PUNCAK RASIONALITAS

(Menurut Pandangan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dalam buku Barahin Ahmadiyah)

Latar Belakang Penulisan Barahin Ahmadiyah
Sebuah buku memiliki sebuah latar belakang atau alasan mengapa buku tersebut dibuat atau harus dibuat. Apalagi buku tersebut dianggap fenomenal dan memberi pengaruh yang besar sekali pada masyarakat dimana buku tersebut muncul. Barahin Ahmadiyah, sebuah buku keagamaan yang berisi jawaban-jawaban atas keberatan-keberatan Agama-agama seperti Hindu dan Kristen. Keberatan ini diakibatkan oleh karena pemahaman keagamaan beberapa sekte agama sudah sedemikian rusak. Buku ini dianggap sebagai pahlawan Islam di tengah serangan-serangan agama-agama tersebut yang ditujukan untuk meruntuhkan setiap sendi akidah dalam Islam.
“Pada hari-hari ini, begitu parahnya kekacauan dan kerusakan yang tengah terjadi di dalam akidah kepercayaan orang, serta pemikiran-pemikiran kebanyakan manusia telah terjerumus ke dalam kondisi-kondisi buruk dan hina sedemikian rupa, sehingga tidak menjadi terselubung lagi bagi seorang pun tentang apa saja pendapat atau ide yang sedang bermunculan, tentang angin apa saja yang tengah berhembus, tentang asap-asap atau temperatus apa saja yang tengah menjulang tinggi.”


Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. sebagai penulis buku ini, tiba-tiba, menjadi populer di kalangan masyarakat India yang majemuk dari segi keagamaannya. Bagi kaum Muslimin, beliau dianggap sebagai pahlawan yang telah menunjukkan keunggulan agama Islam. Sebaliknya, agama-agama lainnya merasa dengan kehadiran beliau, masa depan akidah agama mereka terancam. Mengapa? Karena buku Barahin Ahmadiyah telah memperlihatkan kebobrokan dan kekeliruan yang ada di dalam agama mereka.
Mengesampingkan pendakwaan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang kontroversial pasca tahun 1888, munculnya buku Barahin Ahmadiyah. Tidak ada “pernak-pernik” bahwa ini urusan Ahmadiyah dan demi kepentingan Ahmadiyah. Munculnya buku ini benar-benar murni demi kepentingan Islam dan demi membersihkan nama buruk yang dilontarkan kepada Islam. Pada saat itu, tidak terbetik di dalam hati beliau bahwa penerbitan buku ini diperuntukkan untuk golongan beliau. Apalagi, pada masa itu beliau belum mendirikan sebuah golongan yang bernama Ahmadiyah.
“Akidah-akidah batil serta pemikiran rusak pada setiap zaman, bermunculan dalam warna dan rupa yang berbeda. Dan untuk membuktikan kedustaannya serta untuk memperbaikinya, inilah cara pengobatan yang telah disediakan oleh Allah Ta’ala. Yaitu menyediakan tulisan-tulisan sedemikian rupa pada zaman itu juga, yang berdiri tegak untuk melawan pemikiran-pemikiran tersebut dengan sekuat tenaga setelah meraih cahaya dari Kalam Suci-Nya. Dan tulisan-tulisan tersebut dengan dalil-dalilnya yang tidak terjawabkan itu membungkam mulut dan menghukum para penentang. Jadi, dengan pengaturan seperti ini pohon Islam akan senantiasa subur, segar dan menghijau”.
Tulisan ini hanya sekedar memberikan sebuah aplikasi konsep yang Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad telah paparkan dalam buku Barahin Ahmadiyah. Kajian yang luas di dalam buku ini, hendak dikerucutkan dan disinergikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan metodeloginya, sehingga terlihat aplikasinya yang praktis dalam menambah khazanah ilmu pengetahuan.
Rasionalitas. Sebuah kata yang menjadi fokus kajian kali ini. Pemikiran beliau mengenai rasionalitas memiliki dua pemahaman yang seakan-akan berlawanan. Di satu sisi, beliau mengedepankan rasionalitas sebagai argumentasi-argumentasi “aqli” yang akan mendukung argumentasi-argumentasi teologis yang bersumber pada teks-teks Kitab Suci Ilhamiyah. Sehingga, apabila sebuah agama tidak mampu menyandarkan akidahnya pada argumentasi-argumentasi yang rasional maka kebenaran dari agama tersebut dapat diragukan.
Di sisi lain, beliau malah mengkritisi peran rasionalitas yang berlebihan dalam struktur akidah sebuah agama. Rasionalitas memiliki batasan tertentu dalam mengungkap khazanah-khazanah keagamaan. Dan menganggap rasionalitas sebagai satu-satunya jalan untuk mencapai kebenaran hakiki merupakan sebuah kekeliruan besar. Disinilah perlu adanya peran ilham yang berasal dari satu Tuhan. Dengan demikian keberadaan Tuhan dalam masalah ini menjadi mutlak.
Demikianlah inti tulisan ini yang akan dipaparkan lebih luas lagi pada bagian selanjutnya. Dan sebelum itu, akan disebutkan juga beberapa penjelasan berupa peri keadaan di mana buku Barahin Ahmadiyah muncul serta pemikiran-pemikiran filsafat Eropa modern yang sepertinya layak untuk dicantumkan mengingat relevansinya dengan isi buku tersebut. Sehingga, kita akan melihat bahwa buku tersebut masih relevan untuk kebutuhan ilmu pengetahuan masa kini.

