MALAIKAT MENURUT HADHRAT MIRZA GHULAM AHMAD AS

  1. 1.    Pengertian Malaikat

Malaikat (Bahasa Arab: ملاءكة; transliterasi: Malaikah) adalah makhluk yang memiliki kekuatan-kekuatan yang patuh pada ketentuan dan perintah Allah.

Etimologi Arab

Menurut bahasa, kata “Malaikat” merupakan kata jamak yang berasal dari Arab malak (ملك) yang berarti kekuatan, yang berasal dari kata mashdar “al-alukah” yang berarti risalah atau misi, kemudian sang pembawa misi biasanya disebut dengan Ar-Rasul.

Malaikat adalah makhluk yang diciptakan Allah ta’ala dari nur atau cahaya. Pekerjaan para malaikat itu melaksanakan perintah Allah dan segala tugas yang diberikan kepadanya. Malaikat tidak mempunyai iradah atau kemauan sendiri. Malaikat tidak mempunyai kebebasan bergerak atau melakukan apapun diluar perintah allah. Sebagaimana dalam Al-Qur’an:

“mereka takut kepada tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka) .” (An-Nahl : 51)

Menurut lughat Arab, lafadz malak berarti risalat atau menyampaikan, karena diantara pekerjaan-pekerjaan para malaikat adalah menyampaikan nikmat-nikmat dan hukum-hukum Allah swt. Kepada umat manusia. Oleh karena itu, malaikat disebut juga wasilah atau perantara antara Allah swt. dan manusia.

Adapun secara istilah, malaikat adalah salah satu jenis makhluk Allah swt. yang diciptakan khusus untuk taat dan beribadah kepadanya serta mengerjakan semua tugas-tugasnya. Dan pengertian seperti ini yang dapat kita pahami dari pengertian malaikat secara kebahasaan dan secara istilah.

Adapun beberapa ulama berpendapat bahwa malaikat adalah makhluk halus yang diciptakan oleh Allah swt. dari cahaya yang dapat berbentuk dengan aneka bentuk, taat mematuhi perintahnya dan sedikitpun tidak membangkang.

Sementara Maulana Rahmat Ali H.A.O.T., didalam buku beliau “Rahasia-rahasia Rukun Iman” mengatakan bahwa malaikat adalah makhluk yang mangadakan persesuaian antara peraturan-peraturan jasmani dan peraturan rohani. Dan sering kali pekerjaan rohani itu menghasilkan pekerjaan jasmani.

2.    Iman kepada Malaikat

Sesudah beriman kepada Tuhan, menurut Islam, menurut islam rukun Iman yang kedua adalah beriman kepada malaikat. Setidaknya ada dua hal yang dituntut oleh Islam menyangkut kepercayaan terhadap malaikat, yaitu percaya terhadap wujud malaikat yang mempunyai eksistensi, makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT. dan percaya bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah swt. yang taat yang diberi tugas tertentu oleh Allah swt.

Hadhrat Masih Mau’ud as.meyakini bahwa Allah Ta’ala memiliki malaikat-malaikat. Seperti yang beliau as. Ungkapkan dalam kitab Ainah Kamalati Islam hlm. 384, sebagai berikut :

“Dan Aku berkeyakina bahwa sesungguhnya Allah itu mempunyai malaikat yang dekat, masing-masing dari mereka mempunyai kedudukan tertentu.”

Kepercayaan terhadap malaikat merupakan suatu hal yang sanagat penting dan merupakan suatu kerugian yang sangat besar apabila kita tidak mengetahui apa manfaat dari malaikat dan segala sesuatu yang berhubungan dengan dengannya.

Di zaman sekarang, kepercayaan kepada malaikat dari pihak kaum terpelajar dari bermacam-macam golongan dalam agama islam dan juga dalam agama lain boleh dikatakan tipis atau sama sekali tidak ada. Meskipun demikian, kepercayaan tentang adanya malaikat terdapat dalam setiap agama dan golongan, bahkan golongan orang-orang yang masih biadab pun mempunyai kepercayaan terhadap malaikat.

