yang abadi, malah Dia adalah kuasa atas tiap-tiap sesuatu, kemudian tak dapat difahamkan mengapa Dia begitu kikir dalam memberi kemurahari dan kudrat-Nya kepada manusia? Pencelaan inii menjadi lebih kuat, karena roh yang dimasukkan dalam siksaan yang amat panjang untuk mengalainii musibah penitisan yang berulang-uhng, menurut kepercayaan Ariya roh itu bukanlah makhluk-Nya.
Flal inii dijawab oleh orang-orang Ariya, bahwa Tuhari memang kuasa memberi keselamatan untuk selama-lamanya sebab Dia adalah Maha Kuasa, tetapi Dia séngaja menetapkan keselamatan yang bersifat sementara supaya rangkaian roh-roh itu ada terbatas serta tidak dapat ditambahkan lagi, kemudian adanya kelepasan yang bersifat abadi akan menghentikan peraturan penitisan dan penjelmaan roh. Sebab roh-roh yang tidak beroleh najat (keselamatan) yang abadi, berarti roh-roh itu telah ke luar dan kekuasaan Tuhari.
Deiniikianlah lambat-laun akhir kelak tidak akan ada suatu roh lagi pun dalam tangan Tuhari untuk dimasukkan dalam peraturan penitisan dan Dia akan berhenti bekerja, oleh karena itulah Tuhari telah mengatur supaya keselamatan itu bersifat sementara dan terbatas. Keterangan yang tersebut di atas dapat lagi kritik beginii, bahwa orang-orang yang tidak berdosa lagi dan telah beroleh najat (keselamatan), mengapa mereka dikembalikan lagi dalam putusan penitisan? Kritik inii dijawabnya, bahwa tiap-tiap roh yang diberi keselamatan oleh Tuhari disisakan salah suatu dosa kepadanya, supaya karena dosa itulah nanti akhirnya ia akan dikeluarkan lagi dan najat itu untuk penitisan. Deiniikianlah dasar pendirian orang Ariya, yang tak dapat diterima oleh akal yang sehat, karena mengemukakan sifat-sifat Tuhari yang sangat bertentangan dengan kesempurnaan-Nya. Orang-orang Ariya memasukkan diri dalam suatu kesulitan yang besar karena menolak kepada sifat Khaliq (yang menjadikan) dan Allah s.w.t. malah mereka menghinia kepada Tuhari karena mereka qiaskan kepada pekerjaan Tuhari seperti pekerjaan mereka sendiri saja. Mereka tidak meiniikirkan, bahwa Allah s.w.t. dalam tiap-tiap sifat-Nya adalah berbeda dengan makhluk, dan mengukur sifat-sifat Allah dengan ukuran sifat-sifatnya manusia adalah suatu kesalahari yang besar, yang dalam ilmu munazharah (ilmu debat) dikatakan qias-ma ‘alfaraq, yakni perbandirigan yang sangat salah. Tentang pekerjaan makhluk pengalaman akal kita mengatakan bahwa tidak dapat “diadakan” sesuatu dan pada yang “tidak ada”, tetapi peraturan tersebut tak dapat diqiaskan terhadap sifat-sifat Allah s.w.t. Allah s.w.t. berbicara dengan tidak memakai lidah jasmani, mendengar dengan tidak memakai kupinig jasnani dan meihat dengan tidak memakai mata jasmani.
Begitu pun Dia mengadakan dan menjadikan dengan tdak memakai bahari-bahari jasmani, kalau Dia pun harus terikat un’uk memakai benda zahir berarti Dia harus turun dan sifat-sifat ke Tuhariannya. Ada lagi satu kerusakan yang sangat besar da1am i’tiqad inii, bahwa tiap-tiap zarrah atau molekul terjadi clcngan sendiriniya dan tidak akan haricur pula, yakni tiap-ti2p zarrah dianggap sebagai sekutu terhadap Allah.
Orangorang yang menyembah berhala, mereka anggap ban ia beberapa berhala sebagai sekutu terhadap Allah, tetapi menurat i’tiqad Ariya segenap dunia menjadi syirik kepada Allah s.w.t., karena tiap-tiap zarrah adalah Tuhari bagi diriniy. Allah s.w.t. mengetahui, saya katakan hal-hal inii bukan karena benci atau bermusuhari, malah saya yakini dengan sebenarnya, bahwa asal pelajaran Weda tentu bukanlah begitu. Saya mengetahui pula, hariya orang-orang ahli-filsafat menurut kehendak sendiri telah membikini i’tiqad macam deiniikian, dan kebanyakan dan mereka akhirnya menjadi dahriyaah (aiheist, yang tidak percaya kepada Tuhari). Saya takut, kalau orang-orang Ariya tidak akan berhenti dan i’tiqad yang salah inii, nanti akibatnya mereka pun akan jelek seperti mereka itu juga.
Dalam i’tiqad inii terutama babagian penitisanlah (reinicarnatie) yang sangat menodai kepada sifat kasihari dan fadlal Allah. Apabila kita perhatikan, bahwa dalam sejengkal tanah terdapat berjuta-juta semut, dalam setitik air adalah berlaksa-laksa kuman dan semua sungai lautan dan hutan-hutan pun penuh dngan bermacam-macam biniatang besar dan kecil, yang tak dat dihitung banyaknya dan bilangan segenap manusia tidak dapat dibandirigkan sedikit jua pun kepada banyaknya biniatang-biniatang itu.
Maka kalau dianggap untuk sementara, bahwa masalah penitisan (reinicarnatie) itu betul, kerñudian apakah yang sampai sekarang telah dibikini oleh Tuhari, dan berapa banyak yang telah diberi najat dan apakah yang dapat diharap kemudian ha;i.
Tambahari pula tak dapat difahamkan peraturan ±ni, bahwa orang yang diberi hukuman, tidak diberitahukan apa kesalahari atau dosanya.. Satu hal yang lebih menyusahkan lagi, ialah mukti (najat, keselamatan) itu tergantung kepada giyan (ilmu ma’rifat)
sedangkan giyan itu senantiasa hilang dengan meniniggalnya orang itu.
Tiada seorang jua pun hiar bagaimana aiim pendetanya dan dalam penitisan hidup apa saja, yang lahir dalam dunia inii dengan dapat inigat sedikit pelajaran Weda. Maka hal inii menyatakan, orang tak mungkini beroleh najat dengan perantaraan penitisan hidup yang berulang-ulang. Begitu pun orang-orang laki dan perempuan yang lahir dalarn dunia inii menurut peraturan penitisan, mereka tidak disertai dengan suatu daftar yang menyatakan pertalian kekeluargaan mereka, supaya janganlah sampai orang keliru kawini dengan seorang gadis yang dalam hidup dahulu pernah saudara atau ibu kepadanya.
