Tidak Jahr Bismillah dalam Shalat

Oleh : KhaeruddiN Atmaja

Rasulullah saw. adalah pribadi yang menjadi panutan dari berbagai segi, dimulai dari perilaku sehari-hari baik itu perkataan, nasehat ataupun sunah yang biasa beliau kerjakan. Dalam hal ini akan disoroti dari segi perilaku sehari-hari beliau saw., yakni dalam hal ibadah shalat selama beliau saw. hidup. Dimana kebiasaan ini dilihat, didengar dan diamalkan oleh para shahabat. Lebih khusus lagi yakni dalam masalah pembacaan “basmallah” dalam shalat yang dijahrkan bacaannya.
Di dalam Jemaat ini kita selalu bertanya-tanya berkenaan masalah bacaan Basmallah dalam shalat yang dijaharkan (keras bacaannya). Apakah ada dasarnya? Jika ada sumbernya dari mana? Apakah sumbernya shahih/valid ?.dll. Berikut adalah keterangan-keterangannya:
‏ ‏أَخْبَرَنَا ‏ ‏مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْحَسَنِ بْنِ شَقِيقٍ ‏ ‏قَالَ سَمِعْتُ ‏ ‏أَبِي ‏ ‏يَقُولُ أَنْبَأَنَا ‏ ‏أَبُو حَمْزَةَ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏مَنْصُورِ بْنِ زَاذَانَ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ‏ ‏قَالَ: ‏صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏فَلَمْ يُسْمِعْنَا قِرَاءَةَ ‏ ‏بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ وَصَلَّى بِنَا ‏ ‏أَبُو بَكْرٍ ‏ ‏وَعُمَرُ ‏ ‏فَلَمْ نَسْمَعْهَا مِنْهُمَا (النسائي / ‏ ‏كِتَاب ‏ ‏الِافْتِتَاحِ/‏باب ‏تَرْكُ الْجَهْرِ بِ ‏ ‏بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ/رقم902 /دار الفكر-بيروت-1999م)
Artinya: “…Dari Anas bin Malik RA berkata : Rasulullah SAW shalat bersama kami, namun kami tidak mendengar beliau membaca bismillah dengan suara yang keras. Demikian juga ketika kami shalat di belakang Abu Bakar dan Umar, namun kami tidak mendengarnya dari keduanya”.
‏ ‏أَخْبَرَنَا ‏ ‏عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ أَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ ‏ ‏قَالَ حَدَّثَنِي ‏ ‏عُقْبَةُ بْنُ خَالِدٍ ‏ ‏قَالَ حَدَّثَنَا ‏ ‏شُعْبَةُ ‏ ‏وَابْنُ أَبِي عَرُوبَةَ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏قَتَادَةَ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏أَنَسٍ ‏ ‏قَالَ ‏: صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏وَأَبِي بَكْرٍ ‏ ‏وَعُمَرَ ‏ ‏وَعُثْمَانَ ‏ ‏رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ ‏ ‏فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَجْهَرُ بِ ‏ ‏بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (سنن النسائي / ‏ ‏كِتَاب ‏ ‏الِافْتِتَاحِ ‏/ باب تَرْكُ الْجَهْرِ بِ ‏ ‏بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ/ رقم 903/دار الفكر-بيروت-1999م)
Artinya: “…Dari Qatadah dari Anas berkata : Aku pernah shalat di belakang Rasulullah SAW,Abu Bakar,Umar dan Utsman RAM namun aku tidak mendengar satupun dari beliau-beliau menjaharkan bismillahirrahmanirrahim”
‏ ‏أَخْبَرَنَا ‏ ‏إِسْمَعِيلُ بْنُ مَسْعُودٍ ‏ ‏قَالَ حَدَّثَنَا ‏ ‏خَالِدٌ ‏ ‏قَالَ حَدَّثَنَا ‏ ‏عُثْمَانُ بْنُ غِيَاثٍ ‏ ‏قَالَ أَخْبَرَنِي ‏ ‏أَبُو نَعَامَةَ الْحَنَفِيُّ ‏ ‏قَالَ حَدَّثَنَا ‏ ‏ابْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ ‏ ‏قَالَ: ‏كَانَ ‏ ‏عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُغَفَّلٍ ‏ ‏إِذَا سَمِعَ أَحَدَنَا يَقْرَأُ ‏ ‏بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ‏ ‏يَقُولُ ‏ ‏صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏وَخَلْفَ ‏ ‏أَبِي بَكْرٍ ‏ ‏وَخَلْفَ ‏ ‏عُمَرَ ‏ ‏رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ‏ ‏فَمَا سَمِعْتُ أَحَدًا مِنْهُمْ قَرَأَ ‏ ‏بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ(سنن النسائي / ‏ ‏كِتَاب ‏ ‏الِافْتِتَاحِ ‏/ باب تَرْكُ الْجَهْرِ بِ ‏ ‏بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ/ رقم904/دار الفكر-بيروت-1999م)
