Da’wat Ilalah adalah Ibarat Sebuah Perkawinan

Oleh : Mawahibur Rahman
(Mahasiswa JAMAI Smstr. 7)

Diceritakan ada seorang Dai Ilalah yang sedang berusaha membaiatkan seseorang. Namun setelah begitu lama dan berkali-kali bertabligh, orang yang ditablighi sama sekali tidak memberikan respon yang bagus, Ia seperti tidak peduli dengan seruan kebenaran itu. Akhirnya Dai itupun menulis surat kepada Khalifatul Masih Ar-Rabi rh. menceritakan permasalahannya. Sebagai seorang Khalifah, beliau memberikan jawaban yang amat bijaksana. Dimana beliau rh. menasehatkan bahwa usaha pertablighan adalah ibarat pernikahan, yang mana untuk menghasilkan keturunan yang baik, kedua belah pihak harus sehat. Jika salah satunya lemah atau memiliki cacat, maka keturunan yang dihasilkan pun akan menyimpan penyakit bawaan, atau bahkan sama sekali tidak menghasilkan keturunan.
Begitu pula dalam pertablighan, kedua belah pihak (Dai dan orang yang ditablighi) haruslah sehat dari segi rohani.
Jika yang ditablighi adalah orang yang bersih hatinya, namun yang menablighi memperlihatkan cacat dalam akhlak, bisa-bisa sasaran tabligh kita menjadi mengurungkan niatnya untuk mempelajari cahaya kebenaran yang sedang kita berikan. Begitu pula sebaliknya, jika seorang Dai Ilalah yang suci sedang menyampaikan kebenaran, namun orang yang ditabligi tidak mau membuka jendela hatinya, maka tujuan pertablighan tidak akan tercapai.
Berkenaan dengan karunia petunjuk, pada hakikatnya Allah Ta’ala memberi petunjuk kebenaran kepada setiap insan layaknya matahari menyinari seluruh permukaan bumi. Namun, banyak orang-orang yang tidak mau membuka jendela rumahnya, sehingga cahaya matahari terhalang untuk masuk. Inilah yang dimaksudkan adanya Ghisyawah (tutupan) seperti yang dituliskan dalam surat Al-Baqarah ayat 8.
Untuk membuka jendela hati yang tertutup itu ada dua usaha yang bisa dilakukan oleh seorang Dai Ilalah, yaitu doa dan usaha. Kita berdoa semoga Allah Ta’ala dengan keridhaan-Nya berkenan membuka hati orang tersebut. Lalu kitapun berharap dengan usaha pertablighan kita semoga orang tersebuat terketuk hatinya dan ia pun dengan kerelaan sendiri membuka dirinya terhadap cahaya kebenaran.
Layaknya dalam sebuah perkawinan, dimana penyakit yang kita miliki seringkali diderita anak kita sebagai cacat bawaan. Begitu pula dalam dunia Da’wah Ilalah, niatan awal kita amat menentukan buah rohani yang dihasilkan. Banyak motivasi yang melatarbelakangi pertablighan kita, karena riya, karena ikut-ikutan atau karena Allah Ta’ala. Motivasi terbaik dan terbesar bagi seorang Da’i Ilalah adalah karena kedekatannya dengan Allah Ta’ala, lalu dengan kecintaan itu ia merasa harus menyampaikan amanat suci sebagai bentuk terima kasih atas kasih sayang yang Allah Ta’ala sudah berikan. Motivasi adalah ibarat sebuah getaran, dimana saat ia mulai bergetar, ia akan mempengaruhi benda-benda disekelilingnya. Besar-kecilnya pengaruh yang dihasilkan tergantung dengan besarnya getaran penyebabnya. Ketauhilah bahwasanya motivasi dan usaha kita dalam dunia pertablighan, begitu menentukan kualitas generasi berikutnya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s