Ketika Agama Diintervensi oleh Politik


Bila sejenak kita membuka pelajaran sejarah bangsa Indonesia, tentu tak asing bila mendengar sebutan 3 G yang merupakan singkatan dari Glory, Gold dan Gospel (kejayaan, kekayaan dan keimanan) – ini adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan misi bangsa penjajah yang datang untuk menguasai pribumi.
Seandainya kata Glory secara simbolik merupakan perwujudan penguasaan bangsa-bangsa koloni/ terjajah; kemudian kata Gold diasosiasikan sebagai usaha untuk menggali kekayaan alam di bangsa-bangsa koloni guna menambah harta mereka sedangkan kata Gospel diwujudkan dengan penyebaran agama Kristen oleh bangsa penjajah – hal ini berarti bahwa ketiga unsur tersebut memiliki keterkaitan satu sama lain, sehingga terjadilah pencampur-bauran kepentingan masing-masing. Sebagai bukti, misi penyebaran agama Kristen melalui Zending – setelah diselidiki ternyata ditunggangi oleh kepentingan penguasa.
Kemudian jika kita perhatikan dalam Sejarah Peradaban Islam di Timur Tengah, ketika Daulah (dinasti) Umayah diambil-alih kekuasaannya oleh Daulah Abasiyah – banyak terjadi konflik kepentingan. Setiap kelompok dalam Islam saling menjatuhkan. Demi mendapatkan kekuasaan yang mutlak agar diakui sebagai pemimpin yang memiliki pengaruh.
Barangkali tidak berlebihan jika kedua contoh peristiwa tersebut mempunyai motif yang sama, “intervensi agama oleh politik”. Semua ini terjadi karena agama bercampur aduk dengan politik. Politik dianggap sebagai sumber segala kekisruhan di muka bumi ini. Politik dijadikan perbincangan yang hangat; isu yang tidak akan habis diulas; headline yang selalu muncul dalam semua surah kabar.

Apakah Politik Itu?
Sekarang timbul pertanyaan : “Apakah Politik Itu?” Sebenarnya menurut definisinya politik dikatakan sebagai pengetahuan mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan; segala urusan, siasat dan kebijakan mengenai pemerintah negara.1 Ilmu politik sangat erat kaitannya dengan pemerintahan dan negara, sebuah disiplin ilmu yang berwawasan global dengan menampilkan corak ideologi yang beragam. Setiap negara mempunyai sistem politik dan pemerintahan yang berbeda. Sebagai contoh negara Indonesia adalah negara yang menerapkan sistem politik bebas aktif yang berazaskan pancasila, dengan sistem pemerintahan republik.
Kemudian munculah ilmu politik dengan memberikan warna kehidupan bermasyarakat dan bernegara di samping ada aspek ekonomi, sosial, hukum, budaya dan lain-lain. Diantara satu aspek tersebut dengan aspek lainnya memiliki hubungan erat. Setelah mengetahui sejenak mengenai ilmu politik kita mendapatkan sedikit gambaran, bahwa politik itu tidak selamanya berkonotasi negatif. Tinggal bagaimana karakteristik orang yang berada di balik sistem tersebut. Kenyataan yang selama ini terjadi adalah para pelaku politik ini memang mengendalikan sistem politik ke arah yang “menyimpang.”
Kembali ke persoalan, sekarang bagaimana agama bisa dilibatkan dalam ruang lingkup politik? Setelah melihat fakta sejarah memang hal ini sudah lama sekali terjadi. Tidak hanya terjadi pada agama-agama lain bahkan Islam pun terkena dampaknya. Dalam Tarikh Islam, beberapa saat setelah kewafatan Rasulullah saw. umat Islam dihadapkan pada permasalahan siapakah yang akan menjadi penerus kepemimpinan pasca-Rasulullah saw. – di kala itu isu yang beredar pengganti beliau saw. adalah dari kalangan anshar.2
Namun Allah Ta’ala Maha berkehendak, Islam dilindungi dengan sistem ke-Khalifah-an yang diawali oleh Hadhrat Abu Bakar Ash-Shidiq ra. Tetapi keadaan ini hanya sejenak saja – ketika masa ke-Khalifah-an Hadhrat Utsman bin Affan Al-Ghani ra., muncul kembali sikap-sikap yang menaruh kecurigaan terhadap sang imam. Sampai puncaknya tatkala Amirul Mu’minin ra. wafat dengan tidak semestinya. Keadaan serupa berlanjut ketika Hadhrat Ali bin Abi Thalib ra. menjadi Khalifah hingga beliau ra. pun menjadi korbannya. Setelah itu kondisi kepemimpinan dalam Islam mesti jauh dari nikmat kerohanian.

Memurnikan Kembali Islam
Memang Islam tidak bisa dipisahkan dari politik secara nyata, karena masyarakat Islam sendiri ada pula yang memiliki keterlibatan di dalam ruang politik. Misalnya seorang presiden muslim, anggota legislatif muslim, pejabat muslim dan politikus muslim – bahkan muncul partai politik yang berorientasi Islam.
Akan tetapi, alangkah lebih baik seandainya agama dipisahkan dengan politik – agama dan politik berbeda visi serta misinya. Agama berasal dari Tuhan dan merupakan aspek rohani, visinya adalah akhirat dan misinya adalah mengajak manusia untuk beribadah kepada Tuhannya agar mereka dekat dengan Dia. Politik diperkenalkan oleh manusia, visinya kekuasaan dunia, sedangkan misinya adalah mengatur manusia dalam sistem pemerintahan.
Islam adalah agama yang penuh dengan kesucian dan kedamaian yang tidak menyerang rasul agama lain. Demikian juga, Al-Qur’an adalah kitab mulia yang mengandung dasar-dasar kedamaian diantara bangsa-bangsa serta menerima kebenaran rasul-rasul semuanya.3
Allah swt. berfirman dalam :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ ()
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu sekalian ke dalam kepatuhan seutuhnya, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; sesungguhnya ia bagimu musuh yang nyata.” (QS.Al-Baqarah : 209)
Bila tujuan manusia diciptakan adalah untuk beribadah kepada Tuhan, maka ia harus berusaha untuk dekat dengan Dia. Agama merupakan sarana untuk mewujudkannya – bila seorang manusia tidak beribadah dengan sepenuh jiwanya, tidak mempraktikan ajaran agama dengan seutuhnya, maka bagaimana tujuannya akan tercapai. Sebuah mata air yang memancarkan air yang jernih, bila tercampur oleh lumpur maka akan menjadi keruh. Bila sudah demikian artinya air tersebut harus dimurnikan. Begitu pula halnya agama, ketika ajaran agama sudah terjadi politisasi di dalamnya maka sudah pasti harus segera dimurnikan kembali sebagaimana asalnya agama itu diciptakan.
Allah swt. tentu akan menjamin bahwa Islam senantiasa terpelihara dari berbagai macam pengaruh. Untuk itulah Dia mengutus Muslih Rabbani, Imam Mahdi ke dunia ini yakni untuk menghidupkan kembali Agama Islam dan menegakkan kembali syariah.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s