Tuduhan Terhadap Nabi Muhammad saw. belum Mendapat Hidayah

Oleh : Luthfi JP
Mahasiswa JAMAI Smstr. 9

Ada tuduhan mengenai Nabi Muhammad saw. yang membaca doa Al-Fatihah setiap shalat yang salah satu ayatnya berbunyi,
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ()
“Tunjukilah kami pada jalan yang lurus”. Orang yang mengharapakan petunjuk indikasinya ia belum mendapat petunjuk. Artinya Nabi Muhammad saw. belum mendapatkan petunjuk karena beliau mengharapkan petunjuk dari Tuhan. Semoga tulisan singkat ini bisa menjawab keberatan itu.
Jawaban I :
Tuduhan tersebut tidak dapat diterima dan mencerminkan kedangkalan ilmu tentang kata “Hudan/Hidayah” (petunjuk) dalam bahasa Arab. “Hidayah” dalam Al-Qur’an terbagi kedalam 4 tahapan. Adapun tahapan-tahapannya sebagai berikut :
1. Pada tahapan ini seseorang belum mengetahui apakah kebenaran atau Tuhan itu, dan untuk mencapai Tuhan itu bagaimana. Dalam tahapan ini seseorang pertama-tama diberitahu terlebih dahulu bahwa untuk mencapai Tuhan itu harus melalui jalan ini dan itu, tetapi ia tidak dibimbing dalam perjalanannya menuju Tuhan. Berkenaan dengan hal ini Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Balad : 11 :
وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ ()
“Dan Kami telah menunjukan kepadanya kedua jalan”
Penjelasan dari Tafsir Singkat JAI no.3349 bahwa An-Najdain berarti, dua jalan raya kebaikan dan kejahatan; dua jalan kebenaran dan kepalsuan; dan dua jalan raya kemajuan rohani dan jasmani. Tuhan telah membekali manusia dengan segala sarana yang dengan sarana itu ia dapat menemukan jalan yang lurus, dapat menyaring yang benar dari yang salah, dan kebenaran dari kepalsuan. Ia telah dianugerahi mata, baik mata rohani maupun mata jasmani, yang dengan itu ia mampu membedakan kebaikan dari keburukan dan ia diberi pula lidah dengan dua buah bibir, agar ia dapat meminta petunjuk, dan di atas segala-galanya Tuhan telah meletakkan di hadapannya tujuan tertinggi, supaya ia dapat membaktikan semua kemampuan dan kekuatan untuk mencapai tujuan itu.
Berdasarkan penjelasan di atas jelas bahwa pada tahapan ini manusia baru diberikan dua pilihan, mau jalan yang menuju kebaikan atau kejahatan, kebenaran atau kepalsuan, dan seterusnya. Analoginya seperti ini bahwa apabila seseorang dari Jakarta yang belum mengetahui Bogor ingin pergi ke Bogor maka pertama-tama yang harus diketahui dimana letak Bogor dari Jakarta kemudian jalan yang singkat / cepat menuju ke Bogor bagaimana. Nah, pada tahapan ini seseorang diberitahu sebatas letak Bogor dimana dan juga diberitahu harus melewati jalan apa saja untuk mencapai Bogor. Ia tidak dibimbing atau ditemani untuk sampai di Bogor.
2. Kemudian untuk dapat dibimbing atau ditemani selama di perjalanan menuju Bogor maka ia harus memintanya kepada yang mengetahui dan mampu membimbingnya untuk sampai di Bogor. Dalam hal ini, kembali ke masalah “Hidayah”, yang mengetahui jalan menuju Tuhan dan mampu membimbingnya tidak lain tidak bukan ialah Allah Swt. sendiri. Jadi supaya seseorang dapat dibimbing menuju Tuhan, ia harus memohon dengan kerendahan hati untuk dibimbing ke arah-Nya. Sebab dalam perjalanan menuju Tuhan pasti banyak halangan dan rintangan yang dapat menyesatkan seseorang dari jalan yang benar atau “Sirathal Mustaqim”. Inilah tahapan kedua dari “Hidayah”. sebagaimana firman Allah Swt. dalam Surah Al-Ankabut : 70 :
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjuang untuk Kami, sesungguhnya Kami pasti akan memberi petunjuk kepada mereka pada jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Penjelasan dari tafsir singkat JAI no.2268 bahwa jihad sebagaimana diperintahkan oleh Islam, tidak berarti harus membunuh atau menjadi korban pembunuhan, melainkan harus berjuang keras guna memperoleh keridhaan Ilahi, sebab kata fiinaa berarti “untuk menjumpai Kami”.
Berdasarkan penjelasan di atas bahwa kata fiinaa berarti “untuk menjumpai Kami” maka siapa pun yang berusaha sekuat tenaga, dengan segala kemampuan yang dimiliki menuju Tuhan-nya maka sesuai dengan ayat di atas bahwa Allah Swt. pasti akan membimbingnya untuk sampai kepada-Nya. Inilah tahapan kedua dari kata “Hidayah”.
3. Kemudian tahapan ketiga dari kata “Hidayah” adalah Allah Swt. setelah menunjukkan jalan yang benar/lurus lalu membimbingnya sampai akhirnya ia bertemu dengan Tuhan-nya. Hal ini dijelaskan dalam Surah Al-A’raf : 44 :
…وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ…
“Dan mereka berkata, segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami tidak akan mendapat petunjuk seandainya Allah tidak memberi petunjuk kepada kami.”
Inilah tahapan ketiga dari kata “Hidayah” dimana seseorang yang dengan usahanya yang keras dan juga pertolongan serta bimbingan dari Allah swt. akhirnya ia sampai kepada Tuhan.