Kebutuhan Pada Masanya
Sebelumnya telah kami jelaskan di atas bahwa penerbitan sebuah buku memiliki suatu latar belakang atau alasan mengapa buku tersebut perlu diterbitkan. Buku Barahin Ahmadiyah secara umum mengandung jawaban atas keberatan-keberatan yang dilontarkan kepada Islam oleh agama-agama seperti Hindu dan Kristen. Dua golongan Hindu yang begitu gencarnya dalam menyerang Islam adalah Arya Samaj dan Brahma Samaj. Kedua golongan yang mengedepankan aspek logika atau akal ini mempertanyakan ulang serta mengkritik keyakinan umat Islam berkaitan dengan Tuhan, Alquran yang lebih spesifik kepada ilham atau wahyu, ruh, Rasulullah saw. dan lain sebagainya. Oleh karena itu, kami akan memberikan sedikit keterangan mengenai dua golongan Hindu ini, yakni Arya Samaj dan Brahma Samaj.
Arya Samaj adalah sebuah sekte baru yang muncul di kalangan Hindu. Mereka menamakan perkumpulan mereka Arya Samaj (masyarakat Arya). Dalam masa-masa ini pengayom bahkan pendiri sekte ini adalah seorang pandit yang bernama Dayanand Saraswati (1824-1883). Dan saya menyebutnya sebuah sekte baru sebab ajaran-ajaran umum serta segenap paham dan penafsiran-penafsiran terhadap Weda yang telah diciptakan oleh sekte ini, dalam bentuk keseluruhannya tidak didapati di kalangan agama Hindu kuno. Melainkan, dari sekian sumber berbagai paham tersebut sebagian merupakan emosi hati Pandit Dayanand sendiri. Dan terdapat beberapa pencemaran yang tidak masuk akal, di suatu tempat dikatakan “kepala” sedangkan di tempat lain disebut “kaki”.
Ringkasnya, melalui upaya-upaya seperti itulah tubuh sekte ini telah dibentuk. Dan ajaran pertama dari sekte ini adalah bahwa Parmesyar (Tuhan) bukanlah Wujud yang menciptakan ruh dan tubuh. Bahkan seluruh benda ini sudah ada dari sejak awal seperti halnya Parmesyar, dan merupakan tuhan bagi wujud benda-benda itu sendiri.
Dan menurut mereka Parmesyar adalah sesuatu yang karena keperkasaannya atau karena kebetulan telah mencapai jenjang kekuasaan sehingga ia mengusai seluruh benda yang setara dengannya. Dan melalui bantuan benda-benda itulah statusnya sebagai Parmesyar/Tuhan telah terbentuk. Jika benda-benda itu tidak ada maka keberlangsungannya pun tidak ada. Dan seluruh benda tersebut, yakni ruh-ruh dan bagian-bagian jasad kecil, di dalam wujud serta keberlangsungan mereka sama sekali tidak memiliki hubungan dengan Parmesyar/Tuhan. Sampai-sampai, kalau pun sang Parmesyar mati, maka mereka tetap saja tidak merasa apa-apa.
Sekarang kita beralih kepada pembahasan singkat mengenai satu lagi aliran Hindu, yaitu Brahma Samaj. Brahma Samaj berarti “Gereja Tuhan” atau “Perseketuan Tuhan” merupakan sebuah golongan Hindu liberal yang didirikan pada tahun 1828 oleh Rammohun Roy, seorang Brahman terpelajar sekaligus anggota pelayanan masyarakat kolonial Inggris. Dia mencoba menyatukan nilai-nilai budaya barat yang modern dengan tradisionalisme Hindu.
Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. memberikan beberapa penjelasan berkenaan dengan golongan keagamaan ini. “Khususnya cara-cara mengenali Tuhan yang disukai oleh akal orang-orang Brahma Samaj yang aneh dengan mengikuti beberapa filsuf Eropa, sedemikian rupa rusak dan kontradiktifnya sehingga melalui itu bukannya dapat diraih suatu jenjang makrifat, justru cara itu sendiri yang menjerumuskan manusia ke dalam berbagai macam kebimbangan serta keraguan.”
Dari sini dapat terlihat sebuah keperluan yang urgen bagi Islam untuk membendung dua golongan yang sedang gandrung kepada pemikiran-pemikiran filosofis yang bersumber pada akal sebagai sarana utamanya. Sepertinya, kedatangan Inggris ke India selain menyebarkan misi Kristen, juga mewarnai pemikiran-pemikiran masyarakat setempat dengan pemikiran bangsa Eropa yang dinilai lebih modern dan maju. Sehingga, dampak yang dihasilkan sangat besar sekali. Ini terlihat dengan eksistensi dua golongan tersebut, yang kedua-duanya sangat gandrung dengan pemikiran-pemikiran filosofis mereka. Ini juga yang mereka gunakan sebagai metodelogi pemikiran mereka guna merancang atau menguji kebenaran sebuah konsep agama. Dan ini diaplikasikan kepada Islam, dalam pengertian mereka mempertanyakan ulang serta mengkritisi setiap sendi akidah dalam Islam.