Jadi, kepercayaan terhadap malaikat merupakan suatu pondasi bagi keimanan seorang muslim. Dan para ahmadi pun memiliki kepercayaan yang teguh akan adanya wujud malaikat seperti umat Islam pada umumnya.

3.    Tugas-tugas Malaikat

Adapun tugas-tugas para malaikat itu antara lain seperti apa yang diterangkan oleh Al-Qur’an adalah tergantung pada macam, tingkut, dan derajat pekerjaan yang harus dilakukannya. Dalam Al-Qur’an karim dijelaskan:

“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu). Yang mulia (disisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaan itu).” (QS. Al-Infithaar: 11,12)

Para malaikat itulah sebenarnya yang mengatur tata kerja seluruh alam dengan segala yang ada di dalamnya. Tugas para malaikat itu begitu luas dan banyak, mencakup urusan lahir dan batin, rohani maupun jasmani.

Para malaikat dalam tugasnya terbagi dalam berbagai golongan. Ada malaikat yang bertugas berdekatan dengan tuhan, ada malaikat yang tinggi kedudukannya dan ada pula yang agak rendah. Tugas yang diserahkan pun berbeda-beda. Salah satu contoh tugas malaikat dalam Al-Qur’an surat Qaaf ayat 17-22 diterangkan bahwa malaikat yang duduk disebelah kanan manusia mencatat amal baiknya dan yang disebalah kirinya mencatat amal buruknya. Tiap perkataan dan perbuatan yang diucapkan meninggalkan bekas di udara dan dengan demikian tetap tersimpan.

Hadhrat Masih Mau’ud as. bersabda dalam buku Inti Pokok Ajaran Islam yakni: Malaikat terdiri dari bermacam jenis dan mereka itu termasuk malaikat bumi. Adapun malaikat langit melaksanakan pengaruhnya dari langit seperti sinar matahari yang merupakan malaikat tuhan yang menjadikan masak buah-buahan dipohon dan berbagai fungsi lainnya. Angin adalah malaikat tuhan yang menghimpun awan yang mempengaruhi ladang pertanian dengan berbagai cara. Disamping mereka terdapat banyak lagi berbagai malaikat lain dengan fungsinya masing-masing.

Namun ada pemikiran yang salah di kalangan masyarakat pada umunya yang mengatakan bahwa malaikat harus berpindah-pindah dalam mengkhidmati Allah swt. dan hamba-Nya yang tersebar di berbagai pelosok dunia. Kalau memang perlu harus berpindah pindah dalam tugasnya  dari satu tempat ke tempat lain, maka akan mustahil bagi malaikat yang bertugas mencabut nyawa beribu-ribu orang secara bersamaan pada berbagai tempat diseluruh dunia. Jadi singkatnya, makhluk-makhluk ganjil ini tetap berada di tempatnya masing-masing tatkala menjalankan tugasnya.

4.  Nama-Nama Malaikat Dan Fungsinya

Malaikat dikenal dengan berbagai nama sesuai dengan tugasnya. Berikut ini nama beberapa  malaikat Allah Ta’ala tugas-tugasnya:

1. Jibril

Jibril adalah malaikat yang diberikan amanat untuk menyampaikan wahyu, turun membawa petunjuk kepada rasul agar disampaikan kepada umat. Malaikat jibril adalah malaikat yang sangat di percaya oleh Allah SWT untuk menyampaikan pesan-pesan ketuhananan yang berupa wahyu, ilham kepada para nabi-Nya para Rasul-Nya, para kekasih-Nya dan hamba-hamba yang dikehendaki-Nya.

2.Mikail

Dialah yang diserahi tugas mengatur hjan dan tumbuh-tumbuahan dimana semua rezeki  didunia ini berkaitan erat dengannya.

