Kebebasan Beragama – sebuah hak bukan sebuah kesalahan

Pada saat ketika seharusnya ada perjuangan yang besar untuk mengangkat pemahaman dan rasa hormat terhadap agama-agama yang berbeda, malah yang sebaliknya yang tampaknya terjadi. Di seluruh Eropa kelihatannya ada gelombang perlawanan terhadap wanita Muslim menunjukkan keimanan mereka dengan cara mereka berpakaian di depan umum. Prancis dan Italia telah melarang pemakaian jilbab dalam tingkat yang berbeda-beda dan negara-negara Eropa lainnya pura-pura tak melihat larangan serupa yang ada di Negara mereka. Di Inggris telah ada sebuah perdebatan yang sengit yang dimulai oleh Rt.Hon. Jack Straw yang meminta wanita Muslim untuk melepaskan jilbab mereka dan pada November baru-baru ini Kabinet Belanda mengusulkan untuk melarang seluruh jilbab dipakai di tengah publik.
Yang lebih mengganggu pada peristiwa seperti ini yaitu bahwa mereka terletak di jantung Eropa. Ketika Eropa menampilkan dirinya sebagai cahaya pembimbing hak-hak asasi manusia, hal tersebut berubah menjadi sebuah model sikap intoleran, dengan pemerintah membuatnya dengan mudah dibenarkan untuk menyerang sebuah kepercayaan agama tetapi gagal mengambil arti dan nilai sebenarnya.
Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah kenyataan bahwa diskriminasi agama seperti itu sangat berlawanan dengan salah satu konvensi utama Uni Eropa sendiri. Urutan sembilan pada Konvensi Eropa mengenai Hak-hak Asasi Manusia dengan jelas mengatakan:
‘Setiap orang mempunyai hak untuk kebebasan berpikir, berhati nurani, dan beragama; hak-hak ini termasuk kebebasan untuk mengganti agama atau kepercayaanya dan kebebasan, baik itu sendiri atau dalam komunitas dengan yang lainnya dan di dalam (organisasi) pemerintahan atau swasta, untuk memanifestasikan agama atau kepercayaannya tersebut, dalam pemujaan, pengajaran, praktek dan ibadah.’
Hal itu kemudian berlanjut dalam menjelaskan bahwa kebebasan untuk memanifestasikan agama seseorang hanya dibatasi oleh kepentingan keamanan masyararakat, atau perlindungan kepentingan, kesehatan, atau moral publik, atau untuk perlindungan hak dan kebebasan orang lain. Ini menjadi hal yang sangat menggelitik imajinasi jika membayangkan pemakaian jilbab, atau yang serupa mantel atau selendamg, sebagai ancaman bagi hal-hal tersebut diatas. Jadi kebebasan inikah yang sekarang menjadi ancaman? Sepertinya itu yang akan terjadi, walaupun cukup menarik melihat kasus Nadia Eweida, pegawai British Airways, yang dipecat karena terdapat salib kecil pada kalungnya yang terlihat di bagian luar seragam kerjanya malah mendapat simpati bukannya kritikan dari Tn Jack Straw dan Gereja. Di satu sisi mereka kritis terhadap pemakaian jilbab di tengah publik tetapi di sisi lain mereka bersiteguh mempertahankan hak orang untuk mengekspresikan kepercayaannya melalui salib.
Dalam kasus Nn. Eweida, Jack Straw mengatakan bahwa larangan terhadap aplikasi keimanannya di depan publik adalah ‘sangat tidak terjelaskan’. Kelihatannya beberapa menteri telah mengambil peran sebagai guru fashion yang menentukan tingkatan dan mode keimanan seperti apa yag dapat diekspresikan di depan publik dan yang tidak bisa diekspresikan di depan publik. Dua patokannya terhadap dua permaslahan ini ‘sangat tak terjelaskan’.
Tetapi pandangan terhadap pemakaian jilbab Islami seperti itu tidak hanya disampaikan oleh politisi saja. Juru bicara Gereja Utama Anglikan di York, Dr John Sentamu, yang telah membawa angin segar dalam debat agama dalam kehidupan masyarakat Inggris, juga telah bersikap kritis terhadap pemakian jibab. Dia berbicara mengenai masyarakat Inggris dan ‘budaya dan warisan Kristen’ nya yang berperan sebagai kompas moral bagi negara ini dan mengenai permasalahan seperti pemakaian jilbab ini ia mengatakan bahwa umat Islam jangan terlalu berharap masyarakat Inggris untuk di ‘rekon-figur’ (dirubah) untuk menyesuaikan diri dengan mereka. Adalah suatu hal yang aneh beliau memilih untuk tergantung kepada masyarakat umum untuk menentukan apa yang bisa diterima daripada menambil pendirian yang lebih prinsipil terhadap permasalahan tersebut.
