UNIVERSALITAS AL-QURAN : UPAYA MENYELAM MAKNA SHALIH LI KULLI ZAMAN WA MAKAN

PEMBUKA


Islam, yang diyakini sebagai titik puncak kesempurnaan agama, dianalogi seperti sebuah batu berlian yang pada tiap sudutnya memancarkan binar cahaya dan kemilau yang mengandung daya pikat kuat luar biasa. Allah SWT dalam kalam-Nya dengan lugas menyatakan. “…. pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam sebagai agama bagimu…(QS. Al-Maidah [05] : 04). Ayat ini diyakini sebagai sebuah legitimasi tekstual yang tegas tak terbantahkan, kesempurnaan Islam adalah sesuatu yang niscaya dan pasti. Pada tataran ini, seluruh umat Islam bersuara satu dan seragam.
Berbicara tentang Islam dan kesempurnaannya berarti berbicara tentang al-Quran. Islam dan al-Quran merupakan dua terma yang tidak bisa dilepas satu dengan yang lain. Keseluruhan ajaran Islam termaktub dalam kitab yang terdiri dari 114 surah dan 30 juz itu. Rasulullah saw bersabda, “Yang terbaik di antara kamu adalah yang mempelajari al-Quran dan mengajarkannya.” Artinya, sebagai kitab suci, al-Quran tiada cukup hanya sekedar dimuliakan lantas dihias dan disimpan di menara gading. Barang siapa menklaim diri sebagai umat Islam dan pengikut Rasulullah saw secara otomatis berkewajiban untuk tidak hanya terjebak dalam budaya pengkultusan yang kerontang dari pendalaman dan pengamalan. Mestilah ada perjuangan dan dan kerja keras untuk mentransformasi bimbingan yang termaktub dalam al-Quran ke dalam pola pengamalan dan perilaku nyata di tengah pusaran realitas kehidupan, sehingga klaim keberislaman tidak lantas berhenti dan stagnan hanya sekedar klaim.


”Al-Islamu/al-Quranu Shalihun li kulli zaman wa al-makan”, demikian Sang Nabi memberikan gambaran. Sebuah gambaran yang nampaknya lebih identik sebagai sebuah “rambu-rambu”. Label Islam sebagai agama yang sempurna dengan sendirinya menuntut bahwa Islam yang memuat beragam ajarannya, mestilah dapat “menembus” luasnya ruang dan “berjalan” bersama aliran waktu. Artinya tiap jengkal ajaran yang ditawarkan mestilah sanggup untuk senantiasa shalih dan berjalan selaras di setiap zaman dan pada ruang-ruang yang berbeda. Pada titik inilah, di beberapa sisi, langkah untuk menerjemahkan “Pesan Tuhan”—yang termuat dalam al-Quran—ke dalam tataran aplikasi, mulai merambah ruang problematis.
Sebagai hudan linnaas dan dalam kedudukan sebagai kitab yang memuat “Pesan Tuhan” yang bersifat universal, al-Quran sendiri diturunkan pada kisaran masa nun jauh di sana, yaitu di masa kehidupan Rasulullah saw. Al-Quran muncul ditengah latar dan realitas budaya Arab yang partikular. Sedang manusia, yang baginya Kitab ini dijadikan sebagai petunjuk, telah dan tengah tumbuh dalam realitas budaya pada ruang dan masa berlainan yang masing-masing adalah juga partikular. Manusia sebagai mahluk yang berakal senantiasa mengalami perkembangan. Sebab itulah denyut peradaban dan budaya manusia senantiasa mengalami perkembangan. Dalam konteks kontemporer, pola-pola kehidupan dan budaya manusia telah berjalan menuju suatu titik yang semakin kompleks. Pada titik ini, munculnya beragam persoalan yang juga semakin kompleks adalah sesuatu yang potensial, bahkan niscaya. Tanpa terbetik secuilpun niat untuk tidak menghormati al-Quran, nampaknya ada beberapa alternatif dan tawaran yang di masa lampau telah berhasil menjadi solusi, kerap tak lagi produktif menjadi penawar bagi problematika umat yang muncul dalam konteks kekinian, spesifiknya di Indonesia, dalam konteks kedisinian. Lantas apakah dengan demikian kita dapat berkesimpulan bahwa ada bagian dari kitab suci al-Quran yang menjadi “kadaluwarsa” dan tidak berlaku, terkait dengan penerapannya dalam konteks kekinian? Kemudian, “kaca mata” dalam corak apa yang mesti kita gunakan untuk meneropong dan menyelami terma al-Quran sebagai shalih li kulli zaman wa makan? Problema inilah yang menjadi salah satu titik fokus untuk diketemukan jawabannya. Nampaknya dalam konteks inilah Ulil Abshar Abdala melontar wacana kritis bahwa apakah kesempurnaan Islam itu merupakan suatu aktual atau potensial? Apakah kesempurnaan Islam itu seperti sebuah tambang emas yang tersimpan di dalam perut bumi atau ia seperti sebuah kalung emas yang sudah siap pakai?1