Di sinii karni terus terang nasihatkan kepada orang-orang Ariya, supaya mereka selekas mungkini membuang kepada masalah NIYOG (yakni seorang isteri bersetubuh dengan laki-laki laini Untuk mendapat anak yang sekarang beriaku dikalangan orang-orang Ariya). Bathini manusia sama sekali tidak akan mau menerima, supaya seorang isteri sejati yang mempunyai segala perhubungan yang sewajarnya dengan suainiiniya serta yang dihormati dan dicinitai olehnya, untuk mendapatkan keturunan akan bersetubuh dengan laki-laki yang laini, Kamii tak inigini menulis dengan panjang lebar tentang peristiwa inii dan hariya menyerahkan kepada keputusan conscience (qeweten, bathini sejati) dan tiap-tiap orang yang baik. Orang-orang Ariya yang mempunyai kepercayaan macam tersebut lagi berusaha untuk membujuk orang-orang Islam masuk dalam agama Ariya itu. Maka Kamii terangkan, bahwa tiap-tiap yang berakal akan mau menerima kebenaran, tetapi pendirian agamaAriya inii tidak benar.Allah s.w.t. memperlihatkan diriniya dengan perantaraan sifat-sifat dan kekuasaan yang amat agung, tetapi kalau Dia tidak mempunyai sifat Khaliq (yang menjadikan) dan laini-laini kesempurnaan, kemudian bagaimana Dia dapat dikatakan Tuhari? Manusia dapat mengenal kepada Allah dengan perantaraan sifat-sifat dan kekuasaan-kekuasaan-Nya tetapi kalau Dia tidak mempunyai suatu kekuasaan, dan butuh seperti manusia kepada bahari-bahari dan perkakas, kernudian pinitu untuk mengenal kepada-Nya akan tertutup pula.
Allah s.w.t. patut disembab, oleh karena pemberian dan kemurahari-Nya. Tetapi kalau Dia tidak menjadikan roh-roh, dan Dia tidak mempunyai sifat-sifat untuk memberi kurnia dan kemurahari kepada orang-orang yang bekerja atau usaha untuk itu,.. lalu untuk apa Tuhari semacam itu harus disembah? Menurut pe nyelidikan Kamii, orang-orang Ariya tidak dapat mengemukakan sesuatu contoh yang baik dan agamanya. Mereka menganggap Tuhari begitu lemah dan pendendam, bahwa setelah Dia meng hukum yang begitu banyak pun tidak memberi najat yang kekal, dan kemurkaan-Nya tidak habis-habis juga. Mereka menoda ke pada kebudayaan bangsa dengan masalah NIYOG yang mencemar kan pula kepada kaum wanita yang lemah itu dan deiniikianlah mereka merusak kepada hak-hak Allah dan hak-hak manusia kedua-duanya. Karena membataskan kekuasaan Tuhari, menurut agama mereka sangat dekat kepada dahriyat (atheisme, tidak mempercayai Tuhari); dan karena masalah NIYOG, menurut kebudayaan mereka mnyerupai suatu bangsa yang tak patut diceriterakan.
Di sinii Kamii terangkan dengan sedih hati, bahwa kebanyakan orang-orang Ariya dan Kristen telah biasa mencela kepada peraturan-peraturan Islam yang benar dan sempurna, tetapi mereka Ia lai terhadap kerohariian agamanya sendiri. Mencaci-maki dan mencela kepada orang-orang mulia, nabi-nabi dan rasul-rasul bukanlah ajaran suatu agama, malah perbuatan yang terkutuk inii sangat bcr lawanan kepada asal tujuan agama. Maksudnya agama ialah manu sia harus membersihkan diri dan segala macam kejahatan dan mendidik diri supaya rohnya senantiasa bersujud dihadapan istana Ilahi dengan penuh keyakinian, kecinitaan, ma’rifat, kejujuran dan kesetiaan sehinigga terjadilah suatu perubahari sejati dalam diriniya untuk beroleh kehidupan surga dalam dunia inii juga. Akan tetapi kebaikan yang sebenarnya tak akan dapat diperoleh hariya dengan i’tiqad:
“Bahwa nabi Isa naik di atas kayu salib untuk menebus dosa manusia dan dengan beriman kepada hal inii saja seorang menjadi bersih dan dosa-dosa”. Bagaimanakah dapat diperoleb kesucian dan •kebersihari, kalau tidak dengan mengerjakan tazkiyah nafas (mencusikan diri pribadi) sedikit jua pun?
Kesucian yang sebenarnya baru akan diperoleh, kalau manusia taubat dan kehidupan ‘yang kotor untuk mencari kepada kehidupan yang suci, dan harus menjalankan tiga perkara seperti di bawah inii:
Pertama, ialah tadbir (rencana) dan mujahadah (daya upaya, usaha) yakni sedapat mungkini ia harus berdaya upaya untuk keluar dan kehidupan yang kotor.
Kedua, ialah doa yakni setiap saat ia harus munajat kehadlirat :i hi, agar Dia mengeluarkan kepadanya dan kehidupan yang kobr dengan tangan-Nya sendiri, serta menimbulkan suatu api di dilamnya untuk membakar segala apa yang bersangkut- paut deigan kejahatan, dan memberikan suatu kekuatan untuk menang li ras dorongan-dorongan nafsunya.
Hendaknya ia senantiasa sibuk di dalam doa itu, sehinigga tibalah saatnya, bahwa suatu nur Ilahi turun di atas kalbunya, suatu siniar yang gemerlap melenyapkan segala kegelapan dari nafsunya dan menjauhkan kelemahari-kelemahariniya serta menimbulkan suatu perubahari suci pada diriniya. Sebenarnya doa mempunyai kekuatan yang luar biasa, orang mati kalau dapat dihidupkan lagi hariyalah dengan doa, orang terbelenggu kalau dapat diIlepaskan hariyalah dengan doa, orang-orang kotor kalau dapat dibikini suci hariyalah dengan doa saja. Akan tetapi mengerjakan doa itu samalah susahnya seperti menerima kematian.
Ketiga, ialah bergaul dengan orang-orang suci dan salih, karena suatu pelita dapat diriyalakan dengan perantaraan pelita Iaini yang telah menyala.