Pengaruh Filsafat Eropa

art eropa
Sejauh hal yang menyangkut masalah wahyu yang membawa kepada ilmu, tidak ada pembahasan kita dapati dalam tulisan-tulisan filsuf-filsuf Eropa dari generasi manapun. Di kalangan orang-orang yang percaya akan keberadaan Tuhan, terus berpegang teguh pada kepercayaannya bahwa daya nalar harus ditempatkan sebelum iman. Voltaire dan Thomas Paine berpendapat bahwa dalam perkembangan peradaban manusia, daya nalar telah memainkan peranan yang jauh lebih bermakna daripada iman. Di dalam filsafat metafisika, bentuk-bentuk keberadaan abstrak di luar dunia kebendaan telah menjadi pokok pembahasan, tetapi masalah wahyu tak pernah sedikit pun diteliti dengan sungguh-sungguh.
Pada kesempatan ini kami tidak ingin berlama-lama menjelaskan mengenai filsafat Yunani yang telah mempengaruhi tradisi filsafat di daratan Eropa ini. Bagi kami cukup menjelaskan beberapa pemikiran filosofis zaman renaisans, di mana ketegangan antara agama dan filsafat ataupun iman dan akal semakin meruncing. Kristen sebagai agama yang hidup di tengah merebaknya kebangkitan filsafat Eropa ini, mulai mengadakan adaptasi-adaptasi teologis-filosofis agar doktrin teologis dari agama Kristen tetap kukuh di tengah serangan kaum filosof.
EJ. Scotus pada abad kesembilan Masehi menunjukkan contoh mulia tentang penciptaan suatu kadar perdamaian antara iman dan daya nalar. Ia berpendapat bahwa kebenaran tidak bisa dicapai hanya melalui daya nalar melulu, tetapi daya nalar dan iman bisa memainkan sebuah peran bersama-sama. Ia menyarankan bahwa pada awalnya kepercayaan-kepercayaan agama itu berlandaskan pada landasan rasio. Keyakinan tidak bisa dilahirkan dari perkiraan semata. Harus ada suatu landasan logika untuk membangun perkiraan-perkiraan. Bagi tiap keyakinan, yang dibangun baik dengan penuh kesadaran atau pun tidak, haruslah ada suatu landasan rasio. Walhasil, Scotus percaya bahwa keimanan yang sejati tidak boleh dipersamakan dengan mitos. Iman harus dipahami sebagai sesuatu yang telah berdiri di atas suatu teras rasional yang kokoh.
Ternyata apa yang diambil oleh mereka yang menganggap bahwa kekristenan harus beradaptasi dengan perkembangan filsafat ternyata keliru. Tapi ini sudah terlanjur berkembang. Gereja sudah masuk ke dalam ranah logika. Doktrin agama harus dapat dibuktikan secara logis dengan menggunakan rasionalitas. Dan Kierkegaard menganggap tindakan yang diambil oleh gereja sebagai bunuh diri. Mengapa?
“Bagi Kierkegaard, prosedur ini hanya merupakan ketidakjujuran dan pengkhianatan terhadapa agama Kristen. Dialektika Hegel merupakan musuh dalam selimut, dan bukan pekerjaan penulis atau penganjur Kristiani manapun untuk mengencerkan agama Kristen guna menyesuaikannya dengan khalayak umum yang berpendidikan. Doktrin inkarnasi merupakan batu sandung bagi umat Yahudi dan merupakan ketidaktahuan bagi orang-orang Yunani dan akan selamanya demikian. Sebab, doktrin itu bukan saja melampaui batas daya nalar atau logika, malahan hal tersebut sudah tidak baik lagi untuk daya nalar. Hal itu merupakan “pertentangan yang paripurna”, dan hal itu dapat dikukuhkan hanya oleh iman dengan jalan pembatinan dan kepedulian yang penuh hasrat. Penggantian keimanan dengan daya nalar berarti kematian bagi agama Kristen.”
Apa yang dikhawatirkan oleh Kierkigaard ternyata benar-benar terjadi. Muncul ketidakpuasan atas konsep logika yang telah diadopsi oleh Gereja untuk mengadaptasi konsep-konsep keagamaannya. Salah satunya berkaitan dengan Trinitas. Nietzsche atau lengkapnya Friedrich Nietzsche menyatakan bahwa Tuhan telah mati. Mati tertusuk oleh goresan pena logikanya yang begitu tajam. Yang dimaksud oleh Nietzsche adalah Tuhan yang selama ini ia imani, yakni Yesus. Ia merasa ada kejanggalan yang sangat ketika ranah iman harus dibuktikan secara logika. Inilah penyebab pengingkaran terhadap wujud Tuhan yang dilalukan oleh beberapa filsuf Eropa karena pencitraannya terhadap Tuhan yang begitu mistisnya sehingga mencapai ambang batas kemustahilan.
Friedrich Nietzsche memang benar-benar seorang atheis. Tapi, akan dijelaskan seorang filsuf yang mengakui adanya wujud Tuhan namun, hal itu masih berupa sebuah gagasan. Dia adalah Rene Descartes.Yang dimaksudkan Descartes hanyalah bahwa kita semua memiliki gagasan tentang wujud sempurna. Menyatu dalam gagasan itu adalah fakta bahwa wujud sempurna itu pasti ada. Sebab wujud yang sempurna tidak akan sempurna jika ia tidak ada. Pun kita tidak akan memiliki gagasan tentang entitas sempurna jika tidak ada entitas sempurna. Karena kita tidak sempurna, maka gagasan tentang kesempurnaan itu tidak mungkin berasal dari kita. Menurut Descartes, gagasan tentang Tuhan itu sudah merupakan bawaan, dan sudah dicapkan pada kita sejak lahir seperti cap pengrajin yang ditempelkan pada hasil karyanya.