Allah ta’ala berfirman;

“Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, Maka Sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.” ( Q.S. Al-baqarah : 99 )

3.Israfil

Dia diserahkan tugas meniup sangkakala atas perintah Rabb-Nya dengan tiga kali tiupan. Pertama adalah tiupan faza’ ( keterkejutan ), tiupan kedua adalah  tiupan sha’aq (kematian).

Rasulullah (saw) bersabda , “ Israfil adalah pemilik shuur ( terompet ). Jibril ada dikanannya, mikail ada disebelah kirinya, dan ia diantara keduanya.” (H.R. Ahmad , Abu Daud, Al-Hakim, Baihaqi Dan Lainya) 64

4.Malik

Dia adalah penjaga neraka . Allah ta’ala berfirman,

“ mereka berseru , ‘hai Malik, biarlah Rabb-mu membunuh kami saja’. Dia menjawab, ‘kamu akan tetap tinggal ( di neraka ini )’. Sesungguhnya kami telah membawa kebenaran kepada kamu tetapi kebanyakan diantara kamu benci kepada kebenaran itu”  ( Q.S Az – Zukhruf : 77-78

64 Mahmud Asy-Syafrowi, Mengundang Malaikat ke Ruamh, op.cit, h.34

5.Ridhwan

Dia adalah penjaga surga. Ada sebagian hadist yang dengan jelas menyebut dirinya. (al-Bidaayah wan Nihaayah  I/45 )

6.Munkar Dan Nakir

Terdapat penybutan dengan mereka didalam hadist Abu Hurairah r.a Rasulullah  ( saw )    bersabada;

“ Tatkala orang yang mati telah dikubur, datanglah kepadanya dua malaikat yang hitam kebiruan, salah satu diantara keduanya dinamakan munkar dan yang satunya dinamakan Nakir .” ( H.R. At-Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh al Albani dalam Shaiih  sunan At Tirmidzi no. 856

7.Izra-il

Penamanya dengan malaikat maut tidak disebut kan dengan jelas didalam al-qur’an maupun hadist-hadist yang shahih.

8.Raqib dan Atid

Allah Ta’ala berfirman ;

“ Maa yalfizhu min qaulin illaa ladayHi raqiibun atiidun” yang artinya, “ tidak suatu ucapan pun yang diucapkan melaikan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (Q.S Qaaf : 18 )

Menurut AL-Qur’an , malaikat yang mengemban wahyu kepada Nabi Muhammad (saw) disebut malaikat jibril  ( 2 : 98 ). Menurut  ikrimah, kata jibril adalah  kata majemuk dari kata jibr yang artinya hamba, dan kata il artinya tuhan. Maliakat jibril juga disebut pula rasul atau utusan, yang dengan perantaranya allah SWT menyampaikan firman-Nya kepada nabi  ( 42: 51 ).

Memang benar malaikat jibril dikatakan datang kepada Nabi Muhammad (saw) dengan mengemban wahyu ilahi, namun sebagai mana kita pahami bahwa Nabi Muhammad (saw.) menerima wahyu melalui indera ruhani. Oleh karena itu, beliau malaikat Jibril bukan dengan mata jasmani beliau. Kadang-kadang malaikat Jibril pun datang denganbeliau dengan bentuk manusia. Dalam suatu kesempatan, Nabi Muhammad (saw) mendengar kalimat wahyu beitu keras bagaikan bunyi lonceng, namun demikian orang-orang disekitar beliau, sekalipun mereka melihat trjadi perubahan pada diri nabi Muhammad (saw.) tetapi mereka tak melihat malaikat Jibril, dan tak mendengar kalimat wahyu. Banyak sekali hadist yang meriwayatkan peristiwa Nabi Muhammad  (saw.) menerima wahyu delagi beliau berada ditengah-tengah para sahabat, namun tak ada seorang pun yang pernah melihat malaikat Jibril, atau mendengar suaranya.

