“PERANAN KHILAFAT DALAM MENANGANI MASALAH-MASALAH FIKIH”

Allah swt telah menurunkan Al-Quaran Karim, sebagai Kitab yang sempurna dan yang terahir. Di dalamnya semua kepentingan Agama, ahlak, dan rohani kita dijelaskan secara lengkap dan mendasar. Masalah apapun yang dihadapi manusia sampai hari kiamat, pemecahannya terdapat di dalam Al-Qur’an dan Allah ta’ala telah menjadikan Rasulullah Saw. Sebagai Uswah yang sempurna untuk memberikan pengajaran sekaligus pengamalan tentang petunjuk itu sesuai dengan yang diperintahkan Al-Qur’an. Sebagaimana Al-Qur’an sendiri memberikan kesaksiannya tentang kesempurnaan akhlak Beliau Saw :
(Al-Ahzab, 33: 22)
Yakni bagi kalian yaitu orang-orang yang berharap untuk berjumpa dengan Allah Swt dan alam ukhrawi serta banyak mengingat Allah, terdapat contoh mulia dalam diri Rasulullah Saw. Yang mereka harus ikuti.

Kemudian didalam ayat lain dikatakan bahwa:

“ Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah”. (Q.S Al Hasyr 60: 8)

Untuk menjaga kesucian Agama islam ini , Allah swt senantiasa menciptakan wujud-wujud suci pada umat Rasulullah Saw. Mereka diserahi tugas untuk memelihara ajaran Al-Qur’an, seperti para nabi – nabi Allah, khalifah dan Imam-imam agama lainnya. Pada akhir zaman ini , sesuai dengan Nubuatan Nabi Muhammad Saw. bahwa islam akan kembali dipimpin oleh seorang utusan Allah yang bergelar sebagi Imam mahdi dan Masih mau’ud a.s, kini telah tergenapi dalam wujud Hadhrat Mirza Gulam Ahmad a.s. wujud yang penuh berkat yang di utus oleh Allah swt sebagai Hakaman ‘adalan. Dimana sala satu tugas beliau untuk mempersatukan hati Umat manusia, yang dahulunya dalam keadaan berpecah belah, dan sebagai Hakaman‘adalan dalam memecahakan permaslahan- permaslahan yang timbul dikalangan umat islam yang mengakibatkan terjadinya perpecahan dikalangan umat Islam salasatu diantaranya adalah masalah fiqih.

Oleh karena itu khilafat Ahmadiyah yang didirikan oleh hadhrat Imam Mahdi ini memiliki peranan penting dalam menyelesaikan perselisian- perselisian yang muncul baik dikalangan interen agama, maupun Exteren agama dan intern ahmady. Untuk memberikan solusi solusi tersebut Imam Jemaat Ahmadiyah telah membentuk satu Majlis Ifta (fatwa) yang konsen pada masalah-masalah yang timbul, kemudian merekomendasikannya kehadapan Khalfah –e-waqt. Yang uraiannya di jelaskan di bawah ini:
Fiqah Ahmadiyah adalah buku yang pada tahun 1976 Hazrat Khalifatul masih Tsalis rh, sesuai dengan regulation yang sudah ditetapkan pada Majlis Syuro Jemaat Ahmadiyah mendirikan sebuah komite yang terdiri atas beberapa orang untuk membukukan fiqah Ahmadiyah secara resmi yang mana komite itu telah menyusun Draf ini. Yang kemudian akan dijadikan pegangan bagi seluruh anggota Jemaat.
Kemudian Jemaat Ahmadiyah memberikan contoh kepada Umat islam umumnya bagaimana caranya menyelesaikan permaslahan- permasalahn yang terjadi dalam umat Islam itu sendiri, yang sumber mereka adalah Imam- Imam mazhab, diantaranya empat mazhab yang termashur, yaitu mazhab Hanafiyah, Malikiyah, syafi’iyah dan Hanabilah. Kemudian jika di tanah air kita ini ada dua organisasi Islam terbesar, NU dan Muhammadiyah yang sampai sekarang belum memiliki titik temu.
Ada banyak permasalahan yang di pertentangkan baik dari kalangan exteren Ahmadi ( keempat mazhab), terutama maslah- masalah fiqh, dan dari kalangan interen Ahmady terutama dalam masalah pengutipan referensi yang seolah-olah bertentangan antara khalifah yang satu dengan khalifah yang lainnya. Di dalam makalah ini kami hanya menjelaskan beberapa masalah saja, diantaranya Masalah yang berhubungan dengan sholat jum’at ;( a) Bolehkah wanita ikut Shalat Jum’at (b) Berapakah jumlah shalat Jum’at (c) Jumlah Adzan Jum’at.
dan masalah gerakan- gerakan dalam sholat fardu,( untuk kalangan gair Ahmadi) , dan untuk masalah yang tibul dikalangan interen Ahmady adalah menyangkut masalah pengutipan referensi yang seolah-olah bertentangan antara khalifah yang satu dengan khalifah yang lainnya.ada baiknya sebelum kita membahas lebih mendalam berkenaan dengan tema di atas ada baik nya kita ketahui,terlebih dahulu apa yang di meksud dengan khilafat, tujuannya, dan apa yang di maksud dengan fikih