Sepertinya, Descartes ingin mengatakan bahwa ada suatu benih pemahaman Ketuhanan yang telah ditanamkan sejak manusia lahir. Mungkin dalam terminologi Islam itu disebut sebagai fitrat suci. Dengan fitrat inilah manusia mampu mencapai kesimpulan mengenai keberadaan Tuhan. Alam semesta hanya memberi kesaksian tambahan sebagai bentuk penguatan atas suara hati yang secara tidak sadar tengah berteriak-teriak bahwa Tuhan itu ada. Tetapi, apakah hal ini yang dimaksudkan oleh Descartes? Karena, fitrat atau suara hati itu hampir mirip dengan apa yang dipahami oleh orang-orang Islam? Meskipun demikian, Descartes masih mencoba menyelesaikan masalah tentang ketuhanan dengan perantaraan akal. Tidak ada upaya lainnya. Malahan ia menyatakan, “Semakin nyata sesuatu itu bagi akal seseorang, semakin pasti bahwa ia ada.”
Selanjutnya, Immanuel Kant akan memberi nuansa filsafat yang bersahabat dengan agama. Sebagai seorang Protestan, ia seperti Kierkegaard yang menentang prinsip Gereja, yakni Katholik, dengan konsep adaptasinya. Membuktikan keberadaan Tuhan tidak sepenuhnya bisa dilakukan hanya dengan perantaraan akal maupun pengalaman. Menurut Kant:
“Kita akan gagal jika kita berusaha untuk membuktikan keberadaan Tuhan dengan bantuan akal. Di sini kaum rasionalis, seperti Descartes, berusaha untuk membuktikan bahwa pasti ada satu Tuhan semata-mata karena kita mempunyai gagasan tentang adanya zat yang tertinggi. Yang lainnya seperti Aristoteles dan Thomas Aquinas, memutuskan bahwa pasti ada satu Tuhan karena segala sesuatu pasti ada penyebab pertamanya. Akal maupun pengalaman tidak dapat dianggap sebagai dasar untuk menyatakan keberadaan Tuhan. Sepanjang menyangkut akal, adalah mungkin dan juga tidak mungkin bahwa Tuhan itu ada.”
Kant membuka dimensi keagamaan. Disanalah, di mana akal maupun pengalaman tidak ada, terjadilah kekosongan yang dapat diisi oleh iman. Meskipun Kant hendak menyerahkan masalah Ketuhanan kepada iman. Tapi, sebagai seorang filosof, karakter penolakannya atas konsep Tuhannya Kristen pasti ada. Ketaatan terhadap agama akan selalu berbenturan dengan logika, ketika agama malah memberikan ketidak-puasan terhadap pemeluknya. Hal ini berarti, lari menuju iman hanya sekedar bertindak sebagai seorang munafik yang berlagak puas padahal ia sama sekali tidak puas.
Beberapa perwakilan dari para filsuf Eropa yang telah disebutkan di atas telah memberikan gambaran sejauh mana pemahaman mereka tentang Tuhan yang cukup berlainan. Ada yang tidak mengakui keberadaan-Nya, ada yang mengakui tapi hanya sekedar gagasan rasio dan ada yang mengakui keberadaan Tuhan secara utuh melalui iman. Namun, sebagaimana yang saya katakan di awal sub-bab ini, peran wahyu atau ilham dinegasikan. Seakan-akan, Tuhan itu seperti benda mati yang tanpa bantuan dari para filosof, Dia tidak akan diketahui oleh umat manusia.

Signifikansi Akal Menurut Barahin Ahmadiyah
Walaupun kesaksian-kesaksian ilhamiah itu merupakan suatu kabar yang sangat patut dipercaya dan atasnya terletak kesempurnaan jenjang-jenjang keyakinan, akan tetapi jika ada suatu kitab yang dinyatakan kitab ilhamiyah mengajarkan suatu perkara yang jelas-jelas ditentang oleh dalil-dalil akal, maka perkara tersebut sama sekali tidak dapat dianggap benar. Kitab itu sendiri akan dinyatakan batil atau telah dirubah maupun telah diganti-ganti maknanya yang didalamnya tertulis suatu perkara yang bertentangan dengan akal.
Pada tahap ini Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. hendak menantang para pemuka agama atau theolog untuk bersama-sama menguji apakah kitab suci yang mereka yakini itu berasal dari Tuhan, tidak mengandung hal-hal yang berlawanan dengan akal. Hal ini penting karena manusia senantiasa mengalami perkembangan intelektual. Akal manusia dirancang untuk berkembang sehingga ia mampu menemukan hal-hal yang dianggap masih rahasia sebelum ini. Dan dalam kaitannya dengan masalah agama, pasti Tuhan telah menciptakan keharmonisan antara akal manusia dan firman Tuhan sendiri yang bersumber pada kitab suci sebuah agama. Kalau ini tidak dapat dibuktikan, maka akan muncul pernyataan, ‘Bagaimana mungkin Tuhan yang telah menciptakan sebuah kitab suci namun, Dia tidak mengetahui penciptaan-Nya tersebut atau Dia malah menciptakan pertentangan antara akal manusia, yang merupakan hasil ciptaan-Nya, dengan hukum-hukum atau pernyataan-pernyataan yang ada di dalam kalam suci-Nya!’