Dan apabila Nur Jibril ( yakni keputusan, gerak  atau rangsangan ilahi ) mulai untuk bergerak, banyangannya langsung memproyesi pada ingatan seseoarang hamba yang penuh dengan kecintaan. Banyangan itu adalah Ruh Qudus, tidak ada nama lain untuk itu. Banyangan itu mulai sampai seterusnya, menjadai bagian dan penggalan cinta dari pada hamba yang diliputi oleh rasa cinta itu, yakni sebagai prangakat ruhaninya. Perangkat itu memebrinay kemampuan untuk mendengar suara tuhan, untuk melihat benda-benda ajaib yang terus menerus terjadi dihadapan matanya, dan untuk menggerkan lidahnya serta membentuk ucapan-ucapan suku kata dan kat-kata  suara ilahi. Kekuatan inilah yang dinamakan Ruh Qudus, yang membuatanya berbeda . peri keadaan itu tidak terjadi sampai kekeuatan tiu muncul, barulah setelah itu ingatan sipenerima wahyu mulai mampu untuk melihat. Juga lidahnya tidak dapat memulai untuk membentuk ucapan hingga munculnya kekuatan itu. Sama halnya dengan sebuah kereta api yang tidak dapat bergerak diatas rel sebelum ada lokomotip. Kekuatan ini. Yang kita yang kita namakan Ruh Qudus, tidak sama kekutannya pada setiap ingatan penerima. Hal itu lebih bergantung pada mutu cinta didalam hati sanubari manusia. Nur Jibril turun sepadan dengan mutu dari pada  mutu cinta ini.

5.  Sarana Eksternal Kebutuhan Keruhanian

Agar bisa menerima eksistensi malaikat, cara termudah adalah mengarahkan pikiran kiat      kepada hal berikut  ini. Kita sama mengakui bahwa untuk melatih dan menyempurnakan tubuh agar semua tindakan dari pengoprasian keseluruhn indera memberikan hasil yang baik, maka Allah yang maha kuasa telah mengatur hukum alam sedemikian rupa dengan cara memanfaatkan unsu-unsur alam , matahari, bulan dan bintang-bintang dimana semua itu dikerahakan   untuk membantu fitrat dan jasmani kiat agar bisa melaksanakan  fungsi-fungsinya  dengan sebaik-baiknya. Karena  itu tidak mungkin menyangkal kenyataan bahwa mata kita tidak mampu berfungsi dengan sinarnya sendiri kecuali dibantu oleh sinar matahari  dan telinga kita tak mungkin mendengar dengan fitrahnya sendiri kecuali dibantu adanya udara.

Malaikat mengemban wahyu ilahi, dan hanya dengan bantuan wahyu sajalah manusia mampu melaksanakan kehidupan ruhani dan maupun membuat kemajuan ruhani dan mengembangkan daya-daya ruhaninya. Malaikat bukan hanya terdapat disurga, melaikan pula dineraka,  yang sebenarnya, dua tempat atau dua keadaan  itu amatlah berlainan, dineraka, orang dibuat mampu untuk melanjutkan kemajuan ruhaninya, sedang disurga, orang menikmati  kemajuan ruhani yang tak ada putus-putusnya, dineraka, orang dibersihkan dari segala macam penyakit ruhani, yang mereka peroleh kerena menjalankan perbuatab jahat selama mereka hidup didunia.

Penelitian atas hukum alam menunjukan secara konklusif dan pasti bahwa unsur atau elemen penolong tersebut berada dilar dari kita. Kita mungkin tidak mampumenyadari realitas mereka yang sebenarnya, namun kita tahu pasti bahwa unsure tersebut bukanlah Allah SWT sendiri yang bertindak secara langsung tetapi juga bukan kemampuan dan fitrat kita sendiri.  Msur penolong tersebut merupakan mahluk ciptaan dengan eksistensi yang bersifat independen. Jika ada dari unsur tersebut yang kita kaitkan dengan amal atau pekerjaan yang baik, kita menyebutnya Rohul Kudus atau Jibril dan jika mengkaitkan yang bersangkutan dengan kejahatan atau dosa maka kita menyebutnya sebagai Syaitan  atau Iblis. Unsur-unsur ini tidak mudah terlihat tetapi bagi seseorang yang mempunyai wawasan bisa melihatnya, antara lain melalui kashaf.

