MUHAMMAD DAN KEBEBASAN BERAGAMA


Era ini merupakan kejatuhan yang besar bagi umat Islam. Mengapa demikian? Jawabannya cukup sederhana, yakni Islam dinilai sebagai agama yang tidak toleran untuk dapat menerima begitu saja perbedaan—dalam hal ini menyangkut masalah kepercayaan. Fakta ini semakin berkembang seiring berjalannya waktu dan seiring dengan terjadinya dekadensi dalam setiap aspek kehidupan umat Islam. Sekarang, Islam selalu dikaitkan dengan terorisme. Islam selalu diklaim sebagai pemicu segala kekacauan yang terjadi di berbagai belahan dunia. Dan terkadang, Islam dianggap sebagai mimpi buruk bagi mereka yang menyimpan pesan-pesan traumatis akibat intoleransi Islam.
Persepsi Islam sebagai sesuatu yang menakutkan dan intoleransi muncul sebagai implikasi dari berkembangnya ide-ide ekslusifisme, fundamentalisme, fanatisme, dan radikalisme agama. Ide-ide ini muncul merupakan pengejaawntahan upaya atas kerinduan akan kejayaan masa lampau. Tidak hanya itu, ide-ide tersebut muncul sebagai akibat dari dominasi mayoritas yang melahirkan asumsi bahwa perlu ada penegakkan “hak mayoritas”. Dua alasan inilah yang menjadi faktor penting agar formalisasi syariat—yang bermula dari keharusan menegakkan hak mayoritas—dapat segera diterapkan. Semua ini dilakukan dengan keharusan memarjinalkan eksistensi minoritas sebagai usaha final yang penuh pengorbanan.
Kalangan Islamisme radikal atau kaum puritan Islam meyakini bahwa kemajemukan dalam masalah kepercayaan adalah ancaman dan bahaya yang dapat mereduksi kemurnian, keutuhan, dan kesatuan umat Islam. Fundamentalisme merujuk pada strategi yang digunakan kaum puritan Islam untuk membangun konstruksi mereka atas identitas keagamaan dan tatanan sosial Islam sebagai basis ekslusif untuk penataan kembali tatanan sosial dan politik. Kaum puritan Islam percaya bahwa identitas keislaman mereka yang berada dalam bahaya, tercemari kebinekaan agama dan budaya. Mereka berusaha memperkuat penafsiran mereka dengan cara menghidupkan kembali doktrin dan praktik keislaman masa lalu yang dianggap suci.
Lahirnya ide-ide fundamentalisme tidak terlepas dari peran elite dalam gerakan Islam. Penafsiran syariat sebagai referensi utama untuk kegiatan praktis umat dalam praktiknya amat begantung juga pada persepsi elite. Elite merupakan oknum yang memaknai aturan syariah secara verbal dan tekstual serta dipandang lengkap dan baku, bahkan juga seringkali dianggap sakral. Dan fundamentalisme akan tampak ke permukaan ketika perkembangan kehidupan sosial, ekonomi dan politik, kebudayaan dan ilmu pengetahuan dipandang mengancam penegakkan ajaran Islam yang murni. Interpretasi realitas kehidupan sosial dan politik tidak akan menemukan identitasnya yang fundamental tanpa kehadiran elite yang telah dianggap sebagai konstitusi guna melegalkan aturan-aturan syariat.
Mungkin kita akan mempertanyakan, apakah kegiatan yang dilakukan oleh para fundamentalis dalam memurnikan ajaran-ajaran Islam dengan menyingkirkan segala sesuatu yang dianggap mengancam keberlangsungan supremasi Islam dapat memberikan suasana sosial dan politik baru yang lebih segar dan bersih dari kontaminasi intoleransi dan anarki? Kenyataannya, fundamentalisme yang berorientasi pada intransparansi ideology hanya melahirkan suatu pandangan yang suram dan hampa dari nilai-nilai sosio-humanis yang dibanggakan Barat. Untuk itu, kita perlu menyangsikan ide-ide fundamentalisme tersebut dan mencari pemahaman serta interpretasi baru yang dapat menjelaskan Islam sebagai agama yang teleran dan humanis, bukan yang radikal dan anarki.