Pengertian khilafat

Khilafah adalah merupakan bentuk kata masdar dari kata kerja خلف – يخلف yang artinya adalah pemerintahan, pengurusan, dan kepemimpinan sebagai ganti yang lain. kata khilafat sering digunakan di dalam istilah sistem kepemimpinan didalam Islam.adapun orang yang memimpin umat sebagai pengganti disebut khalifah

Tujuan khilafat
Salasatu tujuan khilafat ialah sebagai lembaga pemersatu Umat. artinya segala macam masalah masalah yang akan memecah bela umat akan menjadi perhatian khusus bagi khilafat ini untuk menyelesaikannya.
Pengertian fiqih
Fikih menurut bahasa ialah pemahaman. Orang arab biasa menggunakan kata tersebut pada pemahaman yang mendalam tentang suatu hal yang rumit . Dalam Al-qur’an, kata tersebut digunakan untuk menyatakan kecerdasan otak seseorang dalam memahami aspek-aspek agama sebagaimana firman Allah “li yatafaqqahu fi adiin”,( agar mereka melakukan pemahaman dalam agama)
Perbedaan Pendapat para Imam dan solusi dari Fiqh Ahmadiyah
1. Bolehkah wanita ikut serta dalam Shalat Jum’at
Imam Abu hanifah , memandang maslah ini diamana beliau melarang wanita untuk ikut serta dalam shalat Jum’at , baik itu wanita tua ataupun muda, karena tidak disyariatkan bagi mereka, sesuai dengan hadis yang sabdakan oleh Rasulullah Saw.
Rasulullah Saw. bersabda; “Jum’at itu hak dan wajib di tunaikan oleh setiap orang Islam secara berjamaah, kecuali empat golongan, yaitu Hamba sahaya, anak-anak, perempuan dan orang sakit”. ( HR. Abu Daud dan Hakim)
Dalam hal ini mazhab hanafiyah memberikan penjelasan bahwa yang lebih utama bagi wanita adalah melaksanakan Shalat zuhur di rumahnya. Baik ia wanita tua atau masih muda, karena berjamaah Shalat berjamaah (Shalat Jum’at ) tidak di syariatkan bagi mereka.
Imam Maliki, berpendapat bahwa wanita yang sudah tua yang sudah tidak memiliki daya tariknya maka di perbolehkan mengikuti shalat Jum’at, tapi jika wanita yang masih remaja yang di hawatirkan akan menggangu suasana shalat Jum’at maka haram baginya mengahdiri shalat Jumat.
Imam Syafi’I berpendapat bahwa bagi wanita di makruhkan secara mutlak mengahdiri shalat Jum’at apabila ia menarik (cantik) , tap bagi wanita tua yang sudah tidak ada daya tariknya lagi maka di anjurkan ikut serta dalam shalat Jum’at tanpa harus mengerjakan lagi shalat zuhur.
Imam Hambali pendapatnya sama dengan Imam Syafi’I yaitu di makruhkan bagi wanita yang muda yang senang menghias dirinya dengan baju bagus memakai wewangian, maka secara mutlak dia di makruhkan.
Fiqh Ahmadiyah dalam nenanggapi Masalah Ini dilihat dari sumber dan dalail akali dan nakli, diamana apakah pendapat itu yang di ambil dari hadis apakah itu bertentangan dengan Al-qur’an dan sunnah atau tidak.
Pertama, di dalam ayat Al-quran perintah mengenai shalat Jum’at tidak tercantum bahwa wanita tidak boleh shalat jum’at, tetapi dalam ayat itu hanya di sebutkan “hai orang-orang yang beriman”, adapun ayat itu di jelaskan oleh sebuah hadis yang di riwayatkan oleh Abu Daud Rasulullah saw., bersabda : Bahwa shalat Jum’at itu di wajibkan kepada seluruh umta Islam secara berjamaah kecuali empat golongan, wanita, anak-anak, orang sakit, hamba sahaya.