Setelah jelas bahwa sebagaimana hukum alam samawi mengatur tentang adanya pengaruh eksternal yang disebut sebagai malaikat dalam sistema yang berkaitan dengan jasmani, begitu juga yang terdapat dalam sistem keruhanian. Dalam sistem jasmani ( fisik ) adanya perubahan selalu terjadi melalui mediasi malaikat.  Allah SWT menyebut para malaikat sebagai pengatur ( regulator ) dan distributor yang menjadi kausa dari setiap perubahan dan perkembangan. Mereka itulah yang menjunjung tinggi Arasy ilahi. Ayat yang menyatakan

“. tidak ada suatu jiwapun (diri) melainkan ada penjaganya.” (Q.S. Ath-Thariq : 5 ).

Hal ini menjadi bukti adanya penugasan malaikat atas segala sesuatu dai ala ini.

Ayat berikut ini juga mengindikasikan hal yang sama :

“Langit akan terbelah , maka pada hari itu langit akan menjadi rapuh sekali.”

“Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. dan pada hari itu delapan orang Malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka.” ( Q.S. Al-Haqqah : 17-18)

6.  Sifat-Sifat Malaikat

Adapun gambaran malaikat yang mempunyai sayap, itu terdapat dalam sejarah suci (Kitab Bible), tetapi janah atau sayap bagi malaikat itu sekali-sekali bukan berarti anggota badan seperti sayap burung yang digunakan untuk terbang, melaikan suatu sifat yang menjadi lambang kekuatan yang mungkinkan mahluk niskala  (malaikat) itu melaksanakan tugasnya.

“sesungguhnya  Allah mempunyai malaikat-malaikat yang berkeliling dijalan-jalan mencari kalangan berzikir. Ketika mereka menemukan suatu kaum yang berzikir kepada Allah, maka mereka saling berseru,  ‘kemarilah pada hajat kalian’. Beliau bersabda, ‘kemudian para malaikat itu mengepung mereka dengan sayap-sayapnya hingga langit dunia.” ( H.R. Bukhari )

Sifat-sifat malaikat yang diyakini oleh umat islam adalah sebagai berikut:

  1. Selalu bertasbih siang dan malam tidak pernah berhenti. Mereka (malaikat) selalu bertasbih ( beribadah kepada Allah ) pada waktu malam dan siang hari tiada henti-hentinya. ( Al-anbiya 20:21 ).
  2. Suci dari sifat-sifat manusia dan jin , seperti hawa nafsu, lapar, sakit, tidur, bercanda, berdebat, dan lainya.
  3. Selalu takut dan taat keapda Allah.

“ Mereka (maliakat) takut kepada tuhan mereka yang diatas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan ( kepda mereka )”. ( An-Nahl: 50 ).

“ Dan mereka berkata , ‘Tuhan yang maha pemurah telah mengambil (anak)’. Maha suci Allah. Sebenarnya ( malaikat-maliakat itu ) adalah hamba-hambanya yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dalam perkataan dan mereka hanya mengerjakan perintah-Nya. Allah mengetahui segala apa yang ada dihadapan mereka (malaikat) daan yang dibelakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melaikan kepada orang yang diridhai dia, dan mereka itu selalu gemeter karena takut kepada-Nya”. (Al-Anbiya : 26-28).

  1. Tidak makan dan minum .

“Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata, “silahkan Anda makan”. (tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim mersa takut terhadap mereka. Mereka berkata, “ Jangalah kamu takut”. Dan mereka memberi kabar gembira kepdanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (ishak).” (Adz-dzaariyaat 27-28).

Malaikat – malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun. (Al-Ma’rij : 4).