Dalam tulisan ini, penulis akan mencoba menyusun fakta sejarah menyangkut kehidupan pendiri Islam, yakni Muhammad menyangkut persepsi dan reaksinya dalam menghadapi perbedaan dalam kepercayaan. Ini penulis anggap penting, karena sosok Muhammad lah yang menggambarkan secara pasti mengenai Islam secara keseluruhan. Lahirnya ideologi-ideologi laskar jihad, Islam puritan, dan golongan-golongan ekstrimis dalam Islam merupakan manifestasi dari interpretasi yang radikal dan berhaluan kiri untuk dapat menjelaskan hukum-hukum Islam secara kontekstual dan transparan. Ringkasnya, meneliti kehidupan Muhammad dalam ranah sosial-keagamaannya dapat memberikan pemahaman yang pasti mengenai Islam. Apakah Islam toleran atau sebaliknya?

Muhammad Sebagai Manifestasi Alquran
Dikatakan oleh Aisyah bahwa akhlak Muhammad adalah Alquran. Berangkat dari sini kita dapat mempersepsikan bahwa sumber rujukan yang menampilkan seluruh kegiatan praktis Muhammad adalah Alquran. Jadi, untuk mengetahui secara lengkap dan pasti aktivitas sosial dan seluruh kegiatan yang menyangkut aspek kehidupan Muhammad, kita diberikan dua referensi sekaligus. Pertama, dokumentasi kehidupan Muhammad yang tercatat dari pengakuan-pengakuan sahabat-sahabatnya—dalam hal ini kita dapat menyebutnya hadits. Kedua, Alquran yang merupakan refleksi seluruh kegiatan praktis Muhammad.
Untuk yang pertama, banyak sekali para penyusun riwayat Muhammad yang menjadikannya sebagai referensi penting yang dapat dipercaya. Walaupun sumber rujukan ini begitu substansial bagi mereka yang ingin meneliti kehidupan Muhammad, akan tetapi problem keotentikan sumber tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan lain. Inilah yang menciptakan beragamnya variasi dari narasi-narasi tekstual bagi mereka yang telah mendokumentasikan biografi Muhammad. Masing-masing mereka, memiliki kepentingan dari apa yang ingin mereka jelaskan. Sehingga, cukup sulit mencapai sumber yang benar-benar otentik dari kronologi kehidupan Muhammad.
Beragamnya variasi dari tiap-tiap narasi, tidak menunjukkan kesamaan misi dan tujuan. Fakta inilah yang menjadi pemicu lahirnya pergerakan-pergeran kiri dalam Islam yang cenderung fundamentalistis dan radikal. Mereka memanfaatkan peluang dari dimulainya kompetisi penyusunan kembali riwayat-riwayat Muhammad yang melambangkan kejayaan Islam di masa-masa awal. Peluang ini sepertinya dimaknai dengan angan-angan masa lalu yang begitu dirindukan. Mereka merekayasa perjalanan hidup Muhammad guna mendukung ideologi mereka. Walau tidak semua sumber rujukan ini yang direkayasa, namun interpretasi yang tekstual dan parsial atas sumber rujukan tersebut dapat dikatakan sama dengan rekayasa referensi.
