Perjalanan Melebur Kesombongan

Paidl Safar 11-13 Maret 2012
Oleh : Ridhwan Ibnu Luqman
Tepat dua tahun lalu, saya menjadi saksi betapa kerasnya perjuangan kakak-kakak senior dalam menghadapi Ujian Paidal Safar. Entah itu latihan, persiapan peralatan-peralatan, hingga perhelatan Paidl Safar itu dimulai. Semua siswa Jamiah Ahmadiyah Indonesia pasti mengalami dan akan mengalami ujian ini. Dan tahun ini adalah giliran dari angkatan XVIII ( Delapan Belas ). Jauh-jauh hari sebelum perhelatan Ujian ini, saya dan teman seangkatan mempersiapkan semua keperluan, dan melewati beberapa latihan, yang tentunya mendukung saat pelaksaan Paidl Safar.
Dalam kurun waktu satu tahun lebih, saya dan teman-teman seangkatan melewati beberapa latihan. Entah itu latihan jarak dekat ; yang cukup melewati daerah sekitar kampus, atau latihan dengan jarak yang jauh. Dalam latihan jauh kami senantiasa mengunjungi cabang-cabang disekitar JABODETABEK, karena selain dari latihan jalan kaki, kamipun bisa bersilaturahmi dengan para anggota Jemaat di cabang yang kami kunjungi. Cabang-cabang yang telah menampung kami dan menjadi tempat persinggahan latihan yaitu, Lenteng Agung, Serua, Sindang Barang, Gondrong, dan Perigi.
Selain dari itu, perlengkapan tak kalah penting dalam menunjang kegiatan ini. Beberapa item penting seperti Sendal atau sepatu, kaos kaki, peralatan obat-obatan, topi, suplemen dan lainnya, Kurang dari satu minggu sebelum Paidl Safar dimulai beberapa item itu sudah kami penuhi.
Terakhir senjata kami sebelum beraksi di medan perjalanan adalah pengalaman. Pengalaman dari para Mubaligh dan senior-senior Jamiah yang tentunya telah mencicipi ujian ini. Apa saja yang diintruksikan panitia dan saran dari yang lebih berpengalaman, kami serap dan kami laksanakan. Sempat berfikir untuk tidak memperdulikan apa yang disarankan panitia dan yang lainnya, karena saya berfikir saya mempunyai cara tersendiri, yang lebih pas dan cocok untuk saya. Namun saya sadar bahwa itu merupakan benih dari kesombongan. Seberapa yakin saya dengan teori saya, tidak mungkin mengalahkan pengalaman para senior dan yang laiinnya. Dan dihari-hari terakhir saya penuhi dan laksanakan semua amanat, saran, serta perintah dari para senior dan panitia. Hingga sayapun sanggup mengatakan siap 100 % baik persiapan dan juga mental. Dan perjalananpun dimulai…


Minggu 11 Maret 2011
Malam harinya ( sabtu 10 maret ), kami mendapat wejangan dan bekal moral dari Bapak Raisut Tabligh serta Do’a bersama. kemudian untuk terakhir kalinya Panitia mengumpulkan kami dan membagikan beberapa item penting seperti kartu peserta, tata tertib, uang amanat, dan minyak bawang. Setelah selesai kami diperintahkan untuk langsung istirahat ( tidur ) maksimal pada pukul 21.00 Wib. Namun entah apa yang terjadi, dimalam itu rasanya sulit sekali untuk memejamkan mata dan menikmati mimpi suci sebelum pergi di esok hari. Pandangan hanya tertuju pada langit-langit, dan gusar tentang hari esok yang akan dilewati. Entah berapa menit saya tertidur, lalu tepat pukul 01.30 kami dibangunkan, kemudian bergegas ke kamar mandi, sekedar untuk mencuci muka dan berganti pakaian. Dari mulai seragam kaos paidl Safar bertuliskan “ Hamesyah Muskrate Rahe “ yang berarti selalu tersenyum, minyak bawang yang menjadi pelicin selangkangan.. haha, sampai balutan kaos kaki segera menempel di tubuh. kemudian pergi ke dapur dan mencicipi sedikit roti untuk mengganjal perut. Setelah itu pelepasan oleh Bapak Principal dan Pembina Paidl Safar. Jepret dan Sorot Camera baik Panitia atau MTA mengiringi awal perjalanan kami. Dua sahabat mengawali perjalanan ini, kemudian selang 10 menit saya dan sahabat saya Ahmad mengawali perjalanan. Dengan perasaan yang bercampur antara bangga dengan sedih melangkahkan kaki keluar gerbang Markaz. Hujan menyertai di awal perjalanan kami. Menyusuri jalanan Parung-Bogor kemudian menyusuri jalanan Bojong yang gelap dan sedikit mencekam.