7.  KEDUDUKAN MALAIKAT

     Patut diingat bahwa dalam syariat Islam tidak ada dikatakan kalau malaikat khusus derajatnya lebih tinggi dari orang-orang khusus tertentu. Bahkan dinyatakan bahwa manusia-manusia khusus tersebut derajatnya lebih tinggi dibandingkan dengan malaikat. Fungsi para malaikat sebagai mediator dalam sistem phisikal dan spiritual tidak menunjukan superioritas mereka. Sebagaimana diungkapkan dalam Al–Qur’an, mereka itu diberi tugas dengan fungsi sebagai pelayan. Sebagaimana dinyatakan Allah SWT

“ Dan, Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan agar berkhidmat kepadamu, kedua-duanya menjalankan tugasnya dengan tetap dan teratur. Dan Dia telah menundukkan bagimu malam dan siang agar berkhidmat kepadamu.” (Ibrahim : 34)

Berkenaan dengan hal ini, permisalannya seperti  seorang opas pos yang menyampaikan surat dari seorang raja kepada seorang gubernur, tidak berarti bahwa opas pos yang menjadi mediasi diantara keduanya lantas menjadi lebih tinggi derajatnya dari Gubernur tersebut. Keadaanya sama dengan mediator yang bertugas menyampaikan rancangan sang Maha Kuasa dalam sistem phisikal dan spiritual kepada bumi.

Sepertinya terkesan kurang hormat bahwa harus ada sarana mediasi antara Tuhan dengan para nabi suci guna menyampaikan suatu nur wahyu kepada mereka. Namun perenungan menunjukan bahwa tidak ada suatu yang kurang hormat dalam hal ini, namun kenyataan kalau hal itu justru sejalan dengan kaidah Tuhan yang bersifat umum. Nyatanya para nabi itu pun bergantung pada mediator dalam hal-hal yang berkaitan dengan kinerja tubuh dan fitrat mereka sendiri. Betapa pun cemerlang dan beberkatnya mata seorang nabi namun sebagaimana halnya mata orang biasa, ia tidak akan mampu melihat apapun tanpa bantuan sinar matahari atau substitusinya, dan telinganya tidak bisa mendengar tanpa mediasi udara.

8. PENGERTIAN SUJUDNYA MALAIKAT

Firman Allah Ta’ala dalam Al-Quran suci :

(ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: “Sesungguhnya aku akan menciptakan manusia dari tanah”. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; “Maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadaNya”. Lalu seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya, kecuali Iblis; Dia menyombongkan diri dan adalah Dia Termasuk orang-orang yang kafir. (Shaad : 72-75)

Disini perintah beersujud itu hendaklah diperhatikan, bukan sehubungan dengan kelahiran Adam, manusia pertama. Perintah kepada para malaikat disini lain lagi. Para malaikat disini diperintahkan bersujud kepada seorang insan kamil yaitu manusia yang sudah sampai pada kesempurnaan manusia sejati, sampai pada keselarasan dari berbagai segi sifat-sifat manusia dan yang di dalam dirinya Ruh Ilahi sudah mulai hidup. Terhadap orang seperti itulah para malaikat diperintahkan untuk bersujud. Bersujud itu artinya, turun kepadanya dengan nur langit, memohon karunia untuknya.

Keadaan manusia lebih berat, dan hal inilah yang menjadi keutamaan lain manusia. Syahwat, tamak, marah, dan hawa nafsu adalah yang lebih berat bagi ketaatan. Sifat-sifat ini ada pada manusia dan dihilangkan dari para malaikat. Dan perbuatan dengan adanya penghalang adalah lebih berat bagi manusia daripada dengan tidak adanya penghalang.

8. TURUN NAIKNYA MALAIKAT

Banyak yang beranggapan bahwa apa yang dikatakan “malaikat turun dari langit” itu adalah dengan jalan berpindah tempat, yakni berpindah dari satu tempat ke tempat  yang lain. Akan tetapi harus dipahami bahwa hal yang sebenarnya tidaklah demikian.

