“ mati “ sebagai Waqfeen ?

Oleh :
Ridhwan Ibnu Luqman
( Muta’alim Jamiah Ahmadiyah Indonesia )

Kulihat disana cahaya redup, dan sirna
Gelappun menerkam, dan malam datang
Ia bawa kesunyian, dan tenang

Serentak cahaya kecil datang, dan terang
Sirnalah sedih, dan bimbang
Ialah bulan, dan bintang

Kututup mata, dan kubayangkan
Datang khayalan, dan angan
Kuingin mati, dan segera dihidupkan

Karena kini hanya hidup”, dan tak berati
Hanya bermimpi, dan menanti
Tanpa berdiri, dan berlari mengukir sebuah prestasi

Lalu kutersadar ku tlah mati, dan tlah termiliki
Tak ada jati diri, mimpi, dan hanya mengabdi
menjual harta, waktu, kehormatan dan diri pada Illahi

Kusadar inilah yang kucari, dan kuingini
Mati melebur mimpi duniawi, dan hidup mencari rahmat Illahi
To be a waqfeen, and be an army of Al-Masih

Jika kau ragu, dan tak mengerti
Datang kesini, dan tak usah lagi bermimpi
Dekatkan diri dengan jemaat Illahi, dan berikan sebuah dedikasi

Karna kemudi bahtera ini ditanganku, dan ditanganmu
Melaju menerjang badai, dan Kemudian berlabuh
Adalah tugas kita yang tlah “ mati “ dan termiliki

Ee Raab ! Khaksar ko Masih Mau’udas ka Fouj ban kelie
Apna Barkat o hidayat
‘Ata kare….Amiin

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s