Dipersimpangan kami temui polisi kemudian kulemparkan salam seraya hendak bertanya tentang arah di peta dalam genggaman. Namun balasannya hanya pandangan kecurigaan, seolah saya seorang teroris yang diperhatikan setiap langkahnya oleh ujung matanya. Tak ada tanda yang jelas, lalu kemudian berijtihad dan mengikuti kata hati. Menyusuri tempat yang gelap hingga saya temui titik terang, setelah melalui sawangan. Waktu itu sudah tiba waktu shubuh dan kamipun mulai melaksanakan shalat Shubuh. Diwaktu shalat tak ada yang berubah dengan kecepatan jalan kami, namun baru saja masuk rakaat kedua saya dihentikan panitia yang ternyata merupakan Pos 2. Setelah pemeriksaan selesai, kamipun melanjutkan perjalanan dan kembali shalat Shubuh. Memasuki daerah parung, rutenya sudah sangat familiar, jadi kecepatan jalanpun ditambah. Sesekali melihat peta yang hanya membuat sesak dada. Betapa tidak perjalanan yang dirasa sudah berjam-jam dan terasa sudah jauh, ternyata baru sedikkit saja rute yang dilewati dipeta. Keluh kesah kadang menghampiri dan mengikis semangat yang membara.
Pos 3 terlewati mulailah terasa masalah dengan kaki, bantalan yang sedianya membuat nyaman, kini berubah jadi ancaman. Setelah di cek ternyata sikaki kanan melepuh dan tanpa fikir panjang saya cabut bantalan tersebut, kemudian dengan langkah yang tertatih melanjutkan perjalanan yang masih sangat jauh. Rumpin-Pamulang jalur yang begitu lurus dan panjang ditambah lagi turunan dan tanjakan. Namun bukan itu yang mematahkan semangat, rekan-rekan yang strat dibelakang saya, satu persatu mulai menyalip dan membuat kami saya tercecer di urutan paling belakang. Dalam keadaan seperti itu saya mengingat pesan Bapak Raisut Tabligh “ Perbanyaklah Istighfar “ dan memang dengan itu semua rasa sakit, lelah, lapar, haus, amarah, serta keluh kesah hilang dan berganti dengan tangis harap Ridha Illahi. Perbekalan air mulai menipis. Lalu Panitia menghampiri, memberikan jatah sarapan pagi, dan memberi sedikit air. UNPAM terlihat dan nampak penjaga POS, namun ternyata hanya POS bayangan dan satu kabar yang mengharu biru bahwa “ POS 4 nya ada d UIN “.
KESETIAAN mungkin kata inilah yang pantas saya anugerahkan untuk kawan saya Ahmad Hidayat. Betapa tidak ia setia mengimbangi cara jalan saya yang lambat, sampai-sampai kakinya harus bernasib sama dengan saya. Terik mentari di Pamulang II terus mengiringi sampai pertigaan Ciputat, tempat yang memang tidak asing bagi saya. Nampak Supermarket Gyant di ujung mata, kemudian semangat kembali timbul dan terus menyeret kaki menuju Pos Berikutnya. Memasuki daerah ciputat terasa sangat panas, namun disana saya dapati betapa besar karunia Allah untuk hamba yang berlumur Dosa seperti saya sekalipun. Saya hanya bisa mengeluh padanya atas panas yang menyiksa. Kemudia Ia kirimkan awanNya dan terlihat awan hitam dilangit menaungi kami yang berjalan dibawahnya. Disanalah saya dapati bahwa Do’a orang teraniyaya dan orang yang dalam perjalanan itu makbul.
Tiba di Pos 4, panitia dengan cekatan memeriksa perbekalan. Mengisi air minum dan memberi motifasi “ Ayoo semangat, sedikit lagi “. Dari pos 4 ke Finish hari pertama saya rasa dekat, mungkin karna saya tahu rute dipeta. Jalanan ciputat terus kami lewati, sampai-sampai tak terasa Jombangpun terlewati. Karna melihat peta hanya membuat sakit hati, sayapun memutuskan untuk tidak melihat peta. Bukan sombong atau sok tahu, tapi karna tanda yang ada dijalanpun memadai bagi kami. Setelah kami diputer-puter di daerah jombang, yang tak tau ujungnya kemana. Rute komplekpun, asing bagi kami karna selama latihan kami hanya melewati jalanan utama. TERNYATA kami di putar sebelum masuk Pos 5. Semangat masih berkobar kala itu. Rasa laparpun ikut berontak namun perempatan Ciledug Perigi dirasa sudah dekat, dan saya berfikir “ ya.. paling 10 menit lagi sampai “. Sekitar pukul 01.20 saya meninggalkan Pos 5. Dan bergegas menuju Perigi tempat Finish hari pertama. Lelah dan rasa lapar tak saya hiraukan. Kemudian kami dapati rekan baru dua orang teman yang start di belakang saya.