TAFSIR DAN GERAK DINAMISNYA
Al-Quran, sebagaimana dipahami banyak kalangan adalah kitab yang memuat “Pesan Tuhan”. Ilmu tafsir, adalah sebuah perangkat ilmu yang digunakan untuk menggali kedalaman makna yang termuat dari ayat-ayat al-Quran. Semenjak al-Quran itu sendiri turun kepada Rasulullah saw, tafsir telah muncul, bergerak dinamis, dan bertumbuh melintas ruang dan waktu dengan aneka ragam kompleksitasnya. Menyitir tentang perkembangan ini, Al Makin menulis dalam artikelnya, ‘Apakah Tafsir Masih Mungkin?’;
“ Tafsir berkembang terus seakan tidak pernah berhenti. Perkembangan itu sendiri sangat kompleks. Ini menyangkut banyak variabel yang tidak begitu saja bisa dianggap simpel, karena setiap zaman menghasilkan historisitas, penemuan, wacana, dan teori penafsiran terhadap al-Quran yang berbeda dengan zaman lainnya. Singkatnya setiap ruang dan waktu menghasilkan wacana, warna, gerakan, pembaharuan penafsiran tersendiri, yang setiap titik tekan mengkritisi penafsiran sebelumnya sembari menelorkan teori baru tentang penafsiran.”2
Membincangkan al-Quran adalah sesuatu yang niscaya bagi kaum muslimin. Sebab ia merupakan firman Tuhan (kalam Allah) yang senantiasa tepat dan sesuai dengan segala waktu dan setiap tempat (salih li kulli zaman wa makan). Akan tetapi meski prinsip dasar dan misi utama al-Quran tetap sama seperti sedia kala, yakni saat kali pertama diturunkan kepada Rasulullah saw, namun semangat al-Quran bisa saja berbeda jika ditangkap oleh beberapa generasi yang berbeda. Dengan ungkapan lain, ajaran dan semangat al-Quran akan bersifat universal, rasional, dan sesuai kebutuhan, namun respon historis manusia di mana tantangan zaman yang mereka hadapi sangat berbeda dan bervariasi, sehingga secara otomatis menimbulkan corak dan warna pemahaman yang berbeda pula (Amin Abdullah, 1995 : 227). Dengan demikian pengubahan, penambahan, dan bahkan penggantian suatu “cara pandang” dalam upaya memaknai dan menangkap pesan inti al-Quran adalah suatu kemestian. Singkatnya, shifting paradigm—meminjam ungkapan Thomas Khun—adalah sesuatu yang niscaya terjadi.3
SHALIH LI KULLI ZAMAN WA MAKAN DALAM PERSPEKTIIF TAFSIR KLASIK
Ayat-ayat Al-Qur’an terbuka untuk ditafsir sepanjang waktu dan zaman. Makna ayat-ayat bagi ulama zaman pertengahan bisa sangat berbeda dari makna yang diterima ulama yang hidup dalam kondisi modern. Asumsi bahwa Al-Qur’an shalih li kulli Zaman wa Makan juga diakui oleh para ulama dalam tradisi penafsiran klasik.Namun dalam paradigma tafsir klasik, asumsi tersebut dipahami dengan cara “memaksakan” konteks apa pun ke dalam teks Al-Qur’an, sehingga cenderung melahirkan pemahaman tekstualis dan literalis.4
TAFSIR KONTEMPORER DAN PEMBAHARUAN PEMIKIRAN KEISLAMAN
Dalam pidato kebudayaannya Abdul Moqsit Ghazali mengutarakan beberapa sebab yang melatari pentingnya pembaharuan pemikiran Islam, antara lain ia menyebutkan :
1. Di tengah situasi zaman yang semakin kompleks kita tidak cukup sekedar bersandar pada pikiran-pikiran keislaman lama yang sudah tidak relevan dengan konteks zaman. Sebab, apa yang dirumuskan ulama-ulama terdahulu mungkin telah berhasil memecahkan sejumlah masalah di masa lalu, dan belum tentu terampil menyelesaikan masalah di masa kini.
2. Di tengah berbagai usaha mengkerdilkan al-Quran, kita membutuhkan cara pandang baru terhadap al-Quran. Jika sebagian memberikan tekanan terlampau kuat pada aspek hukum dalam al-Quran, maka ita harus mendalaminya dengan pemahaman utuh tentang wawasan moral-etik al-Quran.5

Menurut Moqsit, upaya pembaharuan pemikiran itu dimulai dengan membenahi cara pandang kita terhadap al-Quran.

