Sekte Eseni

Oleh :
Ridhwan Ibnu Luqman

Qumran
Asal usul ‘Essene‘ Nama
Merupakan salah satu sekte Yahudi yang hidup dan berkembang di tepi Laut Mati sejak tahun 65-an SM hingga 70-an M.
Essene secara etimologi “Essene” dari “Essæi” atau “ Ἐσσηνοὶ = ” yang berarti Yang saleh, yang sederhana, rendah hati. Yosefus dalam Literaturnya yang lain, Essæi = Ἐσσαῖου = Yang “diam” atau “pendiam”. Ada pendapat lain mengatakan, berasal dari Syria “Hase,” “Hasen,” , “ḥasaya” orang-orang saleh. De Sacy dan diadopsi oleh Ewald, Wellhausen, dan Schürer dari bahasa Aram “asa” “untuk menyembuhkan,” atau “penyembuh”.


Oxford Geza Vermes Dr, berpendapat bahwa “Essene” istilah berasal dari assayya Aram, berarti ‘penyembuh’. Dalam literature lain nama Eseni berasal dari bahasa Ibrani yang berarti “saleh” atau “suci”. Walaupun mereka dinamakan demikian oleh orang-orang Yahudi yang lain, orang-orang Eseni sendiri kemungkinan menolak julukan itu. Mereka tidak memandang diri mereka suci atau saleh; tetapi mereka menganggap diri mereka sebagai para penjaga kebenaran-kebenaran yang misterius, yang akan menguasai kehidupan Israel bila kelak Mesias datang.

Kaum Eseni menganggap bahwa dunia telah menjadi sangat jahat dan kotor, sehingga mereka berupaya membentuk komunitas sendiri, di mana mereka dapat menjaga kesucian hidup mereka serta terlindungi dari dunia yang jahat. Mereka percaya bahwa Allah akan segera mengintervensi jalannya dunia ini dan menetapkan pemerintahan Allah yang benar di dunia. Karena itulah, mereka membentuk komunitas yang mandiri di Qumran dan mempraktikkan hidup yang terpisah dari dunia luar.
Ciri-Ciri Orang –orang Eseni
Orang-orang eseni pada umumnya hidup secara berkelompok jauh di daerah-daerah pedalaman gurun pasir. Sebagian lagi tinggal disuatu pemukiman di Yerusalem dan bahkan disana ada gerbang yang disebut gerbang Esen. Mereka mempraktikan berbagai upacara yang sangat rumit untuk mensucikan diri mereka, rohani maupun jasmani. Tulisan-tulisan mereka ( yaitu Gulungan Naskah Laut Mati yang pada umumnya diakui para ahlinsebagai tulisan-tulisan Kaum Eseni ) menunjukan bahwa mereka sangat ketat menghindarkan diri agar tidak tercemar oleh masyarakat disekitar mereka, dengan harapan bahwa Tuhan akan menghargai kesetiaan mereka itu. Mereka menyebut pimpinan mereka sebagai Guru Kebenaran.
Kaum Eseni di Qumran

Essen
Para Sarjana masih memperdebatkan apakah benar penghuni Qumran adalah orang-orang Eseni, karena beberapa bagian dari tulisan-tulisan mereka ada yang bertentangan dengan ajaran-ajaran yang dikenal sebagai ajaran Eseni. Ada yang percaya bahwa orang-orang Farisi yang melarikan diri dari amukan Yaneus ( Tahun 88 SM ) telah datang dan menetap di Qumran. ( Sebuah tafsiran kitab Nahum yang ditemukan di Qumran nampak ada kaitannnya dengan cara hidup orang-orang Farisi. Namun seandainya masyarakat Qumran hanyalah salah satu pecahan dari orang-orang Eseni, itu akan merupakan penjelasan yang memuaskan tentang adanya penyimpangan-penyimpangan yang kadang-kadang mereka lakukan terhadap ajaran-ajaran Eseni yang Utama.