Kemudian jika kita lihat di dalam riwayat lain yang tertera dalam fiqh Ahmadiyah bahwa di zaman Rasulullah saw, banyak wanita yang hafal surah Qaf, yang surah itu biasa dibaca oleh Rasulullah saw dalam shalat jum’at, kemudian kata tidak wajib disana itu mempunyai kajian yang mendalam, dimama setiap hukum ibadah yang bersifat wajib pasti ada kekecualian contohnya, hukum wajib puasa, hukum wajibnya berdiri shalat bagi orang yang sehat, dll.. jika di lihat daripada nasnya bahwa hukum shalat Jum’at ini pun sama di kecualikan bagi wanita yang seperti apa dulu, jadi tidak semua wanita contohnya bagi wanita yang mempunyai anak kecil yang masih sulit di kendalikan, kemudian keamanan dimana rumahnya dalam keadaan tidak aman, atau bagi wanita yang hamil dll, seperti halnya puasa tidak wajib bagi orang safar, bagi yang sakit dll, padahal kita tahu puasa itu wajib hukumnya. Jadi kekecualian di tersebut bersipat khusus bagi orang-orang tertentu.
2. Jumlah Jamaah Shalat Jum’at
Imam Abu Hanifah, berpendapat bahwa Jumlah Jamaah dalam shalat Jum’at itu cukup dengan tiga orang selain Imam, karena syarat utama untuk shalat Jum’at adalah jamaah sedangkan yang di maksud dengan jamaah lebih daripada satu.
Imam Maliki, berpendapat bahwa jumlah Jamaah untuh sahnya shalat JUm’at harus ada 12 orang, yang beliau ambil dasar ijtihad ini, dari sebuah peristiwa dimana suatu ketika Hazrat Rasulullah Saw, berkhutbah datanglah serombongan kafilah dari Najran, yang semua jamaah bubar yang tertinggal sisanya tinggal 12 orang.
Imam Syafi’I, beliau berpendapat bahwa syarat sah untuk shalat Jum’at harus ada 40 orang dan orang-orang yang memenuhi syarat untuk shalat Jumat, adapun dasar yang di jadikan landasan oleh beliau adalah sebuah riwayat yang menceritakan pada suatu ketika ada yang di Tanya, bahwa saya jum’atan bersama Rasulullah Saw. , dan ada yan g bertanya berapa jumlahnya ketika itu, maka sahabat menjawab, 40 orang, maka dari sejak itulah Ijtihad Imam Syafi’I banyak di anut oleh Masyarakat.
Padahal riwayat hadis tersebut yang tercantum dalam terjemah hadis Nailul Autar ( kumpulan hadis-hadis hokum) dimana riwayat tersebut bukan syarat sah shalat jum’at harus 40, tapi itu suatu hal yang kebetulan.
Imam Hanbali, beliau berpendapatnya sama dengan gurunya Imam Syafi’I bahwa syarat sah untuk shalat Jum’at harus ada minimal 40 orang. Bahkan Imam hambali lebih ekstrim dalam memberikan ijtihadnya bahwa tidak sah shalat juma’at jika dari yang 40 orang tersebut ada wanita, anak-anak dan lain- lain.
Fiqh Ahmadiyah, Pertama Fiqah Ahmadiyah mengambil rujukan tiada lain dari terjemahan Hadis Nailul Autar (himpunan Hadis- hadis Hukum) pada Bab ini khususnya masalah apakah benar bahwa seseorang bisa di katakan sah Shalat Jum’atnya jika jumlahnya ada 40 orang .
Adapun hadis tersebut sebagai berikut mengadakan Jum’atan dengan 40 orang, hadis itu berbunyi :