Jarak yang semestinya bisa ditempuh dengan 10 menit, harus ditempuh dengan dua jam perjalanan lagi. Jalur kembali diputar ke daerah Pondok Kacang. Akhirnya emosi dan kecewa mulai menghampiri, ditambah rasa sakit dikaki yang semakin menjadi. Salah seorang teman kami terhenti karena kram, sayapun memutuskan untuk menemani dia sambil beristirahat, meskipun ia bukan pasangan saya dari awal start. Beberapa kali kami berhenti karna kondisi kaki yang semakin terasa sakit dan perih. Kemudian kami lewati beberapa Pos bayangan sebelum samapai pos akhir perigi. Sempat karena sudah terasa sakit dan letih, kami bertiga beristirahat dan menyempatkan diri selonjoran ( tiduran ) sampai-sampai hujan membangunkan kami. Kamipun melanjutkan perjalanan, dan berharap segera sampai ke tempat finish pertama.
Lama kami susuri jalanan Pondok Kacang dengan guyuran hujan, akhirnya kami bertemu dengan Pos bayangan terakhir. Dari sana saya mendapat petunjuk dari Panitia, bahwa hanya dengan 15 menit bisa sampai ke tempat finish. Kamipun melanjutkan perjalanan. Dari kejauhan nampak menara Mesjid Bani Umar, dari situ kembali muncul semangat dan terus memacu langkah utuk sampai ke Perigi. Akhirnya nampaklah kubah mesjid Perigi dari kejauhan. Kami susuri jalanan dan nampak dari kejauhan beberapa orang Panitia dan anak-anak ARH menyambut dengan wajah cemas, menanti kami yang nampak lusuh dan lelah. Kami tiba sekitar pukul 16.00 WIB, kemudian Kami serahkan peta, tanda kelengkapan, dan kemudian Panitia dengan sigapnya membawa saya dan reka-rekan untuk segera beristirahat dan merendamkan kaki di air yang cukup panas.
Terlihat rekan-rekan saya yang finish terlebih dulu sedang beristirahat ( Tidur ), dan begitu sedap dipandang. Ingin rasanya saya segera menyusul, tapi apa daya waktu yang seharusnya saya manfaatkan untuk beristirahat malah saya pergunakan untuk membedah kaki saya yang sudah melepuh. Dua benjolan bulat berisi air terpaksa harus saya pecahkan dengan suatu pertimbangan “ dari pada besok pecah di jalan lebih baik dipecahkan dari sekarang “. Sakit memang, tapi kelelahan berjalan seharian telah menutupi rasa sakit itu. Setelah semuanya beres, kemudian saya melaksanakan Shalat Dzuhur jamak Ashar. Kemudian menyempatkan makan nasi, yang diberikan Panitia untuk jatah Pagi dan Siang.
Belum juga saya bisa beristirahat, karna masih berkutat dengan kaki yang kondisinya sungguh memprihatinkan. Tak terbayang perjalanan yang masih menyisakan 2 hari lagi, atau tersisa 140 KM. Namun tak ada obat yang bisa menimbulkan semangat dan menghilangkan rasa sakit, selain dari rintihan Do’a pada yang Maha Kuasa. Karna semata-mata KaruniaNya sepanjang perjalanan yang secara logika begitu menyiksa, namun kami masih bisa tersenyum seperti apa yang tertera di punggung baju kami “ Hamesyah Muskrate Rahe “ “ Keep on Smiling “ “ Selalu Tersenyum “. Dan sungguh Allah Ta’ala telah mengubah yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Waktu Maghrib tiba sayapun melaksanakan shalat Maghrib jamak isya. Karna kondisi saya yang termasuk paling parah, maka saya hanya bisa mengerjakan shalat di kamar tanpa mengikuti berjamaah di mesjid. Kemudian setelah itu ada waktu untuk makan malam dan kemudian untuk mempersiapkan keberangkatan besok, sayapun mengobati kaki ; melumurinya dengan berbagai macam ramuan, seperti yang sebelumnya diisyaratkan oleh Panitia. Rasa cape memaksa saya tertidur lelap seraya melupakan perjuangan hari pertama, serta menyongsong derita hari ke 2. Mengapa saya sebut penderitaan, karna dalam pepatah ‘Arab dikatakan bahwa perjalanan itu adalah setengah dari penderitaan atau azab. Namun penderitaan ini bertujuan untuk mendekatkan diri pada zat yang Maha Suci.
Sayup-sayup lantunan syair terdengar dari mesjid, begitu merdu. Entah itu Khudam atau Lajnah, tapi yang pasti itu membawa saya ke alam mimpi dan menjalani aktifitas dibawah sadar ( Tidur ).
Senin 12 Maret 2012
Teriakan Panitia terdengar sekitar pukul 02.00 Wib “ Bangun… Bangun “ . rupa-rupanya kita terlambat dibangunkan dan tentunya terlambat pula start awal dimulai. Setelah membasuh muka seadanya, kemudian sepotong roti mengganjal perut dipagi itu. Panitia mulai mengumumkan pasangan jalan dihari ke Dua. Musa Saiful Islam menjadi partner saya pada posisi Start ke 4. Pasangan yang parah boleh dibilang, betapa tidak keadaan kaki saya yang parah ditambah partner saya yang lambat, yang dihari pertamapun ia datang paling terakhir.