Qumran terletak di daerah dataran tinggi yang luas di dekat Laut Mati dengan dikelilingi gunung-gunung dan mata air di bagian bawahnya. Di situ komunitas Eseni mendirikan bangunan-bangunan yang sebenarnya telah mulai dibangun tahun 150 SM, ketika Yohanes Hirkanus sedang memerintah di Yerusalem dan kaum Saduki memegang kekuasaan. Bangunan-bangunan tersebut dihancurkan tahun 68 M pada waktu pemberontakan Yahudi pertama oleh tentara Romawi, di mana bangunan-bangunan dibumi-hanguskan dan penghuninya diusir. Orang-orang Romawi kemudian membangun kembali bangunan-bangunannya dan digunakan sebagai kompleks prajurit-prajurit. Setelah sempat direbut oleh Bar Khokba pada pemberontakan kedua, akhirnya bangunan-bangunan tersebut menjadi puing-puing saja setelah pemberontakan tersebut ditumpas.
Bangunan utama berbentuk empat persegi panjang, berlantai dua, ukuran kasarnya 35 X 70 meter. Salah satu sudutnya diperkuat menjadi bentuk sebuah menara pengawal dengan ruangan-ruangan gudang di bawahnya dan tiga ruangan sempit di atasnya. Di samping itu terdapat sejumlah ruangan sempit dengan bangku-bangku sekeliling tembok. Sebagian besar ruangan berfungsi sebagai ruang pertemuan, dan salah satu ruangan dilengkapi dengan meja-meja tulis, wadah-wadah tinta, dan baskom tempat cuci tangan bagi para ahli tulis. Kemudian bangunan ini dilengkapi juga dengan ruang makan dan ruang menyimpan alat-alat makan. Tata letak bangunan ini menunjukkan bangunan ini dipakai sebagai tempat tinggal suatu komunitas yang cukup besar.
Pengajaran Kaum Eseni
Keterangan mengenai pengajaran Kaum Eseni didapat dari dua dokumen penting, yakni buku Peraturan Persekutuan atau Petunjuk Disiplin, dan buku Peraturan Damaskus. Para ahli berpendapat bahwa Peraturan Damaskus adalah pengembangan lebih lanjut dari Petunjuk Disiplin.
Mazhab Eseni menekankan kesalehan dan kesucian dengan banyak berdoa dan berpuasa. Mereka menarik diri dari keramaian dunia lalu tinggal sebagai paguyuban di tempat terpencil, antara lain Khirbet Qumran. Mereka tidak menikah. Tiap orang mencari nafkah dan hasilnya dikumpulkan menjadi milik bersama. Persekutuan doa disertai puasa selama satu hari satu malam diakhiri dengan perayaan makan bersama. Pada tahun 1950 para pakar purbakala Perancis dalam penggalian di Qumran menemukan gedung tempat persekutuan mazhab Eseni. Di situ ditemukan kamar makan yang besar dan mewah, sebuah dapur dengan seribu piring makan, sejumlah meja tulis untuk menyalin naskah, sebuah perpustakaan, beberapa kolam untuk baptisan dan tempat pemakaman yang terdiri dari seribu kuburan.
Essens ini menolak kesenangan sebagai kejahatan, tetapi penahanan diri, dan penaklukan atas nafsu kita, untuk menjadi kebajikan. Mereka mengabaikan nikah, tetapi memilih orang-orang keluar anak-anak lain, sementara mereka lentur, dan cocok untuk belajar, dan harga diri mereka untuk menjadi keluarga mereka, dan membentuk mereka sesuai dengan perilaku mereka sendiri. Mereka tidak benar-benar menyangkal kebugaran perkawinan, dan suksesi umat manusia sehingga terus, tetapi mereka menjaga terhadap perilaku berahi perempuan, dan diyakinkan bahwa tidak satupun dari mereka menjaga kesetiaan mereka kepada satu pasangannya.