Malaikat Jibril misalnya, turunnya dari langit tidak sama seperti manusia dengan jalan berpindah tempat melainkan seperti pantulan sinar matahari. Cahaya yang nampak di dalam cermin bukanlah disebabkan matahari yang masuk ke dalam cermin tersebut melainkan pantulan dari cahaya tersebut. Seperti inilah malaikat Jibril memberikan berkas di dalam hati manusia. Dengan cara seperti ini malaikat Jibril memberikan berkas dalam tiap-tiap hati manusia.

Mungkin ada yang mempertanyakan, apa sebenarnya yang dimaksud denga turunnya malaikat? Sudah menjadi tata cara Allah SWT setiap kali seorang rasul atau seorang nabi ataupun muhaddath turun dari langit guna memperbaiki umat manusia, malaikat-malaikat pun turun bersamaan untuk menebarkan bimbingan bagi kalbu yang berhasrat dan menjadikan umat cenderung kepada kebaikan. Para malaikat ini akan tetap turun hingga kegelapan, kekafiran serta kedurhakaan menghilang dan fajar keimanan serta ketakwaan telah merekah.

“Segala macam malaikat dan ruh (yang sempurna) di dalam malam itu (turun dengan membawa segala urusan agama dan duniawi ). Setelah malaikat turun, maka sejahteralah sampai terbitnya fajar”. (Q.S. Al-Qadr : 5-6)

Dengan demikian, turunnya para malaikat dan Rohul Kudus dari langit terjadi saat ada sesosok pribadi akbar yang dibekali dengan jubah khilafat dan firman Tuhan turun untuk diutus ke dunia. Pribadi seperti itu disertai Rohul Kudus dan para malaikat yang menemani yang bersangkutan turun ke dalam kalbu mereka yang bersifat suci di seluruh dunia. Ketika kemudian bertemu dengan orang-orang yang memiliki kapasitas yang sepadan, maka refleksi dari nur tersebut akan jatuh diatas mereka dan ada nyala nur yang merona di seluruh alam. Melalui pengaruh suci para malaikat itu aka muncul konsep-konsep pemikiran suci dan timbul kecintaan pada ketauhidan Ilahi. Ruh mencintai kebenaran dan pencarian hakikatnya itu ditiupkan ke dalam kalbu manusia, sedangkan yang lemah menjadi lebih kuat serta muncul angin yang mulai bertiup yang akan membantu pencapaian tujuan dan sasaran dari sang pembaharu. Berkat dorongan tangan yang tersembunyi, umat manusia mulai bergerak ke arah kebaikan dan gerakan itu timbul diantara bangsa-bangsa.

Hadhrat masih mau’ud a.s. meyakini bahwa malaikat itu milik Allah SWT. Dan mereka itu berada dekat dengan wujud-Nya. Bagi setiap malaikat sudah dtentukan posisi kedudukannya masing-masing. Tidak ada dari antara mereka yang bergerak dari posisi tersebut, baik naik ataupun turun. Turunnya mereka sebagaimana yang diungkapkan dalam Al-Qur’an tidak sama dengan turunnya seorang manusia dari tempat ketinggian ke tempat yang lebih rendah, dan naiknya malaikat berbeda dengan kenaikan manusia ke suatu tempat yang lebih tinggi. Naik atau turunnya manusia terkait dengan perubahan dalam posisinya yang dilakukan dengan mengeluarkan upaya dan tenaga, sedangkan malaikat tidak perlu mengeluarkan tenaga ataupun melakukan perubahan posisi. Karena itu jangan kalian mengira bahwa naik atau turunnya malaikat sama dengan naik dan turunnya jasad lain. Kenaikan dan turunnnya malaikat mirip dengan naik dan turunnya Tuhan dari dan ke Arasy-Nya serta dari dan ke langit bumi. Allah SWT telah menjadikan eksisitensi para malaikat sebagai bagian dari keimanan dan berfirman bahwa :

” Tidak ada yang mngetahui lasykar-lasykar Tuhan engkau kecuali Dia ” ( Al-Mudatsir ayat 32 )

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s