Berbeda dengan yang pertama, referensi kedua diklaim sebagai sumber yang benar-benar dapat dipercaya dari segi keotentikannya. Klaim ini didasarkan pada pengakuan referensi tersebut yang merupakan dokumentasi Firman Tuhan :
“Sesunguhnya Kami yang telah menurunkan Alquran dan Kamilah yang akan menjaganya”(Q 15:10)
Selain itu, keotentikan Alquran dapat terjaga sampai saat ini merupakan implikasi logis atas keberlangsungan yang kontinyu dari para hafizh(penghafal) Alquran yang sejak masa Muhammad hingga kini masih tetap ada dengan jumlah yang tidak sedikit. Ini merupakan bukti yang tak terbantahkan atas klaim kaum Muslimin bahwa keotentikan Alquran tetap terjaga hingga kini.
Setidaknya, Alquran lebih dapat dipercaya walau tidak sekomprehensif penjelasan yang termuat dalam hadits. Untuk itu, penjelasan selanjutnya mengenai pribadi Muhammad dalam kaitannya dengan kebebasan beragama akan cenderung menjadikan Alquran sebagai gambaran dari kehidupan Muhammad di tingkat praksisnya. Tetapi, peran hadits tidak dapat dikesampingkan begitu saja, sebab hadits—ketika sejalan dengan pemahaman Alquran—dapat mengisi kerumpangan penjelasan dari Alquran di mana Alquran hanya menjelaskannya secara umum.

Alquran dan Kebebasan Beragama
Kelompok Islam fundamentalis sering mengutip ayat-ayat Alquran yang mendukung ideologi fundamentalisme mereka. Lalu, ayat-ayat tersebut diinterpretasikan secara tekstual dan parsial, tanpa memperhatikan sebab-sebab dan konteks ayat-ayat tersebut diturunkan serta ayat-ayat lain yang dapat memberikan pemahaman berbeda yang lebih terbuka. Contoh kecil mengenai ayat yang menerangkan doktrin amar ma’ruf nahi munkar yang sering kali dijadikan dalil untuk mengadakan sikap anarkis dan represif kepada komunitas-komunitas tertentu yang diklaim cukup dekat dengan maksiat dan meresahkan kedamainan umat. Selain itu, ayat mengenai ketidakrelaan orang-orang Yahudi dan Nasrani terhadap kaum muslimin hingga mereka menganut agama Islam, bahwa Agama di sisi Allah adalah Islam, ayat jihad fisabillah terhadap syirik dan kekufuran, semua ini dijadikan referensi penting dengan satu visi, yakni “memenuhi anjuran syariat” atau dalam terminologi yang lebih radikal “penegakan syariat Islam” secara mutlak.
Berkebalikan dengan ayat-ayat yang terkesan ekstrim, sebagaimana yang dijelaskan di atas, keberadaan ayat-ayat yang memberikan pemahaman berbeda, yang lebih fleksibel dalam menghadapi masalah perbedaan keyakinan menciptakan kontradiksi yang setidaknya malah mengurangi keabsahan dari Alquran itu sendiri. Bahkan, bukanlah keyakinan yang akan muncul, akan tetapi keraguan yang berujung pada pengingkaranlah yang lebih baik dilakukan bagi mereka yang merasakan ketidakharmonisan pada ayat-ayat Alquran. Ayat seperti Tidak ada paksaan dalam agama(Q 2:257), dan Telah diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya(Q 22:40) terkesan kontradiktif dan sering disembunyikan atau bahkan dimansukhkan oleh kalangan ekstrimis karena dapat mereduksi kemurnian ideologi mereka. Di sinilah letak kelemahan mereka dalam menafsirkan ayat-ayat Alquran. Penafsiran yang kontekstual dan relasional telah diabaikan akibat ambisi berlebihan untuk mengulangi kejayaan masa lampau. Padahal, keindahan Alquran yang menggambarkan konsolidasi antar umat beragama akan terlihat jelas jika ayat-ayat yang sepertinya kontradiktif tersebut didamaikan dengan mencari titik temu di antara keduanya. Jika hal ini dilakukan, pemahaman kita mengenai perang akan berbeda bahwa yang dinamakan perang hanya berupa upaya defensif demi menjaga kedamaian dan keselamatan.
