Farisi

Oleh : Ridhwan Ibnu Luqman

Farisi

Definisi
Kata Farisi berasal dari bahasa Ibrani פרושים p’rushim, dari perush, yang berarti penjelasan. Jadi kata Farisi berarti “orang yang menjelaskan” (לפרש, “lefareish – menjelaskan”). Terjemahan harafiahnya “memisahkan”, tidak begitu akurat, karena “memisahkan” adalah להפריש “lehafrish,” dari akar kata yang terkait dengan kata dalam bahasa Aram, upharsin (dan membagi) dalam tulisan di dinding dalam Kitab Daniel 5:25.


Tipe-tipe
Di dalam Talmud, dituliskan tentang beberapa tipe orang Farisi. Ada jenis orang Farisi yang menyombongkan kebaikan-kebaikannya. Ada juga orang Farisi yang memalingkan wajahnya untuk menghindari melihat perempuan. Ada orang Farisi yang sering mengangguk-anggukan kepalanya seolah-olah bijaksana. Ada orang Farisi yang menghitung kebaikannya, Ada orang Farisi yang mematuhi Allah karena takut. Ada orang Farisi yang mematuhi Allah karena mengasihi Allah.
Syamai orang Farisi yang keras berasal dari keluarga kaya dan bangsawan, Hillel dari masyarakat biasa.
Latar Belakang
Nama Farisi muncul pertama-tama dalam naskah para Raja Imam orang Hasmon, yang awalnya dari golongan Khasidim ( dikasihi Allah ) pada masa Yohanes Hirkanus ( 134-104 sM ), yang kemudian pecah menjadi golongan-golongan kecil ( minorotas ). Golongan ini beranggapan bahwa keImam besaran tidak sah dan sudah membuang tradisi tertentu. golongan ini ( Farisi ) menjauhkan diri dari khalayak umum, sambil menantikan suatu tindakan eskatologi ( )dari pihak Allah. ( T.W Manson )
Mereka juga merupakan ahli-ahli tafsir tradisi mulut kemulut yang berasal dari para Rabi. Pada umumnya mereka berasal dari kalangan menengah, yakni para tukang dan kaum pedagang, ( contoh ) seperti Paulus yang merupakan pembuat Tenda. Mereka mempunyai pengaruh yang sangat besar diantara para petani.
Selain itu Yosefus mengamati bahwa pada saat orang-orang Yahudi harus mengambil suatu keputusan yang sangat penting, mereka lebih bersandar pada pendapat orang-orang Farisi dari pada Raja atau Imam Besar, karena rakyat sangat mempercayai mereka. Sehingga banyak orang Farisi yang diangkat untuk menduduki jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan, termasuk untuk duduk dalam Sanhedrin (senat ). Menurut perkiraan Yosefus, dalam zaman Yesus, ditanah Palestina hanya ada sekitar enam ribu orang Farisi.
Sejarah
pada masa pemerintahan Yohanes Hirkanus ( 134-104 sM ) Farisi memiliki pengaruh besar dan mendapat banyak dukungan dari Rakyat. Tapi setelah rakyat memutuskan hubungan dengan Hirkanus, mereka mendekati golongan Saduki. Kemudian terjadi perlawanan Farisi terhadap Aleksander Yanneus ( 103-76 sM ). Perlawanan ini sangat hebat dan pihak Farisi meminta bantuan kepada Raja dari Selekus yaitu Demetrius III, namun pada perlawanan ini Yanneus menang dan menyalibkan kurang lebih 800 orang, termasuk didalamnya golongan Peminpin. Tapi menjelang kematiannya Yanneus menasehati istrinya Aleksandra Salome ( 76-67 sM ) supaya menyerahkan pemerintahan kepada orang-orang Farisi karena nyatanya pada saat itu mereka memiliki kedudukan tinggi d Mahkamah Agama.
Namun, setelah Roma berkuasa pada tahun 63 M, kaum Farisi kembali pada peranan asli mereka sebagai kelompok yang menjelaskan hukum secara terperinci, dan arbitrator ( juru damai ) perselisihan-perselisihan dalam komunitas tersebut. Sebenarnya mereka tidak sepenuhnya lepas tangan terhadap masalah-masalah politik. R. Simeon ben Gamaliel I dan beberapa pemimpin Farisi lainnya memberontak terhadap Romawi pada tahun 66-70 M dan pada tahun 132-135 M saat pemberontakan Bar Khokba. Dan pada masa pemberontakan itu kaum Farisi menderita khususnya pada masa kekuasaan Antipater dan Herodes karena pada masa ini tujuan-tujuan rohani harus beriringan atau tersalur dalam kegiatan politik. Namun pada saat Herodes Mati mereka malah meminta untuk diperintah langsung oleh Roma. Dan golongan Mayoritas langsung menentang perlawanan terhadap Roma ( 66-70 M ). Dan karena itu Vespasianus menyukai Yohanan bin Zakai, salah seorang dari peminpin mereka, dan mengizinkannya mendirikan sekolah kerabian. Pada saat inilah berakhir pertentangan antara golongan Syamai ( orang Farisi yang keras itu ) dengan golongan Hillel yang lebih liberal dan dari situ dihasilkan satu kesepakatan : golongan saduki menghilang dan Zeloot tidak dpercayai lagi. Pada 135 M seiring kekalahan Bar-kokhba Farisi menjadi peminin bangsa Yahudi tanpa persaingan. Namun menjelang 200 M Yudaisme dan ajaran Farsi menjadi sinonim.