4. Kemudian setelah seorang hamba Allah swt. sampai kepada Allah Swt. ia tidak berhenti sampai disana, Allah Swt. terus menambah “Hidayah-Nya” atau petunjuk-Nya, dan Dia terus menerus menambahnya. Dalam hal ini Allah Swt. berfirman dalam Surah Muhammad : 18 :
وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ ()
“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Dia menambahkan petunjuk kepada mereka, dan Dia memberikan kepada mereka ketakwaan mereka.”
Penjelasan dari tafsir singkat JAI no. 2750 bahwa ungkapan Al-Qur’an dapat berarti: (a) Tuhan membuat mereka orang-orang muttaqi; (b) Dia membukakan bagi mereka jalan dan cara yang dengan menempuhnya mereka dapat mencapai martabat takwa; (c) Allah menganugerahkan kepada orang-orang mukmin rahmat dan berkat yang merupakan hasil kehidupan bertakwa.
Perlu diketahui bahwa masing-masing mukmin sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya serta pertolongan-Nya memiliki tahapan yang berbeda-beda dan puncak dari tahapan-tahapan itu adalah tahapan keempat ini, dan Rasulullah saw. telah mencapai tahapan ini. Dengan kata lain pengertian bahwa Nabi Muhammad saw. memohon “Hidayah”- setelah berjumpa dengan Tuhan-nya adalah supaya Hidayah ini terus-menerus ditambah dan “Hidayah ini sama dengan ma’rifat, tidak ada batasnya atau tak terhingga. Jadi tuduhan bahwa Rasulullah saw. –Naudzubillah- belum mendapat hidayah kebenaran dengan jelas dapat ditepis karena beliau saw. telah mencapai “Hidayah” tahapan keempat ini.
Tuduhan II :
Di dalam Al-Qur’an diterangkan bahwa terdapat ayat-ayat nasikh – mansukh yang diartikan oleh para ulama Islam sebagai ayat yang perlu dibuang atau dihapus karena saling bertentangan. Ini menjadi satu point bagi para penentang Islam bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang saling bertentangan sehingga harus ada yang dihapus atau dibuang
Jawaban II :
Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah : 107 :
مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ()
“Ayat mana pun yang kami mansukhkan atau kami biarkan terlupa, kami datangkan yang lebih baik darinya atau yang semisalnya. Tidak tahukah engkau bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?”
Penjelasan dari tafsir singkat JAI no. 132 adalah bahwa ada kekeliruan dalam mengambil kesimpulan dari ayat ini bahwa beberapa ayat Al-Qur’an telah dimansukhkan (tidak berarti lagi). Kesimpulan itu jelas salah dan tidak beralasan. Tiada sesuatu ayat ini yang menunjukkan bahwa kata ayah itu maksudnya ayat-ayat Al-Qur’an. Dalam ayat sebelum dan sesudahnya telah disinggung mengenai ahli kitab dan keiriran mereka terhadap Wahyu baru yang menunjukkan bahwa ayah yang disebut dalam ayat ini sebagai mansukh, menunjuk kepada wahyu-wahyu terdahulu. Dijelaskan bahwa kitab suci terdahulu mengandung dua macam perintah: (a) yang menghendaki penghapusan karena keadaan sudah berubah dan, karena keuniversalan wahyu baru itu, menghendaki penghapusan; (b) yang mengandung kebenaran kekal-abadi, atau memerlukan penyegaran kembali sehingga orang dapat diingatkan kembali akan kebenaran yang terlupakan.
Oleh karena itu, perlu sekali menghapuskan bagian-bagian tertentu Kitab-kitab suci itu dan mengganti dengan perintah-perintah baru dan pula menegakkan kembali perintah-perintah yang sudah hilang. Maka, Tuhan menghapuskan beberapa bagian wahyu-wahyu terdahulu, menggantikannya dengan yang baru dan lebih baik, dan di samping itu memasukkan lagi bagian-bagian yang hilang dengan yang sama. Itulah arti yang sesuai dan cocok dengan konteks (letak) ayat ini dan dengan jiwa umum ajaran Al-Qur’an.
Al-Qur’an telah menghapuskan semua kitab suci sebelumnya; sebab – mengingat keadaan umat manusia telah berubah – Al-Qur’an membawa syariat baru yang bukan saja lebih baik daripada semua syariat lama, tetapi ditujukan pula kepada seluruh umat manusia dari semua zaman. Ajaran yang lebih rendah dengan lingkup tugas yang terbatas harus memberikan tempatnya kepada ajaran yang lebih baik dan lebih tinggi dengan ruang lingkup tugas universal.
Dalam ayat ini kata nansakh (Kami menghapuskan) bertalian dengan kata bi-khairin (yang lebih baik), dan kata nusiha (Kami biarkan terlupa) bertalian dengan kata bi-mitslihaa (yang semisalnya), maksudnya bahwa jika Tuhan menghapuskan sesuatu maka Dia menggantikannya dengan yang lebih baik; dan bila untuk sementara waktu Dia membiarkan sesuatu dilupakan orang, Dia menghidupkan kembali pada waktu yang lain. Diakui oleh ulama Yahudi sendiri bahwa sesudah bangsa Yahudi diangkut sebagai tawanan ke Babil oleh Nebukanezar, seluruh Taurat (lima kitab Nabi Musa as.) telah hilang (Enc.Bib).

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s