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ-وَ كَانَ قَائِدَ اَبِيْهِ بَعْدَ مَا ذَهَبَ بَصَرُهُ-عَنْ اَبِيْهِ كَعْبٍ اَنَّهُ كَانَ اِذَا سَمِعَ النِّدَاءَ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ تَرَحَّمَ لِأَسْعَدَ بْنِ زُرَارَةَ, قَالَ فَقُلْتُ لَهُ: اِذَا سَمِعْتَ النِّدَاءَ تَرَحَّمْتَ لِأَسْعَدَ بْنِ زُرَارَةَ؟ قَالَ لِأَنَّهُ اَوَّلَ مَنْ جَمَعَ بِنَا فِيْ هَزْمِ النَّبِيْتِ مِنْ حَرَةِ بَنِيْ بَيَاضَةَ, فِيْ نَقِيْعٍ يُقَالُ لَهُ نَقِيْعُ اْلخَضِمَاتِ. قُلْتُ: كَمْ كُنْتُمْ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: اَرْبَعُوْنَ رَجُلاً. رواه أبو داود

“ Dari Abdurrahman bin ka’ab bin Malik dan ia yang biasa menuntun ayahnya sesudah ayahnya buta, dari ayahnya yaitu ka’ab bahwa ia apabila mendengan adzan pada hari Jum’at maka ia memintakan rahmat kepada Allah untuk As’ad bin Zurarah, ia (Abdurrahman ) berkata kepada ayah: mengapa engkau apabila mendengar adzan maka engkau memintakan rahmat untuk As’ad bin Zurarah ? karena dialah orang yang pertama kali mengadakan Shalat Jum’at bersama kami di hazmin Nabit salah satu kampung dari Bani Bayadlah di Naqi’ yang disebut Naqiul Khadlimat. Aku (Abdurahman ) bertanya berapa jumlahmu pada waktu itu? Ia menjawab : 40 orang”.(HR. Abu Daud)
Penjelasan Hadis :
Di dalam penjelasan hadis itu dijelaskan bahwa, perkataan berapa jumlahnya pada waktu itu? Kemudian ia menjawab 40 orang itu, ada yang menanggapi yaitu seorang ulama yang bernama Syarih rahimullah berkata ; hadis ini dijadikan dalil oleh orang- orang yang berpendapat bahwa Jum’atan itu tidak sah melainkan apabila terdiri 40 orang, dan ini di bantah karena di dalam hadis itu tidak ada sedikit pun hal yang menunjukan tentang adanya syarat 40 orang untuk sahnya Shalat Jum’at, sebab keterangan 40 orang di situ hanya suatu kejadian secara kebetulan (waqiatul’ain) dan tidak ada keterangan di dalam hadis itu yang menunjukan bahwa jumlah yang kurang dari 40 orang menyebabkan Shalat Jum’at tidak sah. Dan beliau pun menjelaskan bahwa di dalam ilmu ushul ditetapkan bahwa waqiatul ‘ain itu secara umum tidak dapat di pergunakan sebagai hujjah.
Kemudian di dalam Qur’an surah Al-Jumu’ah tidak disebutkan ketentuan jumlah, kemudian secara logika pun tidak bisa di terima karena kesannya seakan- akan hokum Allah swt kaku. Yang logikannya bahwa jika di suatu kampung atau pulau yang jumlah orang Isalm tidak sampai 40 atau bahkan jauh dari jumlah tersebut maka merka tidak melaksanakn Shalat Jum’at, padahal di dalam hadis di sebutkkan bahwa jika seseorang tiga kali berturut-turut tidak shalat Jum’at maka hatinya akan tertutup dan akan menjadi orang kafir, nah jelas-jelas pendapat di atas akan kontardiksi dengan pendapat yang lain.
Jadi khilafat Ahmadiyah yang pendapatya di tuangkan dalam fiqh Ahmadiyah yang akan memberikan solusi yang terbaik dalam maslah- maslah hokum Islam khususnya berkenaan dengan fiqih, sesuai dengan hadis bahwa Imam Mahdi akan datang di Ahir Zaman sebagai Hakaman adlan.
Permasalahan permasalahan didalam shalat fardhu
Masalah pertama : hukum pelafalan “Bismillah” ada yang di jaharkan dan di sirrkan. Masing-masing memiliki dalil. Dalil untuk menjaharkan lafadz bismillah :
Dari Nu’aim bin Abdullah al-Mujmir, ia berkata:

كُنْتُ وَرَاءَ أَبِي هُرَيْرَةَ ، فَقَرَأَ : بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ، ثُمَّ قَرَأَ بِأُمِّ الْقُرْآنِ حَتَّى بَلَغَ {وَلا الضَّالِّينَ} قَالَ : آمِينَ ، وَقَالَ: النَّاسُ آمِينَ ، وَيَقُولُ كُلَّمَا سَجَدَ: الله أَكْبَرُ ، وَإِذَا قَامَ مِنَ الْجُلُوسِ قَالَ: الله أَكْبَرُ ، وَيَقُولُ إِذَا سَلَّمَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لأَشْبَهُكُمْ صَلاَةً بِرَسُولِ الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم

“Aku shalat berada di belakang Abu Hurairah, beliau membaca bismillahirrahmanirrahim, lalu membaca ummul qur’an sampai pada ayat walaadldlaalliin dan membaca amin, kemudian orang-orang juga mengikutinya membaca amin. Beliau ketika akan sujud membaca; Allahu Akbar dan ketika bangun dari duduk membaca; Allahu Akbar. Setelah salam beliau berkata: “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, sesungguhnya aku adalah orang yang shalatnya paling menyerupai Rasulullah di antara kalian.” [H.R. Ad-Daruqutni, Bab Wajib membaca Bismillahirrahmaanirrahiim dalam shalat dan mengeraskan bacaannya, dan perbedaan pendapat dalam masalah tersebut, hadits no. 14. Menurut Daruqutni hadits ini shahih; H.R. al-Nasa’I, Bab Membaca Fatihah sebelum surat]

Hadits di atas diriwayatkan oleh Imam al-Nasa’i dan telah dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan al-Hakim. Al-Hakim mengatakan bahwa keshahihan hadits tersebut berdasarkan syarat yang telah ditetapkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Imam Baihaqi mengatakan bahwa sanad hadits di atas adalah shahih dan mempunyai beberapa syawahid (penguat eksternal). Mengomentari hadits di atas, Imam Abu Bakar al-Khathib mengatakan bahwa hadits itu adalah shahih yang tidak butuh terhadap penjelasan. Imam al-Daruquthni juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَانَ إِذَا قَرَأَ وَهُوَ يَؤُمُّ النَّاسَ اِفْتَتَحَ الصَّلَاةَ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. (رواه الدارقطني

“Sesungguhnya Nabi SAW ketika membaca (fatihah), sedangkan beliau mengimami para shahabat, memulai shalat dengan membaca bismillahirrahmaanirrahiim.” H.R. al-Daruquthni, Bab Wajib membaca Bismillahirrahmaanirrahiim dalam shalat dan mengeraskan bacaannya.
Dalil tentang melirihkan (sirr) lafadz “Bismillah” :
Dari Anas bin Malik berkata,

صَلَّيْتُ خَلْفَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم، وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ. فَكَانُوْا يَسْتَفْتِحُوْنَ بِالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لَا يَذْكُرُوْنَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. فِي أَوَّلِ قِرَاءَةٍ، وَلَا فِي آخِرِهَا.