Bagi sebuah agama yang diklaim sebagai berasal dari Tuhan, keberadaan sebuah kitab suci amat penting. Kitab suci dianggap sebagai petunjuk yang akan mengantarkan manusia kepada kebahagiaan abadinya. Atau kita mengenalnya sebagai najat, yakni keselamatan. Kalau sebuah kitab suci tidak mampu mengantarkan manusia kepada najat baik di dunia maupun di alam yang akan datang, maka apa perlunya lagi keberadaan sebuah kitab suci? Dan untuk menguji kebenaran dari prinsip najat itu, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. memberikan penjelasan:
“Tatkala kejelasan tentang boleh tidaknya setiap perkara itu terletak pada keputusan akal, dan untuk mengenali mungkin tidaknya sesuatu itu adalah akal juga standarnya, maka adalah lazim untuk juga membuktikan kebenaran prinsip-prinsip najat (keselamatan) itu berdasarkan akal. Sebab, jika prinsip-prinsip berbagai agama itu tidak dapat dibuktikan melalui dalil-dalil akal dan justru sebaliknya terbukti kebatilan, kontrakdiksi dan ketidak-mungkinannya, maka bagaimana mungkin kita dapat mengetahui bahwa prinsip-prinsip yang dianut oleh si Zaid adalah benar sedangkan yang dianut oleh si Bakar adalah dusta?”
Di sini kita dapat melihat pentingnya peran akal dalam membuktikan kebenaran suatu hal. Dan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. tidak menyangkal hal tersebut, malahan beliau menjadikannya sebagai salah satu metodelogi untuk menguji kebenaran isi dari sebuah kitab suci dan prinsip-prinsip najat. Jika dalam sebuah kitab suci terdapat banyak sekali hal-hal yang tidak masuk akal atau tahayulnya, maka hal ini akan berdampak langsung pada konsep najat.
Fungsi Tertinggi Akal
Munculnyaa golongan ortodoks Islam, sepertinya berupaya untuk memadamkan peran akal yang semakin dominan akibat berkembangnya penelitian-penelitian filsafat di kalangan umat Islam masa awal. Tokoh-tokoh seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd dan filosof Islam lainnya memulai dentuman besar kebangkitan ilmu pengetahuan dalam bidang filsafat. Namun, kemunculan tokoh seperti Al-Asy’ari dan Al-Ghazali memandang peran akal sudah melampaui batas. Mereka berdua ingin mengembalikan teks pada proporsi yang signifikan ketimbang akal.
Pandangan mereka berdua ini diterjemahkan lebih jauh oleh umat Islam setelah itu. Awalnya hanya mencoba meredam fungsi akal yang semakin dominan sehingga fungsi teks mendapat proporsinya yang ideal, tetapi, sesudah itu fungsi teks benar-benar dominan. Kegiatan pemberangusan kegiatan-kegiatan filsafat mulai merebak. Kaum ortodoks dan puritan mulai mengadakan upaya pemurnian teologi Islam secara radikal. Pada akhirnya, akal dan teks terasa dikotomis dan mulai berjalan masing-masing.
Di sini, kami tidak akan menyajikan sejarah perkembangan pemikiran dalam Islam. Tetapi, wilayah kajian akan terus terfokus pada kajian teologis-filosofis. Sebelumnya telah disebutkan signifikansi akal menurut kitab Barahin Ahmadiyah. Terlihat jelas peran akal yang sangat penting dalam memperkuat konstruksi sebuah akidah agama. Ketika konstruksi sebuah agama tidak berdiri pada pondasi rasio maka kebenaran dari akidah tersebut perlu diragukan.
Kami akan berlanjut pada masalah selanjutnya. Sisi lain dari peran akal yang cukup signifikan, gagasan selanjutnya dari Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. adalah bahwa akal memiliki batas tertinggi. Untuk membuktikan kebenaran satu hal yang berkaitan dengan berbagai jenis wujud atau fenomena maka ada hal-hal lain yang sulit untuk akal menguraikannya. Beliau membuat konsep yang cukup unik dan luar biasa yang mungkin belum pernah terpikirkan oleh seorang filosof pun sebelum masa beliau. Beliau menamakannya “pasangan akal”.
“Walaupun hal ini benar bahwa akal pun telah diberikan Tuhan kepada manusia sebagai pelita yang cahayanya akan menarik manusia ke arah kebenaran dan kelurusan serta menghindarkan dari kebimbangan dan keragu-raguan serta menjauhkan segala macam pemikirian yang tidak berdasar dan keresahan-keresahan yang tidak perlu, adalah sangat berguna, sangat penting dan suatu anugerah besar. Namun, walaupun akal memiliki segenap hal dan sifat tersebut, didalamnya terdapat kekurangan ini, yaitu ia sendiri dalam menelusuri makrifat rahasia dari benda-benda tidak dapat mengantarkan sampai kepada tahap keyakinan yang kamil (sempurna).”
Pertanyaan besarnya adalah mengapa akal mempunyai keterbatasan? Jawaban Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. adalah “fungsi tertinggi akal adalah membuktikan perlu atau pentingnya keberadaan suatu benda”. Beliau menambahkan “fungsi terhadap suatu benda itu adalah, apakah keberadaannya perlu atau penting atau benda itu memang perlu ada hendaknya. Namun, akal sama-sekali tidak dapat menetapkan bahwa di dalam kenyataan pun benda itu benar-benar ada”.
