Nasakh-Mansukh Dalam Al-Qur’an

Oleh : Harpan Aziz Ahmad
Mahasiswa JAMAI Smstr. 9

مَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلا الْمُشْرِكِينَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِنْ خَيْرٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَاللَّهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ ()مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ()أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ ()
“Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar. ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu? Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong.” (QS. Al-Baqarah : 106-108)

Dalam Rukun Iman yang ke tiga terdapat ikrar keimanan kepada kitab-kitab samawi, akan tetapi dikalangan Umat Islam sendiri telah timbul aneka ragam pandangan-pandangan aneh berkenaan dengan kitab samawi, pada khususnya mengenai Al-Qur’an Suci.
Umpamanya, paham sebagian besar ulama dan cendikiawan yang mengatakan bahwa sebagian isi Al-Qur’an telah dimansukhkan( dibatalkan hukumnya). Cara yang ditempuh oleh mereka untuk memansukhan ialah, ayat-ayat yang dianggap oleh mereka bertentangan dengan ayat-ayat yang lainnya dianggap oleh mereka sebagai mansukh. Akibatnya ialah, kepada sebagian orang tampak beberapa ayat berlawanan dengan ayat-ayat lainnya dan kepada sebagian lagi tampak ikhtilaf (pertentangan) pada ayat-ayat lainnya. Yang satu memansukhan ayat-ayat ini dan sebagiannya lagi memansukhan ayat-ayat itu. Sesudah cukup besar bagian dari Al-Qur’an suci dinyatakan mansukh, maka Naudzubillah! tidak lagi patut diamalkan.
Oleh karena itu, perlu adanya klarifikasi berkenaan masalah nasakh dan mansukh dalam Al-Qur’an agar pandangan-pandangan umum seperti diatas kiranya dapat dihilangkan. Maka dalam artikel yang singkat ini penyusun mencoba untuk memberikan jawaban berkenaan nasakh mansukh dalam Al-Qur’an yang tentunya tidak bertentangan dengan ikrar Rukun Iman yang ketiga. Makalah ini merupakan rangkuman dari hasil diskusi yang diadakan oleh mahasiswa tingkat V, angkatan XVI, Jamiah Ahmadiyah Indonesia, T.A. 2010-2011, dibawah bimbingan Dosen Ilmu Kalam (Mln. Abdul Basith, Shd)

Pengertian Nasakh dan Mansukh
Lafal nasakh mengandung beberapa makna dari segi bahasa.
1. Nasakh, dapat bermakna ‘izalah (menghilangkan), seperti firman Allah: “Fayansakhullahu ma yulqisy syaithanu tsumma yuhkimullahu ayatihi = maka Allah menghilangkan apa yang setan nampakkan kemudian Allah menjelaskan ayat-ayat Nya” (QS. 22, Al-Hajj : 52)
2. Nasakh dapat bermakna tabdil (mengganti/menukar) seperti pada firman Allah: “Wa idza baddalna ayatan makana ayatin = Dan apabila kami mengganti atau menukar sesuatu ayat di tempat suatu ayat yang lain”. (QS. 16, An-Nahl: 101)
3. Nasakh dapat bermakna takwil (memalingkan), seperti memalingkan pusaka dari seseorang ke orang lain.
4. Nasakh dapat bermakna menukilkan dari suatu tempat ketempat yang lain seperti pada perkataan: Nasakhtul Kitaba = Saya menukilkan isi kitab, yaitu apabila kita menukilkan apa yang di dalam kitab itu meniru lafal dan tulisannya.1
Sebagian ulama menolak makna yang ke 4 diatas. Mereka berhujah bahwa si nasikh tidak dapat mendatangkan lafal-lafal yang lain.
Asy sa’dy berhujjah untuk orang yang memakai makna ini dengan firman Allah: “Inna kunna nastansikhu makuntum ta’malun=bahwasanya Kami menukilkan apa yang kamu kerjakan (QS. 45, Al Jatsiyah:29) yang dipautkan dengan firman Allah “Wa innahu fiummil kitabi ladaina la’aliyyun hakim = Sesungguhnya dia, yang berada di ummul kitab di sisi kami sungguh tinggi lagi kokoh”. (QS. 43, Az-Zukhruf: 4).
Al-Kitab menurut Asy Sa’dy tidak lain adalah Lauh Mahfuz atau Al-Kitabul Maknun. Penasikh Al-Qur’an yang menukilkannya telah mendatangkan lafal yang dimansukh, dinukil dan diturunkan kepada rasul.
Sumber perbedaan pendapat dalam mendefinisikan lafal nasakh kembali kepada pembatasan makna kata secara lughah secara istilah, supaya penggunaan lafal nasakh yang telah digunakan Al-Qur’an dalam firman Allah ayat 106 S. 2, Al-Baqarah, berlaku menurut uslub bahasa Arab dalam menerangkan sesuatu peristiwa yang mempunyai kedudukan yang besar.