Farisi sebagai Lembaga Politik
Dari literatur rabinik, kaum Farisi digambarkan sebagai pengamat dan penegak hukum Taurat yang sangat teliti. Dalam gulungan naskah-naskah Laut Mati, kaum Farisi dikatakan sebagai kaum yang suka mencari dan memerhatikan hal-hal yang sangat kecil. Mereka menjadi pengamat pelaksanaan hukum yang sangat teliti, karena mereka memiliki kerangka berpikir bahwa Allah mencintai orang yang taat hukum dan menghukum yang tidak patuh. Keprihatinan utama kaum Farisi adalah mengenai pembaruan Israel.
Kaum Farisi sesuai dengan kurun waktu adalah sebuah partai politik, sebuah gerakan sosial, dan belakangan sebuah aliran pemikiran di antara orang-orang Yahudi yang berkembang pada masa Bait Suci Kedua (536 SM–70 M). Setelah dihancurkannya Bait Suci Kedua, sekte Farisi dibentuk kembali sebagai Yudaisme Rabinik — yang akhirnya menghasilkan Yudaisme yang tradisional dan normatif, dasar dari semua bentuk Yudaisme di masa kini, dengan pengecualian barangkali kaum Karait. Hubungan antara kaum Farisi dengan Yudaisme Rabinik (yang dicontohkan oleh Talmud) adalah demikian erat sehingga banyak orang tidak membedakan keduanya. Namun demikian, kedudukan sosial dan keyakinan kaum Farisi berubah-ubah dalam perjalanan waktu, bersamaan dengan perubahan dalam kondisi politik dan sosial di Yudea.
Ajaran tentang hukum
Pemikiran dasar orang Farisi berakar pada zaman Ezra dan Nehemia. Ezra dan Nehemia menguraikan secara rinci dan menafsirkan hukum yang tidak tertulis itu. Ezra dan Nehemia melarang perkawinan campuran. Nehemia memberlakukan peraturan bagi sabat dan memberlakukan persembahan persepuluhan. Dapat dikatakan bahwa kaum Farisi mengikuti jejak-jejak Ezra dan Nehemia. Ezra dan Nehemia telah menetapkan ulang kedudukan Torah pada masyarakat Yahudi keturunan Yehuda.
Orang yang benar akan mengalami kebangkitan sesudah kematian ( Kis 23 : 8 ), sedangkan orang durhaka akan menerima hukuman yang kekal. Namun tidak banyak orang Yahudi yang menerima ajaran itu, malah kebanyakan mendukung pendapat Yunani dan Persia, bahwa setelah kematian jiwa dan tubuh akan terpisah untuk selama-lamanya. Farisi juga menekankan seseorang menggenapi setiap segi hukum taurat.
Konsep Agama
Konsep dasar agama bagi kaum Farisi adalah kepercayaan. Pembuangan ke Babel dipahami sebagai akibat dari kegagalan Israel mematuhi hukum Taurat. Pelaksanaan Taurat adalah tugas perseorangan dan tugas nasional. Orang Farisi membedakan hukum tertulis dan hukum lisan. Kaum Farisi menekankan ketaatan pada hukum tak tertulis (Oral Law). Hukum tertulis harus dipelajari dan ditafsirkan dalam terang tradisi lisan untuk memenuhi konteks zaman yang berubah-ubah. Jika Torah tidak ditafsirkan, maka hukum tersebut tidak akan kontekstual lagi. Oleh karena itu, mereka juga memiliki kemampuan yang luar biasa dalam menafsirkan Torah. Kaum Farisi membentuk sistem hukum yang diinterpretasikan dan harus dipatuhi oleh kelompoknya dengan tujuan untuk menjaga agar mereka tidak melanggar Torah. Terkadang, muncul banyak perbedaan dalam tafsiran hukum yang sering menimbulkan perdebatan di antara kaum Farisi sendiri. Kepandaian kaum Farisi dalam menafsir ini diperoleh dari proses pendidikan agama secara akademis. Sekolah seperti Hillel dan Shammai mulai berkembang pada abad ke-1 SM di kota Yavneh.
Farisi dalam Al-Kitab
Kis 15:5
Tetapi beberapa orang dari golongan u Farisi, v yang telah menjadi percaya, datang dan berkata: “Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa. w ”