“Cogito, ergo sum”, aku berpikir maka aku ada. Itulah kata-kata yang diucapkan oleh Descartes. Dengan berpikir bahwa sesuatu itu ada maka benda itu memang ada. Namun, semua yang ada di dalam pikiran kita, yang abstrak, merupakan obyek yang pernah kita lihat atau alami secara empiris sehingga kita benar-benar yakin itu ada. Atau pun itu adalah buah dari penelaahan buku atau mendengarkan cerita orang sehingga tanpa melihat atau merasakannya secara empiris, hal itu dapat membentuk keyakinan bahwa benda itu ada.
Mungkin anda pernah mendengar istilah “alien”. Banyak sekali tayangan-tayangan di televisi yang menceritakan mengenai alien. Sosok makhluk asing, dengan kepala agak panjang ke belakang, dan datang ke bumi dengan sebuah piring terbang (UFO). Pertanyaannya adalah, apakah anda benar-benar yakin alien itu ada?
Kalau anda berkeyakinan dengan apa yang Descartes pahami, mungkin anda akan sampai keadaan “mungkin saja ada” atau “memang ada” dengan berbagai macam argumentasi atau fakta-fakta falak (astronomi) yang ditemukan. Tapi, semua itu tidak bisa dikatakan bahwa alien itu benar-benar ada. Inilah yang dikatakan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. bahwa akal hanya bisa menyampaikan pada keadaan “mungkin ada” atau “seharusnya ada”. Lalu bagaimana cara seseorang agar bisa beralih dari keadaan tersebut menuju sebuah keadaan “memang ada”.
“Dan antara kata “seharusnya ada” serta kata “ada” terdapat perbedaan besar. Pengertian yang terkandung dalam kata “seharusnya ada” itu tidak dapat mengantarkan kita sampai pada derajat keyakinan kamil yang dapat dicapai melalui pengertian “ada”. Bahkan di dalam pengertiannya itu masih terdapat keraguan dalam kadar tertentu. Dan seseorang yang dalam bentuk dugaan mengatakan “seharusnya ada” tentang suatu perkara, maka intisari ucapannya itu adalah, dalam perkiraannya dia merasa hal itu harus ada. Dan selebihnya dia tidak tahu-menahu apakah hal itu memang benar-benar ada dalam kenyataan atau tidak. Inilah penyebab mengapa orang-orang yang hanya menelaah makhluk-makhluk saja tidak dapat berhasil. Mereka tidak pernah sependapat dalam menyusun kesimpulan, tidak saat ini dan tidak pula mungkin di masa mendatang.”

Pasangan Akal


Untuk sampai pada tahapan “memang ada”, satu teori yang beliau tawarkan adalah “pasangan akal”. Segala sesuatu diciptakan berpasangan, maka manusia dapat menikmati manfaat dari semua itu. Oleh karena itu, untuk menikmati manfaat dari keberadaan akal, yang hal itu hanya diberikan kepada manusia, pasti ada pasangan bagi akal.
“Wahai kawan-kawan! Pikirkanlah baik-baik! Tanpa pasangan, maka suatu perkara pun tidak akan jadi. Tuhan pun memang telah menjadikan pasangan itu sebagai suatu hal yang luar biasa. Ke mana pun kalian memandang, tampak bahwa segala-sesuatu berfungsi hanya melalui pasangan. Saya dan kalian semua memang melihat dengan mata, tetapi tetap juga diperlukan matahari. Memang melalui telinga kita mendengar, akan tetapi tetap diperlukan adanya udara”
Setelah beliau memaparkan bahwa segala sesuatu memiliki pasangannya termasuk akal, pertanyaan selanjutnya, apa pasangan dari akal itu? Beliau menjawab: “Dan pasangan akal yang merupakan sahabat dan penolongnya itu, berbeda-beda di setiap tempat dan kesempatan. Namun, jika disimpulkan, tidak lebih dari tiga. Pertama, tatkala fungsi akal itu berkaitan dengan indera dan perasaan-perasaan, seperti melihat, mendengar, mencium, atau merasakan, maka pada saat itu pasangan akal yang mengantarkan sampai kepada keyakinan hakiki adalah pengalaman”.
Dalam tradisi filsafat Eropa kita menyebutnya sebagai empirisme. Seorang empirisis akan mendapatkan pengetahuan mengenai dunia dari apa yang dikatakan indra. Kita tidak mempunyai gagasan atau konsepsi bawaan mengenai dunia sebelum kita melihatnya. Tokoh filsafat empirisme adalah John Locke. Dia mengemukakan bahwa semua pikiran dan gagasan kita berasal dari sesuatu yang telah kita dapatkan melalui indra. Sebelum kita merasakan sesuatu, pikiran kita merupakan “tabula rasa”, kertas kosong.
Anda pernah makan semangka? Apa yang anda dapat jelaskan mengenai semangka? Bentuknya, warna kulitnya, warna daging buahnya, rasanya atau lain sebagainya. Anda mampu menerangkan semangka karena anda telah memakannya berpuluh-puluh kali. Apakah seseorang yang belum pernah memakan semangka, apalagi melihatnya secara langsung, dapat menceritakan seluk-beluk semangka? Akal anda akan tetap hampa dari pengetahuan mengenai semangka, sebelum anda melihatnya lalu mencicipi rasanya. Saya tertarik dengan kata-kata seorang sufi falsafi, Jalaluddin Rumi.