Pendapat Beberapa Ulama Mengenai Nasakh-Mansukh
Menurut pendapat sebagian ulama ahli tahqiq, Al-Qur’an menggunakan lafal nasakh di segala tempat, sesuai dengan makna yang asli (hakiki) yang hanya itulah makna yang terguris di dalam dada masing-masing manusia. Oleh karenanya, mentakrifkan nasakh dengan perkataan raf’ul hukmisy syar’iyi bi dalilin syar’iyin = mengangkat sesuatu hukum syara’ dengan dalil syara’, adalah tahdid istilahy yang paling tepat bagi lafal ini, yang sesuai dengan bahasa Arab yang menetapkan bahwasanya nasikh itu, bermakna “menghilangkan dan mengangkat ketempat yang lain”.
Nash-nash syara’ mengangkat sebagian hukumnya dengan dalil-dalil yang kuat dan tegas pada peristiwa-peristiwa yang tertentu, karena mengandung rahasia-rahasia dan hikmah-hikmah yang hanya diketahui oleh ulama-ulama yang kuat ilmunya.
Yang lainnya berpendapat bahwasanya nasakh hanya di dalam Al-Qur’an sendiri. Maka tidak salah al Quran dinasakhan oleh al Quran, seperti menasakhan puasa hari asyura dengan ayat shiyam.
Diantara tindakan dari para ulama yang berlebihan ialah mereka telah membagi sebuah ayat kepada dua bagian, lalu mereka mengatakan bahwa permulaannya dimansukhan oleh akhirnya. Seperti firman Allah ayat 105 Surah Al-Maidah. Akhir ayat itu menyeru kita supaya menyuruh makruf dan mencegah munkar. Maka akhir ayat ini, menurut pendapat Ibnu Araby menasakhkan permulaannnya. Bahkan Ibnu Araby mengatakan, bahwa permulaan ayat 199 Surah Al A’raf dan demikian pula akhirnya mansukh. Hanya pertengahannya saja yang muhkam.
Kegemaran mereka menyingkap mana yang mansukh dalam ayat-ayat Al-Qur’an, menjerumuskan mereka kedalam berbagai kesalahan yang selayaknya mereka jauhi. Mereka memandang nasakh dalam al quran terbagi menjadi tiga macam:
 Menasakhan hukum, tetapi tidak tilawahnya.
 Menasakhan tilawah, tetapi tidak hukumnya.
 Menasakhan hukum dan tilawah.
Bahkan ada lagi golongan yang mengatakan bahwa ayat yang nasikh itu bisa menjadi mansukh pula. Mereka berkata : “Ayat ke-6 dari surah Al-Kafirun dimansukhan oleh ayat ke-5 surah At-Taubah, kemudian ayat ke-5 surah At-Taubah itu, dimansukhan oleh ayat 29 surah At -Taubah.”
Sikap berlebih-lebihan sebagian ulama tentang nasakh dan mansukh itu jelas tidak masuk akal, dan seolah-olah meragukan eksistensi Al-Qur’an itu sendiri.