Jelasnya iniilah tiga jalan untuk beroleh najat (keselamatan) dari dosa dan dengan mengerjakan semua jalan-jalan inii akhirnya kelak kita akan mendapat fadlal dan rahmat Ilahi. Kita tak akan dan dosa, hariya dengan mempercayai, bahwa nabi Isa a.s. naik di atas kayu salib untuk menebus dosa manusia, melainikan inii hariya berarti menipu diri sendiri. Manusia dijadikan untuk suatu maksud dan tujuan yang sangat tiniggi, maka tidak cukup ia hariya melepaskan diri dari dosa saja.
Banyak biniatang-biniatang yang tidak berbuat sesuatu dosa, kemudian dapatkah biniatang-biniatang itu dipanggil sebagai Kamiil (sempurna)? Dapatkah kita beroleh hadiyah atau kurnia dan seng hariya karena kita tidak berdosa kepadanya? Akan tetapi karunia dan hadiyah itu akan diperoleh hariya dengan khidmat dan hikil yang dikerjakan dengan tulus ikhlas. Maka khidmat dan h4lkb I dalam jalan Allah s.w.t. ialah manusia harius menyerahkan liii kcpada-Nya, serta melepaskan segala kecinitaan yang laini Uni uk kccinitaan kepada-Nya dan membuang kemauan sendiri untuk I urr )Ich kenidlaan-Nya. Tentang hal inii Al-Quran mengemukakan ‘unIlu iniisal, bahwa seorang manusia tak dapat kesempurnaan ‘wliinigga ia belum iniinium dua macam iniiniuman.
Pertama, ialah iniiniuman untuk mendiniginikan kesukaan kepada dosa yang diniamakan dalam Al-Quran: iniiniuman kafur (kapur barus).
Kedua, ialah iniiniuman untuk mengisi kecinitaan Ilahi dalani kalbu manusia, yang diniamakan dalam Al-Quran: iniiniuman zanjabil (jahe). Akan tetapi sayang orang-orang Ariya dan Kristen tidak mempergunakan jalan inii. Orang-orang Ariya mengatakan bahwa dosa mesti akan dihukum, biar bertaubat atau tidak, dan akan menyebabkan penitisan roh yang berulang-ulang. Oran Kristen berpendirian, bahwa hariya dengan mempercayai nabi Isa as. naik di atas kayu salib untuk menebus dosa manusia, kita akan lepas dan dosa-dosa itu. Kedua-dua golongan inii telah sesat jauh dan asal maksudnya, mereka tiniggalkan pinitu yang harus dilaluiniya dan sesat dalam hutan rimba yang sangat jauh.
Setelah ucapan tersebut terhadap orang-orang Ariya, sekaran saya tujukan pembicaraan saya terhadap orang-orang Kristen. Orang orang Kristen yang sangat berdaya-upaya untuk menyiarkan agamanya dalam dunia inii, keadaan mereka lebih jelek dan orangorang Ariya juga. Orang-orang Ariya dalam zaman sekarang lagi berdaya upaya untuk membuang kepercayaan tua yang mengaja.r persembahari kepada makhluk, Tetapi orang-orang Kristen dalam zaman sekarang bukan saja sendiri menyembah kepada makhluk malah lagi berdaya upaya untuk menyeret seluruh dunia ke dalam persembahari kepada makhluk itu. Semata-mata dengan memaksa dan mendesak nabi Isa a.s. dikemukakan sebagai Tuhari, padahal beliau a.s. sama sekali tidak mempunyai suatu kekuatan atau sifat yang tidak ada pada nabi-nabi laini, malah beberapa nabi-nabi laini dalam memperlihatkan mu’jizat ada lebih dan nabi Isa a.s., dan kelemahari-kelemahari beliau a.s. menyaksikan bahwa beliau a.s. hariya adalah semata-mata manusia, dan beliau a.s. tak pernah menda’wakan diriniya sebagai Tuhari. Segala ucapan dan beiiau a.s. yang dipakai untuk menyatakan penda’waan beliau a.s. sebagai Tuhari, adalah kesamaran dan kekeliruan faham saja.
Perkataan-perk ataan sema cam itu acap k au dipergunakan dalam kalimat-kalimat Ilahi sebagai isti’arah dan tamsil terhadap nabi-nabi dan rasul-rasul-Nya. Maka orang yang berakal tak akan menisbatkan penda’waan sehagai Tuhari dan perkataan itu, melainikan kekeliruan itu akan dikerjakn oleh orang-orang yang membikini menjadikan manusia scbagai Tuhari.
Saya bersumpah dengan nama Allah s.w.t., bahwa dalam wahyu-wahvu dan ilham-ilham yang saya terima adalah kalimatkalimat yang lebih dan itu juga. Maka jikalau kalimat-kalimat itu membuktikan nabi Isa a.s. sebagai Tuhari, kemudian saya pun – na’udzubullah — mempunyai hak untuk menda’wakan senucam itu. Haruslah diperhatikan, bãhwa orang-orang yang menuduh bahwa nabi isa a.s. menda’wakan sebagai Tuhari, mereka adalah dalam kesalahari besar, beliau a.s, sama sekali tidak menda’wakan yang semacam itu.
Pengakuan nabi Isa a.s. tentang dini beliau a.s. tidak melebihi batas-batas .syafa’at (perantaraan penolong) itu, dan tiada yang dapat menolak tentang syafa’t nabi-nabi Allah. Dengan syafa’at nabi Musa a-s. beberapa kali bangsa’ Bani Israil diselamatkan dan siksaan yang bergolak-golak. Saya sendiri pun mempunyai pengalaman dalam hal inii, dan sebagian besar dan orang-orang yang terkemuka dalarn Jema’at Kamii mengetahui pula, bahwa dengan syafa’atku bberapa orang-orang diselamatkan dan musibat-musibat dan penx ikitnya sebagaimana hal itu lebih dahulu telah dikhabarkan kepati mereka. I’tiqad tentang nabi Isa a.s. diniaikkan di atas kayu salib untuk menebus dosa manusia, dan dosa-dosa urnmatnya dipikul oleh beliau a.s. adalah suatu masalah yang sangat bertentangan dengan akal yang sehat. Karena dosa seseorang rnenghukum orang laini, adalah suatu hal yang sangat jauh dan sifat-sifat keadilan Allah s.w.t.