” Aku biasa shalat di belakang Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam., di belakang Abu Bakar, ”Umar dan ”Usman. Mereka hanya memulai bacaan dengan ”Alhamdulillahi rabbil ”alamin” dan tidak pernah kudengar mereka membaca ”Bismillahirrahmanirrahim” pada awal bacaan (Al-Fatihah) dan tidak pula penghabisannya. ” [HR. Bukhari no. 743 dan Muslim no. 399]
Kemudian,
Ibn Abdullah ibn Mughaffal berkata,

سَمِعَنِيْ أَبِي وَأَنَا فِي الصَّلَاةِ أَقُوْلُ ” بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ” فَقَالَ لِي: أي بني محدث إِيَّاكَ وَالْحَدَثَ، قَالَ: وَلَمْ أَرَ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رسول الله صلى الله عليه وسلم كَانَ أَبْغَضُ إِلَيْهِ الْحَدَثَ فِي الْإِسْلَامِ، يَعْنِي مِنْهُ، وَقَالَ: وَقَدْ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، وَمَعَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَلَمْ أَسْمَعُ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقُوْلُهَا، فَلَا تَقُلْهَا، إِذَا أَنْتَ صَلَّيْتَ فَقُلْ {اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}

“Ayahku memperdengarkan kepadaku ketika aku di dalam sholat membaca “bismilla-hirrokhma-nirrikhi-m”, maka ia berkata kepadaku,”anakku, itu muhdats (hal baru/ bid’ah). Jauhilah olehmu hal-hal yang diada-adakan (bid’ah). Ia berkata, “Aku belum pernah melihat kebencian para sahabat Rasulullah melebihi kebenciannya terhadap hal-hal yang diada-adakan (bid’ah) dalam Islam. Dan aku telah shalat bersama dengan Nabi saw, dan bersama Abu Bakar, dan bersama Umar, dan bersama Usman. Dan belum pernah aku mendengar salah seorang dari mereka membacanya (bismilla-hirrokhma-nirrokhi-m). Oleh karena itu janganlah engkau membacanya. Dan jika engkau shalat bacalah dengan “al-hamdu lilla-hi robbil ‘a-lami-n”. Menurut Abu ‘Isa al-Tirmidzi, hadis ini berkualitas hasan.Kandungan hadis ini, menurut al-Tirmizi, diamalkan oleh para sahabat nabi seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Ali dan sebagainya. Dan juga diamalkan oleh para ulama tabi’in. Menurut Sufyan al-Tsauri, ibn al-Mubarak, Ahmad dan Ishak, mereka tidak membaca basmalah secara keras, melainkan membacanya dalam hati. (HR. Tirmidzi, hadits no. 244)
Anas ibn Malik berkata,

صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُسْمِعْنَا قِرَاءَةَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ وَصَلَّى بِنَا أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ فَلَمْ نَسْمَعْهَا مِنْهُمَا

“telah shalat bersama kami Rasulullah saw, dan beliau tidak memperdengarkan bacaan “bismilla-hirrohma-nirrohi-m”. Dan telah sholat pula bersama kami Abu Bakar dan Umar, dan keduanya juga tidak memperdengarkan bacaan tersebut”. (HR. Nasaiy (Sunan, al-Iftitah: 896). Hadis ini munqathi’ karena dalam sanadnya Manshur ibn Zadzan tidak bertemu dengan Anas ibn Malik. Hadis ini da’if.
Hadis dari Anas

عَنْ أَنَسٍ كان رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ كَانُوا يَفْتَتِحُونَ الْقِرَاءَةَ بالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Dari Anas bahwa Nabi saw dan Abu Bakar dan ‘Umar dan Usman, semuanya memulai bacaannya dengan “al-hamdu lilla-hi robbil ‘a-lami-n”. (HR.Tirmidzi, bab “Memulai membaca Al-quran dengan Alhamdulillahirabbil ‘aalamiin” hadits no. 246) Abu Isa berkata hadits ini Hasan shahih.
Abu Hanifah, Tsauri, dan Ahmad bin Hambal berpendapat bahwa bacaan basmalah hanya dibaca sirr bersama Al-Fatihah untuk setiap rekaat. Sedang Syafi’i berpendirian bahwa bacaan basmalah itu harus dibaca ketika shalat jahr atau sirr.[Bidayatul Mujtahid 1, hal. 272]Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm berkata :