Hakikat Nasakh dan Mansukh
Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. telah menghilangkan segala keaiban (nasakh dan mansukh) dari Agama Islam setelah beliau diutus. Beliau telah membuktikan dengan dalil-dalil bahwa Al-Qur’an itu petunjuk terakhir Allah swt. Al-Qur’an terpelihara dari kemansukhan. Segala sesuatu yang terkandung di dalamnya wajib diamalkan oleh orang-orang Islam. Tiada satu bagianpun yang bertentangan dengan bagian lainnya dan patut dianggap mansukh. Barang siapa melihat pertentangan didalamnya, ia sendirilah yang jahil, dan ia menuduhkan ketunaan pengetahuannya kepada Al-Qur’an Suci. Didalamnya tidak sedikitpun terjadi perubahan. Kata demi katanya dan huruf demi hurufnya utuh seperti dahulu ketika diturunkan kepada junjungan kita Rasulullah saw. Allah Ta’ala sendirilah yang menjadi penjaganya. Dia mengadakan sarana-sarana penjagaan rohani maupun jasmani baginya sedemikian ketatnya sehingga campur tangan manusia tidak dapat memberi bekas kepadanya.2 Jadi, mengatakan adanya pembatalan di dalamnya adalah keliru. Begitu pula mempercayai ada perubahan didalamnya merupakan suatu tuduhan keji.
Dalil yang sering digunakan olah para ulama berkenaan dengan nasakh dan mansukh adalah firman Allah swt. Dalam Surah Al-Baqarah : 107 ;

مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ()
“Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, kami datangkan yang lebih baik dari padanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?”.
Ada kekeliruan dalam mengambil kesimpulan dari ayat ini bahwa, beberapa ayat Al-Qur’an telah dimansukhan (tidak berarti lagi). Kesimpulan itu jelas salah dan tidak beralasan. Tiada sesuatupun dalam ayat ini yang menunjukan bahwa, kata ayah itu maksudnya ayat-ayat Al-Qur’an. Padahal kata ayah itu sendiri memiliki banyak arti diantaranya pesan, tanda, perintah atau ayat Al-Qu’ran. Dan yang tepat dalam konteks ini adalah diartikan dengan perintah. Karena dalam ayat sebelum dan sesudahnya telah disinggung mengenai Al-Kitab dan keirian mereka terhadap wahyu baru yang menunjukan bahwa ayah yang dikatakan mansukh dalam ayat ini, menunjuk kepada wahyu-wahyu terdahulu. Dijelaskan bahwa ayat-ayat suci terdahulu mengandung dua macam perintah:
• Yang menghendaki peghapusan karena keadaan sudah berubah dan karena keuniversalan wahyu baru itu (Al-Qur’an), menghendaki penghapusan.
• Yang mengandung kebenaran kekal-abadi, atau memerlukan penyegaran kembali sehingga orang dapat diingatkan kembali akan kebenaran yang terlupakan. Karena itu, perlu sekali menghapuskan bagian-bagian tertentu dari kitab-kitab suci itu dan mengganti dengan perintah-perintah baru dan menegakkan kembali perintah-perintah yang sudah hilang. Maka, Tuhan menghapuskan beberapa bagian wahyu terdahulu, dan menggantikannya dengan yang baru dan lebih baik, dan disamping itu memasukkan lagi bagian-bagian yang hilang dengan yang sama. Itulah arti yang sesuai dan cocok dengan konteks (letak) ayat ini dan dengan jiwa umum ajaran Al-Qur’an.3
Jadi jelaslah bahwa pengertian tentang nasakh yang menghilangkan sebagian ayat-ayat dalam Al-Qur’an adalah suatu kesalahan dan tidak ada relevansinya dengan apa yang sedang dibahas dalam ayat (Al-Baqarah : 107) ini. Karena yang dimaksud dengan nasakh dalam ayat ini adalah berkenaan dengan hukum-hukum/perintah-perintah yang terdapat dalam kitab suci terdahulu.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s