Mat 12:14
Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan bersekongkol untuk membunuh Dia. j

Mat 23:2
“Ahli-ahli Taurat p dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa.

Yoh 3:1
Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, b seorang pemimpin agama c Yahudi.
Yoh 7:47
Jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka: “Adakah kamu juga disesatkan? q

Luk 7:36
Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan.
Yoh 1:24
Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi.
Mat 22:41
Ketika orang-orang Farisi sedang berkumpul, Yesus bertanya kepada mereka, kata-Nya:
Yoh 9:13
Lalu mereka membawa orang yang tadinya buta itu kepada orang-orang Farisi.
Yoh 7:32
Orang-orang Farisi mendengar orang banyak membisikkan hal-hal itu mengenai Dia, dan karena itu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi menyuruh penjaga-penjaga Bait Allah untuk menangkap-Nya.
Luk 5:33
Orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: “Murid-murid Yohanes v sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum.”
Mat 9:34
Tetapi orang Farisi berkata: “Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan. u ”

Mat 15:1
Kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata:
Mat 16:6
Yesus berkata kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi 1 orang Farisi dan Saduki. u ”

Mat 22:15
Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan.
Mat 22:34
Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki h itu bungkam, berkumpullah mereka

Mat 27:62
Keesokan harinya, yaitu sesudah hari persiapan, datanglah imam-imam kepala dan orang-orang Farisi bersama-sama menghadap Pilatus,
Mrk 3:6
Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian v untuk membunuh Dia. w

Luk 6:2
1 Tetapi beberapa orang Farisi berkata: “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat? z ”

Luk 16:14
Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang z itu 1 , dan mereka mencemoohkan Dia. a

Perbedaannya dengan Saduki

Kaum Farisi meyakini adanya jiwa yang kekal, kebangkitan dari kematian, adanya malaikat, kedatangan mesias yang diutus Allah pada masa yang akan datang untuk membebaskan mereka dari belenggu penjajahan Roma. Akan tetapi, kaum Saduki tidak mengakui kekekalan jiwa manusia dan kuasa takdir. Pada dasarnya, Saduki menganggap bahwa ibadah di bait suci adalah pusat dan tujuan utama dari hukum Taurat. Farisi menekankan kewajiban seseorang dalam melakukan setiap segi hukum Taurat, ibadah di bait suci hanyalah sebagian saja dari hukum Taurat.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s