Di dalam hermeneutikanya, Muhammad Rasyid Ridha lebih jauh berpendapat bahwa ayat diizinkannya perang dalam kondisi teraniaya justru menguatkan ayat tidak ada paksaandalan agama. Kedua ayat ini menunjukkan bahwa semua orang bebas menentukan kepercayaan agama menurut pilihannya. Tak seorang pun dapat dipaksa untuk melepaskan agama yang dianut, juga seseorang tidak akan dihukum atau disiksa hanya karena masalah agama.
Sedang, Mirza Basyiruddi Mahmud Ahmad memberikan interpretasi pada ayat yang berbunyi Dan sekiranya Allah tidak menangkis sebagian orang dengan perantaraan sebagian yang lain, niscayalah biara-biara serta gereja-gereja Nasrani dan rumah-rumah ibadah Yahudi serta mesjid-mesjid yang di dalamnya nama Allah banyak disebut telah dibinasakan(Q 22:41) bahwa yang dimaksudkan dalam ayat ini ialah, mengadakan perang semata-mata untuk membela diri dan untuk menyelamatkan Islam dari kemusnahan, dan untuk menegakkan kebebasan berpikir, begitu juga untuk membela tempat-tempat peribadatan Yahudi, kuil-kuil, biara-biara, dan sebagainya. Jadi tujuan pertama dan terutama dari perang-perang yang dilancarkan oleh Islam di masa lampau, dan selamanya di masa yang akan datang pun ialah, menegakkan kebebasan beragama dan beribadah dan berperang membela negeri, kehormatan, dan kemerdekaan terhadap serangan tanpa dihasut. Apakah ada alasan untuk berperang yang lebih baik daripada ini?

Muhammad dan Kebebasan Beragama
Hadits yang menerangkan tentang murtad, sering menjadi sandaran yang cukup mempengaruhi pola pikir umat Islam yang ekstrimis. Ulama Mesir Mahmud Syaiful misalnya, menjelaskan bahwa pendapat ulama tentang hukuman mati atas pemurtadan didasarkan pada perkataan Muhammad dari Ibnu Abbas man baddala diinahu faqtuluhu (siapa yang mengganti agamanya maka bunuhlah dia). Padahal hadits ini hadits ahad (berasal dari satu jalur perawi saja, bukan hadits mutawattir yang diriwayatkan banyak perawi) sehingga tidak dapat dijadikan sandaran hukum yang kuat. Andaikan hadits ini benar, konteks hadits tersebut harus dilihat. Faktor kunci yang menentukan hukuman bagi murtad adalah apabila si murtad melakukan penyerangan atau permusuhan kepada orang beriman atau melakukan kekacauan bagi ketertiban dan ketenteraman.
Hal senada juga terjadi berkenaan dengan Musailammah al-Kadzab. Tidak hanya kasus keluarnya ia dari Islam yang menjadi dasar umat Islam memeranginya akan tetapi ia juga telah mengadakan konspirasi untuk membentuk Islamnya sendiri dengan tujuan sebagai tandingan Islam yang dibawa Muhammad lalu mengadakan pemberontakan terhadap Islamnya Muhammad. Pengakuannya sebagai nabi yang juga diikuti oleh propaganda untuk mengadakan pemberontakan, menciptakan ketidakamanaan di kalangan umat Islam. Untuk itu, Muhammad mengambil sikap defensif untuk meredam kegiatan pemberontakan. Akan tetapi, perlawanan ini ditujukan bagi mereka yang telah benar-benar mengangkat senjata setelah janji murtad mereka ucapkan. Inilah ketegasan yang diambil Muhammad dalam menghadapi titik krusial dari usaha pemberontakan Musailammah al-Kadzab.