أن أنس بن مالك أخبره قال صلى معاوية بالمدينة صلاة فجهر فيها بالقراءة فقرأ بسم الله الرحمن الرحيم لأم القرآن ولم يقرأ بها للسورة التي بعدها حتى قضى تلك القراءة ولم يكبر حين يهوى حتى قضى تلك الصلاة فلما سلم ناداه من سمع ذلك من المهاجرين من كل مكان يا معاوية أسرقت الصلاة أم نسيت فلما صلى بعد ذلك قرأ بسم الله الرحمن الرحيم للسورة التي بعد أم القرآن وكبر حين يهوى ساجدا

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata : Muawiyah pernah melaksanakan shalat di Madinah lalu ia men-jahr-kan bacaan dengan membaca Bismillahirrahmaanirrahiim untuk ummul Qur’an, dan tidak membaca Bismillahirrahmaanirrahiim untuk surah setelah surah Al-Fatihah sampai menyelesaikan bacaan itu.
Ia tidak bertakbir ketika membungkuk hingga selesai. Tatkala memberi salami a diseru oleh orang yang mendengarnya-dari orang-orang Muhajirin- dari segala tempat, “Hai Muawiyah, apakah anda mencuri sholat atau lupa?” Sesudah itu ia membaca Bismillahirrahmaanirrahiim untuk surah sesudah Ummul Qur’an, dan ia bertakbir ketika membungkuk untuk sujud.[Ringkasan Kitab Al-Umm 1, hal. 166]
Dari kedua paham tersebut masing-masing memiliki dalil yang kuat, sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua metode didalam pembacaan lafadz “Bismillah,,,” dapat dilakukan dengan menjahrkan dan di sirrkan.
Sejalan dengan itu ada pendapat yang shahih berkenaan mengapa lafadz “Bismillah” itu di sirkan, yakni : sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Sa’ad bin Jubair, dia berkata,
“Dahulu orang musyrik selalu mendatangi masjid. Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membaca bismillahirrahmaanirrahiim, maka mereka berkata, ‘Muhammad ini sedang menyebutkan Rahman Al-Yamamah’ Maksud mereka adalah Musailamah. Oleh karena itulah beliau diperintahkan untuk menyamarkan bacaan bismillahirrahmaanirrahiim, lalu turunlah ayat :

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى وَلا تَجْهَرْ بِصَلاتِكَ وَلا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلا

“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah kamu merendahkannya” (QS. Al-Israa 17 : 110).
Ar-Tirmidzi, Al-Hakim Abu Abdilah berkata, “Oleh karena itulah lafadz basmalah tetap eksis sampai hari ini dengan bentuk tulisannya meskipun tidak ada alasannya. Sebagaimana lari-lari kecil tetap ada di dalam thawaf, meskipun tidak ada alasannya, dan juga sebagaimana menyamarkan suara tetap berlaku pada shalat di siang hari, meskipun tidak ada alasannya,”

Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah berkata : Ibnul Qayyim telah memberikan komentar :”Kadang-kadang Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam membaca bismillahirrahmaanirrahiim dengan suara keras, tetapi beliau sering membacanya dengan suara perlahan. Merupakan suatu hal yang tidak diragukan lagi bahwa beliau tidak selamanya membaca basmalah dengan suara keras, yakni sebanyak lima kali pada tiap siang dan malam, pada waktu bermukim maupun ketika bermusyafir. Hal inilah yang tidak disadari oleh para Khulafaur Rasyidin, sebagian besar sahabatnya, tabi’in dan tabi’it tabi’in”[Fiqih Sunnah 1, hal. 191]
Masalah kedua: adalah berkenaan dengan hukum mengangkat jari dan menggerak-gerakkan telunjuk ketika tasyahud di dalam shalat.
Berkenaan dengan masalah ini, para ulama berselisih pendapat, ini disebabkan mereka juga memiliki dalil yang menguatkan pemahaman mereka, sehingga banyak diantara mereka timbul pemahaman yang berbeda.
Dalil yang berkenaan dengan menggerak-gerakkan jari telunjuk yakni:

قُلْتُ لأَنْظُرَنَّ اِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ يُصَلِّى، فَنَظَرْتُ اِلَيْهِ حِيْنَ، قَامَ فَكَبَّرَ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى حَاذَتَا أُذُنَيْهِ، ثَمَّ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى ظَهْرِ كَفِّهِ الْيُسْرَى، وَالرُّسْغِ، وَالسَّاعِدِ، ثُمَّ لَمَّا اَرَادَ اَنْ يَرْكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ مِثْلُهَا ثُمَ رَكَعَ فَوَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَرَفَعَ يَدَيْهِ مِثْلَهَا ثُمَّ سَجَدَ فَجَعَلَ كَفَّيْهِ بِحَذَاءِ اُذُنَيْهِ، ثَمَّ جَلَسَ فَافْتَرَشَ فَخِذَهُ الْيُسْرَى، وَجَعَلَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلىَ فَخِذِهِ وَرُكْبَتِهِ الْيُسْرَى، وَجَعَلَ حَدَّ مِرْفَقِهِ اْلاَيْمَنِ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى، وَعَقَدَ ثِنْتَيْنِ مِنْ اَصَابِعِهِ، وَحَلَقَ حَلْقَةً، ثُمَّ رَفَعَ اُصْبُعَهُ، فَرَاَيْتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدْعُوْ بِهَا، ثُمَّ جِئْتُ بَعْدَ ذَلِكَ فِى زَمَانٍ فِيْهِ بَرْدٌ عَلَيْهِمْ جُلَّ الثِّيَابِ تَحَرَّكَ اَيْدِيُهُمْ مِنْ تَحْتِ الثِّيَابِ