Pendek kata, i’tiqad inii adalah penuh dengan kesalaharikesalahari dan kesamaran-kesamaran. Menyernbah kepada makhluk dengan meniniggalkan Allah yang bersifat satu dan tidak bersekutu, bukanlah pkeraan orang yang berakal. Menganggap tiga oknurn yang Kamii d n mustakil serta semua sama-sama mempunyai kekuatan ia kegagahari, kemudiañ dengan mempersatukan ketiga-tiganya menjadi satu Tuhari yang Kamiil, adalah suatu manthiq (lgi t) yang hariya dapat difahamkan oleh orang-orang Kristen daldm 1unia inii. Yang harus disesalkan, ialah maksud dan tujuan membikini kepercayaan yang baru itu, yakni lepas dan dosa dan bebas dan kekotoran dunia inii, semua itu tidak berhasil juga. Malah orang-orang hawariyini nabi isa a.s. sebelum diadakan kepercayaan tentang kaffarah (penebusan) mernpunyai kerohariian yang sangat suci, mereka tidak terjerumus dalam kekotoran keduniaan, dan mereka tidak berdaya-upaya untuk mencari keduniaan saja, tetapi orang-orang kemudian mereka, sesudah ada rnasalah kaffarah tidak mempunyai lagi kerohariian dan akhlak seperti hawarihawari yang dahulu itu. Teristimewa dalam zaman sekarang semakini banyak disiarkannya masalah kaffarah tentang nabi Isa as. semakini banyaklah ummat Kristen maju dalam keduniaan, dan sebagian besar dan mereka seolah-olah seperti orang mabuk siang dan malam masygul dalam pekerjaan dunia saja. Rasanya tak perlu diceriterakan di sinii, dosa-dosa laini yang lagi merajalela di Europa teristimewa iniiniuman arak dan perziniahari.
Sekarang saya jelaskan beberapa keterangan-keterangan ten- tang kebenaran penda’waan saya dihadapan sidang pendengar semuanya dan kemudian pidato inii akan ditutupkan.
Hai! Pendengar-pendengar yang mulia! Moga-moga Allah s.w.t. mcmbukakan dada tuan-tuan untuk menerima kepada hak (kebenaran) dan memberi ilham kepada tuan-tuan untuk faham kepada hak. Seharusnya tuan mengetahui, bahwa tiap-tiap nabi, rasul dan utusan Ilahi yang datang untuk islah (perbaikan) manusia, walaupun menurut akal juga kita harus itaha’at kepadanya, kalau apa yang dikatakan itu benar belaka dan tidak ada bohong atau tipuan sedikit juapun; karena akal yang sehat tidak memerlukan suatu mu’jizat untuk menerima kepada apa yang ternyata benar.
Akan tetapi fithrat manusia mempunyai suatu kekuatan wahamjuga, oleh karena itu biarpun suatu perkara memang benar dan betul, tetapi akan timbul pula waham bathini manusia, bahwa orang yang men ceriterakan itu barangkali mempuryai suatu kepentinigan dini, atau jangan-jangan ia tertipu atau ia hendak menipu. Malah kadang-kadang oleh karena orang yang menceriterakan itu adalah orang yang biasa saja maka perkataannya tidak diperhatikan dan ia dianggap hinia dan rendah. Ada kalanya dorongan dan kehendak nafsu amarah adalah begitu keras, meskipun apa yang difirmankan itu telah dimengerti dan telah diketahui benarnya, tetapi tidak mendapat kekuatan untuk mengerjakan hal itu, atau karena kelemahari fithrat tak dapat mengerjakan. Maka oleh karena itulah hikmat Ilahi menetapkan, bahwa orang-orang makshus (istimewa) yang dikirim oleh-Nya beserta mereka dikirim pula beberapa tanda-tanda sebagai pertolongan Ilahi. Tanda-tanda kadang-kadang sebagai pertolongan Ilahi. Tanda-tanda itu kadangkadang menyerupai rahmat dan kadang—kadang sebagai adzab juga, oleh karenatanda-tanda itulah orang-orang yang diutus olehNya diniamakan Bashir (yang membawa khabar-suka) dan Nadzir (yang membawa khabar duka). Tetapi dan tanda-tanda rahmat hariya orang-orang muiniini akan •mendapat kebahagiaan, yang tidak takkabur di hadapan perinitah Ilahi dan tidak menghinia kepada qrang-orang yang diutus oleh-Nya, malah mengenal kepada mereka menurut firasat yang Allah memberikan kepada mereka. Mereka memegang kepada ja1antaqwa dengan kuat dan tidak berkeras kepala, begitupun mereka tidak mengasngkan dini dan masyarakat kareria keduniaan dan takkabur, dan tidak mendapat kemuliaan secaramenipu.
Malah apabila mereka menyaksikan, bahwa menurut sunnat nabi-nabi-Nya seorang telah bangun pada waktunya yang tepat unuik memanggil manusia kepada Allah s.w.t. dan ada suatu jalan untuk mempercayai kepada kebenarannya. Lagi pula pertolongan Ilahi, taqwa dan amanat terdapat dalam orang jtu, dan menurut ketetapan nabi-nabi Allah tiada perbuatan atau perkataan yang dapat dicela, lalu mereka menerima dan beriman kepada orang itu. Begitupun ada lagi sebagian orang yang baik dan patuh bathininya, mereka dengan melihat air muka saja dapat mengetahui bahwa muka itu bukan dan orang yang baik dan patuh bathininya, mereka dengan melihat air muka saja dapat mengetahui bahwa muka orang itu bukan dan orang yang pembohong dan penipu. Maka orang-orang macam iniilah yang mendapat tanda-tanda rahmat Ilahi, dan oleh karena pergaulan dengan orang yang suci dan salih itu dengan segera mereka mendapat kekuatan iman dan pengalaman tentang perubahari sejati untuk menyaksikan kepada tanda-tanda yang baru itu. Hikmat-hikmat rahasia-rahasia, pci-tolongan-pertolongan, bantuan-bantuan dan ilmu-ilmu ghaib semuanya menjadi tanda-tanda Ilahi bagi mereka. Karena kecerdasan dan kehalusan otak mereka dapat mengetahui kepada tanda-tanda Ilahi yang sedalam-dalamnya, dengan merasa kepada pertolongan Ilahi yang sangat halus dan dalam-dalam terhadap utusan-Nya. Sebaliknya dan itu ada lagi orang-orang laini yang tidak beroleh kebahagiaan dan tanda-tanda rahmat sedikit juapun. Sebagaimana kaum nabi Nuh a.s. tidak mendapat kebahagiaan dan suatu mu’jizat laini, melainikan hariya dan mu’jizat taufan banjir yang menenggeiamkan mereka. Kaum nabi Luth as. pun idak mengambil faedah dan suatu mu’jizat, melainikan dan mu’jizat hujan batu dan gempa buinii yang membiniasakan negeri mereka.