Ulil Abshar Abdala melontarkan pemikirannya tentang gagasan pembaharuan pemikiran :
“Saya meletakkan Islam pertama-tama sebagai sebuah “organisme” yang hidup; sebuah agama yang berkembang sesuai dengan denyut nadi perkembangan manusia. Islam bukan sebuah monumen mati yang dipahat pada abad ke-7 Masehi, lalu dianggap sebagai “patung” indah yang tak boleh disentuh tangan sejarah.
Saya melihat, kecenderungan untuk “me-monumen-kan” Islam amat menonjol saat ini. Sudah saatnya suara lantang dikemukakan untuk menandingi kecenderungan ini.
Saya mengemukakan sejumlah pokok pikiran di bawah ini sebagai usaha sederhana menyegarkan kembali pemikiran Islam yang saya pandang cenderung membeku, menjadi “paket” yang sulit didebat dan dipersoalkan: paket Tuhan yang disuguhkan kepada kita semua dengan pesan sederhana, take it or leave it! Islam yang disuguhkan dengan cara demikian, amat berbahaya bagi kemajuan Islam itu sendiri.
Jalan satu-satunya menuju kemajuan Islam adalah dengan mempersoalkan cara kita menafsirkan agama ini. Untuk menuju ke arah itu, kita memerlukan beberapa hal.
Pertama, penafsiran Islam yang non-literal, substansial, kontekstual, dan sesuai denyut nadi peradaban manusia yang sedang dan terus berubah.
Kedua, penafsiran Islam yang dapat memisahkan mana unsur-unsur di dalamnya yang merupakan kreasi budaya setempat, dan mana yang merupakan nilai fundamental. Kita harus bisa membedakan mana ajaran dalam Islam yang merupakan pengaruh kultur Arab dan mana yang tidak.
Islam itu kontekstual, dalam pengertian, nilai-nilainya yang universal harus diterjemahkan dalam konteks tertentu, misalnya konteks Arab, Melayu, Asia Tengah, dan seterusnya. Tetapi, bentuk-bentuk Islam yang kontekstual itu hanya ekspresi budaya, dan kita tidak diwajibkan mengikutinya.”6