Tapi saya tetap menyemangati diri dan rekan saya tentunya. Setelah Panitia megintruksikan saya untuk memulai perjalanan, sayapun mulai mengeret kaki dengan diiringi “ Basmallah “. Setelah Pos 1 kami telusuri jalanan yang dihari pertama telah terlewati. Sebut saja Jombang dan Pintu Rel Sudimara. Namun baru saja 10 menit saya berjalan, tiba-tiba rekan saya ( Musa ) meminta untuk berhenti. Ia pergi mencari Kamar Mandi. Karna kaki saya sudah memprihatinkan keadaannya, sayapun memutuskan jalan sendiri, tentunya setelah berpamitan dengan Musa. Terus menyeret kaki yang pincang, menyusuri gelapnya Jombang. Setelah 20 menit, terdengar suara “ Kunci… Kunci … Kunci Ayam.. “ itu suara dari The Poy ( Hamit ) . Berpasangan dengan Hafiz dan keduanya sama-sama masih fit dengan kecepatan jalan yang sangat cepat, atau bisa dikatakan 3 x lebih cepat dari saya. Mereka mulai menyalip saya, dan mematahkan semangat dikala itu.
Sampai didaerah Sudimara saya melaksanakan Shalat Shubuh sembari berjalan. Sesekali saya lihat peta, yang kemudian menuntun saya ke arah Serua. Kurang lebih 1 km setelah Mesjid Jemaat Serua, saya disalip oleh Pasangan Hasyim dan Muztahiddin. Mental kembali teruji, langkah semakin berat. Namun saya terus mengingat pesan Bapak RT “ Perbanyaklah Istighfar “ saya laksanakan, dan faedahnya selaangkah demi selangkah rute Serua-Pamulang II bisa dilalui. Sempat kecewa dengan Peta yang menggambarkan betapa dekatnya jarak Serua-Pamulang II. Pada kenyataannya jalanan lurus yang menyiksa itu berkisar 10 KM. Perbekalan air mulai menipis, dan setiap 20 menit sekali berhenti untuk mengoleskan obat pada kaki yang luka dan pegal. Setelah jalanan lurus itu dilalui, sampailah saya ke Pos 2 sekitar pukul 07.30 Wib. Yang pertama saya tanyakan kepada Panitia adalah ketersediaan air, karna perbekalan air saya yang sudah habis. Namun sayangnya di Pos 2 tersebut tidak ada cadangan air. Setelah semua barang amanat diperiksa oleh Panitia, sayapun melanjutkan perjalanan sendiri. Masalah mulai datang lagi, kaki yang semula terasa sakit karena melepuh, bertambah kelingking yang bengkak dan rasa sakitnya mendominasi, sehingga bagian yang lain jadi tak terasa. Saya berhenti sejenak, kemudian salah seorang Panitia menghampiri, menemani dan terus menyemangati.
Tidak lama setelah itu rekan saya di hari Pertama Ahmad dan Asep, datang dan hendak menyalip. Kemudian mereka berkata “ wan duluan “ “ ya “ jawab saya. Kemudian saya berfikir, “ kalo saya terus berjalana seperti itu dan sendiri, kapan saya sampai ke tujuan? ”, dengan waktu yang semakin siang dan saya masih di tempat yang jauh dari lokasi finish. Kemudian saya segera memutuskan untuk mengikuti mereka, apapun resikonya. Karna menurut hemat saya, apabila jalan sendiri selain stressnya yang tinggi juga tidak ada acuan seberapa cepat kita berjalan. Dan akhirnya kami berjalan bertiga. Melalui Rumpin, Pasar Serpong, dan Pos Bayangan di belokan menuju BSD. Berhenti sejenak disana, tiada lain yang ditanyakan kepada Panitia saat itu adalah air. Karna jauh dari rumpin kami bertiga sudah kehabisan air. Pak Bilal salah seorang crew MTA terus memberi motifasi kepada saya, karna beliau mengetahui kabar saya yang memburuk di hari ke dua dari para Panitia. Setelah puas beristirahat, kamipun meneruskan perjalanan menuju Pos 3. RS. Asshabirrin jadi tujuan kita berikutnya.
Mengetahui jalur sungguh merupakan suatu kerugian tersendiri dibalik keuntungan terbebas dari nyasar. Perasaan jauh dan capek menjadi Bomerang bagi saya yang paham dengan rute dierah itu. Saya terus mengeret kaki saya, kemudian salah seorang dari teman saya ( Ahmad ) mulai menunjukan rasa sakit dikakinya, yang pada akhirnya beberapa kali kami istirahat sebelum masuk ke Pos 3. Sedang satu ekspresi saya untuk teman saya Asep. Tak ada yang lain yang saya lihat dari wajahnya, selain dari senyum. Hal itu memotipasi saya, mengapa ia tabah dengan semua ini, sedang saya tidak,?. Akhirnya jalanan lurus dan cuaca yang agak sedikit panas kami telusuri, hingga akhirnya sampailah kami di pos 3, tepat didepan RS. Asshabirin, tempat dimana 2 tahun yang lalu saya berjaga disana menjadi Pos Bayangan.