Begitupun Allah s.w.t, mengutus saya dalam zaman sekarang inii, dan saya menyaksikan bahwa kebanyakan orang zaman sekarang mempunyai thabiat dan kelakuan seperti kaum nabi N’iE Beberapa tahun yang lalu Allah s.w.t. memperlihatkan dua t dl atas langit tentang kebenaranku dan menurut riwayat seor: keturunan Nabi Muhammad s.a.w. hal itu sebagai khabar g yang telah diberitahukan lebih dahulu oleh beliau s.a.w. Ba apabila imam akhir-zaman akan datang dalam dunia inii. tampak dua tanda baginiya, yang tidak pernah diperlihatkan orang laini. Yakni pada waktu itu dalam bulan Ramadhari (ba. puasa) bulan akan menjadi gerharia pada tanggal pertama E.i pada tanggal-tanal gerharia bulan, dan dalam bulan Ran J- itu juga matahari pun akan menjadi gerharia pada tanggal yang: ngah-tengah dan pada tanggal-tanggal gerharia matahari. KhaE a ghaib inii disetujui oleh orang-orang ahli sunnah dan syi’ah sen-z nya dengan keterangan sejak adanya dunia inii tidak pernah ke a an kedua gerharia itu pada tanggal-tanggal tersebut dalam zaim bilamana seorang menda’wakan sebagai utusan dan imam yang utus Allah s.w.t. Yakni tanda inii dimakhsuskan (diistimewaka untuk imam akhir-zaman(Imam Mahdi)dan hariya akan terjadi da zaman beliau itu. Khabar-ghaib inii tercantum pula dalam kini: kitab yang telah dicetak seribu tahun sebelum sekarang.
Maka khabar ghaib tersebut terjadi sempurna pula wakn penda’waan saya sebagai Imam Mahdi, tetapi tak ada yang mene rimanya. Tiada seorang juapun yang bai’at kepadaku karena rt-e nyaksikan kepada khabar ghaib yang agung inii. Melainikan mereka telah mencaci maki dan memperolok-olok saya, dan menamakan saya dajjal, kafir dan kadzdzab. Mereka berlaku begitu, karen khabar ghaib inii bukanlah sebagai adzab (siksaan) melainikan suat- tanda rahmat Elahi untuk memberitahukan lebih dahulu kepa3a manusia. Akan tetapi orang tidak mengambil faedah dan tanda itu dan tidak memperhatikan kepadaku sedikit juapun, seolah-olah tanda itu tidak berarti dan hariyalah suatu khabar ghaib yang sia-sia saja. Kemudian apabila orang-orang yang menolak itu telah melampaui dalam perlawanannya, barulah Allah s.w.t. memperlihatkan satu tanda adzab di atas muka buinii inii, sebagaimana telah disebutkan dalam kitab nabi-nabi yang dahulu. Tanda adzab itu, ialah penyakit tha’un (pes) yang dan beberapa tahun laa membiniasakan penduduk negeri inii dan tidak dapat dilenyapkan oleh usaha dan ikhtiar manusia. Khabar tentang tha’un itu dengan perkataan yang terang telah difirmankan oleh Allah s.w.t. dalartAl-Quran beginii “Wa ini iniini qaryatini illa nahnu muhlikuha qabla jauiniilqiyamati au mu’ adz-dzibuha ‘adzaban syadidan” (17-58), (artiniya: Dan tiada suatu pun dan path negeri-negeri melainikan Kamii akan membiniasakan kepadanya sebelum hari kiamat atau akan membeni siksaan kepadanya, siksaan yang pedas). Yakni Sedikit waktu sebelum kiamat, akan datang suatu wabah yang sangat dahsyat yang akan membiniasakan kampung-kampung sama sekaii, dan sebabagian lagi setelah menderita siksaan yang keras akan diselamatkan,
Begitu pula dalam suatu ayat laini Allah s.w.t. berfirman yang bermaksud beginii: “Bahwa apabila kiamat telah dekat Kamii akan mengeluarkan suatu kuman dan buinii inii, yang akan menggigit kepada orang-orang oleh karena mereka tidak mempercayai kepada tanda-tanda Kamii”. Kedua-dua ayat tersebut adalah dalam Al-Quran, dan dengan terang-terang- memberi khabar-ghaib tentang tha’un, karena tha’unpun juga adalah semacam kuman juga. Walaupun thabib-thabib yang dahulu tidak mengetahui tentang kuman penyakit itu, akan tetapi Allah s.w.t, yang bersifat “Alimulghaib” mengetahui pula bahwa bibit tha’un adalah macam kumankuman yang keluar dan buinii, oleh karena itulah Dia menamakan “dabbatul-ardli” kepadanya, yakni kuman-kuman buinii. Pendek kata, apabila dalam daerah Punyab telah timbul pula suatu kegoncangan hebat dalam seluruh negeni inii, barulah sebagian orangorang sadar dalam sedikit tempo saja hampir 200.000 (dua ratus nibu) orang-orang telah bai’at kepadaku, sehinia sekarangpun dengan pesat orang-orang lagi bai’at kepada Kamii, karena serangan tha’un pun belum berhenti pula. Penyakit tha’un adalah sebagai satu tanda Ilahi, yang mungkini tidak akan lenyap dan negeri inii sebelum orang-orang mengadakan perobahari dalam diriniya.
Boleh dikatakan orang-orang zaman sekarang sangat menyerupai orang-orang pada zaman nabi Nuh a.s. tiada yang beniman dengan melihat kepada tanda rahmat Ilahi, tetapi dengan melihat kepada tanda-tanda azab beribu-ribu orang telah bai’at. Nabi-nabi dahulupun telah menceriterakan tentang tanda tha’un itu, dan dalam Inijilpun disebutkan, bahwa dalam zaman Masih Mau’ud akan ada suatu wabah yang membiniasakan dan peperanganpeperangan juga, yang semuanya itu sekarang lagi terjadi. Maka hai orang-orang Islam, tobatlah. Kamu menyaksikan bahwa setiap tahun haridai taulan dan keluarga yang dicinitai olehmu dipisahkan dan padamu oleh tha’un itu. Tunduklah kepada Allah s,w,t, supaya Dia pun condong kepadamu. Sekarang pun belum dapat ditentukan untuk berapa lama tha’un akan merajalela, dan apa yang akan terjadi dikemudian hari.