Komunitas ini sangat memandang negatif kepada dunia yang dianggap telah dikuasai oleh kuasa jahat, sedangkan komunitas mereka adalah anak-anak terang yang menantikan Tuhan turun ke dunia untuk menghancurkan kuasa kegelapan. Untuk menjaga kemurnian diri selaku anak-anak terang, kaum Eseni melakukan berbagai disiplin dan mengikuti peraturan yang ketat. Beberapa peraturan tersebut adalah tidak diizinkan memiliki barang milik pribadi, berjaga-jaga sepanjang malam, belajar bersama anggota lain, menyanyikan kidung-kidung, dan memanjatkan doa. Sebagai penegak dari sistem ini, terdapat jabatan penilik, inspektur, dan hakim, serta imam-imam.
Guru Kebenaran
Akar dari kaum Eseni diduga berasal dari masa setelah pemberontakan Makabe, ketika pengharapan orang-orang beragama digoyahkan oleh sifat-sifat keduniawian raja-raja Hasmoni. Menurut Peraturan Damaskus, beberapa orang pencari kebenaran kemudian memperoleh pencerahan dari seorang “Guru Kebenaran”. Karena itulah, sosok “Guru Kebenaran” ini terdapat di dalam tulisan-tulisan kaum Eseni dan di dalam kidung-kidung pujian yang menggambarkan kehidupan dan karya beliau.
Guru Kebenaran digambarkan sebagai seorang yang berasal dari keluarga imam tingkat tinggi Yahudi yang kemudian melihat dunia sekitarnya, yaitu adat istiadat Yahudi, telah dirusakkan dan umat Israel dianggap menyeleweng dari Allah. Kemudian ia menjadi pengkhotbah pembela Taurat dan berhasil mengumpulkan sejumlah pengikut. Ia mengecam orang-orang sezamannya beserta seluruh pemimpin-pemimpin agama. Ia juga menelaah Kitab Suci dan dari situ membangun peraturan-peraturan dan tafsiran-tafsiran baru yang kemudian diajarkan kepada murid-muridnya. Persekutuan itu dianggap sebagai Israel yang benar, dan anggotanya dianggap sebagai “anak-anak terang”. Diduga bahwa setelah sang guru meninggal akibat penganiayaan, kemudian murid-muridnya mengundurkan diri dari kehidupan masyarakat umum dan mendirikan komunitas Qumran, di mana mereka terus menelaah Kitab Suci, mentaati peraturan-peraturan yang ketat, dan menantikan hari Tuhan, di mana Allah akan datang sebagai tanda kemenangan mereka.
Hubungan Kaum Eseni dengan Kelompok Yahudi Lainnya
Kaum Eseni, sebagaimana kelompok-kelompok Yahudi lainnya, muncul sebagai respons terhadap konflik-konflik politik yang muncul, di mana identitas Yahudi sedang terancam oleh Helenisasi yang dilancarkan oleh penjajah Romawi. Akan tetapi, masing-masing kelompok Yahudi tersebut memilih cara dan norma yang dianggap penting sehingga tidak jarang bertentangan satu dengan yang lain. Kaum Eseni memiliki pertentangan yang kuat terhadap kelompok Farisi dan Saduki, di mana kelompok Farisi dianggap oleh mereka kurang mengikuti hukum Taurat secara literer, sedangkan kaum Saduki dianggap sebagai pemimpin-pemimpin agama yang korup dan salah mengerti hukum Tuhan dalam menjalankan kultus Bait Suci.