Sekitar pukul 12.15 setelah Panitia memeriksa kelengkapan saya, dan memberi air, kami melanjutkan perjalanan menuju Sumarecon. Terdengar kabar bahwa suasana disana sangat sejuk dan banyak sekali anak-anak yang beristirahat disana. Kami susuri jalanan sumarecon, lewati jembatan, kemudian tiba ditempat yang kami sebut “surga” kala itu. Kami istirahat disana dan melaksanakan shalat Zuhur jamak Ashar. Selepas kami shalat, datanglah panitia menghampiri kami dan memberikan jatah makan pagi kepada kami. Kamipun menyempatkan makan siang dan kemudian kami melanjutkan perjalanan. Tujuan berikutnya adalah keluar dari sumarecon dan menuju Pantim. Sesudah melewati “ surga “ boleh dibilang yang kami lalui berikutnya adalah “ Neraka “. Gading Serpong yang begitu panas kami lalui dan dalam kondisi yang sakit, masih saja kami sempat berfose dalam jepretan camera Panitia😀 ,. Sebelum tikungan menuju warung Mangga kami berhenti untuk mengobati kaki yang mulai terasa pegal. Kemudian kami lanjutkan perjalanan, dan sempat dijalan Mln. Ihsan Subarkah menghampiri dan memberi semangat kepada kami.
Tidak lama kami melihat panitia dan langsung menyebrangkan kami. Disana kami kembali beristirahat dan melengkapi perbekalan air kami yang sudah habis. Taklama kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 4 di jemaat Pantim. Jalanan Panunggangan yang sempit menuntut kehati-hatian saya akan mobil-mobil yang melaju kencang disamping saya. Dan satu insiden kecilpun terjadi, ketika sikut saya ditabrak oleh spion mobil mewah. Sempat kaget karena mobil itu berhenti di depan, seolah mau meminta pertanggung jawaban. Namun ternyata hanya membetulkan posisi spion mobil tersebut. Pas didepan kantor kelurahan Panunggangan, kami kembali berhenti, kali ini teman saya Ahmad yang kondisinya semakin parah, telapak kakinya melepuh, dan terpaksa harus dilakukan operasi kecil. Tak lama datang panitia membawakan makan siang, namun kami lebih memilih opsi buah karena ringan dibawa dan lebih menambah tenaga.
Berikutnya kami lalui jalanan Panunggangan pusat, dan menuju tempat yang oleh kaka kelas disebutnya padang pasir. Bukan hamparan pasirnya, tapi panasnya tempat itu bak gurun Sahara yang menyimbolkan tidak adanya kehidupan. Kami berjalan dengan kepala tertunduk lesu dan panas. Seorang Panitia nampak didepan menanti dan mengarahkan kami kejalur tikus menuju Panunggangan timur. Kami telusuri jalanan kampung dengan perkiraan dekatnya tempat itu. Namun ternyata tempat itu lumayan jauh. Dan sekitar 15 menit kami sampai di mesjid Pantim.
Di Pos 4 ini kami beristirahat cukup lama, dari mulai menyetor kelengkapan, memeriksa kaki, mengobati luka kecil dan sedikit memberi pijatan pada kaki yang pegal. Terdengar khutbah Hudhur dari siaran MTA dalam mesjid. Dari sana saya merasa sangat termotifasi dan kembali bertekad segera tiba di tempat Finish hari ke dua. Sekitar pukul 16.00 kami keluar dari Pantim menuju Pasar Bengkok. Jalanan yang pendek dalam peta, pada kenyataanya sangat dan sangat jauh. Kami diputer ke Pasar bengkok kemudian terus menyusuri jalanan Cikokol menuju Danau Cipondoh. Sebelum sampai di danau cipondoh, dijalan saya berjumpa dengan kawan saya, khuddam gondrong. Yang kemudian ia menawarkan tumpangan sampai gondrong. Sedikit tergoda tapi saya masih bisa berfikir. Seandainya saya turuti, tentunya resikonya lebih berat dan yang paling penting saya harus menjungjung tinggi kejujuran dan keitaatan. Sampai di danau Cipondoh saya temui pos bayangan. Disana saya juga kembali bergabung dengan dua orang teman saya, yang sempat menjauh dari Pasar Bengkok. Kemudian kami menyusuri jalanan menuju arah Kali Deres, dan menuju Pos 5 di Poris.
Kami sampai d Poris sekitar pukul 18.15 disana panitia memeriksa barang bawaan kami, memberi semangat dan mengatakan bahwa jarak dari pos 5 ke tempat finish itu hanya berkisar 20 menit. Atas dasar tersebut kami tak berhenti lama dan segera ingin tiba di tempat finish. Dua puluh menit berlalu, namun Gondrong dimana,? Malah asing bagi kami, tempat yang tidak kami kenal sedikitpun. Sesekali saya lihat peta, dan ternyata itu masih jauh sekali ke tempat finish ke dua. Setelah saya terus menyusuri jalanan akhirnya menara Mesjid menjadi penerang saya, terasa hawa Gondrong mendekat dalam tenggorokan yang mulai mengering. Tiang listrik tempat dimana mobil-mobil masuk yang menunjukan arah menuju mesjid gondrong membakar semangat saya untuk segera tiba. Namun bukan semangat yang terbakar, justru emosi yang menggebu gebu. Jalanan itu di silang dan kami diputar ke kali tempe. Sempat berfikir melalui jalur gang yang satu lagi. Tempat itupun dilalui, dan ternyata itupun dicoret oleh panitia.
