FEMINISME


Perjuangan Mencapai Ke-egaliter-an atau Ke-plin-plan-an Perempuan!!

Oleh : Muhammad Nurdin
(Mahasiswa JAMAI smstr. 7)

Kekerasan dalam rumah tangga, diskriminasi upah, eksploitasi dan pelecehan menjadi fakta yang sering dikutip oleh para feminis untuk menjustifikasi hegemoni maskulin. Feminisme yang sudah ditetaskan lama sebelum revolusi industri, sekarang ini semakin deras arus perjuangannya. Apalagi pasca reformasi 98 dimana kebebasan berekspresi mulai mendapatkan ruangnya. Pergerakan yang dimulai di Barat ini, sekarang menjalar ke seluruh pelosok dunia. Pergerakan feminisme telah menjadi pergerakan lintas budaya, sosial bahkan agama.
Islam yang lahir di tanah Arab dianggap bermuatan patriarkhis1 yang sangat maskulin. Para feminis Islam, melontarkan kritik kepada dominasi maskulin yang cendrung mendomestikisasi perempuan sehingga perempuan seakan-akan dipenjara dan dikebiri kesempatannya untuk melihat dan ambil bagian di dunia luar (sektor publik). Ide-ide fenimisme ini, seakan menjadi fajar harapan baru yang mampu meneteskan “air liur” para muslimah dan dengan mata berkaca-kaca, mereka mengatur barisan sambil meneriakan yel-yel emansipasi. Tujuannya hanya satu, mencapai ke-egaliter-an dalam hak mereka seperti halnya laki-laki.
Kesetaran Gender
Berbicara feminisme tidak terlepas dari istilah gender. Dalam kerangka pemikiran kaum feminis, gender itu berbeda dengan sex (jenis kelamin). Para feminis, di antaranya Simone de Beauvor, Chrits Weedon dan Barbara Lloyd sepakat bawa pada dataran ini, ada garis yang bersifat “nature”, dimana laki-laki dan perempuan memiliki karakteristik tertentu yang melekat pada masing-masingnya secara permanen, kodrati dan tidak bisa dipertukarkan. Berbeda dengan sex, gender adalah suatu konsep tentang klasifikasi sifat laki-laki (maskulin) dan perempuan (feminin) yang dibentuk secara sosio-kultural. Di dalam Women’s Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah konsep kultural yang berupaya membuat perbedaan dalam hal peran, posisi, perilaku, mentalitas dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Pada dataran ini, ada garis yang berifat culture, dimana ciri dan sifat-sifat yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan bisa saja dipertukarkan, karena hal tersebut tidak bersifat kodrati *.
Berdasarkan penelitian William dan Best (seperti dikutip Deaux dan Kite, 1987) yang mencakup 30 negara, menampilkan semacam konsensus tentang atribut laki-laki dan perempuan. Meskipun gender tidak universal, tetapi telah terjadi generalisasi kultural. Pada umumnya, label maskulin dilekatkan pada laki-laki yang dipandang sebagai lebih kuat, lebih aktif dan ditandai oleh kebutuhan yang besar akan pencapaian dominasi, otonomi dan agresi. Sebaliknya, label feminin dilekatkan pada perempuan yang dipandang sebagai lebih lemah, kurang aktif, dan lebih menaruh perhatian kepada keinginan untuk mengasuh dan mengalah *.
Sejarah yang panjang dalam aspek sosio-kultural-keagamaan menyisakan tradisi-tradisi lama yang patriarkhis. Perempuan selalu tertinggal di belakang dalam dunia kerja maupun pendidikan. Pasca revolusi industri di Barat, sektor publik yang sebelumnya sakral dan hanya boleh dinikmati oleh golongan maskulin mulai memberi kesempatan emas kepada perempuan untuk masuk ke dalam sektor publik dengan tidak meninggalkan sektor domestik (rumah tangga). Konstruksi sosio-kultural masyarakat yang terbentuk menjelang revolusi industri, khususnya di Barat, sangat senjang dimana posisi wanita kurang mendapatkan ruang dalam sektor publik. Celah yang mulai terbuka dengan dimulainya revolusi industri, memicu para pejuang feminisme untuk melirik kesempatan demi meraih ke-egaliter-an (keadilan) dalam hak. Perempuan harus diberi kesempatan untuk aktif di sektor publik. Aktif dalam dunia pendidikan, bisnis dan pekerjaan- pekerjaan lainnya yang selama ini didominasi oleh laki-laki.
Egaliter atau Plin-Plan
Bermula dari pemikiran bahwa wanita bukan hamba laki-laki juga bukan robot yang dengan seenaknya dieksploitasi dengan segala diskriminasinya, para feminis mendasarkan perjuangan mencapai keegaliteran dalam perspektif ini. Keadilan dipandang sebagai keegaliteran, kesetaraan peran domestik dan publik, serta kesetaran dalam hak dan kewajiban. Mereka merumuskan keadilan sebagai sesuatu yang dapat ditinjau secara kasat mata dan dapat diukur secara matematis. Keadilan menurut mereka layaknya keterseimbangan beban-beban dalam neraca timbang. Dalam asumsi mereka, laki-laki dan perempuan harus diperlakukan sama.
Sebenarnya, para pejuang feminis telah gagal memperjuangkan keegaliteran yang bercokol kuat dalam rumusan mereka. Kegagalan ini pada akhirnya cenderung membawa wanita kepada sikap-sikap hipokrit (sikap yang tidak adil dalam ukuran yang mereka buat sendiri), manakala mereka dihadapkan pada kenyataan bahwa laki-laki dan perempuan adalah jenis yang berbeda.
Indikasi ke-plin-plan-an para feminis mulai terasa ketika mereka dihadapkan pada realitas tersebut. Sebuah kutipan menarik dari Ratna Megawangi dapat merekam ke-plin-plan-an mereka:
“Ada seorang kawan pria saya yang berkata, ‘Para perempuan yang menuntut emansipasi wanita cenderung bersikap hipokrit.’ Menurutnya, para wanita ingin diperlakukan sama dengan pria tetapi dalam beberapa hal sering memakai dalih atau alasan keperempuanannya untuk mendapatkan kemudahan. Pada situasi dimana para perempuan diminta untuk bekerja sampai malam, tugas keluar kota, atau pekerjaan yang melelahkan secara fisik, perempuan sering berdalih, ‘Saya pusing karena sedang datang bulan, saya tidak bisa karena anak saya masih kecil atau kamu saja deh, kamu kan laki-laki.’ Apabila menyangkut pangkat atau upah, para wanita akan meneriakkan isu-isu diskriminasi, pelecehan hak perempuan, penindasan dalam dunia maskulin, dan sebagainya. Lanjut kawan saya lagi, ‘Kalau memang para wanita menginginkan emansipasi, mereka juga harus konsisten, tidak perlu menuntut sikap ingin dilindungi oleh kaum pria. ‘Rasanya sekarang para pria berdiri pada dua dunia yang berbeda, satu kaki pada dunia emansipasi wanita, satu kaki lagi pada dunia mitos bahwa pria harus bersikap gentlemen pada wanita, membukakan pintu, memberi jalan lebih dahulu.”
Keadilan dalam Timbangan Islam
Secara lahir atau dalam estimasi matematis, ada sedikit ketimpangan hak antara laki-laki dan perempuan. Yang hendaknya perlu kita pertanyakan adalah seperti apakah bentuk keadilan yang sejati? Apakah seperti yang diungkap oleh para feminis? Atau ada rumusan lain mengenai esensi keadilan?
Alquran memberikan gambaran menarik mengenai relasi laki-laki-perempuan yang memiliki keunggulan dan usaha masing-masing.

وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ
“Dan janganlah kamu berhasrat sesuatu yang oleh karenanya Allah melebihkan sebagianmu dari yang lain. Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang diusahakan. Dan bagi perempuan ada bagian dari apa yang diusahakan mereka”
Stereotip patriarkhis yang dilabelkan pada Islam sebenarnya hanya gambaran sinis para propogandis emansipasi yang mencoba memberi gambaran negatif atas para muslimah. Mereka tidak mengerti apa itu esensi keadilan dan apa pesan yang disampaikan Islam berkenaan dengan keadilan. Islam tidak menegasikan emansipasi. Islam menjunjung tinggi emansipasi dalam koridor yang telah ditentukan oleh kodrat manusia. Islam memandang emansipasi dalam kacamata fitrah yang telah ditetapkan oleh Tuhan, bukan dalam estimasi matematis.
Sektor publik terbuka untuk perempuan dengan tidak melupakan kodrat perempuan sebagai pelaku aktif dalam sektor domestik. Sektor domestik inilah yang menyebabkan kedudukan seorang perempuan sangat mulia. Sehingga, Rasulullah saw bersabda, “Surga berada di telapak kaki ibu.”
Sebagai sebuah epilog, wacana feminisme dengan jargon kesetaraan gendernya atau emansipasinya merupakan sebuah wacana yang absurb, berisikan bujukan yang menyudutkan perempuan muslim pada pengingkaran dan pemberontakan terhadap kodratnya, pada akhirnya ia akan memberontak terhadap keputusan Tuhan atas dirinya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s