PENAFSIR KONTEMPORER

1. Nasr Hamid Abu Zaid dan teori Hermeneutikanya
Abu Zayd mengkritik konsep yang diusulkan oleh mazhab teologi Asy-sya’riah tentang ketakterciptaan Al Quran. Menurutnya Al Quran adalah “sebuah pesan yang mewakili hubungan komunikatif antara pengirim (sender) dan penerima (receiver) melalui alat sistem kode atau linguistik.”7 Tuhan menyampaikan pesan kepada masyarakat Arab abad VII M–yang memiliki kondisi sosio-politik tertentu- melalui Muhammad saw. Karena itu, memulai sebuah analisis teks Al Quran dengan realitas budaya kontekstualnya sebenarnya adalah memulai dengan fakta-fakta sejarah empirik.
Atas dasar konsep itu Abu Zayd menawarkan “metode pembacaan kontekstual” yang dia sebut sebagai metode pembaruan. Menurutnya metode ini tidak sama sekali baru, dalam pengertian bahwa ia, pada satu sisi merupakan pengembangan dari metode ushul fiqh tradisional, sedangkan pada sisi yang lain merupakan kelanjutan dari kerja keras para pendukung renaisans Islam –khususnya Muhammad Abduh dan Amin Khuli. Ulama ushul menerapkan aturan-aturan ‘ulum Al Quran (khususnya asbabun nuzul dan ilmu nasikh dan mansukh) hingga aspek aturan ilmu-ilmu kebahasaan sebagai alat pokok penafsiran untuk menghasilkan istinbath (kesimpulan) hukum dari teks. Alat-alat ini, menurut Abu Zayd, merupakan bagian terpenting dari alat-alat metode “pembacaan kontekstual”. Namun, berbeda dengan ulama ushul yang menekankan pada pentingnya asbabun nuzul untuk memahami suatu makna. “Pembacaan kontekstual” melihat permasalahan dari sudut pandang yang lebih luas, yakni sekumpulan konteks historis (sejarah) –abad VII M- turunnya wahyu.
Ulama ushul memandang bahwa asbabun nuzul tidak mengindikasikan “kesementaraan” hukum dan bukan hanya suatu sebab sehingga mereka meletakkan kaidah “memegangi keumuman lafaz bukan kekhususan sebab” (al-ibrah bi umum al-lafzh la bi khushush al-sabab). Sementara Abu Zayd membedakan antara “makna” historis yang disimpulkan dari suatu konteks, dengan “signifikansi” yang diindikasikan oleh makna dalam konteks sosio-historis penafsiran. Pembedaan ini sangat penting dengan syarat bahwa signifikansi tersebut muncul dari makna dan memiliki kaitan yang kuat, seperti keterikatan akibat dengan sebab, dan signifikansi itu bukan ekspresi hawa nafsu penafsir, juga bukan pelompatan makna atau pembatalannya.
Kata ‘makna’ dan ‘signifikansi’ adalah dua istilah penting dalam teori hermeneutika Nashr Abu Zayd. Untuk memahami konsepnya tentang kedua istilah ini, penting untuk mengutip konsep E.D. Hirsch tentang makna dan signifikansi yang juga dirujuk oleh Abu Zayd.
Bukanlah makna teks yang berubah, namun signifikansinya (yang berubah) bagi penulisnya. Pembedaan ini teramat sering diabaikan. Makna adalah makna yang direpresentasikan oleh sebuah teks; ia adalah apa yang dimaksud oleh penulis dengan penggunaannya atas sebuah sekuensi tanda partikular; ia adalah apa yang dipresentasikan oleh tanda-tanda. Signifikansi, pada sisi lain, menamai sebuah hubungan antara makna itu dan seseorang, atau sebuah persepsi, situasi, atau sesuatu yang dapat dibayangkan … Signifikansi selalu mengimplikasikan sebuah hubungan, dan satu kutub konstan yang tak berubah dari hubungan itulah apa yang dimaksud oleh teks. Kegagalan untuk mempertimbangkan pembedaan yang simpel dan esensial ini telah menjadi sumber kekacauan yang luar biasa dalam teori hermeneutika.
Pemahaman Abu Zayd secara umum diderivasi dari Teori E.D. Hirsch. Makna adalah makna yang ditampilkan oleh teks dan signifikansi adalah apa yang muncul dalam hubungan antara makna dan pembaca.
Abu Zayd mendefinisikan “tiga level makna pesan” yang terkandung dalam teks-teks keagamaan.
1. Level pertama adalah makna yang hanya menunjuk kepada “bukti/fakta historis” yang tidak dapat ditafsirkan secara metaforis.
2. Level kedua adalah makna yang menunjuk kepada “bukti/fakta historis” dan dapat ditafsirkan secara metaforis.
3. Level ketiga adalah makna yang bisa diperluas berdasarkan atas “signifikansi” yang dapat diungkap dari konteks sosio-kultural di mana teks itu berada.
Secara singkat proses penafsiran Abu Zayd diawali dengan mencari makna sosio-kultural kontekstual, dengan menggunakan kritik historis sebagai analisis permulaan yang diikuti oleh analisis linguistik dan kritik sastra dengan memanfaatkan sejumlah teori sastra. Dari sini akan diketahui level makna pesan teks itu. Jika suatu teks memiliki level makna pertama, maka ia berhenti pada kritik historis, dan memperlakukan teks tersebut sebagai bukti/fakta historis. Jika suatu teks mempunyai level makna kedua, maka kita dapat melangkah dari kritik historis ke kritik sastra dengan menganggap teks tersebut sebagai metafor. Dalam hal ini, kaitan antara makna metafora dengan makna hakiki (literal) harus tetap dijaga. Dalam hubungannya dengan level makna ketiga, sebuah teks harus dicari signifikansinya yang diturunkan dari makna objektifnya. Makna ini akan membimbing penafsir untuk mendapatkan “pesan baru” dengan bergerak dari “makna” teks kepada “signifikansi”-nya di dalam konteks sosio-kultural penafsir. Dengan menganalisis perubahan/pergeseran dari makna ke signifikansi di atas, penafsir akan mendapatkan arah teks. Dari sini analisis diarahkan kepada hal-hal “yang tak terkatakan” (al-maskut ‘anhu) yang dibedakan dari signifikansi. Signifikansi masih terkait dengan makna, tetapi “yang tak terkatakan” muncul dari proses pembacaan, dengan memperhatikan arah teks-teks yang dibaca.
Contoh kasus
Hak waris perempuan
Hak waris perempuan terkait dengan posisi perempuan secara umum dan posisi mereka dalam Islam secara khusus, serta terkait dengan problem pewarisan sebagaimana yang tersebut dalam teks-teks Al Quran. Pembagian hak waris didasarkan atas hubungan patriarkhal kesukuan. Tentang pembagian waris antara laki-laki dan perempuan, ayat berikut ini biasanya dijadikan pegangan.
Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta yang ditinggalkan oleh orang tua dan kerabatnya, dan bagi perempuan ada hak bagian pula dari harta yang ditinggalkan oleh orang tua dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan. Dan apabila pada waktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik. Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, dan mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka menelan api sepenuh perutnya dan merka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala! Allah mewasiatkan bagimu tentang (hak pewarisan) anak-anakmu. Yaitu: bagian seorang laki-laki sama dengan bagian dua perempuan […] (tentang) orang tuamu atau anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa diantara mereka yang lebih dekat (manfaatnya) bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana (QS Al-Nisa 4 : 7-11)
Merujuk pada ayat-ayat diatas, Abu Zayd menunjuk dua hal yang seharusnya dipertimbangkan dalam memahami wacana Al Quran tentang pewarisan.
1. Al Quran sebenarnya memperkuat hubungan antara sanak-saudara, anak-anak yatim, dang orang miskin yang dalam hukum waris tradisional tidak mempunyai hak waris, dengan memberikan kepada mereka sebagian harta warisan, jika mereka datang pada saat pembagian waris.
2. Al Quran menekankan bahwa hubungan klan bukanlah hubungan kemanusiaan yang paling penting sebagai mana yang dipahami orang pada masa pra-Islam.
Dari kedua poin ini Abu Zayd menyimpulkan bahwa konsep Al Quran tentang keadilan ekonomi lebih luas ketimbang zakat, shadaqah, dan mirats (pewarisan), karena tujuannya adalah untuk menghilangkan perputaran harta dikalangan orang-orang kaya saja.
Abu Zayd kemudian beralih menganalisis konteks sosio-historis posisi perempuan dalam masyarakat pra-Islam. Makna dari sebagian besar hukum Islam yang berkaitan dengan perempuan, dan juga signifikansinya, tidak bisa ditangkap tanpa mempertimbangkan kebudayaan Arab pra-Islam. Dalam kebudayaan Arab pra-Islam, perempuan tidak memiliki hak untuk memiliki. Karena tidak produktif, perempuan (dan juga anak kecil) tidak mendapatkan warisan; bahkan sebaliknya, mereka dapat diwariskan laiknya harta warisan. Aturan standarnya terkait dengan masalah produktivitas ekonomi, sebagaimana yang mereka katakan: “Kita tidak memberikan warisan kepada seseorang yang tidak bisa menungggang kuda, Tidak kelelahan dan tidak melukai musuh.” Ini menggambarkan sebuah kebudayaan yang menganggap peperangan sebagaisalah satu jalan, bukan hanya untuk mendapatkan kekuasaan tetapi juga harta kekayaan (yang berupa rampawan perang dan budak tawanan). Dalam konteks kebudayaan semacam ini, Al Quran menyatakan bahwa perempuan mendapatkan warisan setengah dari bagian laki-laki, dan bahkan mereka mempunyai hak untuk mendapatkan kalalah. Karena itu, berdasarkan atas sebuah prinsip hukum Islam: “hukum berubah berdasarkan atas ada, atau tidak adanya, alasan-alasan legal” (al-hukm yaduuru ma’a al-‘illah wujuudan wa ‘adaman), Abu Zayd menyatakan bahwa konteks dan alasan legal dari hak perempuan untuk mendapatkan warisan telah berubah. Pada masa Nabi, secara ekonomi, perempuan tidak produktif, Sementara pada masa sekarang perempuan rata-rata secara ekonomi produktif. Jadi, hukum dalam hal ini haruslah berubah.
Muhammad ‘Abduh menyatakan bahwa frase “li al-dzakari mitslu hazhzhi al-untsayayn” (bagi laki-laki bagian yang sebanding dengan bagian dua perempuan), harus dipahami dalam kaitannya dengan frase sebelumnya: “Allah mensyariatkan bagimu tentang (hak pewarisan) anak-anak kamu.” Frase pertama adalah sebuah kalimat yang menjelaska frase kedua. Ini adalah deklarasi tentang dihapuskannya sistem pewarisan pra-Islam. Dari konteks ini, Abduh berkesimpulan bahwa bagian perempuan ditetapkan berdasarkan atas kesepakatan secara wajar. Dan bagian laki-laki adalah “sebanding dengan bagian dua perempuan”. Bagian perempuan merupakan dasar dalam pensyariatan dan bagian laki-laki diasosiasikan kepadanya dan diakui setelah bagian perempuan ditentukan.8
Menurut Abu Zayd, analisis ‘Abduh tentang bagian waris perempuan sebagai dasar dalam pensyariatan mengekspresikan makna yang diturunkan dari struktur linguistik (bahasa) teks. Makna ini mempunyai sebuah signifikansi yang sangat penting dalam konteks sosio-historis dalam sebuah masyarakat patriarkhal, seperti masyarakat Arab, dimana kelelakian (gender) merupakan ukuran dan prinsip nilai. Signifikansinya adalah Al Quran bertujuan menciptakan persamaan antara laki-laki dan perempuan secara bertahap. Perubahan yang mendadak tidak mungkin, dan bahkan bisa bersifat merusak.
Bagian waris perempuan ditetapkan sebagai bagian yang ditetapkan Allah (faridhah min Allah) yang tidak seorang pun boleh menguranginya. Dari sini, Abu Zayd beralih kepada argumen lain, yang mendukung argumen pertama (tentang alasan produktivitas perempuan) analisis lain dari frase “bagi laki-laki bagian yang sebanding dengan bagian dua perempuan” adalah, teks menekankan pada bagian laki-laki fulu baru kemudian bagian perempuan, ini menunjukkan bahwa Al Quran membatasi bagian laki-laki kerimbang bagian perempuan “sebanding dengan bagian dua perempuan”. Namun, bagian perempuan ini sebenarnya adalah bagian minimum, bukan maksimum. Ini berarti laki-laki dapat menerima bagian yang lebih rendah dari yang seharusnya dia terima, dan perempuan dapat menerima lebih banyak dari bagian yang seharusnya mereka terima berdasarkan kesepakatan. Dengan mempertimbangkan “arah teks”, perempuan haruslah mendapatkan bagian waris yang sebanding dengan laki-laki. Dalam hal ini, Abu Zayd mengkaji hukum pewarisan dalam konteks level makna ketiga, yang harus diungkap signifikansi pesannya.
Konklusi yang harus kita ambil jika kita ingin menjadi seorang muslim yang baik, adalah bahwa perempuan haruslah mendapatkan bagian yang sebanding dengan bagian laki-laki. Kita haruslah tidak mengikuti makna literalnya, namun engikuti semangat kalam Allah.9