Dari situ emosi saya mulai meledak ledak, saya mulai kesal dan dengan langkah berat saya menyusuri jalanan kali tempe keluar menuju arah kali deres. Karena letih, emosi dan kecewa kami bertigapun beristirahat di satu kebun ( Kebun Tanaman Hias ). Disana kami beristirahat, mengobati kaki dan sejenak tidur. Kemudian lagi-lagi teman saya Asep, wajahnya tak nampak kerutan malah senyum menawan yang terlihat. Disana saya berfikir, sungguh saya telah dikuasai amarah, saya tidak ingin perjuangan seharian terhapus amalannya hanya karena ketidak sabaran dan amarah yang mengebu itu. Kemudian Kami lanjutkan perjalanan. Ditengah-tengah perjalanan ada panitia yang memberi semangat “ ayoo sebentar lagi.. “. Kami terus saja berjalan, samapai akhirnya saya sampai di rumah Pak Yoyo. Seorang anggota Jemaat gondrong yang rumahnya pernah saya tempati saat KPA Gondrong. Dari situ saya merasa lega karna jarak menuju Mesjid berkisar +/- 100 meter saja.
Sekitar pukul 21.00 kami sampai di mesjid, dan langsung disambut panitia. Air panas sudah tersedia, semua perbekalan dilepaskan, dan segera melucuti segala yang tertempel di kaki. Kemudian segera mengobatinya. Bang Madun kala itu datang menghampiri sambil membawakan minuman isotonik. Disekeliling, saya lihat sampah-sampah bekas semangka. Lalu saya berkata dalam hati “ Nasib yang telat “. Kemudian saya masuk ketempat istirahat, melaksanakan shalat Maghrib jamak Isya, makan malam, dan kemudian beristirahat ( tidur ).
Selala 13 Maret 2012
Sekitar pukul 02.00 kami dibangunkan, hari itu kembali telat bangun. Kami bergegas ke kamar mandi, sekedar mencuci muka, dan segera menyiapkan perbekalan serta siap-siap berangkat. Sepotong roti kembali menjadi menu pengganjal perut sebelum kami berangkat. Satu persatu teman kami berangkat. Dan pada posisi ke empat saya beserta rekan baru saya Khadim berangkat sekitar pukul 03.20 Wib. Berbeda dengan dua hari sebelumnya kali ini semangat saya kembali terbakar. Mungkin ini karena hari terakhir dan dipasangkan dengan yang masih sehat serta jalannya cepat, yang otomatis cara jalannya akan memaksa saya untuk mengimbanginya. Dan benar saja sekitar dua jam perjalanan keluar daerah gondrong, kami sudah hampir menyalip pasangan yang start lebih awal dari kami, yaitu pasangan Fakhruddin dan Asep. Kemudian setelah kumandang azan terdengar saya dan Khadim bergantian mengerjakan shalat Shubuh. Setelah kami berdua shalat, baru kami bisa menyalip pasangan Asep Fakhruddin. Kemudian dua orang pengendara motor berkata kepada kami “ Temen lw ada yang pingsan tuh dibelakang “, saya sempat kaget, namun terus meneruskan perjalanan. Karena dibelakangpun masih banyak Panitia dan kalopun benar ia pingsan ia masih ada pasangannya. Graha Raya jalanan komplek yang begitu panjang terus kami kebut. Dua orang ibu-ibu sempat keheranan setelah saya menjawab pertanyaannya.
Sedang acara apa De,? “ gerak jalan Bu 200 Km, ini hari ke 3, hari terakhir “ 200 km,? Dari mana ke mana? “ Bogor, Tangerang, Jakarta, Depok, Bogor lagi bu “ yang benar? “ ia Bu “. Masih ingat tatapan si Ibu tadi berubah menjadi tatapan prihatin dan diakhir perjumpaan si Ibu itu berkata “ hati-hati nak “.
Kami terus berjalan dan melipat gandakan kecepatan jalan. Ingin segera samapai ke Pos 2 di Perigi. Namun semangat kami dipatahkan oleh pasangan Suhufi dan muztahiddin, yang tiba-tiba menyeruak kepermukaan dan menyalip dua pasangan sekaligus. 3 jam jalan non stop kami mulai kelelahan, Asep mulai meninggalkan Fuang, dan tersisa kami bertiga ( Khadim, Ridhwan, Fakhruddin ).