Pluralisme pada tingkat suku dan agama telah diperlihatkan secara menarik oleh Muhammad yang mulai membangun masyarakat Islam di Madinah. Setidaknya, di Madinah terdapat empat kelompok keagamaan, yaitu penganut paganisme, penganut agama Yahudi, penganut agama Nasrani dan kelompok Islam yang terbagi ke dalam dua golongan: anshar(penduduk asli) dan muhajirin(pendatang). Dalam perjalanannya, masing-masing diberikan gambaran oleh Muhammad bagaimana menjalin konsolidasi di tengah masyarakat yang heterogen. Dan implementasi yang bersandar pada nilai-nilai persamaan dan penghormatan kepada manusia pada akhirnya tertuang dalam Piagam Madinah. Sebuah konstitusi yang lahir untuk melegalkan aturan-aturan bersama yang menjamin konsolidasi umat di mana kebebasan beragama dijadikan wacana terpenting dalam piagam tersebut.
Prinsip kebebasan beragama yang diundangkan dalam piagam tersebut telah membuka babak baru dalam kehidupan politik dan peradaban dunia saat itu. Artinya, pengakuan prinsip kebebasan beragama ini sebagai hak personal manusia, baik melalui ketentuan wahyu maupun ketetapan piagam madinah adalah yang pertama dalam sejarah kemanusian. Dengan fakta ini dapat dibuktikan betapa naifnya klaim yang mengatakan kebebasa beragama itu berawal di Barat.
Selain memuat prinsip kebebasan beragama, Piagam Madinah juga mengatur mekanisme hubungan antar pemeluk agama di kota Madinah. Hubungan-hubungan yang dimaksud berkaitan dengan soal pertahanan dan keamanan, masalah belanja peperangan, dan bidang kehidupa sosial. Aplikasi dari pengaturan hubungan antar pemeluk agama itu, antara lain terlihat dalam pasal-pasal sebagai berikut:
Pasal 37 menjelaskan:
Orang-orang Muslim dan orang-orang Yahudi perlu bekerja sama dan saling menolong dalam menghadapi pihak musuh
Pasal 44 menjelaskan:
Semua warga harus saling bahu-membahu dalam menghadapi pihak lain yang melancarkan serangan terhadap Yasrib
Pasal 38 menjelaskan:
Seorang tidak dipandang berdosa karena dosa sekutunya, dan orang yang teraniaya akan mendapat pembelaan
Sosok Muhammad merupakan gamabaran seseorang yang sabar dalam menghadapi keadaan yang berat sebelah di mana agamanya dalam kondisi tersudutkan. Peristiwa terjadi pada Perjanjian Hudaibiah. Dua hal yang memberatkan umat Islam dalam perjanjian tersebut adalah mengenai perubahan dari klausa “Dengan nama Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang” menjadi hanya “Dengan Nama Allah”, serta nama “Muhammad Rasulullah” yang diganti dengan “Muhammad bin Abdullah”. Akan tetapi, Muhammad menerima keberatan pihak Quraish Mekkah dengan hati lapang walaupun para sahabatnya tidak begitu saja menerima keberatan tersebut. Para sahabat Muhammad menganggap dua hal tersebut sebagai penghinan. Darah mereka mulai mendidih dan Umarlah orang yang menjadi sangat berang. Lalu Umar pergi kepada Sang nabi dan berkata,”Ya Rasulullah, tidakkah kita ada di pihak yang benar?”
“Benar”, jawab Muhammad, ”Kita ada di pihak yang benar”.
“Dan tidakkah kita diberi tahu oleh Tuhan bahwa kita akan bertawaf di Ka’bah?” Tanya Umar.
“Ya”, jawab Muhammad. “Jika demikian mengapa persetujuan ini dan mengapa kata-kata yang menistakan ini?”
“Benar”, kata Muhammad, ”Tuhan memang memberi kabar gaib bahwa kita akan bertawaf dengan damai, tetapi Tuhan tidak mengatakan kapan. Aku menyangka bahwa hal itu akan terjadi tahun ini. Tetapi aku dapat saja salah. Harus pada tahun inikah?”