2 Fazlur Rahman dan Teori Double Movement-nya
Fazlur Rahman sama sekali tidak mempersoalkan otentisitas al-Quran. Ia meyakini bahwa al-Quran itu adalah sebuah kitab yang otentik. Menurutnya yang terpenting adalah bagaimana memahami Quran dengan metode yang tepat untuk mengungkap kandungan Quran, karena dalam kenyataannya, Quran itu laksana puncak sebuah gunung es yang terapung, sembilan persepuluh darinya di bawah lautan sejarah, hanua sepersepuluh darinya yang tampak di permukaan. Karena itulah, untuk memahami Quran, orang harus mengetahui sejarah Nabi dan perjuangannya selama kurang lebih dua puluh tiga tahun. Selain itu juga perlu memahami kondisi bangsa Arab pada awal Islam serta kebiasaan, pranata-pranata dan pandangan hidup orang Arab.
Dalam pandangan rahman Quran muncul dalam sinaran sejarah dn bergadapan dengan latar belakanga sosio-historis. Quran adalah sebuah respon terhadap situasi yang sebagian besarnya merupakan pernyataan-pernyataan moral, religius dan sosial yang menanggapi berbagai persoalan spesifik dalam situasi kongkrit.
Dalam Islam and Modernity, Rahman menawarkan dua langkah untuk memahami Quran.
Pertama, orang harus memahami makna pernyataan Quran dengan mengkaji latar belakang historis ketika sebuah ayat diturunkan. Jadi langkah pertama adalah memahami makna Quran sebagai suatu keseluruhan disamping jawaban-jawaban khusus.
Kedua, menggeneralisasikan respon-respon khusus dan menyatakannya sebagai pernyataan-pernyataan moral-sosial umum yang dapat disarikan dari ayat-ayat spesifik dan ratio legisnya.