Tiga orang ini setia, melalui jalanan Graha Raya samapai ke Pos ke 2. Di pos ke dua ketika kami beristirahat, kami mendapati pasangan Hamiddin Ahmad datang dengan slogan “ Kunci…Kunci….Kunci Ayaam “, mereka berusaha menyalip kami, namun belum beres mereka menyalip datang lagi pasangan Munajat dan Zaki Zakaria. Dan dari sinilah perjalanan 5 sejoli dimulai. Hamiddin dan Munajat semakin jauh kedepan, susah sekali mengejarnya. Tersisa kami berlima ( Fakhruddin, Ridhwan, Khadim, Ahmad, dan Zaki ). Dari mulai Perigi sampai ke Pos 3 di peniggilan kami selalu bersama, apabila diantara kami ada yang cedera dan berhenti, maka semuanya berhenti. Kala itu kondisi Ahmad yang memburuk. Sampai di Pos 3 ( Peninggilan ). Kami beristirahat cukup lama disana. Memeriksa kaki, mengisi air minum, dan mencicipi makanan Pemberian anggota yang diberikan kepada panitia. Setelah kurang lebih 10 menit, kamipun melanjutkan perjalanan. Kali ini yang kami tuju adalah pos berikutnya Lebak Bulus.
Perjalanan peninggilan Kebayoran Lama itu sangatlah jauh, dan udara kala itu mulai panas. Saya hanya bisa menunduk dan pandangan tertuju pada derap langkah kaki kawan saya didepan. Setalah kurang lebih 2 jam, kami sampai diperbatasan Tangerang jakarta. Nampak gedung-gedung menjulang tinggi dan cukup saya kenal. Gedung-gedung yang berada di daerah Kebayoran. Jauh sekali, dan dalam hitungan jam, tempat yang tadinya jauh itu berada tepat didepan mata. Sepanjang jalan istighfar menjadi pengobat rasa lapar dan haus. Setiap satu jam sekali kami beristirahat. Memijat kaki yang sudah kaku dengan salep cantertiiiiiiit *sensor*. Kemudian didaerah cipulir nampak panggung Inbox yang sudah lengang ditinggal para pencari hiburan. Dan 20 menit dari Mall cipulir sampailah kami di Pos 4. Disana kami beristirahat cukup lama, dan kembali memeriksa kaki yang semakin parah.
Setelah kelengkapan kami diperiksa oleh Panitia, kami berlima langsung menuju jembatan layang yang menuntun arah kami menuju Lebak Bulus. Terik mentari mulai menemani dikala itu. Seteguk demi seteguk air melewati tenggorakan. Rasa kantukpun kala itu ikut menemani rasa lapar dan haus. Cilandak sampai Pondok Indah dua Pos bayangan dilewati, dan di pos bayangan terakhir, rasa kantuk semakin menjadi. Kami berhenti untuk menemani teman kami yang terpaksa berhenti karna sakit di kaki yang tak lagi bisa dikompromi. SPBU, Pelataran Apartemen, dan trotoar menjadi tempat peristirahatan kami. Masih didaerah Pondok Indah, saya merasa sudah tak kuat dengan terik Matahari. Kemudian saya berdo’a dalam hati “ Ya Allah hamba sudah tidak kuat dengan Panas mentariMu ini, turunkanlah gerimis untuk hambaMu ini “. Hanya berselang 10 menit, do’a itu terkabul, bahkan bukannya gerimis, hujan lebat menimpa perjalanan kami. Di Point Square kami berhenti sejenak untuk memakai jas Hujan, namun kemudian reda. Kami lanjutkan perjalanan hingga ke Pos bayangan di pertigaan ciputat Kebayoran. Sekitar pukul 13.30 kami berada disana, dan sampai saat itu kami belum merasakan yang namanya makan. Jangankan makan siang, sarapanpun belum dapat. Akhirnya tak berlangsung lama Panitia datang membawakan makanan jatah sarapan pagi. Kami berlimapun langsung melahap makan tersebut.
Selesai santap siang, hujan kembali turun dan lebih lebat. Namun karena waktu, kamipun memutuskan untuk meneruskan perjalanan, walau harus melawan derasnya hujan. Disana juga kami melaksanakan Shalat Dzuhur jamak Ashar sembari berjalan. Tiba di pos 5 daerah Pondok Labu hujan reda. Panitia seperti biasa memeriksa barang-barang amanat. Dari Pos 5 kami bergegas menuju cinere Depok. Pakaian yang basah kering dijalan, rasa lelah dan perasaan ingin berhenti tak kami hiraukan. Betapa tidak waktu yang mulai sore, kami masih menyusuri jalanan Cinere. Panitia terus memberi kami semangat , sembari memberi tahukan bahwa Pos berikutnya adalah setelah Mesjid Kubah Mas. Sesekali saya bertanya kepada orang-orang yang saya temui dijalan. Dan jawaban mereka berpariatif. Ada yang menyebut jaraknya dekat dan adapula yang menyebutkan jaraknya masih jauh. Kami berlima terus memacu langkah menuju Pos 6. Ditengah perjalanan saya bertemu dengan salah seorang panitia, dan ia memberikan saya tongkat. 3 orang teman kami, mamacu langkahnya begitu cepat. Saya dan Ahmad tertinggal dibelakang, dan baru bertemu kembali setelah beristirahat tepat didepan Mesjid kubah Mas. Kami berlima beristirahat cukup lama disana. Kemudian kami bergegas menuju Pos 6. Saya memulai perjalanan disusul kawan saya yang lain. Mungkin karena perasaan ingin cepat sampai, sayapun tidak menghiraukan rasa sakit dikaki dan terus memaksanya melangkah dengan kecepatan dua kali lipat dari biasanya.