Bisakah anda menyunting mawar dari M-A-W-A-R
Anda baru menyebut namanya
Kini, carilah yang empunya nama
Bulan itu di langit,
Bukan di permukaan air
“Jika fungsi akal itu berkaitan dengan keyakinan dan peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi atau yang terjadi di berbagai zaman dan tempat, maka pada saat itu ada satu lagi pasangan akal yang bernama sejarah, berita, dan surat.”
Apakah anda yakin dengan pernah adanya seorang nabi yang bernama Musa? Atau Daud? atau Isa? Padahal secara empiris anda belum pernah bertemu dengan nabi-nabi tersebut. Bagaimana anda bisa yakin akan pernah munculnya nabi-nabi tersebut? Tidak lain adalah dengan membaca sejarah, yang diambil dari berbagai macam literatur, anda akan sampai pada keyakinan terhadap pernah munculnya nabi-nabi tersebut. Ini berkaitan dengan peristiwa-peristiwa masa lalu. Anda tidak akan sampai pada keyakinan tersebut hanya dengan menggunakan akal semata.
Apakah anda yakin dengan kematian Khadafi? Bagaimana keyakinan tersebut dapat tumbuh dan anda benar-benar yakin akan hal itu? Karena anda membaca berita dari koran atau melihat di televisi berita mengenai kematiannya.
Ketiga, jika fungsi akal berhubungan dengan peristiwa-peritiwa yang terjadi di bawah alam sadar, yang tidak dapat kita lihat dengan mata, yang tidak bisa didengar dengan telinga, yang tidak dapat dirasa dengan tangan dan yang tidak dapat ditelusuri melalui sejarah-sejarah dunia ini, maka pada saat itu pasangan akal adalah Ilham dan wahyu.
Dimensi ketiga ini berkaitan dengan alam metafisika atau transenden, sebuah dimensi yang tidak dapat diidentifikasi oleh indera. Dan kaum empirisis sangat menentang filsafat metafisika. Wilayah-wilayah metafisika dapat berupa alam mimpi, surga, neraka, malaikat dan Tuhan. Hume sebagai seorang filosof empirisme ketika ditanya gagasannya mengenai Tuhan, dia menjawab bahwa gagasan kita mengenai Tuhan sebagai yang luar biasa cerdas, bijaksana dan baik dipengaruhi oleh pengalaman kita terhadap sesuatu yang luar biasa cerdas, sesuatu yang luar biasa bijaksana dan sesuatu yang luar biasa baik. Jika kita tidak pernah mengenal apa itu kecerdasan, kebijaksanaan, dan kebaikan, kita tidak akan mempunyai gagasan semacam itu tentang Tuhan. Mengapa demikian? Karena empirisme yang didasarkan pada fungsi indera tidak mampu menembus dimensi metafisika. Mereka tidak pernah merasakan sebuah pengalaman fisik dengan Tuhan.
Ketika akal hanya bisa menyampaikan seseorang pada kesimpulan bahwa memang “seharusnya perlu ada” Tuhan yang menciptakan alam semesta setelah diadakan observasi empiris atas fenomena-fenomena alam semesta, sekarang, apa yang akan menjelaskan, secara benar-benar meyakinkan, bahwa Tuhan itu ada? Apakah Tuhan tidak pernah mengatakan bahwa Dia memang ada? Atau memang sebuah kebaikan dari para filosof sehingga sosok Tuhan dapat dikenali oleh manusia. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. memberikan komentar atas hal ini:
“Para filosof beranggapan: ‘Kami, melalui kekuatan akal kami sendiri yang telah menemukan Tuhan. Dan sejak semula, oleh kami para manusia, telah terpikir bahwa memang harus ditetapkan suatu Tuhan hendaknya. Dan atas upaya-upaya kami pulalah Dia telah keluar dari tempat yang antah-berantah. Dia telah dikenali. Dia pun telah menjadi tuhan para makhluk. Dia telah menjadi layak untuk disembah. Jika tidak, siapa pula yang mengetahui-Nya sebelum ini? Siap pula yang memiliki kabar tentang wujud-Nya? Kamilah orang-orang berakal yang telah lahir di dunia ini. Barulah nasib-Nya menjadi cerah’”.
Mengapa harus ilham atau wahyu yang akan menjadi pasangan akal untuk dapat menembus dimensi metafisika atau yang lebih dikenal dalam terminologi Islam, “ghaib”? Sebelum saya hendak mengutip argumentasi Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. tentang signifikansi ilham atau wahyu, saya akan menjelaskan eksistensi metafisika dan signifikansi dalam kehidupan menusia yang hendak dihancurkan oleh kaum rasionalis dan empiris.
Apakah surga dan neraka itu ada? Dengan mengesampingkan perlu atau tidaknya dua hal itu, pengalaman manusia memberi kesaksian bahwa surga dan neraka itu ada. Pernah anda bermimpi? Kadang-kadang mimpi itu indah, kadang menakutkan, kadang membuat kita sedih. Akan tetapi, mimpi itu memberi kesan yang begitu luar biasa bagi seseorang. Dan mimpi kita selalu dipengaruhi oleh keadaan kita sebelum bermimpi. Ketika seseorang sedang demam, ia merasakan dalam mimpinya sedang dibakar dalam api atau ketika sedang meriang, ia seperti berada dalam lemari es. Apakah dimensi mimpi itu dapat dijelaskan oleh akal atau indera? Di dunia ini saja kita dapat merasakan dampak atas apa yang kita kerjakan di saat kita bermimpi. Bagaimana dengan selurh amalan manusia sejak ia masih kecil sampai mati? Apakah tidak ada dampak dari semua amalannya itu?