Muhammad telah berhasil mencari titik temu dari konflik yang terjadi antara kaum Mekkah dengan umat Islam dengan penuh kebijaksanan walau harus merelakan perjanjian yang berat sebelah tersebut. Dan ia mampu meredam emosi kecintaan dari para pengikutnya yang tidak dapat menerima perjanjian yang berat sebelah tersebut dengan penuh kebijaksanaan juga. Walau dari segi kekuatan Muhammad dapat saja menolak perjanjian yang berat sebelah tersebut, akan tetapi Muhammad lebih memilih jalan damai.
Selanjutnya, wujud Muhammad yang religius-sekuler dapat terlihat dari perkataannya,”Aku hanyalah seorang manusia, jika kuperintahkan sesuatu yang menyangkut masalah agama, taatilah, dan jika kuperintahkan sesuatu dari pendapatku sendiri pertimbangkanlah dengan mengingat bahwa aku hanyalah seorang manusia.” Atau ketika ia berkata,”Kamu lebih tahu tentang urusan duniamu.” Fakta inilah yang menciptakan Islam pada masa awal sangat memperhatikan masalah perbedaan dan kebebasan umat beragama. Sebagai contoh di masa kekhalifaan Umar ibn al-Khaththab, yang meneruskan pemikiran Muhammad dalam sikapnya terhadap penduduk Yerusalem, dalam dokumen yang dikenal sebagai “Piagam Aelia”. Juga, Umar memperlakukan kaum Majusi dan Zoroastrian sebagai Ahl al-Kitab sesuai dengan pesan Sang nabi yang terangkum di dalam Alquran.

Tuhan dan Hak Prerogatif-Nya
Ajaran Islam terbagi ke dalam dua aspek: aspek vertikal dan aspek horisontal. Aspek vertical merupakan ajaran Islam yang berisi seperangkat kewajiban manusia kepada Tuhan, sementara aspek horisontal merupakan ajaran yang mengatur hubungan antara sesama manusia dan juga hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Sayangnya, aspek horisontal itu sering tertutupi oleh aspek vertikal, sehingga dimensi humanisme yang merupakan refleksi aspek horisontal Islam kurang mendapat perhatian umat Islam. Akibatnya, Islam sering tampil dalam wajah yang tidak humanis, sangar, dan tidak kondusif pada nilai-nilai kemanusiaan. Realitas sosiologis di masyarakat menunjukkan bahwa Islam lebih banyak dijadikan alat uantuk “memuaskan Tuhan” ketimbang memanusiakan manusia sehingga tidak banyak membawa efek positif bagi kehidupan manusia.
Di kalangan Islam ekstrimis, mereka berargumen bahwa kewajiban kami adalah untuk mengontrol dan mengambil tindakan apapun atas setiap aktivitas keagamaan umat. Intervensi ini sudah berorientasi pada pengambilan secara paksa hak prerogatif Tuhan yang absolut dalam memberikan penilaian atas setiap aktivitas keagamaan. Sebagaimana yang tertulis di dalam Alquran:
“Barangsiapa mencari petunjuk, maka petunjuk itu untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang igin tersesat, maka kesesatan itu untuk dirinya sendiri. Seseorang tidak akan menanggung dosa orang lain dan Kami tidak akan menyiksa sampai Kami mengutus seorang rasul” (Q 17:16)
“kebenaran datang dari Tuhan kalian, siapa yang ingin beriman, berimanlah, dan siapa yang ingin ingkar, ingkarlah” (Q 18:30)
Dan diutusnya Muhammad tidaklah dengan otoritasnya dalam menentukan keimanan dan memberi petunjuk kepada seseorang. Tugasnya, menurut Alquran, hanyalah menyampaikan.