Artinya: “…Ibnu Abdullah bin Mughaffal berkata : Biasanya jika Abdullah bin Mughaffal mendengar shalat seorang dari kami mengeraskan bacaan bismillah, maka ia berkata: “Aku pernah shalat di belakang Rasulullah SAW. Abu Bakar dan Umar RAMA,tetapi tidak satupun dari beliau-beliau itu membaca bismillahirrahmanirrahim”
Dari ketiga Hadits tersebut kita dapati para periwayat sebagai berikut:
-Hadits pertama:
1. Muhammad bin Ali bin Hasan bin Syaqiq
2. Ayah Muhammad (Ali)
3. Abu Hamzah
4. Manshur Bin Zadzan
5. Anas bin Malik
-Hadits Kedua:
1. Abdullah bin Said
2. Ibnu Abi ‘Arubah
3. Uqbah bin Khalid
4. Qatadah
5. Syu’bah
6. Anas
-Hadits Ketiga:
1. Ismail bin Mas’ud
2. Abu Nu’amah Al-Khaifiyy
3. Khalid
4.Ibnu Abdillah bin Mughaffal
5. ‘Utsman bin Giyats
6. Abdullah bin Mughaffal
Sekarang kita mengetahui bahwa memang ada dasar dan contoh dari Rasulullah saw.,yang dilihat oleh para sahabat dan juga praktekan disamping bacaan yang dijaharkan. Dari perawi hadits di atas kita dapati bahwa ada 3 sumber yang tentunya sangat berkompeten dalam meriwayatkan. Hal ini dilihat dari adanya periwayatan lain yang saling menguatkan. Hadits pertama dan kedua sama-sama bersumber dari Anas bin Malik. Hadits pertama lebih sedikit perawinya dari yang kedua. Kedua Hadits tersebut selanjutnya didukung oleh Hadits ketiga dengan sumber Abdullah bin Mughaffal. Hadits pertama dan ketiga menyebutkan bahwa beliau (perawi) ini pernah shalat di belakang Rasulullah saw. hingga Umar ra., namun tidak mendengar dikeraskannya bacaan “Basmallah”. Sedangkan yang Hadits kedua menyebutkan hingga masa Utsman.
Hal terpenting adalah bahwa Anas bin Malik ra. adalah seseorang yang telah melayani Rasulullah hingga wafatnya beliau saw. Sunnah yang beliau lihat dari Rasulullah saw. tentu valid (tidak diragukan). Begitu juga dengan cara Abu Hurairah ra. dalam menjaharkan Basmallah dalam shalat (Nasai no.901) adalah kuat karena beliaulah yang kurang lebih 3 tahun terakhir sebelum wafat selalu melihat dan mendengar sabda-sabda suci dari Rasulullah saw. hingga di sangka “gila” karena lapar hingga beliau pingsan dihadapan Hadhrat Umar ra. saat itu. Hal itu (lapar yang sangat) adalah agar Abu Hurairah ra. tidak tertinggal satu wejangan pun dari Rasulullah SAW.
Sebagai akhir adalah jika semua ada dasar dan contoh (sunnah Rasulullah SAW, para Kahalifahnya, sahabat serta tabiin) dalam masalah-masalah furu’, maka lakukanlah dengan apa yang kita selalu lakukan dalam melaksanakan shalat. Dalam hal ini Jemaat Ahmadiyah juga mengambil cara Rasulullah saw. dan bukan tanpa dasar serta tanpa sadar yang telah diaplikasikan selama 100 tahun lebih dengan contoh terdekat para Khalifatul Masih
Refrensi :
1. Ahmad bin Hambal, Musnad Ahmad,Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah,1993
2. Sulaiman bin Al-Asy’ats,Sunan Abu Daud, Beirut:Dar al-Fikr,2005
3. Muhammad bin Isa,Sunan al-Tirmidzi,Beirut:Dar al-Fikr,2003
4. Abu Abdullah Muhammad bin Yazid,Sunan Ibnu Majah,Beirut:Dar al-Fikr,2004
5. Abu Abdur Rahman Ahmad,Sunan al-Nasai,Beirut:Dar al-Fikr,1999
6. Tarj.Sunan Al-Nasai, Jilid I,CV.Asy-Syifa-Semarang,1992 M
7. Majalah As-Sunnah,Edisi 01/Tahun XI/1428H/2007M,h.29

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s