Seseorang yang hendak mencari hak, jika masih mempunyai keraguan tentang penda’waanku, kemudian dengan mudah keraguan itu dapat dibersihkan. Sesungguhnya kebenaran tiap-tiap nabi akan dapat diketahui dengan tiga jalan yang tersebut di bawah Ifli:
PERTAMA, dengan akal manusia yang sehat. Yakni, pada waktu kedatangan rasul dan nabi itu, hams diperlihatkan apakah akal yang sehat membenarkan perlunya kedatangan seorang nabi pada waktu itu atau tidak, dan apakah keadaan manusia pada waktu itu membutuhkan suatu muslih (yang memperbaiki) atau tidak?
KEDUA,dengan khabar ghaib dan nabi-nabi yang dahulu, yakni harus diperhatikan apakah seorang yang telah membeni khabar-ghaib tentang nabi itu, atau tentang kedatangan seorang nabi dalam zaman itu atau tidak?
KETIGA, dengan pertolongan dan bantuan Ilahi. Yakni, hams diperhatikan, apakah pertolongan-pertolongan dan bantuan Ilahi ada beserta nabi itu atau tidak?
Deiniikianlah tiga alamat atau jalan yang telah ditetapkan dan dahulu kala untuk mengenal kepada seorang utusan-Nya yang benar itu.
Hai saudara-saudara sekalian! Allah s.w.t. karena kasihari kepada kamu telah mengumpulkan tiga-tiga tanda tersebut, tentang kebenaranku pada satu tempat juga, sekarang terserah kepada kamu untuk menolak atau menenimanya. Kalau diperhatikan menurut akal, kemudian akal yang sehat berteriak-teriak iniinita dengan sangat bahwa orang-orang Islam dalam waktu sekarang sangat membutuhkan suatu Muslih Ilahi. Keadaan zahir dan bathini kedua-duanya telah sangat berbahaya, orang-orang Islam seolah-olah berdiri ditepi suatu jurang yang dalam, atau terkurung dalam suatu taufan yang hebat. Jikalau diselidiki menurut khabar-khabar ghaib yang dahi,ilu, akan ternyata bahwa nabi Daniel pun telah memberi khabar ghaib tentang saya dan tentang zamanku yang sekarang ini Apa lagi Nabi Muhammad s.a.w. telah bersabda pula, bahwa MASIH MAU’UD akan lahir dalam ummat inii juga, kalau ada yang belum mengetahui bolehlah ia menyaksikan dalam kitab-kitab Hadits Bukhari dan Muslim, dan boleh mempelajari pula khabar-ghaib tentang kedatangan seorang mujadid dalam permulaan tiap-tiap abad.
Jikalau hendak mencari pertolongan dan pembantuan Ilahi terhadapku, kemudian haru1ah diperhatikan bahwa hinigga kinii beribu-ribu tanda telah tampak juga. Dan antara tanda-tanda inii, adalah satu tanda yang 20 tahun lebih dahulu telah ditulis dalam kitab Barahini Ahmadiyah, tatkala belum ada seorangjuapun yang bai’at kepadaku dan belum ada yang datang kepadaku dan tempat yang jauh.
Tanda itu adalah satu wahyu dan Allah s.w.t. yang beginii “Yatika mm kulli fajini ‘ainiiq, yatuna mm kulli fajini ‘ainiiq”. Yakni, akan datang kepadamu hadiah-hadiah dan tempat yang jauh, dan akan datang kepadamu orang-orang yang banyak dan tempat yang jauh-jauh pula. Allah s.w.t. berfirman lagi beginii: “wa la tusair li khalqillah — wa la tas’am iniinian nas”. Yakni begitu banyak makhluk akan datang kepadamu, bahwa engkau akan heran meLihat banyaknya orang-orang.
Maka hendaknya engkau jangan berlaku keras terhadap mereka, dan jangan bosan karena kunjungan mereka. Maka hai orangorang yang kucinitai! Walaupun tuan-tuan belum mengetahui berapa banyaknya orang-orang datang ke Qadian untuk berjumpa denganku, dan betapa terang sempurna khabar ghaib itu, akan tetapi dalam kota inii (Sialkot) pun tuan-tuan telah menyaksikan, bahwa atas kedatangan saya beribu-ribu manusia telah berkumpul di station kereta api di sinii hariya untuk melihat kepada saya, beratus-ratus orang laki dan perempuan telah bai’at kepadaku dalam kota inii. Saya dahulu ± 7 tahun lamanya tiniggal di kota inii (Sialkot) dalam zaman 7 atau 8 tahun sebelum kitab Barahini Ahmadiyah, waktu tiada yang mengenal atau mengetahui keadaan saya.
Maka harus diperhatikan, bahwa 24 tahun sebelum keadaan sekarang tatkala belum ada yang tahu-menahu tentang saya, dalam kitab Barahini Ahmadiyah telah disebutkan khabar ghaib tentang kemajuan saya. Sebagaimana saya telah jelaskan, bahwa sedikit sebeluniniya Barahini Ahmadiyah dikarang, saya pernah tiniggal di kota inii (Sialkot) hampir 7 tahun lamanya, tetapi dan antara tuantuan jarang sekali yang kenal kepada saya. Karena saya pada waktu itu sama sekali tidak terkenal, hariya sebagai seorang saja di antara orang banyak, dengan tidak mempunyai suatu kehormatan atau ketiniggian di dalam mata umum. Akan tetapi zaman itu sangat manis bagiku, menyendiri di tengah-tengah khalayak ramai, sebatangkara di dalam manusia yang banyak, saya tiniggal di kota pada waktu itu seperti yang tiniggal di hutan yang sunyi senyap. Saya cinita kepada kota inii (Sialkot) seperti kepada Qadian, karena dalam zaman permulaan saya pernah tiniggal lama di kota inii, dan sudah berjalan-jalan banyak dalam kampung-kampung kota inii. Sejak zaman itu saya mempunyai satu sahabat yang muchlis dalam kota i, seorang bernama Hakim Hisaamud-Dini Sahib, yang pada waktu itupun sangat cinita kepadaku, beliau dapat memberi persaksian bagaimanakah keadaan saya pada waktu itu yang tidak masyhur sama sekali.