Jika langkah pertama berangkat dari persoalan-persoalan spesifik dalam Quran untuk dilakukan penggalian sistematisasi prinsip-prinsip umum, nilai-nilai dan tujuan-tujuan jangka panjang, maka langkah kedua harus dilakukan dari pandangan umum ke pandangan spesifik yang harus dirumuskan dan direalisasikan pada saat sekarang ini.10

SHALIH LI KULLI ZAMAN WA MAKAN DALAM PERSPEKTIF AHMDIYAH

Berikut ini diuraikan pandangan-pandangan dari Hadrat Masih Mau’ud dan khalifah-khalifah beliau :
1. Hadhrat Masih Mau’ud

Kesalahan yang keempat belas, ialah bahwa ada orang-orang yang menganggap sebagian ajaran-ajaran Islam adalah menurut keadaan tanah Arab saja di zaman dahulu kala, dan itu sekarang dapat dirubah. Sampai orang-orang seperti sayyid Amir Ali pun menulis bahwa kepercayaan tentang malaikat dan polygami adalah di antara ajaran-ajaran semacam itu. Sebetulnya orang-orang itu takut dari celaan-celaan orang Kristen, oleh karena itu mereka menulis bahwa masalah-masalah ini adalah hanya untuk orang-orang Arab saja, dan bukanlah untuk kita, maka sekarang itu dapat ditinggalkan.

Masih Mau’ud berkata bahwa anggapan ini adalah salah, dan semua hukum-hukum al-Quran adalah sahih. Tidak ada satu jua pun hukum al-Quran yang hanya untuk satu waktu saja, kecuali tentang mana al-Quran sendiri menerangkan, bahwa hukum ini adalah untuk tempo itu dan tempat itu. Nabi Muhammad saw membawa syariat panghabisan, oleh karena itu semua ajaran untuk tiap-tiap zaman terdapat di dalam al-Quran. Memang tempo untuk bekerja menurut ajaran-ajaran itu juga telah diterangkan oleh al-Quran sendiri. Tidak ada satu jua pun ayat al-Quran yang tidak dapat dikerjakan untuk selama-lamanya. Atau tidak ada suatu ajaran yang tak dapat dikerjakan oleh orang mana saja.11

2. Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad ra
Hadhrat Muslih Mau’ud menulis :
“…penting untuk kita ketahui bahwa ajaran yang berhasil mencapai tujuannya ialah ajaran yang dapat memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh manusia pada tiap-tiap zaman. Ajaran itu harus sesuai dan harus memiliki sifat kekenyalan (elastisitas) dalam menghadapi tuntutan tiap-tiap zaman. Suatu ajaran yang tiak memiliki sifat kekenyalan tidak akan mampu menyelaeaskan ajarannya dengan segala keadaan pada tiap-tiap zaman. Akan tetapi yang saya maksudkan dengan sifat kekenyalan adalah dalam penerapannya dan bukan dalam prinsip-prinsipnya dan itikad-itikadnya.
Umpamanya, sebilah papan tak akan pas kalau diletakkan pada temat yang tidak sesuai dengan ukurannya. Akan tetapi sehelai kain cadar dapat dipaskan pada tempat yang kecil jika kita ringkaskan dan dapat dilebarkan pada tempat yang besar. Begitu juga suatu ajaran yang mempunyai prospek untuk menang dan berhasi dalam maksudnya akan sesuai dan cukup kenyal untuk memenuhi tuntutan tiap-tiap zaman tanpa sedikitpu merusak pola dasar aslinya.”12

3. Konsep Universalitas menurut Hazrat Mirza Tahir Ahmad

Suatu agama dapat diterapkan bagi semua bangsa di dunia dan dapat mengatasi batas-batas geografis dan negara tapi juga berlaku lintas waktu.