Dari Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (Wa’il bin Hujr) dia berkata:
“Sungguh aku akan melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bagaimana beliau bersolat, maka aku pun melihat ketika berdiri, beliau pun bertakbir dan menganggkat kedua tangannya hingga mencecah (paras) kedua daun (anak) telinganya, kemudian beliau pun meletakkan tangan kanannya di atas punggung dan pergelangan tangan kirinya, kemudian ketika beliau hendak ruku’, beliau pun mengangkat kedua tangannya seperti sebelumnya, lalu beliau ruku’ dan beliau meletakkan kedua (telapak) tangannya di atas kedua lututnya (masing-masing), kemudian beliau mengangkat kepala dan juga kedua tangannya seperti sebelumnya, lalu beliau sujud dan beliau meletakkan kedua telapak tangannya sejajar dengan kedua telinganya, kemudian beliau duduk iftirasy di atas peha kirinya, dan menjadikan tangannya yang kiri di atas peha dan lututnya yang kiri pula, dan meletakkan hujung siku tangan kanannya di atas pehanya yang kanan dan beliau pun membuat lingkaran membuat lingkaran (dengan jari tengah dan ibu jarinya) dan beliau mengangkat jari telunjuknya, maka aku pun melihat beliau menggerak-gerakkannya sambil berdoa dengannya, kemudian aku datang setelah itu ketika cuaca dingin, maka aku melihat para sahabat yang tangan mereka bergerak-gerak dari bawah pakaian mereka.”

Hadis ini diriwayatkan melalui satu jalan dari:
Wa’il bin Hujr radhiyallahu ‘anhu, Kulaib bin Syihab, ‘Ashim bin Kulaib, Za’idah bin Qudamah, yang kemudiannya direkodkan oleh:
1 – Imam Ahmad, al-Musnad, 4/318.
2 – al-Khatib al-Baghdadi, al-Fashlu lil wash lil Mudraj, 1/444.
3 – Abu Daud, Sunan Abu Daud, 1/178, no. 727.
4 – an-Nasa’i, Sunan an-Nasa’i, 1/463, no. 888. Sunan al-Kubra, 1/256, no. 873 &
1/318, no. 1100.
5 – Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban, 5/170-171, no. 1860.
6 – Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, 1/234, no. 480 & 1/354, no. 714.
7 – ad-Darimi, Sunan ad-Darimi, 1/230, no. 1357.
8 – ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, 22/35, no. 82.
9 – Ibnul Jarud, al-Muntaqa, m/s. 91, no. 208.
10 – al-Baihaqi, Sunan al-Kubra, 2/189, no. 2787 & 2/132.
11 – ath-Thahawi, Syarhul Mani’, 1/153.
Hadis ini adalah sahih. Sebahagiannya mensahihkannya dengan jelas, dan sebahagian ulama lagi mensahihkannya dengan isyarat. Dan tidak seorang pun ulama salaf yang mendhaifkannya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh al-Albani, wallahu a’lam.
Sedangkan bunyi hadits yang tidak menggerakkan jari telunjuk ialah :
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu. Dia berkata:
“… Dan apabila beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam duduk sambil (membaca tasyahud), beliau meletakkan telapak tangan kirinya di atas lutut kirinya (dan mengembangkannya/menghamparkannya di atas lutut beliau). Beliau menggenggam jari-jari tangan kanannya (dengan ibu jari) dan mengisyaratkan dengan jari telunjuk beliau (ke arah kiblat dan memfokuskan pandangan beliau kepada jari telunjuknya).” (Hadis Riwayat Muslim, Abu ‘Awanah, dan Ibnu Khuzaimah. Lihat: al-Albani, Sifat Solat Nabi, m/s. 195, Media Hidayah. Juga Sifat Solat Nabi, jil. 3, m/s. 38, Griya Ilmu)
Menurut Syaikh al-Albani, Abu Ya’la memberikan tambahan dengan sanad sahih dari Ibnu ‘Umar:
“Menggerak-gerakkan jari telunjuk ini sebagai pengusir Syaitan. Seseorang tidak akan menjadi lupa selama dia menggerakkan telunjuknya.”
Perkataan Para Ulama Berkenaan Menggerak-gerakkan Jari di Dalam Tasyahud
Perkataan para ulama berkenaan persoalannya ini bahwa perbuatan serta pendapat menggerak-gerakkan jari telunjuk ketika bertasyahud di dalam solat ini bukanlah suatu perkara yang baru. Tetapi ia telah lama dibahaskan oleh para ulama dari dahulu hingga kini. Sekaligus ia membuktikan bahawa amalan tersebut bukanlah sesuatu yang baru lagi aneh. Tetapi ia adalah sebuah sunnah yang tidak diketahui ramai.