“Kamu tidak mempunyai wewenang memberi petunjuk kepada mereka” (Q 2:273)
“Mereka berkata, “Tuhan kami mengetahui, bahwa sesunguhnya kami di utus kepada kamu. Dan tugas kami tidak lain hanya untuk menyampaikan dengan seterang-terangnya” (Q 36:17-18)
Jelas sekali bahwa keimanan dan keislaman seseorang tidak bisa dipaksakan oleh golongan tertentu. Mereka hanya dapat melakukan sebatas anjuran saja atau dengan metode dakwah dan dialog yang santun. Setelah itu, intervensi manusia berhenti dan selanjutnya otoritas Tuhan yang bertindak. Sangat salah, apabila intervensi manusia dalam mengurusi aktivitas keagamaan seseorang terlalu jauh sampai-sampai vonis “berdosa, sesat, dan kafir” menjadi legitimasi formal untuk mencap golongan tertentu. Ironisnya, intervensi seperti ini telah dilembagakan ditingkat pemerintahan, terutama pada negara-negara yang didominasi kaum Muslim.

Kesejatian Beragama Mensyaratkan Kebebasan
Manusia berbeda dengan hewan. Manusia memiliki kehendak sedang hewan tidak. Inilah letak keluhuran manusia. Hewan tidak berkehendak, karena ia hanya mengikuti insting kehewanannya dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari. Itulah mengapa hewan tidak perlu mempertanggungjawabkan segala perilaku dan tindak-tanduknya setelah ia mati. Berbeda dengan itu, manusia harus mempertanggungjawabkan setiap perbuatannya karena ia berkehendak. Segala kegiatannya tidak didorong oleh naluri yang yang merupkan buah dari alam bawah sadar yang telah terprogram. Akan tetapi, akal yang merupakan salah satu sumber rujukan dari kehendak menjadi konsekuensi logis dari hukum pembalasan.
Berangkat dari sini, manusia memerlukan kebebasan dalam memilih agar tanggung jawab dan balasan baik buruk dapat dikenakan pada manusia. Kemerdekaan manusia adalah asas keberagamaan yang sejati. Pemaksaaan dan keterpaksaan untuk beragama hanya melahirkan kepalsuan dan ketidaksejatian. Tindakan represif yang dilakukan oleh orang atau kelompok tertentu dalam menentukan arah keberagamaan seseorang sangat tidak sesuai dengan pikiran dan hati nuraninya sendiri. Pakar tafsir modern Abdullah Yusuf Ali menafsirkan bahwa pemaksaan tidak sesuai dengan ajaran agama karena: 1. agama berdasarkan pada keyakinan dan kehendak, dan agama tidak ada gunanya apabila dijalankan dengan kekuatan paksa, 2. kebenaran dan kesalahan telah begitu jelas ditunjukkan melalui kasih sayang Tuhan sehingga tidak perlu ada keraguan, 3. perlindungan Tuhan berlangsung terus-menerus dan rencana-Nya adalah mengajak manusia untuk menghindar dari kegelapan kepada cahaya.
Menurut Jalal al-Din Rumi, kebebasan memilih bagi manusia adalah real. Tidak masuk akal kalau manusia tidak punya kehendak atau pilihan bebas, karena Tuhan memerintahnya dan melarangnya dalam banyak hal. Seandainya manusia tidak punya pilihan bebas, maka mengapa kita marah ketika seorang penciri mengambil barang kita? Atau mengapa guru memarahi muridnya yang malas? Bahkan menurut Rumi, hewan saja tahu bahwa manusia dapat melakukan kebebasannya dalam memilih. Kalau kita pukuli hewan tunggangan kita, katakanlah kuda, lalu hewan itu marah karena kesakitan, maka mengapakah hewan tersebut tidak memarahi cemeti yang langsung melukai tubuhnya, tetapi justru marah kepada manusia? Ini tak lain karena hewan tahu bahwa cemeti tidak punya pilihan, manusialah yang patut dimarahi karena ialah yang bisa memilih untuk tidak sekejam itu.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s