Agama yang Universal memiliki kriteria sebagai berikut:
1. Agama yang ajarannya terkait dengan fitrat manusia.
2. Agama yang berakar pada fitrat manusia akan dapat mengatasi ruan g dan waktu.
3. Agama tersebut tidak mencampuri situasi-situasi transien manusia dalam kurun waktu manapun.
Semua kriteria ini ada didalam agama Islam.
Mengenai hal tersebut Al Quran menjelaskan:
Padahal mereka (Ahli Kitab) tidak diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan tulus ikhlas dalam ketaatan kepada-Nya dan dengan lurus serta mendirikan solat dan membayar zakat. Dan itulah agama yang benar. (Al Bayyinah:6)
Maka hadapkanlah wajahmu untuk berbakti kepada agama dengan kebaktian selurus-lurusnya. Dan turutilah fitrat yang di ciptakan Allah, yang sesuai dengan fitrat itu Dia telah membentuk manusia. Tiada perubahan dalam penciptaan Allah. Itulah agama yang benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Ar Rum:31)

Dari penjelasan yang diterangkan oleh kedua ayat tersebut memunculkan pertanyaan:
1. Apa gunanya menurunkan agama demi agama dengan ajaran yang sama?
2. Mengapa Islam mengaku secara relatif, Islam bersifat lebih Universal dan sempurna dibanding agama-agama sebelumnya jika agama lain pun memiliki ajaran yang bersifat Universal dan berlaku bagi manusia di segala zaman?

Jawaban:
• Al Quran menjelaskan dengan fakta historis; semua kitab dan Naskah Suci yang turun sebelum Al Quran telah mengalami perubahan-perubahan secara berangsur telah mengalami penyesuaian-penyesuaian atau karena dimasukannya unsur-unsur baru secara interpolasi sehingga validitas dan autentisitasnya diragukan, hingga muncul agama-agama lain.
• Al Quran menjelaskan proses evolusi di segala sisi masyarakat manusia. Agama baru dibutuhkan tidak hanya sebagai restorasi dari ajaran-ajaran fundamental dari agama yang telah mengalami perubahan karena campur tangan manusia, tapi juga sebagai tambahan pada agama lama agar dapat beradaptasi dengan evolusi masyarakat.
• Unsur ajaran kedua yang terkait dengan kurun waktu dimana ajaran itu diturunkan guna memenuhi kebutuhan sekelompok orang / periode tertentu.
• Manusia tidak memperoleh pelatihan dan pendidikan dalam ajaran-ajaran samawi dalam satu hentakan. Tetapi dibawa secara bertahap hingga ke tingkat kedewasaan mental dimana ia dianggap siap menerima keseluruhan prinsip-prinsip dasar yang diperlukan sebagai bimbingan baginya.
Menurut pandangan Al Quran, ajaran turunan kedua yang terkait erat berdasarkan pada prinsip-prinsip fundamental yang baku adalah juga merupakan bagian dari Islam sebagai agama yang sempurna, terakhir dan menyeluruh.
Ini pada intinya merupakan konsep Universalitas keagamaan yang dimiliki Islam.

Permasalahan:
Apa manusia mau meneliti dan menilai kelebihan satu per satu dari semua agama yang diperbandingkannya?
Dijelaskan oleh Al Quran:
Dialah yang mengirimkan rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia menyebabkannya menang atas semua agama, betapa pun orang musyrik tidak akan menyukainya. (Ash-Shaf:10).

DAFTAR RUJUKAN :

1 Ulil Abshar Abdalla, Menyegarkan Kembali Pemikiran Islam, Jakarta : Nalar, 2007, hlm. 167
2 Al Makin, Studi al-Quran Kontemporer : Apakah Tafsir Masih Mungkin?, Jogjakarta : Tiara Warna, 2002, hlm. 3
3 Bagian Pengantar Hermeneutika Al-Quran Mazhab Yogya, Jogjakarta : Islamika, 2003
5 Makalah Abdul Moqsit Ghazali, Menegaskan Kembali Pembaruan Pemikiran Islam (disampaikan dalam Pidato Kebudayaannya, Jumat, 8 Juli 2011)
6 KOMPAS.COM, 16 Maret 2011
7 Nashr Abu Zaid, Al-Quran, Hermeneutika, dan Kekuasaan, hlm. 54
8 Abduh, Al-A’mal, Vol. 5, hlm 180
9 Van Houcke, Soera
10 Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas, hlm. 7
11 Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, Jasa-jasa Imam Mahdi (dalam majalah Sinar Islam edisi Zhuhur 1358 HS)
12 Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, Tatanan Dunia Baru, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1993
13 Hadhrat Mirza Tahir Ahmad, Islam Respon to Contemporary Issues, Islamabad : Islam International Publication, 1992

ooooo0000ooooo

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s