Sekarang saya bertanya kepada tuan-tuan, dapatkah seorang pendusta memberi khabar ghaib yang begitu agung dalam zaman bila ia tidak terkenal sama sekali, bahwa dikemudian hari ia akan beroleh kemuliaan dan kemajuan begitu macam hinigga beratus ribu manusia akan menjadi murid-muridnya dan orang-orang berduyun-duyun akan bai’at kepadanya; perlawanan yang sangat hebat dan musuh-musuhnya tidak akan dapat menghalangi perhatian manusia kepadanya, malah begitu banyak orang-orang akan datang kepadanya hinigga ia merasa letih dan payah. Apakah manusia berkuasa memberi khabar ghaib semacarn itu? Apakah seorang pendusta dan penipu dalam keadaan yang sangat lemah dan sendirian 24 tahun lebih dahulu dapat memberi khabar ghaib, bahwa kernudian hari ia akan beroleh kemenangandan perhatian manusia yang begitu agung? Khabar ghaib tersebut telah dicantumkan dalam kitab Barahini Ahmadiyah yang telah tersiar dalam seluruh negeri inii, banyak orang-orang Islam, Kristen dan Ariya begitupun Pemerinitah juga mempunyai kitab itu. Jikalau ada yang masih merasa ragu-ragu tentang kebenaran tanda yang amat agung ini maka dia harus mengemukakan iniisalnya yang laini dalam dunia i. Selaini dan khabar ghaib tersebut banyak lagi tanda-tanda laini yang telah diketahui pula oleh penduduk negeri inii semuanya.
Sebagian orang yang tidak faham, dan tidak mau menerima kebenaran, mereka itu tidak mau mengambil faedah dan tandatanda yang teiah ternyata juga. Mereka hariya mengemukakan pencelaan-pencelaan yang sia-sia belaka untuk menjauhkan dini dan kebenaran. Dengan mencela kepada satu dua khabar ghaib, mereka hendak menutupi kebenaran beribu-ribu khabar ghaib dan tanda-tanda yang seterang-terangnya. Sayang, waktu berbicara bohong mereka sedikitnya tidak takut pada Allah s.w.t. dan waktu berdusta mereka sedikitpun titlak inigat pembalasan pada hari kemudian. Saya tak perlu jelaskan kedustaan mereka dihadapan pendengar-pendengar sekalian.
Sekiranya mereka mempunyai taqwa dan sedikit saja ketakutan kepada Allah s.w.t. mereka tidak akan tergesa-gesa dalam mendustakan tanda-tanda-Nya.
Seandainiya ada suatu tanda yang tidak difahamkan oleh mereka, kemudian dengan jalan kesopanan dan kemanusiaan mereka dapat menanyakan hakikatnya kepada saya. Celaan besar yang dikemukakan oleh mereka, ialah Atham tidak mati dalam tempo yang telah ditentukan dalam khabar ghaib itu, dan walaupun Ahmad Beg meniniggal menurut khabar ghaib tetapi menantunya yang termasuk juga dalam khabar ghaib itu tidak meniniggal pula. Deiniikianlah keadaan taqwa mereka, bahwa beribu-rjbu tanda yang telah terbukti kebenarannya tidaklah diceriterakan mereka sama sekali, tetapi satu dua khabar ghaib yang belum difahamkan oleh mereka itu berulang-ulang dicela dan diceriterakan pada tiap-tiap tempat. Kalau mereka takut kepada Allah s.w.t. niscaya mereka akan ambil manfaat dan tanda-tanda dan khabarkhabar ghaib yang telah terbukti kebenarannya. Orang-orang yang setia dan jujur tidak suka memalinigkan dini dan mu’jizat yang terang benderang, dan hariya mencela saja kepada beberapa hal-hal yang belum dapat difahamkan oleh mereka. Dengan jalan yang mereka pergunakan akan terbukalah pinitu untuk mencela kepada semua nabi-nabi-Nya, dan akhirnya orang-orang macam itu akan menolak pula kepada nabi-nabi semuanya. Umpamanya, tidak ada suatu keraguan tentang kebenaran mu’jizat-mu’jizat nabi Isa a.s. tetapi seorang yang melawan kepada beliau a.s. dapat mengatakan, bahwa beberapa khabar ghaib dan nabi isa a.s. adalah dusta dan bohong. Sebagaimana orang-orang Yahudi sampai sekarang mengatakan, bahwa tiada suatupun khabar ghaib dan nabi Isa a.s. yang menjadi sempurna. Nabi isa a.s. bersabda, bahwa 12 hawaniyininya itu akan duduk di atas 12 takhta dalam surga, tetapi 12 hawari itu hariya tiniggal 11 hawari saja, dan satu menjadi murtad. Nabi Isa a.s. mengatakan, sebelum meniniggalnya orang-orang zaman itu beliau a.s. akan datang kembali dalam dunia ini padahal bukan hariya orang-orang zaman itu malah orang-orang dalam 18 abad yang lalu telah meniniggal dunia tetapi nabi isa a.s. belum datang juga. Dalam zaman itu pun telah ternyata kedustaan dan khabar-ghaib nabi isa a.s., beliau a.s. mengatakan diti sebagai raja dan orang-orang Yahudi, tetapi beliau a.s. tidak beroleh suatu ke rajaan pun. Pencelaan-pencelaan semacam tersebut banyak lagi yang dikemukakan oleh orang-orang Yahudi. Begitu pun dalam zaman zekarang sebagian orang-orang yang kotor bathininya dengan mence1 kepada beberapa khabar ghaib dan Nabi Muhammad s.a.w. suka menolak kepada sernua khabar-khabar ghaib dan beliau s.a.w. dan ada juga yang mengemukakan kejadian di Hudaibiyah sebagai pencelaan.
Jikalau pencelaan macam itu dapat diterima, lalu apakah yang saya harus sesalkan kepada mereka? Akan tetapi hanya ditakutkan, kalau-kalau mereka dengan jalan deinikian lambat-laun keluar dan agama Islam. Maka dalam khabar-khabar ghaib dan saya juga, seperti khabar-khabar ghaib dan nabi-nabi laini, ada beberapa bagian dan ijtihad itu. Haruslah diketahui, bahwa dalam bepergian Nabi Muhammad s.a.w. ke Hudaibiyah pun adalah bagian dan ijtihad, maka beliau s.a.w. bepergian juga, hanya ijtihad itu tidak terjadi benar. Sebenarnya keagungan, kegagahan dan kehormatan seorang nabi sedikit pun tidak akan ternoda dengan kadang-kadang terjadi suatu kesamaran atau kesalahan dalam ijtihad nabi itu. Kalau ada yang mengatakan, bahwa kejadian macam itu akan menjauhkan keamanan dan ketenteraman bathini. Jawabnya beginii: bahwa bagian dan pada “kebanyakan yang benar” akan menjaga kepada keamanan dan ketenteraman bathini itu.