Kutip dari kitab-kitab Mazhab Maliki:
“ (Ketika bertasyahud) … Disunnahkan juga untuk sentiasa menggerak-gerakkannya dengan gerakkan yang ringan (sedang) ke kiri dan ke kanan dari awal tasyahud sehingga selesai. Ada pun tangan kiri dihamparkan di atas paha kiri dan tidak ada jari yang digerakkan atau diacungkan.” (at-Talqin, m/s. 102-103. Bulughus Salik, 1/120. Al-Fawaakih ad-Dawaani, 1/223. Rujuk: Dr. Muhammad Umar Salim Bazmul, Ensiklopedi Tarjih, m/s. 348, Darus Sunnah)

Pandangan dari kalangan ulama Syafi’iyah:
Jika seseorang sedang solat dan duduk tasyahud, disunnahkan untuk menghamparkan tangan kirinya di atas peha kirinya. Ada pun jemari tangan kanan digenggam di atas peha kanan kecuali jari telunjuk dan ibu jari. Sebaiknya ibu jari juga digenggam bersama jari lain dan telunjuk diacungkan. Lalu mengangkat ketika membaca illallah dan inilah pendapat yang dipegang majoriti ulama.

Ada pun pendapat kedua: Memberi isyarat dari awal tasyahud hingga selesai. Kemudian adakah telunjuk diacungkan sambil digerak-gerakkan?
Berkenaan dengan masalah ini, ada beberapa pendapat, dan pendapat yang benar adalah sebagaimana yang disebutkan oleh majoriti ulama, tidak perlu digerak-gerakkan dan makruh hukumnya jika digerak-gerakkan. Hanya sahaja tidak sehingga membatalkan solat, kerana hanya sekadar gerakan yang ringan.
Pendapat kedua mengatakan: Solat batal jika jari telunjuk digerak-gerakkan. Dan ini adalah pendapat yang syadz (ganjil) dari kalangan ulama mazhab asy-Syafi’i.

Pendapat ketiga: Diseunnahkan untuk menggerak-gerakkan jari telunjuk. Ini adalah pendapat Syaikh Abu Haamid al-Isfarayini, Abu ‘Ali al-Bandaniji, al-Qaadhi Abu Thayyib ath-Thabari, dan lain-lain. (al-Umm, 1/116. Fathul ‘Aziz, 3/502. Al-Majmu’, 3/454. Fathul Wahhaab, 1/45. Rujuk: Dr. Muhammad Umar Salim Bazmul, Ensiklopedi Tarjih, m/s. 349, Darus Sunnah)
Pendapat di dalam Mazhab Hanbali:
Jari telunjuk hanya diacungkan ketika berzikir kepada Allah dan tidak digerak-gerakkan menurut mazhab hanbali yang sahih. (Rujuk: Dr. Muhammad Umar Salim Bazmul, Ensiklopedi Tarjih, m/s. 349, Darus Sunnah)
Perkataan al-Majdudiin Ibnu Taimiyyah rahimahullah:
Dr. Muhammad Umar Salim Bazmul menukilkannya sebagaimana berikut, “al-Majdudiin Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: Memberi isyarat beberapa kali dengan jari telunjuk di ketika duduk tasyahud.” (al-Muharrir, 165. Rujuk: Dr. Muhammad Umar Salim Bazmul, Ensiklopedi Tarjih, m/s. 352, Darus Sunnah)
Dan beliau (Dr. Muhammad Umar) berkata:
Ini menunjukkan adanya gerakan ringan pada jari telunjuk.
Pendapat Imam Abu Zakariya bin Yahya bin Syaraf an-Nawawi dari Mazhab asy-Syafi’i
Imam an-Nawawi berkata di dalam kitabnya Radhatuth Thalibin:
“Adakah ketika telunjuk diangkat perlu digerak-gerakkan atau tidak? Ada dua pendapat yang menjelaskan perkara ini:
Pertama: Pendapat yang ashah, tidak digerakkan.
Kedua, iaitu pendapat yang syadz (ganjil), di mana telunjuk terus digerak-gerakkan selama bertasyahud.

Saya katakan: Apabila kita katakan dengan pendapat yang ashah, maka tidak boleh digerakkan. Apabila digerakkan, maka tidak batal solatnya, berdasarkan pendapat yang sahih…” (Imam an-Nawawi, Raudhatuth Thalibin, jil. 1, m/s. 559-560, Pustaka Azzam)

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s