Dalam filsafat “eksistensialisme”-nya Soren Kierkegaard, kita dapati bukti bahwa aspek metafisika begitu penting dalam kehidupan manusia. Dan manusia benar-benar merasakan kehadirannya di dunia ini ketika ia dihadapi dalam suatu bahaya mematikan. Yang dimaksudkan oleh Kierkegaard adalah bahwa hanya melalui keadaan-keadaan berupa krisis emosional yang ekstrim, ketika seseorang bukan hanya menghadapi kemungkinan melainkan juga fakta berupa pemunahan diri yang segera terjadi, ia pada akhirnya bisa memahami signifikansi eksistensinya sendiri. Sebab hanya dengan cara demikianlah seseorang pada akhirnya akan memutuskan untuk hidup atau mati, menjadi atau tak menjadi. Singkatnya, yang menjadi minat Kierkegaard adalah signifikansi hidup, dan bukan arti “eksistensi”.
Dengan demikian, sisi subyektif lebih dikedepankan oleh Kierkegaard daripada obyektifnya. Manusia adalah makhluk yang subyektif. Sebenarnya, ia sedang mengarahkan kita pada aspek relijius yang didasarkan pada iman. Kebenaran bukanlah sesuatu yang dibenarkan oleh akal atau indera, tetapi yang dimaksud kebenaran adalah sesuatu yang begitu penting dan sangat diperlukan bagi manusia. Ringkasnya, yang mereka cari bukanlah pemahaman, melainkan sesuatu yang melampaui pemahaman, yakni keselamatan. Dalam terminologi Islam disebut “najat”.
Misalnya, anda sedang naik sebuah perahu. Lalu perahu itu terbalik. Apa yang akan anda pikirkan dan lakukan, sementara anda tidak bisa berenang? Apakah anda akan berpikir mengenai kedalaman air laut itu, atau kadar keasinan air tersebut atau jarak anda dengan daratan? Semua itu tidak mungkin. Yang mungkin adalah anda akan berteriak minta tolong sambil mengayunkan tangan dan kaki anda. Bukan logika yang diperlukan pada saat kritis itu, tetapi keselamatan.
Sekarang, ketika dimensi metafisika itu benar-benar ada, meskipun masih dalam pendekatan logika, dan keperluannya sebagai sebuah najat atau keselamatan begitu penting bagi manusia, sarana apa yang mampu mengantarkan manusia pada najat itu sendiri secara langsung tanpa perantara yang rapuh? Tidak lain adalah ilham dan wahyu. Hanya dengan ilham dan wahyu-lah seseorang dapat benar-benar yakin bahwa Tuhan ada. Karena Dia sendirilah yang menyatakan kepada manusia bahwa Dia “ada”. Tumpukan buku-buku para filosof yang membahas mengenai masalah Tuhan, yang apabila disusun hingga dapat mencapai langit pun, tetap tidak akan mampu menyaingi wahyu Ilahi yang menyatakan bahwa Dia benar-benar ada.
“Apapun hasil pemikiran dan renungan tentang Tuhan serta perkara-perkara akhirat yang diperoleh melalui ilusi-ilusi akal, ia tidak dapat memberikan keyakinan kamil maupun makrifat kamil. Kebimbangan-kebimbangan yang terus mengetuk-ngetuk hati para penyembah ilusi, tidak dapat dilenyapkan tanpa ilham. Sebab, walaupun melalui fenomena alam dapat dipahami bahwa seorang pencipta hendaknya harus ada, akan tetapi siapa yang dapat menerangkan bahwa sang pencipta itu memang ada.”
“Apakah derajat tertinggi kita dalam hal makrifat dan pengenalan Tuhan itu cukup hanya sampai pada tahap perkiraan bahwa “memang seharusnya ada”? Apakah dengan cara tebakan pikiran kekanak-kanakan itu kita dapat mewarisi kebahagiaan abadi yang telah dipersiapkan bagi orang-orang yang memiliki keyakinan kamil serta makrifat kamil tersebut? Suatu keyakinan kamil yang untuk meraihnya ruh kita selalu bergejolak, ketika hal itu dapat diraih hanya melalui akal, maka ucapan saya ini pun benar bahwa kini kita tidak membutuhkan ilham sedikitpun.”
Dengan melihat suatu bangunan maka kita akan yakin tentang pembangunannya. Namun, keyakinan itu kita peroleh sebagai suatu kebiasaan. Sebab, sebagaimana kita melihat bangunan-bangunan, bersamaan dengan itu kita lihat juga para pembangunnya, tetapi siapa pula yang dapat memperlihatkan pencipta bumi dan langit? Dia akan diyakini sepenuhnya tatkala—seperti halnya para pembangun tersebut—terdapat tanda-tanda keberadaan-Nya. Seandainya pun akal memberikan kesaksian bahwa memang harus ada pencipta alam ini, maka akal itu sendiri yang akan tenggelam dalam lautan keheranan, yakni: “Seandainya pemikiran ini benar, maka sudah tentu sampai sekarang telah diketahui tanda-tanda sang pencipta”.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s