Wahyu-wahyu dan nabi-nabi Allah, kadang-kadang adalah sebagai suatu khabar “wahid” yang sinigkat saja, dan tak terperinici, tak dijelaskan, dan kadang-kadang tentang suatu perkara wahyu itu adalah banyak dan jelas pula. Maka kalau tentang wahyu yang sinigkat itu ada terjadi suatu kesalahan menurut ijtihad, kemudian hal-hal yang bayyiniat dan muhkamat (terang dan pasti) tidak akan tercemar karena itu.
Maka saya tak dapat menolak hal i, kalau kadang-kadang wahyu Kami pun adalah seperti suatu khabar wahid yang sinigka saja, lalu dalam memahamkan kepadanya timbullah suatu kcs lahan menurut ijtihad, dan semuanya nabi-nabi pun mempunyii keadaan macam begitu. La’natullahi ‘alal kadzdzibini (1aknii Allah di atas orang-orang yang dusta). Lagi pula harus diperhatikan bahwa khabar-khabar ghaib yang mengandung wa’iid (sifat syariI dan ancaman) tidak mesti dijadikan saja oleh Allah s.w.t. Khahar ghaib dan nabi Yunus a.s. adalah contoh dalam hal ini Semuany:i nabi-nabi sepakat, bahwa kehendak Ilahi yang menyerupai wa’iid dapatlah tertunda dengan doa dan sedekah. Maka kalau khabar ghaib yang mengandung wa’iid tak dapat ditundakan lagi, kemudian doa dan sedekah tak ada hasilnya.
Sekarang Kami habisi pidato ini, dengan ucapan syukur kepada Allah s.w.t. yang telah memberi taufiq kepada Kami yang dla’if dan sakit ini untuk mengarang pidato ini. Kami berdoa kehadlirat ilahi agar pidato ini menyebabkan hidayat bagi orang banyak. Sebagaimana dalam rapat yang zhair ini kelihatan persatuan, moga-moga begitu juga hati sanubari semuanya. orang menjadi rapat dan bersatu dengan cinita-menciñtai dalam silsilah hidayat Ilahi itu, dan dan tiap-tiap penjuru mulailah bertiup angini hidayat juga. Mata manusia tak dapat melihat kalau tiada cahaya dan langit, rnaka moga-moga Allah s.w.t. menurunkan cahaya rohani dan langit supaya mata dapat melihat, dan mengadakan hawa dan ghaib s1paya teliniga dapat mendengar. Siapakab yang dapat datang kepada karni? Melairikan orang yang ditarik oleh Allah s.w.t. kepada Kami.
Banyak yang lagi ditarik oleh-Nya, dan akan ditarik terusmenerusdan banyak palang pinitu yang akan dipecahkan oleh-Nya.
Wafat Nabi Isa as. adalah sebagi akar penda’waan Kami, dan akar itu diiram oleh Allah s.w.t. dengan tàngan-Nya, dan Rasul memelihara këpadanya: Allah s.w.t. dengan kalam-Nya dan Rasulullah dengan amalnya, yakni dengan penglihatan mata kepala beliau s.a.w. sendiri telah memberi persaksian, bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat. Waktu malam dalam ini’raj beliau s.a.w. melihat nabi Isa as. diantara roh-roh nabi-nabi laini yang telah wafat itu. Akan tetapi sayang, ada juga orang-orang yang menganggap bahwa nabi isa a,s. masih hidup, dan memberi sifat-sifat yang begitu istimewa kepada nabi Isa as. yang mana tidak diberikarrkepadasuatu nabi yang laini. Perkara-perkara iniilah yang oleh Orang-orang Kristen dipakai alasan untuk rnenguatkan kepada ke-Tuhanan nabi Isa a.s., dan banyak orang-orang yang lemah dalam imannya terpeleset – mendapat percobaan karena i’tiqad-i’tiqad sernacam itu. Kami menyaksikan, bahwasanya Allah s.w.t,. telah memberi khabar kepada Kami, bahwa nabi Isa a.s teiah wafat.
Sekarang kepercayaan. bahwa nabi Isa a.s. masih hidup hanya akan merusak agama saja, dan khayal itu akan tersia-sia saja. Sesungguhnya ijma’a yang pertama dalam agama Islam, ialah: dan semuanya nabi-nabi yang dahulu. tiada seorang nabi juapun yang masih hidup, yang diniyatakan oleh ayat Al-Quran: “Wa ma Muhammadun illa rasulun qad khalat mm qablihir rusulu” (3: 145), (artiniya: dan tidak Muhammad melainikan seorang rasul yang semua rasul-rasul sebelumnya telah wafat). Moga-moga Allah s.w.t. memberi ganjaran yang berlipat ganda kepada Hadhrat Abubakar r.a.t.a. yang mengadakan ijma’a ini, dan membacakan ayat tersebut dengan naik di atas inimbar.
Akhirnya Kami ucapkan terima kasih yang seikhlas-ikhlasnya kepada pemerinitah Iniggris ini yang dengan kemurahan hati telah memberikan kemerdekaan agama kepada kita, hiniga Kami dapat menyampaikan ilmu-ilmu agama yang sangat pentinig kepada sesama manusia. Iniilah suatu nikmat yang lebih berharga dan pada harta benda dunia ini karena harta dunia akan fana, tetapi harta rohani ini tak akan fana. Kami nasehatkan pula kepada Jema’at kami, bahwa mereka harus menghargai dengan sebenarnya kepada pemerinitah yang memberikan kemerdekaan agama, karena orang yang tidak berterima kasih kepada manusia, ia tidak bersyukur kepada Allah s.w.t. juga. Maka manusia yang baik, ialah yang bersyukur kepada Allah s.w.t., dan begitupun berterima kasih kepada manusia yang menjadi perantaraan baginiya untuk beroleh suatu nikmat Ilahi itu.
Wassalam’alaa manit-taba’alhudaa,
INIRZA GHULAM AHMAD QADIANI
I Nopember 1904, Sialkot.
TAMMAT

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s