Kesamaan orang-orang eseni dengan orang-orang Farisi diantaranya, menentang orang-orang saduki menjadi Imam-imam Yerusalem. Orang-orang Eseni sangat keras dalam masalah tidak ikut serta dalam beribadah di Haikal, sementara orang-orang Farisi masih bias menerima hal tersebut. Kedua sekte ini juga sama dalam masalah penekanan hidup mengasing demi menjaga kesucian ritual dan demi mementingkan konsentrasi ibadah dan ketakwaan pribadi. ( Judaica, Vol. 10 hal 763 ). Kedua sekte tersebut sama dalam hal keyakinan tentang keabadian jiwa. Hanya saja orang-orang Eseni menolak konsep kebangkitan jasad seperti yang di anut orang-orang Farisi. Dalam hal latar belakang sosialpun Eseni sama dengan farisi.
Perang Terakhir
Kelompok ini menafsirkan Kitab Habakuk dalam melihat sejarah dunia. Ketika hari akhir akan datang, seorang nabi akan muncul untuk memproklamasikan kedatangan hari tersebut. Kemudian Allah akan mengutus dua orang mesias, yang satu seorang imam dan yang satu seorang prajurit. Mesias imam dipandang sebagai Guru Kebenaran yang dihidupkan kembali dan diberikan kuasa, sedangkan mesias prajurit akan berasal dari garis keturunan Daud dan bertugas memimpin pasukan Allah dalam perang terakhir melawan kuasa kegelapan. Keduanya akan memerintah umat Yahudi selaku umat Allah dan memperbarui peraturan Israel.
Apakah Penduduk Qumran Anggota Kaum Essen?

Jika gulungan-gulungan ini adalah perpustakaan orang-orang Qumran, siapakah mereka sebenarnya? Profesor Eleazar Sukenik, yang memperoleh tiga gulungan untuk Universitas Ibrani di Yerusalem pada tahun 1947, adalah orang pertama yang berasumsi bahwa gulungan-gulungan ini milik suatu komunitas kaum Essen.
Essen adalah suatu sekte Yahudi yang disebutkan oleh para penulis abad pertama Yosefus, Filo dari Aleksandria, dan Plinius Sang Penatua. Asal-usul sebenarnya dari kaum Essen ini masih belum dapat dipastikan, tetapi kemungkinan mereka terbentuk pada masa pergolakan yang dipicu oleh pemberontakan kaum Makabe pada abad kedua SM.^^ Yosefus melaporkan tentang keberadaan mereka selama periode itu, seraya ia memerinci perbedaan pandangan religius mereka dengan pandangan orang Farisi dan Saduki. Plinius menyebutkan lokasi komunitas kaum Essen, yaitu di tepi Laut Mati antara Yerikho dan En-gedi.
Profesor James VanderKam, seorang cendekiawan peneliti Gulungan Laut Mati, berpendapat bahwa ”kaum Essen yang tinggal di Qumran hanyalah sebagian kecil dari gerakan Essen yang lebih besar”, yang menurut perkiraan Yosefus berjumlah sekitar empat ribu orang. Meski gambarannya tidak seratus persen akurat, kaum yang tampaknya paling cocok dengan karakter naskah Qumran adalah kaum Essen dibandingkan dengan kelompok Yahudi mana pun pada zaman itu.
Beberapa pakar berpendapat bahwa Kekristenan bermula di Qumran. Meskipun demikian, terdapat banyak perbedaan mencolok antara pandangan religius sekte Qumran dan Kekristenan masa awal. Tulisan-tulisan Qumran menyingkapkan adanya peraturan Sabat yang sangat ketat dan perhatian yang ekstrem terhadap kemurnian yang bersifat seremonial. (Matius 15:1-20; Lukas 6:1-11) Selain itu, tersingkap pula hal-hal seperti keterasingan kaum Essen dari masyarakat, kepercayaan mereka akan takdir dan jiwa yang tak berkematian, dan penitikberatan pada keselibatan serta gagasan mistik tentang beribadat bersama para malaikat. Ini memperlihatkan bahwa ajaran mereka tidak sesuai dengan ajaran Yesus dan orang-orang Kristen masa awal.—Matius 5:14-16; Yohanes 11:23, 24; Kolose 2:18; 1 Timotius 4:1-3.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s