Hanya sekitar 10 menit kami sampai di Pos 6, namun saya heran disana tidak saya temui Panitia penjaga Pos. Saya cari-cari dengan rekan saya zaki, dan kemudian akhirnya saya putuskan melanjutkan perjalanan. Sempat berfikir pos pindah kedekat mesjid Jemaat Depok. Tapi disanapun tetap tidak kami temui. Malah kami menemui teman kami Hasyim yang berangkat lebih awal. Keadaannya sudah mulai parah dan menyeret-nyeret kakinya.
Berbeda dengan saya, disana saya mendapat hidayah atau sebut saja “ Mu’jizat “ . Pertolongan Allah datang. Semua rasa sakit, pegal, dan hal-hal yang memberatkan dalam perjalanan pada saat itu tiba-tiba menghilang. Yang saya rasakan kondisi tubuh saya seperti sewaktu mau berangkat dihari pertama. Kemudian untuk meyakinkan sayapun menggerak-gerakan kaki khususnya pada bagian yang luka, dan memang tidak terasa apa-apa. Akhirnya saya memutuskan untuk berjalan lebih cepat, dan segera menuju Parung. Saya berjalan begitu cepat, bisa dikatakan seperti lari dan saat menoleh kebelakang, teman-teman sayapun luput dari pandangan. Mereka jauh tertinggal dibelakang. Pertigaan demi pertigaan saya lalui, perlahan jalur menuju Parung semakin bersahabat dan memang tak asing bagi saya. Saya terus berjalan setengah lari, hingga akhirnya saya temui pertigaan Parung Ciputat.
Saya fikir dari pertigaan menuju Pasar Parung itu dekat, tetapi ternyata sekitar 15 menit baru saya sampai di Parung. Disana saya disambut oleh tingkat 1, dan seorang Panitia, kemudian saya memberi laporan bahwa saya tidak bertemu dengan Panitia di Pos 6. Dan setelah dikonfirmasi kepada ketua Paidl Safar. Akhirnya segala persyaratan ke pos 6 dipenuhi di Parung. Kemudian ketika saya menikmati Jus Jambu, rekan-rekan saya mulai berdatangan.
Karena saya ingin segera sampai di asrama dan beristirahat, sayapun melanjutkan perjalanan menuju Asrama, ditemani salah seorang dari tingkat satu. 3 jam sudah saya berjalan dari Depok sampai daerah Parung. Dan didaerah Kahuripan mulai terasa, pinggang seperti mau patah, kaki yang kembali terasa perih, dan rasa haus yang kembali menjangkit.
Jalanan yang begitu lurus menyergap saya, dan mematahkan semangat berjalan. Godaan untuk berhentipun datang. Namun saya memperbanyak istighfar dan kemudian kembali berjalan. Setelah berjuang dan terus berjuang, akhirnya gerbang Kampus Mubarak terlihat, saya terus berjalan. Namun saya sedih dan sempat kecewa karna saya telah meninggalkan mereka ke empat kawan saya. Bukan egois, namun keadaan kaki dan fisik yang harus segera sampai dan diistirahatkan.
Sampai di asrama, saya disambut oleh para Panitia, dan sayapun tak kuasa menahan tetes air mata. Pada waktu itu saya tumpahkan rasa capek saya dengan bergeletak tidur dipelataran asrama. Panitia mulai datang dan mengobati beberapa luka yang saya dapati selama 3 hari perjalanan. Tak lama kemudian satu persatu kawan saya datang. Sebelum saya beristirahat saya sempatkan Shalat Maghrib jamak Isya di kamar. Kemudian setelahnya barulah saya bisa beristirahat ( Tidur ).
Penutup
Banyak cerita dan kisah yang mungkin terlewat dalam uraian ini. Yang jelas bagi saya, Paidl Safar itu tidak hanya berjalan sejauh 200 Km, tapi juga perjalanan menempa diri dan belajar menguasai hawa nafsu. Kita ini terlalu sombong dengan selalu mengatakan kita pasti bisa. Terkadang kita lupa bahwa setiap langkah, dan nafas yang berhembus adalah kuasa sang Pemilik semesta alam. Dan perjalanan ini menjadi bekal saya nanti dilapangan. Menjelajahi negeri berbagi ilmu dan khabar kedatangan Imam Mahdi.
Selain ucap syukur kehadirat Allah ta’ala, seuntai ucapan terimakasih tak luput saya ucapkan untuk kedua Orang Tua saya, Bapak Raisut Tabligh, Para Dosen, dan orang-orang yang saya cintai yang tentunya tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Untuk kerja keras dan segala perhatian, bantuan, dan bimbingan Panitia saya ucapkan banyak-banyak terimakasih. Tak ada bekal yang berarti selain dari dukungan, dan Do’a kalian.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s