Jika kita ingin mengikuti masyarakat umum lalu kenapa orang-orang membuang-buang waktu pada pergerakan Hak-hak Sipil di Amerika, atau berusaha untuk mengakhiri diskriminasi ras di Afrika Selatan? Ini adalah masa-masa ketika ras tertentu dipandang rendah dan berada dalam ketakutan dan tekanan. Tentu saja gereja memandang bahwa jilbab ‘mengakibatkan kamu tidak aman karena kamu berbeda dan menimbulkan perlakuan yang tidak ramah’ sesuai dengan orang-orang Afrika, Asia, dan India Barat yang ada di Inggris dan Amerika pada saat itu, sekalipun begitu tidak berarti bahwa setiap orang harus mengganti corak mereka sehingga mereka dapat lebih menyatu. Orang-orang tersebut sangat ingin menghilangkan ketidak-pahaman sosial mengenai perbedaan ras dan mengembangkan toleransi dan rasa hormat yang didasari oleh pendidikan. Sama halnya wanita muslim sekarang ini sedang berusaha untuk menghilangkan ketidak-tahuan sosial mengenai jilbab dan jika aksi-aksi tersebut dianggap menjadi sebuah ‘perubah-figur’masyarakat maka kelihatannya hal itu akan menjadi sebuah gerakan yang diterima dan positif.
Lebih jauh lagi jika setiap periode sejarah adalah bagian dari ‘budaya dan warisan Kristen’ maka akankah Dr. Sentamu berpendapat bahwa hal tersebut tidak menyisakan perubahan dan orang-orang yang lain harusnya langsung menerimnya begitu saja? Jelas sekali tidak dan alasannya yaitu kepercayaannya tidak membenarkan berbagai macam diskriminasi. Apa yang hal ini sampaikan pada kita yaitu nilai-nilai sosial itu dinamis dan berubah secara konstan tetapi agama harus menyediakan bobot pengimbang moral dan sasaran untuk menjaga masyarakat di bawah kendali dan mengembangkan moralitas dan persamaan.
Jadi apa yang dikatakan oleh kepercayaan Kristen tentang jilbab? Bukan sebuah kejutan lagi kita mencatat bahwa kepercayaan Kristen senada dengan perhatian Islam terhadap kerendah hatian dan hal itu menggambarkan menutupi seluruh tubuh sebagai perbuatan yang berbudi luhur. Bibel mengatakan kepada kita bahwa:
‘Ribka juga melayangkan pandangnya dan ketika dilihatnya Ishak, turunlah ia dari untanya. Katanya kepada hamba itu: Siapakah laki-laki itu yang berjalan di padang ke arah kita? Jawab hamba itu: Dialah tuanku itu. Lalu Ribka mengambil telekungnya dan bertelekunglah ia.’
(Kejadian 24:64-65)
‘Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal’
(I Timotius 2:9)
‘Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya.’
(I Korintus 11:5)
Semuanya ini dengan jelas menunjukkan bahwa memakai jilbab dan menutup kepala adalah perbuatan yang baik dan harus dianjurkan. Tentu saja jika ada warisan budaya Kristen kepada Inggris – dan Eropa untuk masalah tersebut – maka hak untuk memakai jilbab seharusnya diterima dan digalakkan oleh para pemuka agama. Hal tersebut akan merefleksikan kepemimpinan sejati, kepemimpinan yang yang sama dengan yang ditunjukkan ketika mempertahankan kasus Nadia Eweida – walaupun memakai salib bukanlah persyaratan dari kepercayaan Kristen. Mengenai hal ini Dr. Sentamu mengatakan:
‘Bagi saya, salib itu penting karena mengingatkan saya bahwa Tuhan menjaga janji-Nya… Mengenakan salib tidak hanya sebuah simbol harapan kita tetapi juga sebuah tanggung jawab untuk berbuat dan hidup sebagai Kristiani… Simbol ini tidak hanya menunjuk ke atas tetapi juga ke samping, hal itu mengingatkan kita akan kewajiban kita tidak hanya kepada Tuhan tetapi juga kepada orang lain.’
(BBC News 21 November 2006)
Saya juga berpikir sentiment yang sama ditunjukan oleh wanita muslim terhadap pemakaian jilbab. Jilbab merupakan lambang kesopanan, kebebasan, dan martabat. jilbab adalah suatu pengingat bagi kita akan apa yang telah diperintahkan Tuhan dan untuk mencerminkan kesucian dan kemurnian pikiran dan memungkinkan kita semua untuk tetap pada jalan moralnya.
Islam mengajarkan kepada kita bahwa harus ada kebebesan dalam beragama- dalam keimanan dan dalam peraktek- untuk kedamaian dalam bermasyarakat. Hal ini ditekankan kepada hal yang luas bahwa rasulullah saw menawarkan mesjidnya kepada seorang utusan dari keristen yang berasal dari Najran untuk memanjatkansembahyang mereka. hal Ini juga seharusnya cukup untuk menunjukkan bahwa islam benar-benar mempertahankan kebebasan beragama. Dari hak-hak umat keristen untuk membangun sebuah tempat ibadah hingga haknya untuk menggunakan salib(di masjid atau dimanapun) islam tidak mengijinkan penghalang dalam menjalankan keimanan. tentunya hak-hak yang sama telah diberikan kepada semua kepercayaan, memungkinkan kepercayaan tersebut dipraktekan tanpa adanya halangan. Merupakan catatan yang berharga bahwa beberapa Negara muslim juga tidak menyesuaikan diri kedalam prinsip yang berharga ini dan ini benar-benar salah karena tidak pada jalur dengan apa yang diajarkan oleh islam.
Kebebasan secara keseluruhan didalam keimanan adalah jiwa dari kebebasan beragama dalam islam yang telah diwariskan kepada dunia lebih dari 1400 tahun yang lalu dan jiwa serta ajaran yang sama yang sangat relevan hingga saat ini.

Referensi:
1. The Dialy Mail, 13 Nov. 2006,
2. The Dialy Telegraph, 15 Nov. 2006,
3. BBC News, 21 Nov. 2006.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s